Kamis, 05 Juni 2008

Penutup

PENUTUP




Gereja yang misioner” merupakan salah satu gambaran yang ditarik dari sepenggal perjalanan Gereja Keuskupan Agung Semarang berdasar Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) periode 1984-1990. Gambaran-gambaran lain tentu saja bisa disebutkan untuk menunjukkan gerak perjalanan Gereja KAS yang hadir dalam masyarakat Indonesia. “100% Katolik, 100% Indonesia” merupakan salah satu gambaran Gereja KAS ketika Indonesia sedang berada dalam masa revolusi kemerdekaan. Gereja ingin menyatu sehati seperasaan dengan perjuangan dan jerih payah seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia.

Gambaran Gereja KAS yang misioner mengungkapkan bagaimana iman akan Allah yang berkarya melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus dapat mendarah-daging di dalam gerak hidup masyarakat. Dengan kata lain, Gereja senantiasa berjuang untuk sungguh dapat menjadi garam di dalam masyarakat dengan menaburkan benih-benih iman, harapan, dan kasih kristiani1. Gereja yang misioner terungkap dalam iman yang memasyarakat, iman yang merasuki seluruh dimensi masyarakat. Melalui pilihan dan karya pastoralnya, Gereja KAS ikut berperan serta secara aktif dan aktual dalam gerak pengembangan masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam perjalanannya, Gereja KAS mengungkapkan jatidiri misionernya melalui segala karya pastoralnya di masyarakat. Gereja KAS berjuang dalam dan bersama keprihatinan masyarakat. Gereja KAS mengungkapkan kesaksian imannya dalam beberapa ungkapan dan perwujudan iman, yaitu mewartakan Injil kepada orang yang terbuka; mewartakan nilai-nilai luhur universal kristiani yang benar, baik, dan suci kepada orang lain yang mempunyai keyakinan agama kuat; dan mencoba meningkatkan kehidupan orang menjadi orang yang betul-betul baik. Seluruh karya misioner Gereja KAS itu diungkapkan dalam berbagai bidang pelayanan ke masyarakat. Ada karya dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial ekonomi, sosial politik. Gereja KAS berusaha mengembangkan kehidupan yang penuh keadilan, ikut dalam proses pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 19452.

Gereja KAS terlibat dalam kehidupan masyarakat secara aktif dan aktual, terbuka terhadap segala perjuangan dan keprihatinan masyarakat. ARDAS KAS periode 1984-1990 merupakan gerak bersama seluruh Umat Allah di KAS yang dikembangkan berdasar refleksi Gereja KAS atas segala keprihatinan dan perjuangan masyarakat. ARDAS ini dikembangkan dan direfleksikan sehingga menjadi gerak bersama umat Allah KAS pada periode berikutnya. ARDAS KAS ini menjadi ungkapan nyata Gereja KAS yang hadir dalam masyarakat KAS.

Dalam perjalanan dan geraknya, ARDAS KAS periode 1984-1990 menjadi dasar dan titik tolak kehidupan iman dan misi Gereja KAS. Gereja KAS terus-menerus melakukan refleksi-refleksi teologis untuk menghasilkan arah yang jelas dan tegas bagi hidup menggereja yang misioner. Refleksi yang masih dalam tataran teologis dan masih menjadi milik kaum “elite” Gereja dikembangkan menjadi refleksi yang menyentuh kehidupan “akar rumput”. Gerakan ini dikembangkan menjadi gerakan yang menyentuh kehidupan umat basis, pada implikasi praktis dan operasional3.

Struktur-struktur gerejawi mengupayakan kehidupan dan kesaksian yang bersifat konsentris, tidak hanya bersifat sering menyajikan citra “institusi”. Seluruh umat dilibatkan secara aktif dalam kesaksian yang merasuki dimensi masyarakat sehingga Gereja KAS sungguh menjadi “persekutuan umat beriman yang bersaksi dan merasuki seluruh dimensi masyarakat”. Hirarki mengembangkan pelibatan semakin banyak umat dalam melaksanakan Gereja KAS yang misioner.

Keprihatinan umat mengenai gaya hidup imam menjadi titik pangkal refleksi para imam dalam memberikan kesaksian iman yang semakin merasuki seluruh dimensi kehidupan umat, entah melalui pelayanan parokial atau kategorial. Mereka tidak jarang memberi kesan tidak sederhana dan pilih-pilih dalam pelayanan. Dengan kesaksiannya yang merasuki kehidupan masyarakat, mereka mengungkapkan komitmen Gereja: preferential option for (and with) the poor4.

Gereja KAS mengungkapkan karya misinya dengan berpartisipasi secara aktif dan aktual dalam dunia dengan kompleksitasnya dalam semangat dialog. Setiap orang kristiani turut memikul dan mengemban misi ini dalam interaksi pelayanan antar saudara-saudara seiman demi pelayanan seluruh Gereja bagi Kerajaan Allah. Kaum awam berperan penuh dalam Gereja dan perutusannya. Dengan menyadari betapa luasnya spektrum kemungkinan peranan awam dalam misi Gereja, disusunlah sebuah visi yang merangsang kesuburan injili dari peranan mereka tersebut5.

Semua orang Kristiani bertanggungjawab atas karya misioner Gereja sesuai dengan panggilan masing-masing6. Umat beriman sebagai keseluruhan dan setiap anggotanya menghayati imannya sebagai kesaksian dalam pengabdian kepada masyarakat. Tidak ada segolongan atau seorangpun yang dikecualikan. Masing-masing golongan mengemban misi Gereja itu atas tanggung jawab sendiri dan atas kharisma yang khas. Melalui kehadirannya dalam masyarakat, setiap umat Allah memberikan kesaksiannya di tengah masyarakat dan berkembang serentak secara selaras dengan seluruh gerak Gereja.

Kaum awam mengungkapkan iman mereka melalui berbagai profesi dan peran sosialnya. Peranan mereka memang tidak secara eksplisit menunjukkan hubungan dengan Gereja sebagai lembaga. Mereka bermisi melalui bidang-bidang “sekular”7. Dengan demikian relasi yang berkembang adalah relasi awam dengan seluruh Gereja, tidak hanya awam dengan klerus. Relasi ini mengungkapkan peziarah dengan dunia menuju Kerajaan Allah. Kaum awam dan klerus bersama-sama melaksanakan karya misi Gereja. Gereja tidak hanya tanggung jawab kaum klerus, tetapi seluruh Umat Allah. Ini berarti bahwa keputusan-keputusan dalam Gereja menjadi lebih beragam dan pusat-pusat pengambilan keputusan dalam Gereja akan lebih majemuk. Karena interaksi antara Injil dengan dunia adalah kompleks, kaum awam perlu mendapat peranan lebih banyak dalam pengambilan keputusan ini.

Dalam suasana keanekaragaman peran awam tersebut, disadari bahwa Gereja terpanggil untuk bermisi secara istimewa, aktual, dan aktif sesuai dengan kebutuhan dunia. Gereja diajak terbuka untuk melihat dan mengkaji kenyataan sekarang, termasuk dengan menggunakan ilmu-ilmu sekulir seperti psikologi, sosiologi, dan anthropologi. Keterbukaan akan tempat dan peranan ilmu-ilmu lain ini mengembangkan paham eklesiologi yang terbuka, yaitu Gereja yang mengakui obyeknya, Gereja sebagai suatu realitas ilahi dan insani, namun juga keterbukaan untuk melihat bahwa yang insani ini sebagai suatu yang kompleks, majemuk, dan terus berkembang.

Dalam menghayati iman serta memberikan kesaksiannya, kaum awam menekankan aspek kehadiran serta merasuknya iman dalam masyarakat: aspek “memasyarakat”, “misioner”, “keduniaan”, atau “kenyataan konkret manusia” yang telah ditebus berkat penjelmaan Sabda Tuhan dan karena itu harus mewujudkan secara konkret atau membahasakan jawaban iman kita semua.

Para religius memberi kesaksian bahwa meskipun iman harus diyahati dan menjelma atau membudaya dalam “keduniaan”, namun menjangkau lebih dalam dan lebih jauh dari hanya kenyataan dunia saja. Secara khusus, mereka memberi kesaksian “eskatologis” tentang Allah yang harus dicari dalam dan di atas segalanya. Mereka memberikan kesaksian tentang Kerajaan Allah, yakni Allah yang merajai segala sesuatu. Kekhususan kharisma religius ini mewarnai karya misioner mereka di bidang pewartaan, pendidikan, dalam kegiatan sosial lainnya,yang sebenarnya dapat dijalankan oleh imam dan awam juga.

Setiap orang kristiani beriman secara pribadi menghayati Sabda Tuhan dan dengan cara masing-masing mewartakannya kepada sesama8. Kesaksian pribadi ini bukan merupakan kesaksian perorangan dan individualistis, melainkan kesaksian iman Gereja universal yang hadir dalam konteks masyarakat setempat secara aktif dan aktual. Hirarki membimbing penghayatan iman sehingga terwujudkan persekutuan iman. Dengan kata lain, kharisma khas imamat menekankan aspek bahwa harus dihayati bersama-sama atau bahwa setiap dan semua orang kristen harus menggereja dan bersama mengembang misi Gereja, bukan hanya dalam lingkungan jemaat (“ke dalam”), melainkan juga dalam kesaksian imannya9.

Karya misioner ini merupakan karya yang dimaksudkan untuk mendekatkan sesama kepada Tuhan dan merupakan karya pembinaan iman dalam arti sangat luar. Karya ini dan sekaligus kesaksian iman para pelayannya bertumpu pada penghayatan iman mereka sendiri dan dijiwai oleh penghayatan itu juga. Dia mengalami evangelisasi sehingga bisa berevangelisasi. Keanekaragaman karya pastoral yang muncul berkembang berdasarkan pada kebutuhan konkret dalam kehidupan masyarakat. Warta gembira diwartakan dalam keanekaragaman usaha demi kesejahteraan masyarakat setempat, juga yang nampaknya profan karena meningkatkan mutu kehidupan, memupuk kesadaran akan martabat manusia, dan dengan demikian menyiapkan masyarakat untuk menerima Sabda Tuhan.

Dengan mempertimbangkan situasi konkret serta tuntutan-tuntutan itu, maka imam, religius dan awam terutama dan khususnya hendaknya menangani segi-segi tertentu dalam karya misioner dengan segala kekhasan atau kharisma panggilan mereka. Dengan mempertimbangkan keadaan setempat, setiap golongan memprioritaskan bidang kegiatan yang paling memungkinkan imam menghayati imamatnya, religius menghyati kesaksiannya sebagai religius, dan awam menghayati “sekularitas” atau ciri keduniaannya (LG 31).

Seiring dengan perkembangn Gereja KAS, yang sebagian besar pelayanannya harus dan de facto memang mau mengandalkan tenaga awam, fungsi imam maupun religius tidak dapat tetap sama seperti kebanyakan di masa lampu. Gereja KAS harus menemukan pola-pola kehidupan gerejani, yang di beberapa keuskupan lain mungkin sudah lama atau sudah mulai “jalan”, tetapi di banyak keuskupan masih akan dirasakan serba “baru”. Dalam konteks itu, peranan konkret klerus dan tugas-tugas konkret kaum religius perlu ditinjau kembali untuk meningkatkan pelayanan-pelayanan awam sehingga Gereja Keuskupan Agung Semarang yang misioner semakin terwujud dalam masyarakat Keuskupan Agung Semarang.



1 “Suatu Strategi untuk Missionaris Domestik” dalam Rohani 1979. 296-298.

2 Justinus Cardinal Darmojuwono. Semangat Misioner Gereja Katolik Indonesia dalam Kesatuan Gereja dan Bangsa. Arsip Keuskupan Agung Semarang. 1981. 1-2.

3 C. Putranta, SJ. “Kesadaran Misioner: Landasan bagi Pembaharuan Pelayanan Gereja” dalam Orientasi Baru. Vol I. 1987. 80.

4 R. Hardawiryana, SJ. “Gereja Setempat dan Karya Misioner” dalam Rohani. 1981. 42-43.

5 C. Putranta, SJ. “Kesadaran Misioner: Landasan bagi Pembaharuan Pelayanan Gereja” dalam Orientasi Baru. 79.

6 Robert Hardawiryana, SJ. “Ensiklik Redemtoris Missio, 7 Desember 1990. Relevansi Bagi Gereja di Indonesia.” Dalam Berita Komisi Kerasuoan Awam KWI No. 6/XI/1991. 24.

7 Theo Taroreh, UDS. “Karya Misioner di Keuskupan Sorong” dalam Rohani edisi Desember 1984. 365.

8 Mgr. BL. Pujaraharja, Pr. “Menjadi Misionaris di Bumi Sendiri, Siapa Takut?” dalam Rohani Edisi Februari 1990. 43.

9 J. Hariyanto, SJ. “Karl Rahner dan Konsili Vatikan II” dalam Rohani Edisi Desember 1989. 488.

Tidak ada komentar: