Kamis, 05 Juni 2008

Yesus:Unlimited Person

Yesus: Unlimited Person
Yesus Dalam Berbagai Perjumpaan


I.Pendahuluan
Pengalaman umat beriman mengenai misteri Yesus Kristus terjadi dalam konteks sosial hidup gerejaninya. Konteks yang paling dekat dari pengolahan iman tersebut adalah komunitas iman dimana ia berada sekarang ini, saat ini. Komunitas iman tempat ia berada menjadi tempat ia mengenal, terpikat, terlibat dan berkembang dalam iman akan Yesus Kristus. Berbagai pengalaman langsung dengan saudara-saudari di lingkungannya akan membantu untuk merumuskan pengalamannya di tengah-tengah paguyuban hidup beriman yang konkret. Perjumpaan dan dialog dengan orang lain akan memberikan sumbangan dalam bentuk refleksi teologisnya1.
Iman akan Yesus Kristus mendapat bentuk sekaligus hidup dalam praktik hidup persekutuan atau hidup menjemaat, dalam hubungan dengan saudara-saudari beriman dan beragama lain serta dalam keterlibatan sosial. Realitas pengalaman iman akan Yesus Kristus dari saudara-saudari seiman dan bagaimana iman itu terwujud dalam kehidupan konkrit merupakan realitas hidup aktual yang merupakan konteks refleksi kristologisnya2. Dengan cara ini, kristologi kontekstual mendapat bentuknya dalam kehidupan umat beriman Kristiani. Dengan demikian, dapat dikembangkan suatu dialog secara kritis dengan harapan bahwa hidup beriman diperdalam, diarahkan secara sadar dan tida henti-hentinya diungkapkan dan diwujudkan dalam masyarakat.
Perjumpaan dengan berbagai budaya memunculkan pemahaman mengenai Yesus Kristus yang bersifat personal-relasional-kontekstual untuk setiap pribadi manusia. Yesus tidak hanya dikenal oleh komunitas umat beriman Kristiani, tetapi juga oleh komunitas umat beriman dan masyarakat tertentu. Perjumpaan setiap pribadi komunitas ini memunculkan refleksi yang kontekstual mengenai siapa Yesus baginya.




II.Konteks Yesus Historis
Agama Kristen merupakan agama sejarah, yang berkembang berdasarkan peristiwa-peristiwa yang sungguh terjadi dalam sejarah3. Peristiwa yang terpenting dari rangkaian peristiwa-peristiwa tersebut adalah kisah kehidupan Yesus Kristus. Hidup Beriman Kristiani berakar pada peristiwa Yesus Kristus4. Oleh karena itu, teologi yang merupakan refleksi kritis menjadi usaha untuk mempertanggungjawabkan dan mengolah hidup beriman, selalu kembali pada peristiwa Yesus Kristus. Dalam kristologi, misteri Yesus Kristus menjadi fokus percakapan.
Pendekatan kontekstual terhadap hidup Yesus tidak berpangkal pada rumusan dogma lalu doktrin mengenai Yesus, melainkan pada kenyataan hidup Yesus di tengah-tengah sejarah yang konkrit. Dengan kata lain, pendekatan kontekstual ini berpangkal pada Yesus historis. Yang dimaksud Yesus historis adalah Yesus yang dilahirkan di Betlehem dan tumbuh dewasa di Nazareth. Ia hidup dalam adat kebiasaan umat Yahudi pada waktu itu. Orangtuanya bernama Maria dan Yusuf. Pendekatan historis ini hendak mengungungkapkan bahwa yang menjadi pusat atau pokok kristologi adalah Yesus dengan segala historisitasnya, dengan segala bentuk ungkapan bagaimana hidup, apa yang ia perbuat, bagaimana ia telah mati, dan sebagainya5.
Dalam pendekatan kristologis kontekstual ini, terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam melihat Yesus historis. Leben-Jesu-Forschung memberikan tempat maksimal dengan merekontruksi biografi Yesus sejauh mungkin. Di sisi yang lain, R. Bultman memberi tempat minimal pada Yesus historis6. Kedua pendekatan ini mendasarkan refleksinya pada iman Kristiani akan Yesus Kristus. Dasar iman Kristiani adalah Yesus historis yang tidak terlepas dari Kristus yang mulia. Mereka mendasarkan pandangannya pada Yesus Kristus yang historis disalibkan dan wafat itu hidup. Kristus yang hidup dalam kemuliaan bukanlah tokoh lain melainkan satu dan sama dengan Yesus yang disalibkan di tengah-tengah sejarah ini.
Seluruh eksistensi Yesus masuk dalam pewartaan Injil. Umat Kristiani awal menaruh perhatian besar terhadap Yesus historis. Apa yang dikerjakan oleh Yesus termasuk dalam pewartaan (Kis 2, 21-2). Dalam perkembangan selanjutnya, kelahiran Yesus menjadi bagian dari pewartaan Injil (Rm. 1,3-4; Gal 4,4). Pewartaan Injil berusaha menemukan makna sejarah sekarang ini dengan bercermin pada seluruh eksistensi Yesus. Gereja menyadari bahwa Kristus mulia tanpa Yesus historis akan kehilangan instansi kritis. Peristiwa Yesus merupakan peristiwa tunggal dan tidak terulang. Hidup beriman Kristiani sepanjang sejarah selalu mengenang peristiwa Yesus yang partikular itu. Hal ini dalam pewartaan diungkapkan antara lain dengan “Sekali untuk selama-lamanya” (Rm. 6,10; Ibr. 7,27).
Gereja awal menempatkan Yesus historis, Yesus orang Nazareth yang disalibkan sebagai instansi kritis terhadap beberapa jemaat awal yang terlalu entusiastis. Mereka merasa mendapat inspirasi dan menjadi terlalu bersemangat. Dengan alasan efektivitas karya Roh Kudus dan hadirnya keselamatan yang tidak terbatas, mau melepaskan karya Roh Kudus dan Kristus mulia dari Yesus orang Nazareth. Mereka diingatkan bahwa karya Roh Kudus mengantar orang kepada Yesus yang telah disalibkan dan dibangkitkan7.
Dalam pendekatan historis ini, disadari ada dua kecenderungan besar yang bersifat besar sebelah dalam melihat dan merefleksikan siapa Yesus. Hal ini berkembang sejak Gereja Perdana. Ada aliran yang terlalu condong ke arah kemanusiaan Yesus sambil menyalahartikan atau malah menyangkal Ketuhanan-Nya. Di sisi yang lain, ada yang terlalu condong ke arah Ketuhanan Yesus sambil mengabaikan atau bahkan memungkiri kemanusiaan-Nya. Dua aliran itu adalah8:
a.Ebionisme. Kaum Ebionit merupakan sisa orang Kristen Yahudi yang menghayati banyak tradisi kuno Gereja Perdana. Mereka menganggap Yesus sebagai manusia belaka, anak Yusuf dan Maria, yang pada waktu pembabtisan di Yordan itu digabungkan dengan zat ilahi. Yesus dipandang sebagai nabi yang ditentukan untuk menjadi mesias.
b.Doketisme. Aliran ini mempertahankan bahwa Yesus Kristus hanya tampaknya saja mempunyai tubuh. Yesus dikatakan hanya memiliki tubuh “surgawi” yang berarti halus dan bukan material, dan rupa-rupanya saja menderita dan mati. Mereka menganggap bahwa Yesus Kristus bukan sungguh-sungguh manusia.
Melawan kecenderungan itu, diajarkan bahwa Yesus disebut sebagai firman Allah tidak berarti Allah berfirman melalui Yesus yang hanya kelihatan saja sebagai manusia. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh. 1,14). “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia berasal dari Allah (1 Yoh 4,2). Yesus historis menjadi instansi kritis terhadap penghayatan iman kristiani.
Sejarah hidup Yesus memberikan kemungkinan untuk menelusuri penerimaan tradisi iman9. Umat beriman Kristiani beriman karena ada living tradition, yaitu jemaat yang mengimani Injil Yesus Kristus dan meneruskannya dengan menceritakan, dengan ikut serta dalam kehadirannya dan menjalani hidup bersamanya10. Tradisi-tradisi iman selalu berada dalam konteks tertentu. Sejarah hidup Yesus memungkinkan umat beriman Kristiani sekarang untuk menelusuri hubungan tradisi-tradisi itu dengan tradisi asali, yakni pengalaman dan kesaksian para murid awal.
Dengan demikian, kita dapat menempuh perjalanan kristologi dalam dua tahap sebagaimana juga dilalui oleh para murid awal. Tahap pertama adalah perjumpaan dengan sejarah hidup Yesus dan tahap kedua perjumpaan dengan tradisi (umat) kristiani sepanjang sejarah dalam berbagai konteks (temporal lokal)11. Pengakuan iman dan dogam-dogma Kristologis harus ditelusuri dan dipahami dalam hubungan dengan sejarah hidup Yesus. Kalau tidak demikian, rumus-rumus dogma menjadi konsep-konsep yang terlepas dari maksud perumusannya dan interpretasi serta pemakanaan kita terlepas dari tradisi asali pewartaan injil12.

