Suara Hati Kristiani
Menemukan dan mengusahakan sebuah keputusan Moral
Pendahuluan
Suara hati ialah dasar moralitas seseorang yang paling fundamental karena dari sanalah mengalir seluruh tindakan moral seseorang. Suara hati merupakan “tempat” pertemuan antara Allah dan manusia1. Di satu sisi, suara hati adalah suara Tuhan sendiri, suatu kehadiran intim dari Sang Penebus yang membimbing jiwa manusia kepada kehidupan moral yang baik dan membebaskan manusia dari hambatan kelemahan manusiawinya. Di sisi lain, suara hati menunjukkan, apakah seseorang mampu menggunakan dengan baik keutamaan dan terang moral yang ada di dalam dirinya, atau tidak. Menurut Charles E. Curran, suara hati membimbing dan mengarahkan kehidupan moral dari setiap individu2.
Definisi Hati Nurani dan Magisterium
Kata “suara hati” adalah terjemahan dari bahasa Inggris conscience. Kata conscience sendiri berasal dari bahasa Latin conscientia. Kata conscientia terbentuk dari kata cum (together, bersama) dan scientia (dari kata dasar scire [mengetahui])3. Secara harafiah, conscientia berarti mengetahui bersama atau sama-sama tahu. Sebetulnya, pemaknaan akan suara hati ini berbeda-beda karena pendekatannya pun berbeda. Dalam banyak hal, suara hati (conscience) digunakan sebagai sinonim atas kesadaran (awareness)4.
Menurut Bernard Häring, suara hati tidak lain merupakan keutamaan moral yang dimiliki oleh setiap orang secara natural. Suara hati merupakan lubuk hati terdalam dan kudus, di mana seseorang mengenal dirinya sendiri dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama. Orang dapat menemukan dirinya sendiri hanya melalui refleksi mendalam bahwa dia sungguh-sungguh berjumpa dengan Allah dan sesama5. Suara hati ialah kemampuan manusia untuk menyadari tugas moral dan untuk mengambil keputusan moral6.
Meskipun suara hati mempunyai suaranya sendiri, sebetulnya dia tidak berasal dari dirinya sendiri. Suara hati ada oleh karena Sang Sabda yang telah menciptakan segala sesuatu di dalam diri-Nya, Sabda yang menjadi manusia seperti kita. Sabda ini berbicara melalui suara hati dan mengandaikan kemampuan kita untuk mendengar dengan segenap hati kita karena suara hati itu bagaikan sebuah lilin tanpa cahaya. Sabda yang diterima merupakan kebenaran dari Kristus yang adalah Terang dan Kebenaran, dan melalui Dia, cahaya tetap bersinar dengan segala terang dan kehangatannya.
Dalam mencari kebenaran, suara hati manusia merupakan sarana penting untuk mensharingkan pengalaman dan refleksi dalam hubungan dengan suara hati yang lain. Karena keterbukaan hubungan dengan suara hati yang lain, maka kita menjadi bebas satu sama lain. Artinya, kita bebas untuk menerima dan memberi, bukan hanya memberi pengetahuan saja, namun memberi diri bersama dengan pengetahuan dan pengalaman kita sendiri. Bila kita mengenal yang lain dalam kacamata Allah, kita menerima mereka sebagaimana mestinya sesuai dengan Sang Sabda. Dengan demikian, suara hati kita sungguh-sungguh menjadi hidup dan kreatif.
Magisterium adalah tugas mengajar. Ini merupakan salah satu jabatan dalam Gereja untuk meneruskan, menafsirkan, serta menguji keaslian ajaran iman dan kesusilaan yang diterima Gereja dari Kristus. Seluruh umat beriman/Gereja dengan cara yang berbeda-beda adalah penerima serta penerus Injil sebagai kebenaran abadi. Seluruh umat adalah “Gereja yang diajar” (mendengarkan) dan “Gereja yang mengajar”. Sejak konsili Trente, magisterium bertugas meneruskan ajaran iman dan kesusilaan. Para pemegang tugas mengajar dalam Gereja berkewajiban mencari informasi selengkap mungkin sebelum mengajar secara mengikat dengan menggunakan alasan intern yang meyakinkan, memperlihatkan ajaran itu penting demi keselamatan dan menerangkan bagaimana kedudukan suatu keputusan dalam keseluruhan7.
Magisterium Gereja dan Suara Hati
Berkenaan dengan Magisterium Gereja tentang suara hati, Karl-Heinz Peschke mengatakan bahwa tugas Magisterium adalah memberi kiblat bagi kehidupan moral orang Kristen8. Para uskup, baik secara pribadi maupun dalam kolegium para uskup, khususnya Uskup Roma, dipanggil, ditugaskan, dan dimampukan untuk menjalankan tugas tersebut. “Umat beriman wajib menyambut dengan baik ajaran Uskup mereka tentang iman dan kesusilaan, yang disampaikan atas nama Kristus, dan mematuhinya dengan ketaatan hati yang suci” (LG 25). Lebih lanjut, dalam Dignitatis Humanae ditegaskan bahwa kaum beriman kristiani dalam membentuk suara hati mereka, wajib mengindahkan dengan seksama ajaran Gereja yang suci dan pasti (DH 14).
Ajaran Magisterium Gereja merupakan bantuan bagi iman kristiani untuk mengetahui apa yang selaras dengan bentuk kehidupan yang bersumber dari iman kristiani9. Semua ahli moral dan teologi sependapat bahwa suara hati membutuhkan petunjuk dan pembinaan. Persekutuan gerejani, terlebih Magisterium yang berada di dalamnya, memegang peran penting dalam misi ini. “Apabila saya yakin bahwa Gereja berasal dari Tuhan, maka Magisterium Gereja mempunyai hak untuk diterima sebagai faktor utama dalam membentuk suara hati, dalam membantu suara hati bertumbuh menjadi diri sendiri”10.
Para teolog moral adalah mediator di dalam komunitas murid-murid Kristus, mediator di dalam komunitas para teolog, seorang murid, dan seorang peziarah yang senantiasa berjalan menuju kepada keselamatan11. Teolog moral membantu menafsirkan sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, dengan segala historisitasnya dalam konteks masa kini dan di sini. Mereka membantu untuk menafsirkan tradisi. Tradisi dipahami sebagai aliran dari kehidupan dan kebenaran yang dibimbing oleh Roh Kudus yang mengenalkan setiap generasi dalam konteks sejarah yang dinamis menuju kebenaran yang tertinggi yang diwahyukan oleh Yesus Kristus12. Dengan bimbingan Roh Kudus, mereka mampu melihat pengalaman manusia dalam terang cahaya Kristus, menelurusi apa yang berharga, memurnikan apa yang perlu disucikan dan meninggalkan apa yang tidak menjadi bagian dalam membangun sejarah keselamatan. Berbagai pengetahuan sosiologi, sosiologi budaya, dan berbagai ilmu manusia lainnya menjadi sarana untuk menghindari sebuah tradisionalisme yang kaku dan untuk memahami konteks dari sebuah tradisi itu berkembang.
Teolog moral membantu orang beriman supaya dapat mengambil keputusan dan tindakan yang dapat ia pertanggungjawabkan sendiri kepada Allah13. Teolog moral tidak memposisikan dirinya sebagai yang bediri di atas, lebih dari pada yang lain. Mereka menyadari bahwa tidak mungkin akan menjadi seorang guru yang baik jika tanpa selalu menjadi seorang murid Yesus Kristus yang patuh kepada Roh Kudus dan menjadi teman dalam komunitas iman Gereja14. Dengan mempercayai panggilan umat beriman menuju keselamatan, mereka mempunyai kesadaran untuk belajar dari orang-orang yang mempunyai agama berbeda atau bahkan kepada mereka yang tidak termasuk dalam agama tertentu. Mereka terpanggil untuk memutuskan rintangan yang menghalangi setiap orang dalam menerima, menyadari dan memuji keanekargaman pewahyuan Allah.
Magisterium dan Para Teolog Moral
Magisterium Gereja terletak di tangan Paus dan kolegialitas para uskup. Di bawah guru dan satu-satunya guru, Yesus Kristus, kita semua adalah seorang murid yang mempunyai keanekaragaman corak panggilan dan bentuk partisipasi yang unik bagi masing-masing pribadi15. Para uskup bertugas untuk menemukan dan mengungkapkan kepada orang-orang apa yang baik dalam situasi ketidaksepakatan pendapat16. Dalam situasi keraguan tersebut, ia mengembangkan sikap solidaritas, oposisi, dan dialog.
Orang Suci. Mereka adalah model dari semua guru dari kehidupan moral yang mengungkapkan kesaksian sebagai murid-murid dan pengikut Yesus Kristus. Seorang tidak mungkin menjadi seorang teolog moral yang baik jika tidak mempercayai bahwa setiap orang dipanggil untuk kesucian(LG bab V). Mereka mengajar dalam realitas sejarah yang konkret dan dalam tindakan eksistensial yang selalu kontekstual. Mereka mengajarkan sikap membuka diri terhadap gelombang kebijaksanaan dari Tuhan17.
Para teolog moral diharapkan siap-sedia belajar dari orang-orang yang sederhana dan bersahaja. Hendaklah kau murah hati seperti Bapamu di surga(Kuk 6,26) menjadi sebuah semangat dari jiwa dan semagnat misi orang beriman. Mereka merelakan diri disentuh oleh pengalaman-pengalaman konkret kehidupan mereka. Belajar dari mereka yang kompeten dalam ilmu pengatahuan mengenai manusia.
Panggilan dari orang beriman adalah menyadari dan memahami Yesus Kristus, Allah Bapa dan manusia dalam segala situasinya. Para teolog moral bertugas untuk unggul dalam memahami kemanusian, laki-laki dan perempuan, dengan segala historisitas sosial budayanya, historisitas sosial ekonomi dan situasi politiknya18. Mereka bukanlah pemegang otoritas kedua dari magisteriuam gereja yang bisa menentang magisterium paus dan kolegialtias uskup. Mereka terpanggil sebagai pelayan, diakon dan menjadi pengajar pastoral dari paus dan kolegialitas uskup. Para teolog moral harus selalu bersentuhan dengan kegembiraan dan kesedihan, dengan kecemasan dan harapan dari orang-orang sehingga mereka mampu menafsirkan ajaran iman secara lebih membumi dan kontekstual19.
Diakonia para teolog moral besifat menjembatani, misalnya menjelaskan ajaran iman kepada orang-orang agar mudah dipamahi, tetapi mereka juga mempunyai tugas untuk membiarkan para uskup dan paus mengerti apa yang dipikirkan dan dikehendaki umat beriman. Dengan penuh iman dan berpenampilan simpatik, mereka mengungkapkan ajaran paus, uskup, konsili, sinode tetapi juga menanggapi dengan jujur dan kritis.
Tugas Para Teolog Moral
Para teolog moral Katolik mengusahakan dan menemukan bagaimana yang terbaik untuk melindungi dan mengungkapkan cinta kasih20. Dengan tanpa lelah, mereka mencari kebenaran eksistensial, yang berada dalam hati yang diberikan Allah dan dalam cinta manusia. Mereka menjadi pribadi yang mengungkapkan keberlangsungan sejarah keselamatan, pada setiap pribadi yang terikat dengan tradisi dan sabda Tuhan. Mereka mengkombinasikan antara kepekaan iman sekaligus keterbukaan untuk membaca tanda-tanda zaman dan hal yang menunjukkan adanya sebuah perubahan dalam struktur masyarakat dan tetap berakar dalam iman dan cinta. Para teolog secara terus-menerus bergerak bersama Tuhan yang hadir dalam peziarahan umat beriman menuju keselamatan. Mereka mengkomunikasikan dalam jalan-jalan yang menarik mengenai keselamatan, cinta yang menyelamatkan dan dengan penuh cinta buah-buah dari Roh Kudus (Gal 5, 22-23). Mereka lebih menampilkan bagaimana Roh Kudus berkarya melalui Yesus Kristus bukan semata-mata pada pencipta moral dan yang mengontrol orang-orang dalam melakukan sebuah norma moral.
Salah satu pemahaan dari KV II adalah magisterium Gereja tidak memberikan sebuah solusi yang siap pakai dalam setiap permasalahan personal yang baru, interpersonal, dan sosial kultural21. Seorang teolog moral tidak akan menjadi pribadi yang anti-toleran, arogan. Teolog moral memberi kesaksian hidup bahwa Roh Kudus berkarya dalam segala hal dan melalui segala hal.
Sebuah Pandangan yang menyeluruh
Ada dua hal yang menghalangi pandangan menyeluruh ini, yaitu sebuah kebuntuan dalam pencarian karena sistematisasi kesempurnaan etis dan kekacauan karena ribuan aturan dan nasehat “boleh dan tidak boleh” dalam menghadapi berbagai permasalahan22.
Kitab Suci tidak menyediakan sebuah teologi dengan sistem konsep dan norma. Kitab Suci berisi refleksi dan pemikiran yang tidak dapat diabaikan. Keutamaan-keutamaan eskatologis dalam kitab suci masuk dalam peziarahan umat beriman melalui sejarah keselamatan. Ungkapan syukur membuat setiap umat beriman menyadari bahwa “warisan masa lalu, bahwa segala hal yang dibuat Tuhan bagi” kita hadir dalam kesaksian para orang kudus. Setiap umat beriman kristiani terpanggil untuk menghasilkan buah sekarang, di sini dan untuk masa depan. Mereka juga dilengkapi dengan keutamaan-keutamaan untuk menghadapi kesempatan dan juga tantangan seperti kesiapsediaan, kewaspadaan, dan pembedaan roh. Allah menjanjikan dan menunjukkan bahwa tuntunan roh akan membawa setiap orang beriman untuk berharap dan menciptakan tindakan yang kreatif untuk menghadapi masa depan.
Para teolog moral membantu orang beriman untuk mencari sebuah keseluruhan pandangan yang menyembuhkan. Mereka membantu agar terang dari kebebasaan anak-anak Allah mengembangkan pola pikir, menyediakan sebuah panduan untuk melihat apa yang berkembang dalam keadilan dan pembebasan serta cinta yang membebaskan. Para teolog moral bertugas membantu umat beriman untuk mencapai pemahaman yang mendalam tentang kebanggaan panggilan dalam Kristus dan tugasnya yang dinamis untuk menghasilkan buah dalam kehidupan di dunia ini.
Teolog moral terpanggil untuk selalu mencermati dan peka untuk membaca tanda-tanda zaman dengan perhatian utama pada budaya dan segala yang berkembang di dunia ini. Mereka melihat bahwa setiap perang dapat memperluas bencana perang tersebut. Nafsu kekuasaan, kekayaan, kompetisi kekejaman dan keinginan untuk mendapat kebebasan yang sempit menjadi kubu yang bertentangan dengan kemanusiaan dan keberadaan manusia di seluruh dunia. Dalam situasi ini, moral kristiani harus memberi prioritas yang tinggi bagi setiap usaha untuk mencari dimensi yang menyembuhkan dari cinta dan antikekerasan sebagai tanda datangnya kerajaan Allah.
Beberapa teolog moral secara sederhana akan membela kemanusiaan dengan menekan sikap kekerasan ini sampai seminimal mungkin. Sementara itu, yang lain akan berusaha membentuk moral katolik dalam semangat kitab suci dan mencari usaha untuk mengusahakan tindakan anti kekerasan, seperti yang diupayakan oleh Gandhi. Usaha terbesar yang dibuat adalah mengungkapkan bahwa kebebasan yang diberikan oleh Kristus tidak dapat mempertahankan perang karena diakui bahwa kebebasan dan HAM terikat dalam panggilan kita untuk mengusahakan kebebasan itu.
Setiap teolog moral haruslah menjadi seorang saksi yang handal mengenai anti kekerasan sampai pada tingkat personal, sosial, sosial ekonomi dan sosial politik. Hanya dengan pilihan radikal pada pembebasan anti-kekerasan dan pembelaan tanpa kekerasan yang dapat membebasakan kita dari berbagai ideologi yang dapat membuat bertahan dalam kemerdekaan dari alat perang, dalam perdagangan senjata.
Perang nuklir dan berbagai gudang senjata yang dbangun bisa mengakibatkan kehancuran kehidupan manusia dan alam semesta yang seharusnya masih dapat digunakan sekian generasi setelah kita. Rusaknya keseimbangan alam membawa manusia pada akhir hidupnya sendiri. Sekarang ini, teolog moral harus menunjukkan pada umat beriman akan rusaknya alam, termasuk lapisan ozon yang melindungi bumi.
Penutup
Para teolog dipanggil untuk mengungkapkan bahwa Roh Kudus berkarya dalam segala hal untuk menghendaki keselamatan manusia. Para teolog mengajak untuk terbuka tanda-tanda zaman. Alam semesta telah memberi tanda dan kita dipanggil untuk menjawab persoalan mengenai kemanusiaan di masa depan. Ini menjadi pertemuan yang membahas tentang damai, keadilan sosial, solidaritas, dan kelestarian alam ciptaan.
Dengan demikian, jika seluruh Gereja Katolik dan seluruh umatnya dapat mengembangkan kesadaran dan pengatahuannya dan mengikuti iman pada sang pencipta dan penyelamat dalam persoalan ini, kitab suci dan teologi moral akan menjadi lebih berarti dalam kehidupan ini. Hal inilah yang disebut sebagai kesadaran akan suara hati. Umat beriman kristiani terlibat dalam alam semesta untuk mencari kebenaran dan solusi terbaik dalam berbagai persoalan yang muncul dan kehidupan personal dan komunal.
Daftar Pustaka
Curran, Charles E. “Method in Moral Theology: An Overview from an American Perspective”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press.1989.
Curran, Charles E. “Authority and Dissent in the church” dalam Origin 16 tahun 1986
Delhaye, P. The Christian Conscience. New York: Desclee Company.1968.
Dokumentasi dan Penerangan KWI, Hardawiryana, R. (Penerjemah),Dokumen Konsili Vatikan II, Obor, Jakarta. 1993
Häring, Bernard CSsR, “Conscience: The Sanctuary of Creative Fidelity and Liberty”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press. 1989.
Häring, Bernard CSsR. “The Role of the Caholic Moral Theologian” dalam CE. Curran (ed). Moral Theology. Challenges for The Future. New York. 1990.
KWI. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius. 1996.
McCormick, RC.. “The Teaching Office as a guarantor of Unity in Morality” dalam Concilium. 1981.
Peschke, Karl-Heinz SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, Alex Armanjaya (penerjemah). Maumere:Ledalero. 2003.
Ratzinger,J. “Der Auftrag des Bischofs und des Theologen …”, dalam Internationale Katholische Zeitschrift 13, 1984.
Tillard, JMR, OP, “The Roman Catholic Church and Education of Conscience”, dalam One in Christ, New York 1999, 315.
1 P. Delhaye, The Christian Conscience. New York: Desclee Company.1968. 19.
2 Charles E. Curran, “Method in Moral Theology: An Overview from an American Perspective”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press.1989. 90.
3 Bernard Häring CSsR, “Conscience: The Sanctuary of Creative Fidelity and Liberty”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press. 1989. 252.
4 J.M.R. Tillard OP, “The Roman Catholic Church and Education of Conscience”, dalam One in Christ, New York 1999, 315.
5 Bernard Häring CSsR, “Conscience: The Sanctuary of Creative Fidelity and Liberty”, 252.
6 KWI. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius. 1996. 13.
7 A. Heuken. Ensiklopedi Gereja jilid 5. Jakarta: CLC. 2005. 159-164.
8Karl-Heinz Peschke SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, Alex Armanjaya (penerjemah). Maumere:Ledalero. 2003. 231.
9Karl-Heinz Peschke SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, 232.
10J. Kard. Ratzinger, “Der Auftrag des Bischofs und des Theologen …”, dalam Internationale Katholische Zeitschrift 13, 1984, 532, sebagaimana dikutip oleh Karl-Heinz Peschke SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, 232.
11 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian” dalam CE. Curran (ed). Moral Theology. Challenges for The Future. New York. 1990. 32.
12 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 33.
13 A. Heuken. Ensiklopedi Gereja jilid 5. … 159-261.
14 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 34
15 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”…. 35
16 RC. McCormick. “The Teaching Office as a guarantor of Unity in Morality” dalam Concilium (1981). 76
17 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 35
18 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 37
19 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”.. 38
20 RC. McCormick. “The Teaching Office as a guarantor of Unity in Morality” dalam Concilium (1981). 72.
21 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 40
22 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 42


Tidak ada komentar:
Posting Komentar