III.Iman Kontekstual: Perjumpaan dengan Berbagai Budaya
Pertemuan agama Kristen dangan budaya lain menghantarkannya pada pembentukan identitasnya. Perbenturan kultural yang paling awal sebetulnya sudah dirasakan tatkala para penganut agama ini berhadapan dengan tradisi Yahudi di Palestina. Dalam konteks ini, meskipun agama-agama atau budaya-budaya itu hidup bersama dalam masyarakat, dan secara terbatas mungkin saling mempengaruhi, namun tampaknya tidak terjadi dialog antar agama atau budaya itu. Agama-agama atau budaya-budaya ini hidup bersama dalam koalisi damai, saling menghormtai dibawah payung atau budaya besar yang dominan, yakni helenisme. Sementara itu, budaya Kristen berangsur-angsur tumbuh di tengah-tengah budaya lain, bahkan semakin mempengaruhi yang lain.13
Komunikasi iman (dan teologi) mengenai Yesus selalu terjadi dalam konteks budaya. Usaha refleksi kontekstual tidak mungkin lepas dari perlunya dialog antar budaya. Tanpa dialog secara kritis dengan konteks budaya, komunikasi iman kita tidak menyentuh pola kehidupan yang konkret. Kecuali itu, ada bahaya bahwa komunikasi iman bersifat mono-kultural, tidak menyadari keterbatasan setiap budaya, bahkan mungkin memaksakan pola budaya tertentu dan mengesampingkan budaya-budaya lain.14 Dengan kata lain, refleksi kita akan terkurung pada kolonialisme budaya. Refleksi kontekstual berusaha menghindari teologi mono-kultural dan ikut memperkembangkan sifat multi-kultural dari teologi.
Umat beriman Kristiani hidup dalam kemajemukan budaya, agama, dan iman. Konteks refleksi atas pengalaman dan pandangan mengenai Yesus berada juga dalam konteks agama-agama lain dan dari luar lingkungan Gereja umumnya. Refleksi iman secara kritis membuka diri terhadap saudara-saudari beriman lain. Melalui dialog ini, meskipun sangat terbatas, diharapkan bahwa penghayatan iman dengan integritas yang terbuka dapat diperkembangkan dan kita dapat memasuki misteri iman kita sendiri secara lebih mendalam.
Dialog ini berkembang dari kesadaran bahwa siapakah Yesus dan apakah makna Yesus itu bagi kehidupan ini bukanlah monopoli Gereja. Yesus adalah tokoh yang sangat dihargai oleh orang-orang Yahudi. Umat Islam menghargainya sebagai nabi Isa, dan banyak orang di luar lingkungan Gereja memberikan penghargaan kepada Yesus yang mempunyai peran dalam kehidupan mereka. Macam-macam pandangan dari luar lingkungan Gereja dapat memperkaya pemahaman orang-orang Kristiani yang ingin hidup dalam integritas iman yang terbuka.

III.1Gambaran Yesus dalam Agama Yahudi
Perkembangan iman Kristiani berkembang dalam relasi sekaligus berhadapan langsung dengan pandangan Yahudi mengenai Yesus. Yesus yang diimani sebagai Kristus adalah orang Yahudi, yang berada dalam tradisi iman Yahudi.15 Harus diakui bahwa tulisan Kitab Suci perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkembang dalam tradisi dan refleksi iman akan pengalaman kasih Allah yang berada dalam konteks sejarah Yahudi16. Agama Yahudi bukanlah hanya tahap persiapan bagi kelahiran Yesus. Agama Yahudi merupakan living traditions yang dihidupi sampai sekarang ini17. Ada beberapa pandangan yang kiranya cukup terkenal mengenai living traditions orang Yahudi.

III.1.1Pandangan Trypho mengenai Yesus.18
Gambaran Trypho mengenai Yesus dapat diambil sebagai contoh dari gambaran Yahudi pada masa kekristenan awal. Yustinus martir yang dibunuh di Roma pada tahun 165 merupakan salah satu tokoh iman kristiani yang hidup pada saat itu. Dia menulis sebuah “Dialog dengan Tryho orang Yahudi”. Dialog itu terjadi sekitar tahun 155-160. Trypho adalah seorang Yahudi yang pergi dari Palestina dan tinggal di Yunani. Dia bukan seorang rabbi Yahudi, melainkan seorang awam. Pandangannya mengenai orang-orang Kristiani dan iman akan Kristus merupakan pandangan represintatif dari orang-orang Yahudi pada zamannya.
Dalam dialog dengan Yustinus Martir, Trypho melawan pandangan kristiani mengenai pra-eksistensi Kristus, mengenai kelahiran dari perawan Maria, dan mengenai sengsara serta salib Yesus. Dalam perkembangan sejarah kemudian, percakaan antara Yustinus Martir dan Trypho ini menjadi perdebatan yang terus-menerus antara aliran-aliran besar teologi yang muncul dalam konsili-konsili pertama dan yang selalu menuntut agar selalu ditafsirkan terus menerus secara kontekstual.

III.1.2Pandangan Martin Buber19
Martin Buber membedakan antara emunah dan pistis. Emunah berarti iman dalam arti kepercayaan manusia penuh kepada Allah, doa-doa Mazmur Perjanjian Lama. Paulus mengartikan pistis sebagai iman dalam arti menerima sebagai benar pemakluman yang diwartakan Yesus. Sejauh Yesus memiliki emunah, Yesus adalah saudara dari Martin Buber. Yesus dan orang Yahudi tidak mengenal pistis. Bagi Buber, yang penting adalah iman Yesus, bukan Mesias yang diharapkan dan masih diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Yesus memang merupakan figur besar dalam sejarah iman Yahudi, namun Ia bukan sebagai Mesias yang telah dan masih diharapkan. Yesus adalah saudara orang-orang Yahudi.
Gambaran mengenai Yesus dari Martin Buber ini merupakan ciri khas gambaran Yahudi sekarang ini. Gambaran semacam ini juga ditemukan pada shalom Ben-Chorin yang mengikuti Martin Buber menyebut Yesus sebagai “saudara”.

III.1.3Pandangan Sahlom Ben-Chorin20
Shalom Ben-Chorin bersama dengan pemikin-pemikir Yahudi lainnya mau “menjemput Yesus pulang” ke Yahudi. Dia menggunakan Injil Lukas 15 untuk menggambarkan penjemputan itu. Yesus adalah anak yang hilang, sudah lama meninggalkan tanah air Israel dan berada di tanah asing. Di sana, ia menderita keterasingan. Orang menjadikan dia Mesias, mahluk ilahi. Hampir 200 tahun, Yesus berada di tanah asing, sedangkan saudaranya yang lebih tua, yaitu umat Yahudi hidup di lingkungan rumah yang kuat dari ayahnya. Ia kembali ke rumah ayah dan di sana semestinya ia bergembira bersama saudara tuanya.
Shalom Ben-Chorin melihat Yesus pertama-tama sebagai Guru hukum Yahudi sekaligus menempatkatNya dalam jajaran para Nabi. Dia melihat Yesus sebagai figur sentral dalam sejarah Yahudi dan sejarah iman Yahudi. Yesus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah masa kini dan masa yang akan datang. Bagi Ben-Chorin, kedatangan Yesus tidak harus dimengerti dalam arti pengharapan mesianis. Bagi sejarawan dan bagi orang Yahudi, keallahan Yesus tidak ada. Ben Chorin tidak mengenal pembangkitan Yesus oleh Allah meskipun Alkitab Perjanjian Baru yang diakuinya sebagai dokumen sejarah iman Yahudi mengungkapkan hal itu. Warta Paska dipahaminya sebagai arti simbolis aktual. Ben-Chorin memahami warta kebangkitan Yesus sebagai suatu perumpamaan bagi Israel yang kini bangkit lagi, yang mengangkat dari sejarah gelap menuju wajah baru. Yahudi tidak mengenai gambaran Natal, gua, dan bintang Betlehem, Paska dan kubur terbuka, tidak mengenal dia yang bangkit.
Ben-Chorin melihat kehidupan Yesus mulai dari pembabtisan di sungai Yordan dan sampai penguburan-Nya. Yesus adalah seorang yang beriman, tetapi sekaligus tersesat secara religius. Perkembangan batin Yesus digambarkan dalam tiga fase, yaitu eskatologis, introversi dan passio. Pekerjaan Yesus berakhir dengan kegagalan.
Fase pertama adalah eskatologi. Kehidupan Yesus ditandai dengan datangnya Kerajaan Allah yang diharapkan pada akhir zaman21. Yesus mengutus para murid dan mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang” (Mat. 10,23). Para murid kembali dari pengutusan itu, tetapi situasinya tidak berubah sama sekali. Fase kedua adalah introversi, yaitu Yesus merevisi pewartaannya. Peristiwa sejarah sebagai masa baru yang diharapkan sudah terlaksana sebagai kenyataan batin sekarang ini. Yesus mengatakan, “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17,21). Ternyata pembatinan Kerajaan Allah ini juga tidak cukup. Jemaat Kerajaan Allah yang sudah terbentuk dalam lingkungan murid-murid, tersingkirkan. Yesus berusaha mati-matian, tetapi jatuh ke penguasa Yahudi dan penjajah Roma. Fase ketiga adalah passio. Kehidupan Yesus berakhir dengan pembunuhan di kayu salib. Yesus berteriak penuh keraguan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku(mk 15,34)?” Teriakan yang penuh ragu itu sungguh-sungguh merupakan kata terakhir dari Yesus yang gagal dan mati secara tragis.22
Tradisi Yahudi menerangkan kekeliruan dan kematian tragis semacam ini dengan mengatakan bahwa demi cintanya kepada israel, Allah untuk sementara membuat mata orang-orang bijaksana tersilaukan. Begitu pula dengan Yesus dari Nazareth. Yesus tetap hidup terus, tidak hanya dalam Gereja yang mendasarkan hidupnya pada Dia. Yesus hidup juga dalam pekerjaannya. Dengan kemartiran yang Dia tanggung, penderitaan Yesus di salib merupakan perumpaan bagi seluruh bangsanya, yang didera, berdarah, bergantung pada salib kebencian terhadap orang-orang Yahudi.
Shaom Ben-Chorin memberikan gambaran mengenai Yesus dari Nazareth yang positif meskipun dia menolak dimensi-dimensi yang menentukan dalam iman Kristiani. Penolakan ini berhubungan dengan pengalaman dan penafsiran mengenai kenyataan dunia sekarang ini dari perspektif keselamatan. Kalau Mesias sudah datang, bagaimanakah dapat dimengerti kenyataan dunia yang konkret seperti sekarang ini sebagai dunia yang sudah diselamatkan dalam karya, kematian, dan kebangkitan Yesus.



III.2Gambaran Yesus dalam Agama Islam23
Nama yang dipakai dalam Islam untuk menyebut Yesus adalah Îsâ. Nama Arab yang dipakai dalam Kristen adalah Yasû’a yang asalnya adalah Yeshua (bahasa Ibrani) melalui Yessû’a (bahasa Syiria). Dalam menyebut Îsâ dan nama nabi-nabi lainnya, biasanya umat Islam menambahkan gelar penghormatan alay-hi salâm. Nama Îsâ muncul 25 kali dalam al-Qur’ ân. Kebanyakan nama tersebut muncul dalam surah-surah Median (Q 2; 3; 4; 5; 9; 33; 57; 61). Hanya 5 kali nama itu muncul dalam surah-surah Mekah (Q.6;19;23;42;43). Secara umum nama itu dikaitkan dengan ibunya, Maryam sehingga kemudian disebut Îsâ ibn Maryam. Nama Îsâ ibn Maryam muncul 23 kali dalam al-Qur’ân, 16 kali muncul secara lengkap sebagai Îsâ ibn Maryam dan 7 kali hanya sebagai ibn Maryam. Perlu diingat bahwa injil hanya satu kali menyebut Yesus sebagai anak Maria (Mk. 6,3).
Nama lain yang dipakai untuk menyebut Yesus adalah Al-Masih. Nama itu muncul 11 kai dalam al-Qur’ ân. Semuanya dapat ditemukan dalam surah-surah Medina. Tentang nama itu, al-Qur’ ân tidak pernah memberikan definisi atau penjelasan. Beberapa ahli tafsir mengakui bahwa nama itu terasa asing. Ada yang berpendapat bahwa nama ini berarti “menyentuh” dalam pengertian Îsâ yang sentuhannya bebas dari cacat dan cela. Ada pula yang memahaminya dalam pengertian “berjalan” karena Îsâ memang dilukiskan sebagai pribadi yang banyak melakukan perjalanan dan peziarahan. “Ambillah Îsâ sebagai teladanmu!” kata al-Ghazalî (m.1111).
Al-Qur’ ân memakai kata Hamba (‘Abd) sebanyak tiga kali untuk menyebut Yesus. Ini dapat dibandingkan dengan nama Ibrani Ebed, seperti yang muncul dalam Yesaya 42,1. Nama Hamba memiliki nuansa yang mendalam, terkait dengan sikap taat dan pasrah menyerah. Istilah hamba ini menjadi spirit atau gagasan dasar dalam Islam.
Nama Yesus memang sering disebut Nabi bersama dengan nabi-nabi lain, akan tetapi hanya sekali Ia disebut nabi sendirian, yaitu dalam al-Qur’ ân (Q.19:30). Terkait dengan nama itu, ada perbedaan nuansa antara nabi dan rasul. Seorang nabi adalah seorang utusan (rasul) yang mendapat tugas khusus dari Allah serta memperoleh bekal berupa Kitab yang memuat Wahyu Allah (Zabur, Taurat, Injil, dan al-Qur’ân). Ada 28 nama nabi yang disebut dalam al-Qur’ ân, tetapi umat Muslim percaya bahwa jumlah seluruh nabi jauh lebih banyak. Sementara itu, sebutan Rasul yang berkaitan dengan Yesus hanya dipakai 10 kali dalam al-Qur’ ân.
Yesus disebut juga Sabda (Q 3,45 dan 4: 171). Sebutan ini mengacu pada kenyataan bahwa Îsâ lahir tidak karena hasil hubungan suami-istri, tetapi karena Sabda Allah kun fa-yakun: jadi maka jadilah! Keberadaan Yesus dengan demikian dapat dibandingkan dengan keberadaan Adam yang juga ada berkat sabda kun fa-yakun. Sebutan lain yang muncul dalam al-Qur’ ân untuk Yesus adalah Roh. Ada tujuh kali sebutan ini dipakai. Ini menyerupai dengan proses penciptaan Adam, “Aku telah meniupkan ke dalamnya RohKu.” Yesus disebut juga dengan nama Tanda. Ada 3 ayat al-Qur’ ân yang mengatakan tentang hal ini (Q.19;21; 21:29; 23:50). Îsâ menjadi tanda tidak hanya untuk umat Israel, tetapi juga untuk seluruh dunia. Selain itu, masih ada nama-nama lain yang dipakai untuk menyebut Yesus, yaitu: Gambaran (Q.43:57), Saksi (Q 4:159), Rahmat (Q. 19:21), Yang Terhormat, Yang Terkemuka (Q. 3:45), Yang Dekat dengan Allah (Q. 3:45), Yang Saleh (Q. 3:46), dan Yang Terberkati (Q. 19:31).
Nabi Îsâ mengajarkan bahwa Allah itu esa. Perutusan nabi Îsâ sama dengan nabi-nabi yang lainnya, yaitu mewartakan Allah yang esa dan menuntun bangsanya menyembah hanya kepada Alalh esa itu (Surat III/Al-Imran 51). Nabi Îsâ diangkat ke langit dan tidak mati di salib. Allah adalah Allah yang mahakuat dan mahaperkasa.

III.3Gambaran Yesus dalam Hinduisme
Sejarah Hinduisme berkembang sejak tahun 2000 sebelum masehi. Sejak tahun 188 sesudah masehi, ada beberapa tokoh dalam Hinduisme mengemukakan gambaran-gambaran mengenai Yesus.

III.3.1Ram Mohan Roy. 24
Ram Mohan Roy hidup pada tahun 1775-1833. Mohan Roy adalah seorang bapak renaissance India. Dia berkenalan dengan ajaran iman Kristiani melalui para misionaris. Perjumpaan dan pengalamannya dengan ajaran-ajaran Kristiani mempunyai makna untuk memperbarui Hinduisme. Dia berpendapatbahwa bentuk-bentuk praktik Hinduisme pada waktu itu telah menutup inti Hinduisme, ajaran-ajaran Upanishad dan Veda. Melalui ajaran Yesus dalam kotbah di bukit (Mat. 5), Mohan Roy menemukan sesuatu yang baru dan indah, yaitu ajaran mengenai Allah sebagai Ada Absolut. Dia berpendapat bahwa pengetahuan akan hal itu memimpin jiwa manusia menuju kesatuan dengan Allah. Dia mengakui Yesus sebagai pengajar unggul mengenai religi dan moral.
Dalam bukunya yang berjudul The Precept of Jesus, the Guide to Peace and Happines, Ram Roy mengungkapkan bahwa kehidupan historis Yesus hampir tidak memainkan peranan. Dia mengatakan bahwa bagian hidup Yesus yang penting adalah kotbah di bukit. Mukjizat Yesus merupakan mitos belaka baginya. Dia melihat bahwa tindakan penyerahan Yesus sampai pada salib mengingatkannya akan kurban-kurban berdarah dari para Brahmana. Allah adalah begitu besar dan tidak akan menuntut darah dari anak-anakNya. Pengajaran para misionaris mengenai Allah yang menampakkan diri di dunia adalah pararel dengan ajaran mengenai Avatara.

III.3.2Keshab Chandra Sen.25
Keshap Chandra Sen hidup tahun 1838-1884. Chandra Sen merupakan pembaharu Hinduisme sesudah Mohan Roy. Ia memandang Yesus sebagai pribadi yang menyumbang untuk kemanusiaan, khususnya melalui ajaran-ajaran etisnya yang khas. Otto wolff menyebut Keshab Chandra Sen sebagai saksi Kritus di antara saudara-saudara Hindu. Chandra Sen lebih merupakan seorang beriman daripada seorang pemikir. Sebagai seorang Hindu, ia menjumpai Yesus dalam doa. Kristus adalah satu-satunya yang menebus dia dari kedosaannya dan yang dapat memenuhi jiwa dengan kegembiraan rohani. Melalui sesal dan penyangkalan diri, Kristus menjalani hidup serupa dengan kehidupan ilahi, dan kini dalam kemuliaan, Ia hidup di tengah-tengah manusia dan menguatkan manusia.
Pengertian orang-orang Eropa mengenai Kristus dan kobah-kotbah mereka di India perlulah dipertanyakan. Yesus adalah orang Asia bukan orang Eropa. Semua muridNya adalah orang-orang Asia. Orang-orang Indiah harus belajar memandang Yesus dengan mata Asia. Yesus mengerti orang-orang India dan ingin memenuhi kerinduan-kerinduan mereka yang terdalam. Bagi orang-orang India, Yesus adalah penebus dari dunia kotor dan rusak. Yesus bukanlah penyelamat Eropa yang tidak toleran dan melawan orang-orang yang tidak percaya. Yesus yang lemah lembut, rendah hati dan menyangkal diri, menemui hati orang-orang India secara benar.
Chandra Sen mengakui keilahian Yesus. Firman “Aku dan Bapa adalah satu (Yoh 10,30)” menampilkan suatu keilahian. Sekarang ini juga, Anak Allah dekat dengan manusia. Kristus-bhakti tidak membawanya ke dalam keadaan trance penuh kabut, melainkan ke suatu hidup dengan dan dalam Yesus. Yesus bukanlah avatar India. Yesus telah menjadi manusia untuk membangun kembali keilahian dalam manusia. Seluruh India hendaknya hidup serupa dengan Kristus, membangun persaudaran baru, bukan sebagaimana dikehendaki oelh para misionaris Eropa, yakni institusi-institusi gerejani yang selalu terpecah dalam konfesio dan sekte baru. Dalam persekutuan rohani dengan Kristus itu, semua manusia adalah satu. Chandra Sen mengakui penebusan yang bersifar universal.

III.3.3Swami Vivekananda.26
Swami Vivekananda hidup pada tahun 1862-1902. Vivekananda menginterpretasikan Injil dengan bantuan ajaran Advaita dari Shankara (abad 8). Yesus bukanlah Allah dalam arti yang khas, melainkan pewarta yang serupa dengan Allah, pewarta yang memberitakan keputeraan Allah dan keabadian. Menurut ajaran Shankara, hanyalah terdapat Ada Sejati, yakni Allah Mutlak. Manusia dapat ambil bagian dalam Allah denagn meninggalkan segala yang duniawi melalui pengakalan diri dan meditasi. Yesus telah menjalankan itu semua dalam cara yang hampir ilahi. Vivekananda mengatakan bahwa kalau dia sebagai orang Timur mau menghormati Yesus, hanyalah ada satu jalan yaitu menghormatiNya sebagai Allah dan tidak lain.
Dia menyampaikan ajaran-ajaran serupa dengan Mohan Roy dan Chandra Sen. Vivekandanda sampai pada pandangan-pandangan mengenai Kristus diawali dengan vision Ramakhrisma, seorang imam desa. Dalam visionnya, Ramakhrisma tidak hanya mengalami dewa-dewa Hinduisme, melainkan juga Allah Tritunggal dari orang-orang Kristen.

III.3.4Mohandas Karamcand Gandhi27
Mohandas Karamcand Gandhi hidup pada tahun 1869-1948. Gandhi lebih tertarik pada ajaran-ajaran Kristus daripada realitas historis Yesus. Orang berjiwa besar (Mahatma) in berjuang untuk kemerdekaan India dari kolonialisme Inggris dengan religiositas yang mendalam. Baginya tidaklah menjadi masalah seandainya orang membuktikan bahwa orang bernama Yesus itu tidak pernah hidup. Kotbah di bukit tetap benar. Gandhi mengenal orang-orang Kristen di India, di Afrika Selatan dan Inggris. Dia juga berkenalan dengan para misionaris. Berhadapan dengan para misionaris, ia menekankan nilai dari semua religi dan realitas kesenjangan yang ia temukan antara Yesus dan orang-orang Kristen.
Gambar Yesus juga menghiasi ruang kerja Gandhi. Dia menulis “Yesus yang kucintai” dan “Apa arti Yesus bagiku”. Yesus bukanlah Anak Allah, melainkan Pengajar, Guru yang Agung. Yesus memang mendekati kesempurnaan, tetapi hanyalah Allah yang sempurna dan berdiri di atas manusia. Yesus bagi Gandhi adalah Pangeran Satyagrahi, orang yang tidak bersalah dan berjuang tanpa kekerasan. Sebagai yang tidak bersalah dan menderita, Yesus adalah teladan setiap orang dan bukanlah eksklusif bagi orang Kristen.

III.3.5Swami Akhilananda28
Swami Akhilananda hidup pada tahun 1894-1962. Dia adalah seorang biarawan dan teolog Hindu yang memberi perhatian besar kepada Yesus. Pada usia 30 tahun, ia pergi ke Amerika Utara dan tinggal di sana sampai kurang lebih tahun 1955 sebagai seorang misionaris Hindu. Di sana, ia berteman dengan banyak orang kristiani dan bagi mereka itulah ia menulis sebuah buku “The Hindu view of Christ” yang terbit di New York pada tahun 1949.
Dia menganggap Yesus sebagai seorang yang tidak hanya mengajarkan yoga, melainkan juga secara istimewa menjalankan tiga macam yoga, yaitu: Bakti Yoga, Karma yoga, dan Jnana Yoga. Yesus mengajarkan untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan segala yang lain akan diberikan kepadamu. Kerajaan Allah ini adalah kepenuhan kebatinan yang memuncak pada pencerahan besar samadhi. Yesus adalah Avatar Allah, yang seperti banyak yang lain sebelum Dia, tampak di atas bumi ini untuk menegakkan kembali keadilan Allah.
Kesejarahan Yesus tidak menjadi masalah bagi Swami Akhilananda, namun salib dan kebangkitan sebagai lambang-lambang yang penuh makna adalah lebih penting. Yesus adalah terutama pemimpin untuk kehidupan batin dan persatuan dengan Allah. Orang-orang Hindu sudah mengenal Yesus ini dan sebenarnya tidak ada gunanya para misionaris datang ke India untuk memaksakan gambaran Yesus dari Eropa.
Secara keseluruhan gambaran tokoh-tokoh Hindusme mengenai Yesus dapat digambarkan sebagai berikut:
a.Yesus adalah guru, pengajar besar dalam religi dan etika, terutama dalam kotbah di bukit yang sangat dipuji. Yesus mengajarkan satu Allah dan manusia bertanggungjawab terhadapNya.
b.Yesus adalah pola orang yang tidak bersalah, yang menanggung banyak penderitaan dan mengalahkan yang lebih kuasa tanpa kekerasan. Ia adalah manusia dengan kedalaman rohani dan kebaikan yang menyentuh kedalaman hati manusia.
c.Mengenai keilahian Yesus, terdapat bermacam-macam jawaban. Yesus sering disebut Avatar Allah, yakni penampakan Allah dalam kemanusiaan seperti misalnya Khrisma. Ada juga yagn menolak penggambaran tersebut. Selama kehidupannya di dunia, Yesus tidak disebut Alalh. Sesudah kematianNya, Yesus diilahikan, ditinggikan, dan menjadi kekuatan hidup yang dapat memasuki manusia.
d.Yesus adalah seorang Yogi besar. Yesus menjadi pengajar religius, pemimpin rohani, Guru India. Murid-murid Yesus dikehendaki untuk mengarahkan perhatian terutama pada hidup batin menuju kesempurnaan. Ia menghendaki persaudaraan, persekutuan rohani orang-orang beriman dan bukan Gereja besar seperti disampaikan oleh para misionaris.
e.Yesus termasuk Hinduisme, dicintai dan dimengerti secara benar. Dunia barat telah mengerti Yesus secara keliru dan kini Yesus sejati telah ditemukan kembali oleh Hidunisme.

IV.Gelar-gelar Yesus: Perjumpaan dengan Allah dalam Peristiwa Yesus
Dialog dengan tradisi-tradisi Kristiani memberikan kesaksian iman mengenai perjumpaan dengan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus. Umat beriman kristiani berjumpa dengan orang-orang yang memberikan kesaksian iman.29 Melalui proses mendengarkan, iman kita dilahirkan dan dikembangkan. Di sini, tradisi-tradisi kristiani dimengerti secara luas, yaitu semua saja yang menampilkan kesaksian mengenai Yesus Kristus, seperti ajaran Gereja, pemikiran teologis, spiritualitas, praksis Gereja dan terutama Kitab Suci. Dari tradisi-tradisi Kristiani ini pula, kita sampai pada perumusan ajaran iman mengenai siapa Yesus bagi umat Kristiani, yang direfleksikan dalam konteks pengalaman manusiawi mengenai Allah.
Pengalaman dan pemahaman manusia mengenai Allah terjadi dalam dunia melalui suatu mediasi, entah itu peristiwa, orang, situasi, teks-teks kitab suci ataupun benda-benda. Mediasi tersebut dapat disebut gelar religius. Sebagai kenyataan dalam dunia ini, gelar religius mempunyai sifat terbatas, tetapi menunjuk yang mengatasinya, yaitu Allah yang transenden dan tak terbatas. Yang tak terbatas dialami dalam dan melalui gelar religius yang terbatas. Gelar religius terbatas ini memang menunjuk keseluruhan dari Yang tak terbatas, tetapi sekaligus juga mengkhususkan, memfokuskan, mentematisasikan dan membatasi. Allah mewahyukan diri kepada manusia dalam dunia. Gelar-gelar mengenai Yesus muncul dari hidup manusia dalam dunia ini, bahkan dalam konteks tertentu pula. Pemahaman mengenai Yesus Kristus sekaligus juga pemahaman mengenai eksistensi manusia dalam hubungan dengan Yesus Kristus.

IV.1Nabi30
Yesus dikenal sebagai seorang nabi (Mat. 21,11; Lk. 7, 16; 24,19; Yoh 4,19;9,17). Yesus sendiripun berkata mengenai diriNya, “Seorang nabi di hormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara keluarganya dan di rumahnya” (Mk 6,4; Lk. 4,24; Yoh 4,44). Pengalaman Yesus pada saat permandian (Mat 3,13-17) dapat dipandang sebagai pengalaman panggilan seorang nabi (Yes 6,1-10)31. Yesus telah berkiprah sebagai seorang yang memiliki kuasa (eksousia) yang pasti merupakan ciri kenabian. Di dalam tradisi alkitabiah, kewibawaan seorang nabi diakui dan diterima apabila ia dikuasai oleh Roh Allah. Penampilan Yesus mengingatkan orang akan tokoh Perjanjian Lama maupuan akan Yohanes Pemandi yang juga disebut “nabi” (Mat 11,9; 14,15; Luk 1,76).
Pada waktu kaum keluarga Yesus dan orang-orang lainnya kuatir bahwa Yesus sudah tidak waras atau bahwa ia mungkin telah dirasuki setan, Ia menanggapi dengan memuji dan memuliakan kehadiran Roh Kudus dan kehendak Allah (Mk. 3, 21-35). Karena Yesus dikenal tidak hanya sebagai seorang nabi, tetapi sebagai seorang nabi akhir zaman, sebagai Dia yang memberitakan telos (maksud akhir) dan finis (tujuan akhir) Allah dan sebagai Dia yang mendatangkan dan mewujudkan “tindakan akhir Allah yang paling menentukan untuk menyelamatkan umatNya. Yesus tidak hanya memberitakan Kerajaan Allah dan meminta tanggapan iman, tetapi Ia juga telah mempertaruhkan hidupNya sendiri dengan menempuh bahaya demi kebenaran yang menjadi isi amanatNya.

IV.2Anak Manusia32
Dalam Perjanjian Baru, Kata “Anak Manusia” dipakai sebanyak 82 kali, yaitu 67 daripadanya injil synoptik, 13X dalam Yohanes, dan Kis 7:56, Why 14:14.33 Kata Anak Manusia dipakai oleh Yesus sendiri dalam arti “saya”. Kadang-kadang dalam teks-teks paparel memang ditulis “saya” ganti “Anak Manusia” (Luk 12,8; Mat 10,32). Banyak ahli berpendapat bahwa sebutan Anak Manusia berasal dari Yesus sendiri. Dalam Mrk 14,62, Anak Manusia terang mempunyai arti mesias, dan barangkali ayat itu dirumuskan dengan pertolongan Dan 7,13. R. Bultmann membedakan tiga sabda mengenai Anak Manusia:
1. Anak Manusia yang akan datang, khususnya sebagai hakin dimasa yang akan datang,
2. Anak Manusia yang bersengsara, teristimewa yang disebut dalam ramalan sengsara,
3. Anak Manusia yang berkarya di dunia, biasanya penuh kuasa.
Secara umum boleh dikatakan bahwa Yesus berbicara mengenai dirinya sendiri dengan mempergunakan sebutan Anak Manusia. Fakta bahwa Gereja Purba tidak mempergunakan Anak Manusia sebagai gelar kristologis merupakan argumen yang kuat untuk mempertahankan bahwa sebutan itu berasal dari Yesus. Kalau Yesus menyebut dirinya dengan sebutan Anak Manusia, apa artinya? Jawaban harus dicari dalam pewartaan Yesus sendiri, yakni pewartaanNya mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah menjadi begitu sentral dalam pewartaan Yesus, sehingga hidup dan pribadi Yesus harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah. Anak Manusai harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah itu. Dapat dikatakan bahwa sabda mengenai Anak Manusia datang atau dari Yesus sendiri atau dari jemaat purba. Anak Manusia adalah gelar eskatologis, dan sangat tidak jelas baik artinya ataupun asal-usulnya. Teks tentang Anak Manusia terdapat dalam: Mt 9,6; 12,8; 17,8;25,18, Mrk 2,10, 8,31; 9,9, Luk 5,24; 6,5; 9,22, Yoh 1,51; 3, 13; 5,27.


IV.3Anak Allah34
Dalam Perjanjian Baru, ada dua cara pemakaian sebuatan Anak Allah: atau sebagai semacam gelar atau sebagai ungkapan relasi khusus Yesus dengan Allah. Anak Allah mempunyai arti gelar, langsung kelihatan dari perbandingan teks-teks ini: Yoh 1,49; Luk 4,41; Kis 9, 20-22. Melalui teks-teks ini kelihatan bahwa “mesias” (=kristhos) disebut Anak Allah. Gelar Anak Allah umum dipakai di dalam lingkungan Yunani-Romawi dan diterapkan pada diri kaisar atau dewa-dewa kafir. Dalam tradisi Israel gelar Anak Allah diterapkan untuk raja (2Sam 7,14) dan untuk Israel (Kel 4,22).
Dalam Perjanjian Baru, sebutan Anak Allah mempunyai dua arti, yaitu sebagai gelar dan relasi Yesus dengan Allah35. Sebagai gelar kebesaran, sebutan Anak Allah menunjukkan keluhuran Yesus (bdk. Ki 13:32-33). Keluhuran itu terutama menunjuk pada pengalaman paska. Lewat pengalaman paska, pandangan para murid akan Yesus makin transenden, makin dimuliakan dan diilahikan. Gelar Anak Allah juga merupakan pengakuan iman khas kristiani, namun bukan dalam arti julukan kehormatan (Yoh 20,31). Dengan sebutan Anak Allah, mau ditunjukkan siapa Yesus sebenarnya. Dalam konteks ini sebutan Anak Allah, pertama-tama mau menunjuk hubungan Yesus dengan Allah (Mt 11, 27; Luk 10, 22). Relasi khusus Yesus dengan Allah ini nampak jelas dengan menyebut Allah sebagai Bapa (Yoh 5,17).
IV.4Kristus36
Kata “Kristus” (Yunani “Christos”, Ibrani “Mesias”) mempunyai arti ‘yang terurapi’.37 Kata ini berasal dari Perjanjian Lama dan Yudaisme. Gelar itu dipakai bagi raja-raja yang duduk di atas tahta Daud dan mempunyai warna politis. Meskipun seroang raja Israel diurapi oleh manusia, namun pengurapan itu dilihat sebagai tindakan Allah (1Raj 9,3). Dengan pengurapan itu, diungkapkan pemberian Roh Tuhan sebagai mesias (Yes 61). Pada perkembangan sejarah Kerajaan Israel, dimana tidak ada raja yang memenuhi harapan, sebutan Kristus/Mesias diarahkan kepada raja yang ideal. Disinilah muncul pemahaman mesias eskatologi, yakni raja ideal yang diharapkan pada akhir zaman. Janji akan kedatangan mesias itu beragam. Deuteroyesaya melukiskan mesias itu sebagai “hamba yang bersengsara” (Yes 53), dalam Dan 7, 11 mesias adalah Anak Manusia.
Dalam Perjanjian Baru gelar Kristus dikenakan pada Yesus. Ini mau menunjukkan fungsi, misi, tugas Yesus yang merupakan jawaban terhadap situasi fundamental. Yesus tidak pernah menyebut diri-Nya Mesias. Dalam Perjanjian Baru ada tiga teks yang menampilkan aspek mesianis Yesus:
1.Tulisan pada salib (Mrk 15, 26). Orang Romawi memandang Yesus sebagai mesias dalam arti politis yang memberontak.
2.Yesus dihadapan mahkamah agama (Mrk 14, 53-65)
3.Pengakuan Petrus (Mrk 8, 27-33).
Teks ini yang paling jelas bicara mengenai mesianitas Yesus. Mesias yang dimaksud adalah “Anak Manusia yang menderita sengsara dan ditolak oleh tua-tua dan para imam lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk 8,31). Gelar Kristus bagi Yesus secara khusus berkaitan dengan peristiwa salib dan wafat-Nya. Saat penyaliban, istilah Kristus hanya sebagai ejekan (Mrk 15,32), namun setelah peristiwa kebangkitan, para murid memaknainya sebagai nama kehormatan dan kemuliaan.

IV.5Tuhan38
Kata “Tuhan” merupakan terjemahan dari bahasa Yunani “Kyrios”. Kata ini dipakai untuk menyebut pemilik, tuan, majikan, penguasa yang memerintah raja-raja. Dalam arti kyiros tidak mempunyai arti religius. Tetapi dalam dunia Yunani, kyrios juga memiliki makna religius, yakni untuk menunjuk para dewa-dewi yang memiliki kuasa dan hak atas hidup manusia. 39
Dalam terjemahan Perjanjan Lama, kata Tuhan biasa digunakan untuk menyebut Allah, sebab Israel juga mengenal penggunaan kata ‘tuan’, ‘tuhan’ untuk menunjuk para pemilik tanah, raja atau majikan. Dalam bahasa Ibrani istilah itu dipakai kata adonai, adon. Adonai mau mengungkapkan diri Allah yang memiliki bangsa Israel dan juga menguasai langit dan bumi, sebab Dia adalah Sang Pencipta yang kemuliaan-Nya memenuhi ciptaan-Nya (Mzm 114,7 Yes 1,24; 3,1).
Dalam Perjanjian Baru, kata Tuhan dikenakan untuk gelar Yesus. Gelar Tuhan adalah gelar kebangkitan. Tulisan Paulus cukup konsekuen dalam menggunakan gelar ini. Gelar Tuhan pertama-tama digunakan untuk Dia yang dibangkitkan atau Dia yang mulia dan ditinggikan karena kebangkitan. Flp 2, 9-11, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengurniakan kepada-Nya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut…”
Dalam Gereja Perdana, sebutan Tuhan dikenakan pada Yesus. Jemaat kristen sadar bahwa Yesus yang menderita dan wafat di salib itu kini bangkit dan ditinggikan oleh Allah menjadi Tuhan. Sebaga Tuhan, kini Yesus mempunyai kuasa bumi atas langit (Mt 28,18). Dalam tardisi PL, kuasa itu hanya dimiliki Allah. Sebagaimana Allah adalah penyelamat, kini Yesus di dalam Allah yang bertindak dan menyelamatkan (Yoel 2,32, Rm 10,9). Maka dengan sebutan Tuhan, Yesus mau disejajarkan dengan Allah sendiri yang berkuasa dan sebagai penyelamat. Yesus sebagai Tuhan bagi jemaat kristiani menjadi pokok keselamatan (Ibr 5,9) dan pusat Gereja.

V.Penutup
Percakapan mengenai Kristologi menyapa setiap budaya dalam perkembangan manusia yang mejadi ruang lingkup konteks aktual Gereja. Hal ini tentu saja mempunyai rentang waktu yang cukup lama dengan peristiwa Yesus. Dalam perkembangan budaya yang semakin modern, semakin jauh dari realitas historis Yesus Kristus; selalu dibutuhkan, digali, dan dikembangkan sebuah re-interpretasi tradisi kristiani. Figur Yesus historis menjadi pusat, sekaligus tanda kehadiran dan wahyu Allah dalam komunitas kristiani. Yesus dilihat sebagai simbol Allah yang menuntut manusia untuk bersikap kritis dalam beriman.
Bagi umat beriman Kristiani, Allah yang dialami adalah Allah yang mewahyukan diri melalui Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus, manusia sampai kepada Allah40. Hidup beriman mengikuti Yesus Kristus mempunyai ciri mistis, menyentuh pengalamn personal. Hidup beriman juga mempunyai ciri politis, mengusahakan kesejahteraan hidup bersama yagn lebih manusiawi, lebih adil, dan merdeka. Orang-orang yang berjumpa dengan Yesus dipanggil untuk mengikutinya, untuk mengolah hidup batin dan lingkungan mereka sehingga setiap pribadi mempunyai kepastian jawaban mengenai “Siapa Yesus baginya”.


Daftar Bacaan

Banawiratma, JB.
2001 Yesus Kristus dan Allah Mahaesa Tritunggal. Dengan Pendekatan Kontekstual. Sebuah Diktat Kuliah. Yogyakarta: Fakultas Teologi USD.
Eckardt, A. Roy.
1996 Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini. JakartaL BPK Gunung Mulia.
Greene, Colin Greene.
1998 Christology in Cultural Perspective. Marking out the Horizons. Cambria: Pater Noster Press.
Heru Prakosa, JB.
2008 Yesus dalam Islam. Sebuah diktat kuliah. Yogyakarta: FTW.
Jacobs, Tom.
1982 Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.
2000 Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus. Yogyakarta: Kanisius.
Konferensi Waligereja Indonesia
1996 Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.
Smith, Huston.
1985 Agama-Agama Manusia. Jakarta: Obor. 1985.
Sudiarja, A.
2000 “Agama Yang Jatuh Bangung” dalam Orientasi Baru. Jurnal Filsafat dan Teologi. No. 13 Tahun 2000. Yogyakarta: Kanisius.
Syukur, Nico Dister.
1987 Kristologi Sebuah Sketsa. Yogyakarta: Kanisius.
2004 Teologi Sistematika 1, Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius.
Vorgrimler, Herbert.
2005 Trinitas Bapa Firman Roh Kudus.

Tidak ada komentar: