Bab III
Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang
Periode 1984-1990
Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS) lahir dan berkembang di dalam dan bersama masyarakat Indonesia. Gereja hidup di tengah-tengah masyarakat, menyatu sehati seperasaan dengan kegembiraan dan keprihatinan masyarakat, dengan cita-cita dan perjuangan masyarakat. Gereja menerima, mengembangkan, dan menegakkan nilai-nilai luhur manusiawi yang berkembang dan yang dihayati masyarakat. Gereja ikut mengembangkan apa yang menjadi landasan hidup bersama, yang senantiasa diperjuangkan oleh masyarakat dalam berbagai keanekaragaman adat istiadat dan kebiasaan baik.
Kebijakan dan perkembangan bangsa Indonesia mempengaruhi karya misi Gereja dan gerak pastoralnya. Gereja menetapkan prioritas nilai dan gerak pastoralnya berdasarkan keanekaragaman situasi masyarakat Indonesia secara umum, dan situasi umat KAS secara khusus. Dalam masa kegembalaan Uskup Mgr. Julius Darmaatmadja, refleksi teologis-eklesiologis kehidupan Gereja KAS di dalam masyarakat menghasilkan rumusan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS-KAS). ARDAS-KAS menjadi arah dan gerak bersama seluruh umat KAS.
ARDAS-KAS periode pertama dibuat pada tahun 1984-1990. Dalam masa kegembalaan uskup Mgr. Julius Darmaatmadja, Gereja KAS menghasilkan ARDAS-KAS pertama sebagai usaha keterlibatan Gereja dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang semakin baik. ARDAS-KAS adalah ungkapan karya misi Gereja KAS di tengah masyarakat Keuskupan Agung Semarang. Dengan ARDAS-KAS, Gereja KAS menunjukkan jatidirinya sebagai Gereja yang misioner, yaitu Gereja yang membumi di Indonesia. Gereja KAS hendak terlibat dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk menciptakan kehidupan yang aman, damai, sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. ARDAS-KAS ini menampakkan keterlibatan dan karya misi Gereja KAS, sebagai usaha dialog dengan perkembangan dan pergulatan msyarakat Indonesia. Dalam konteks gereja KAS, ARDAS-KAS ini menjadi semacam Gaudium et Spes di KAS.1
Melihat Kembali Panorama Indonesia Periode 1980-1990
Sejak awal, pemerintah Indonesia berusaha membangun negara Indonesia menjadi sebuah negara yang merdeka, bersatu-padu, berdaulat, makmur sejahtera, serta adil dan beradab. Cita-cita tersebut dilaksanakan dalam pola pembangunan bertahap, yaitu pembangunan lima tahun. Cita-cita pembangunan itu dituangkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Cita-cita pembangunan yang ditegaskan dalam GBHN tahun 1983 itu berbunyi, “Mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tenteram, tertib dan dinamis, serta dalam pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib, dan damai.”2
Pembangunan itu dilaksanakan secara merata di seluruh tanah air Indonesia dan mengena untuk seluruh rakyat Indonesia. Cita-cita pembangunan periode pertama adalah masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan menjadi negara yang mandiri, Prioritas pertama adalah pembangunan ekonomi yang stabil, dengan struktur ekonomi yang seimbang antara industri dan pertanian. Dalam keanekaragaman penghayatan agama, pemerintah menciptakan kehidupan warga yang selaras dalam relasinya dengan Tuhan, sesama, alam semesta, berjiwa dinamis dan bersemangat gotong royong. Dalam keanekaragaman latarbelakang sosial budaya, pemerintah mengembangkan bentuk kebudayaan yang menunjukkan nilai dan keutamaan hidup yang tertuang dalam nilai-nilai luhur Pancasila. Pemerintah mengusahakan kesadaran hidup politik setiap warga negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Politik luar negeri bebas aktif dengan ikut serta menciptakan perdamaian dunia yang abadi, adil, dan sejahtera, menjadi kebijakan Indonesia dalam menjalin relasi politik dengan luar negeri.
Pemerintah mengusahakan cita-cita tersebut dalam pembangunan lima tahun (PELITA) yang bersekesinambungan. Setiap periode PELITA menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan menjadi dasar dalam kebijakan pembangunan periode berikutnya. Dalam periode PELITA II (1978-1983), pemerintah meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan seluruh rakyat dengan mengembangkan pembangunan ekonomi pada sektor pertanian dan peningkatan industri dan bahan mentah menjadi bahan baku. PELITA III mengusahakan swasembada pangan dan peningkatan industri dari bahan mentah menjadi bahan baku dan barang jadi. Pada PELITA IV, pemerintah menitikberatkan pengembangan swasembada pangan dan peningkatan industri yang menghasilkan mesin-mesin industri, baik industri berat ataupun ringan. Pada PELITA V, pemerintah membangun negara Indonesia menjadi negara yang mantap dalam bidang swasembada pangan dan meningkatkan hasil pertanian dan sektor industri untuk dieskpor, penyerapan tenaga kerja, industri pengolahan hasil pertanian serta menghasilkan hasil-hasil industri3.
Pendidikan nasional dan pelayanan kesehatan semakin bermutu dan merata. Pemerintah mengembangkan kehidupan religius masyarakat yang memperkuat landasan spiritual, moral, dan etik pembangunan. Perkembangan iptek semakin memacu pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan menuju masyarakat yang berkualitas, maju, mandiri, dan sejahtera. Dengan semua program tersebut, pemerintah mengusahakan suatu kehidupan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin sebagai landasan bagi tahap pembangunan berikutnya, yaitu membangun masyarakat yang adil dan makmur dalam kesatuan Negara Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Perjumpaan berbagai latar belakang penduduk seringkali menimbulkan berbagai penyimpangan visi pembangunan nasional. Ini menghambat terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur. Pembangunan masih bersifat sentralistik di kota-kota besar Jawa dan hanya menekankan pada pembangunan fisik, bukan membangun dan meningkatkan mental spiritual rakyat Indonesia. Terjadi banyak perusakan lingkungan, misalnya penebangan hutan besar-besaran di pulau Kalimantan, Papua, Sulawesi. Muncul dan berkembang berbagai krisis, misalnya: militeristis, konflik antar unsur, pelecehan terhadap perempuan, legitimasi pemerintah oleh agama, ketidakadilan hukum. Fungsi pendidikan diselewengkan sebagai sarana pembodohan, legitimasi kekuasaan dari kepentingan tertentu, bukan menjadi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru dan pola pemikiran yang baik. Meskipun demikian, pembangunan terus berjalan dan menampakkan hasilnya. Ada peningkatan swasembada sandang dan pangan. Berkembang berbagai sarana dan prasarana umum, seperti sarana pendidikan, jalan raya, pasar, sarana transportasi umum, dan lain-lain. Program transmigrasi mendukung pembangunan di daerah-daerah seluruh Indonesia.
Dalam gerak pembangunan yang terus berjalan ini, seringkali terjadi ketegangan antara visi dan pelaksanaan pembangunan tersebut. Dalam situasi seperti inilah, Gereja terpanggil untuk terlibat dan ambil bagian dalam pembangunan tersebut. Gereja terpanggil untuk mengungkapkan jadidirinya sebagai Gereja yang misioner. Umat Katolik KAS menghayati hidup sebagai warga negara yang sungguh-sungguh Katolik. Dengan kata lain, 100 % Katolik, 100% Indonesia4. Mereka mengungkapkan Gereja KAS yang misioner dalam dimensi kehidupan sosial-budaya, sosial-politik, dan sosial agama yang menjadi konteks hidup iman masyarakat.
Kehidupan Sosial Budaya
Semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika” menunjukkan bahwa negara Indonesia terdiri dari penduduk yang mempunyai keanekaragaman latar belakang geografis, suku, tempat tinggal, dan bahasa. Keanekaragaman latar belakang ini menjadi kekayaan sekaligus tantangan dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kemerdekaan, perlindungan rakyat dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Warga negara Indonesia tersebar di ribuan pulau dengan segala keanekaragaman latarbelakang budaya, suku, bahasa, adat istiadat, nilai dan gaya hidup masing-masing. Pemerintah berusaha mengembangkan pembangunan yang merangkul dan memberi wadah budaya, adat istiadat, bahasa, dan nilai-nilai luhur universal yang berkembang dalam setiap kelompok tersebut.
Keanekaragaman budaya Indonesia merupakan daya tarik dalam menjalin relasi dengan bangsa lain. Banyak wisatawan mancanegara yang mengagumi dan berkunjung ke Indonesia untuk melihat keanekaragaman hasil budaya Indonesia. Dalam relasi dengan bangsa lain, terjalinlah kerjasama yang mendukung proses pembangunan di Indonesia. Berbagai hasil budaya, seperti lukisan, seni pahat, ukir, seni tari, keindahan pemandangan, dan peninggalan budaya nenek moyang menjadi kesempatan untuk promosi negara Indonesia di luar negeri.
Di sisi yang lain, keanekaragaman budaya ini dapat menimbulkan adanya konflik sosial antara kelompok dominan dan kelompok minoritas, seperti konflik agama, rasial, dan konflik antar kelas5. Model pembangunan yang berorientasi kapitalis semakin memperparah kecenderungan konflik ini sehingga menimbulkan terjadinya lapisan masyarakat seperti sebuah gambar piramidal. Pembangunan ini hanya menguntungkan para pemegang kekuasaan, entah dalam pemerintahan atau sosial ekonomi, politik, dan budaya. Masyarakat lapisan bawah menjadi korban eksploitasi lapisan atas. Orang yang di lapisan bawah (yang tereksploitasi) begitu banyak dan orang yang menikmati kekuasan dan kesejahteraan itu semakin sedikit. Semakin ke atas, semakin sedikit pula orang yang berada disana.
Lapisan atas
Lapisan menengah atas
Lapisan menengah bawah
Lapisan bawah
Lapisan atas adalah orang-orang yang mempunyai status sosial ekonomi dan politik paling tinggi dan mempunyai kekuasaan untuk mengambil kebijakan/keputusan komunal, misalnya para pengusaha dan pejabat negara. Lapisan menengah atas adalah para pemilik usaha/modal tingkat menengah dan kaum profesional yang memilik akses ke lapisan atas, misalnya pengusaha, pemimpin militer, anggota DPR/MPR. Mereka tidak menjadi penentu pengambilan kebijakan komunitas, tetapi berperan sebagai konsultores. Lapisan menengah bawah adalah para pengusaha dan kaum profesional. Mereka berada di pinggiran sebagai penonton yang tidak memperoleh kesempatan menikmati hubungan menguntungkan dengan lapisan atas, misalnya guru, pengusaha kecil, dosen, para pemimpin agama atau pemimpin suku. Lapisan bawah adalah orang-orang yang hidupnya tergantung belas kasihan dari lapisan atas, misalnya buruh, karyawan6.
Perbedaan kelas ini menimbulkan terjadinya pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Martabat luhur manusia dan nilai-nilai moral yang luhur tidak diindahkah lagi7. Ada diskriminasi pelayanan administrasi terhadap warga Indonesia keturunan Cina, diskrimanasi hukum terhadap orang-orang yang dituduh terlibat G 30 S, bahkan juga ada diskriminasi perizinan dan administrasi pendirian tempat ibadat8. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) merajalela di setiap sektor dan lapisan masyarakat. KKN menjadi sebuah budaya baru dalam masyarakat. Perilaku kekerasan merambah semua strata masyarakat. Masyarakat kecil tertindas, terpinggirkan, dan menjadi korban dari perilaku kekerasan para pemegang kekuasaan.
Kehidupan Sosial Ekonomi
Ada kecenderungan untuk mengukur keberhasilan pembangunan dengan standar keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi. Turunnya angka kemiskinan dan peningkatan pendapatan per kapita penduduk, menjadi ukuran keberhasilan pembangunan di Indonesia. Pada tahun 1970-1989, ada peningkatan pendapatan per kapita, yaitu dari 220 dolar per kapita menjadi 580 dolar pe kapita. Penduduk miskin di Indonesia semakin berkurang dari tahun ke tahun9.
| Tahun | Jumlah (Jutaan) | Prosentasi (%) |
| 1984 | 34,90 | 21,60 |
| 1990 | 27,70 | 15,08 |
Sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang banyak, dan adanya modal menentukan keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia. Modal pembangunan ekonomi berkembang seiring dengan berkembangnya ekspor kekayaan alam dan hasil bumi, seperti minyak tanah, hasil hutan, hasil laut, dan hasil alam laut. Bantuan kredit dari luar negeri menambah modal pembangunan Indonesia. Melimpahnya penduduk sebagai sumber tenaga kerja dan rendahnya upah mereka menjadi salah satu pendukung utama banyak negara menanamkan proyek pengembangan ekonomi di Indonesia.
Proyek industrialisasi yang intensif menjadi pilihan pemerintah dalam mengembangkan pembangunan ekonomi di Indonesia. Proyek ini bersifat konsentris, artinya berpusat dari satu tempat dan meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Secara geografis, pembangunan ini berpusat di Jawa dan berkembang meluas ke seluruh wilayah Indonesia. Dilihat secara umum, pembangunan memang berhasil mengurangi angka kemiskinan dari tahun ke tahun, namun di sisi lain pembangunan ini ternyata menimbulkan ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi. Ada jurang kemampuan ekonomi yang mencolok antara daerah dan pusat, antara kelompok tertentu dan di antara orang-orang tertentu. Pembangunan tidak merata. Ada daerah yang berhasil dan maju, tetapi ada pula daerah yang bahkan belum bisa memenuhi kebutuhan pokok untuk hidupnya, yaitu kebutuhan sandang, pangan, dan perumahan.
Wilayah-wilayah non-Jawa tidak mandiri. Mereka menggantungkan hidupnya dari pemerintahan pusat. Pemerintah pusat mengeksploitasi mereka untuk membiayai pembangunan di daerah pusat. Mereka tidak menikmati hasil pembangunan sebagaimana layaknya di daerah Jawa, tetapi tetap menanggung biaya pembangunan di pusat. Pembangunan ekonomi tidak merata ke semua daerah Indonesia. Rakyat yang tinggal di daerah kesulitan untuk mendapatkan akses ke pusat. Hasil-hasil produksi dari daerah pusat tidak tersebar secara merata dan efektif ke seluruh daerah di Indonesia.
Pembangunan dengan sistem pertumbuhan ekonomi industri mengakibatkan sektor pertanian diabaikan10. Hasil industri meningkat dan mempunyai daya jual yang baik seiring dengan perkembangan kualitasnya, namun sektor pertanian malah mengalami penurunan. Harga hasil pertanian relatif murah dan sangat lambat peningkatannya sehingga tidak mencukupi kebutuhan hidup petani. Demi pengembangan sektor ekonomi, banyak daerah pertanian yang subur dikorbankan dan dibuat lahan idustri. Hasil kekayaan alam dieksploitasi besar-besaran dan terus-menerus tanpa disertai peremajaan sehingga lingkungan hidup rusak dan kekayaan alam semakin menipis. Hasil dari ekspor kekayaan alam tidak terbagi secara merata sehingga rakyat semakin menderita.
Kehidupan Sosial Politik
Indonesia menyelenggarakan pemerintahan dengan sistem politik demokrasi. Musyawarah mufakat menjadi prioritas utama dalam menyelesaikan segala persoalan dalam masyarakat. Sistem perwakilan masyarakat menjadi sarana musyawarah demi kepentingan bersama. Dalam perkembangannya, ada penyelewengan dalam menjalankan sistem demokrasi di Indonesia. Sistem perwakilan rakyat yang dimaksudkan sebagai kelompok yang memperjuangkan kepentingan rakyat, berkembang menjadi sarana pemenuhan kebutuhan pribadi atau kelompok tertentu. Partisipasi rakyat dalam pemerintah terbatas. Mereka tidak terlibat dalam proses pengambilan kesepatakan, tetapi terbatas sebagai pelaksana program yang telah dibuat oleh pemerintah. Program tersebut tidak berorientasi kepada kepentingan rakyat11.
Kebijakan pemerintah kadangkala bukan memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi malah membatasi dan menekan rakyat. Kebebasan pers dalam memberikan informasi kepada rakyat dibatasi. Militer mendominasi kehidupan politik. Jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan diberikan kepada orang-orang dari militer. Sistem politik pada tahun 1980-1990an cenderung sebagai sebuah pemerintahan yang totaliter, bukan demokrasi.12
Untuk mempertahankan kekuasaannya, golongan elit pemerintah menciptakan birokrasi yang sulit dan berbelit-belit dalam bidang adminstrasi pemerintahan dan pelayanan publik. Berkembang berbagai organisasi pemerintahan yang menjadi sarana legitimasi kekuasaan dan bukan demi memperjuangkan kepentingan rakyat. Terjadi pelanggaran martabat luhur manusia. Orang-orang yang “diduga” masih mempunyai pertalian darah dengan orang-orang yang terlibat dalam PKI dikucilkan dan tidak mempunyai hak politik13. Orang-orang Indonesia keturunan Tionghoa tidak diberi kesempatan untuk terlibat dalam pemerintahan dan ABRI. Mereka seringkali dipersulit dalam menyelesaikan administrasi pemerintahan, misalnya KTP, menjadi PNS, Surat KBRI.
Nilai-nilai luhur universal yang terdapat dalam Pancasila dan UUD 1945, menjadi slogan indah daripada menjadi nilai dan semangat yang diperjuangkan dalam kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan sosial politik. Nilai-nilai luhur masyarakat dilanggar demi kepentingan pribadi.
Kehidupan Sosial Agama
Keanekaragaman Indonesia tercermin dalam penghayatan hidup keagamaan rakyat Indonesia. Penduduk yang tersebar di seluruh daerah Indonesia mengungkapkan iman dan kepercayaannya kepada yang ilahi secara khas, sesuai dengan latar belakang budaya dan sejarahnya masing-masing. Terdapat lima agama, yaitu Hindu, Budha, Katolik, Kristen, dan Islam serta aliran kepercayaan kepada Tuhan yang dianut oleh penduduk Indonesia14.
| Agama | Presentasi (%) |
| Islam | 87,21 % |
| Kristen | 6,0 % |
| Katolik | 3,58 % |
| Hindu | 1,83 % |
| Budha | 1,03 % |
| Aliran Kepercayaan | 0,31 % |
Keanekaragaman agama tersebut dapat menimbulkan relasi yang diwarnai persaingan dan kecurigaan, serta masalah mayoritas dan minoritas. Kegiatan misioner agama tertentu, entah dakwah, zending, atau misi dirasakan mengancam kegiatan misioner agama yang lain. Isu Kristenisasi atau Islamisasi berkembang sehingga menghalangi gerak masyarakat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial-kemasyarakatan, kesehatan, dan pendidikan. Orang mudah curiga dan berpandangan negatif terhadap apa yang dilakukan oleh kelompok agama yang lain sebagai suatu Islamisasi, Kristenisasi atau Katolikisasi. Kelompok agama yang mempunyai penganut banyak merasa bahwa posisi dan perannya terancam. Kelompok yang mempunyai penganut sedikit merasa terancam eksistensi dan hak asasinya. Peran agama bergeser menjadi aspek disintegratif bukan menjadi suatu pemersatu bagi kesatuan bangsa yang membangun negara.
Pemerintah berusaha mendamaikan beberapa pandangan negatif ini. Ada forum dialog antar agama untuk membicarakan prinsip-prinsip penyebaran agama. Pemerintah menyerukan dan mengembangkan dialog karya dan dialog kehidupan demi terciptanya kehidupan bernegara yang harmonis. Pada tahun 1989, pemerintah mengeluarkan Rancangan Undang-undang Peradilan Agama (RUU-PA). RUU-PA ini ternyata malah menimbulkan reaksi negatif dari masyarakat, yaitu15:
Masyarakat curiga bahwa RUU-PA ini mempunyai keterkaitan dengan Piagam Jakarta yang mengungkapkan tentang syarikat Islam.
RUU-PA ini menimbulkan pertentangan antara hukum adat dan hukum Islam, khususnya mengenai pembagian warisan antara anak laki-laki dan perempuan.
Kelompok non-Muslim melihat bahwa pemerintah terlalu campur tangan dalam urusan agama. Pemerintah bertugas menyelenggarakan kehidupan bersama yang aman, damai, sejahtera, dan menjamin kerukunan beragama. Pemerintah tidak berhak mencampuradukkan hukum nasional dengan hukum agama. Setiap bagian mempunyai otoritas sendiri yang otonom. Meskipun mendapat kritikan dari berbagai pihak, Pemerintah tetap mengesahkan RUU-PA ini dalam Sidang Paripurna DPR (13 Desember 1989). Pengesahan UU ini menunjukan bahwa ada penyelewengan hukum dalam kehidupan beragama di Indonesia.
Kehidupan sosial agama, sosial politik, sosial budaya, dan sosial ekonomi menentukan dinamika kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat di Indonesia. Keanekaragaman ini menjadi konteks pergulatan dan perjuangan hidup umat beriman Keuskupan Agung Semarang dalam menjalani kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat. Dalam situasi semacam inilah, umat beriman terpanggil untuk mewujudkan imannya akan Yesus Kristus dan melaksanakan karya misinya di dunia, yaitu menghadirkan Kerajaan Allah di Indonesia.
Mengenal Lebih Dekat Gereja Keuskupan Agung Semarang
Sejak ditetapkan sebagai wilayah pastoral yang mandiri, Keuskupan Agung Semarang berkembang semakin mantap. Umat Katolik di KAS berkembang dan semakin terlibat dalam kehidupan menggereja dan kehidupan memasyarakat. Mereka mendapat kepercayaan dalam posisi yang strategis, entah dalam pemerintahan atau masyarakat. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Gereja KAS adalah Gereja yang misioner. Gereja terlibat dalam kehidupan masyarakat secara aktual, sesuai dengan konteks dan situasi masyarakat dan dalam terang injil. Gereja KAS terlibat dalam perkembangan dan perjuangan masyarakat secara aktif, terbuka, dan aktual.
Mengenal Umat Keuskupan Agung Semarang
Umat KAS mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1980-an, ada kenaikan jumlah umat sekitar 4,09 % setiap lima tahunnya16. Pada tahun 1980-1985, umat meningkat 26.857 orang. Kenaikan pertahunnya sekitar 5.372 orang. Pada tahun 1985-1990, ada kenaikan jumlah umat sekitar 44.460 orang, dengan rata-rata pertahun sekitar 8.892 orang. Umat itu tersebar di paroki-paroki yang ada di seluruh kevikepan KAS 17.
| Kevikepan | 1985 | 1990 |
| Semarang | 84404 / 21 Paroki | 108421 / 22 Paroki |
| Kedu | 34587 / 13 Paroki | 40902 / 13 Paroki |
| Yogyakarta | 142384 / 24 Paroki | 158630 / 24 Paroki |
| Surakarta | 102932 / 18 Paroki | 113044 / 18 Paroki |
| Total | 364307 / 76 Paroki | 402997 / 77 Paroki |
Umat Katolik di Kevikepan Yogyakarta dan Surakarta lebih cepat berkembang daripada kevikepan yang lain. Kevikepan Kedu memiliki daerah geografi paling sempit dibandingkan dengan yang lain. Walaupun mempunyai daerah geografis yang cukup luas, Kevikepan Semarang tidak mengalami perkembangan umat yang cukup pesat. Kevikepan ini meliputi daerah-daerah yang memiliki budaya dan tradisi Islam yang cukup kuat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam, yaitu daerah Pantura18.
Perkembangan umat Katolik di KAS ditentukan oleh beberapa hal, yaitu:
Kegigihan para petugas pastoral dalam mewartakan Injil, entah pastor paroki, katekis, ataupun para relawan.
Kebijakan Keuskupan untuk membagi daerah pastoral menjadi paroki, wilayah atau kring berdasarkan daerah dan kondisi geografis sehingga memudahkan relasi, komunikasi, dan tata-organisasi antara para imam, pemuka jemaat, dan umat.
Tumbuh dan berkembangnya karya-karya pastoral di KAS, entah pastoral teritorial/parokial ataupun fungsional/kategorial. Hal ini memudahkan para petugas Gereja dalam menjangkau dan menyapa seluruh umat.
Kebijakan keuskupan untuk melibatkan semakin banyak umat dalam melaksanakan karya misi Yesus Kristus, entah itu umat awam atau kaum religius/klerus dan rohaniwan.
Perkembangan umat ini tidak diiringi oleh perkembangan jumlah wilayah pastoral atau paroki. Pertambahan umat ini terjadi di wilayah atau lingkungan yang sama, yang telah ada sejak semula sehingga tidak perlu menambah daerah pastoral baru. Perkembangan umat ini menuntut adanya perkembangan jumlah petugas Gereja, entah itu imam, biarawan/biarawati dan katekis awam. Perkembangan umat ini tidak diiringi dengan perkembangan petugas Gereja. Memang disadari bahwa jumlah imam meningkat dari tahun ke tahun, tetapi dalam perkembangan zaman itu karya-karya pastoral juga berkembang sehingga membutuhkan tenaga pastoral di sana dan tidak hanya terbatas pada pastoral teritorial saja. Dengan demikian, perkembangan jumlah imam dan tenaga pastoral belum mencukupi untuk karya pastoral yang dikembangkan di KAS, entah itu kategorial atau teritorial.
Mengenal Kevikepan Semarang
Kevikepan Semarang meliputi 7 kabupaten dan 2 kotamadya, yaitu Kabupaten Demak, Jepara, Grobogan, Kendal, Kudus, Pati, Semarang serta kotamadya Salatiga dan Semarang19. Pusat Kevikepan berada di kota Semarang. Pada tahun 1985, Kevikepan Semarang ini terbagi menjadi 21 paroki dan pada tahun 1990, ada tambahan satu paroki sehingga menjadi 22 paroki20.
| No | Nama Paroki | 1985 | 1990 |
| 1 | Sancta Familia- Admodirono | 7128 | 10565 |
| 2 | St. Theresia - Bongsari | 6246 | 9389 |
| 3 | St. Maria Fatima - Banyumanik | 3240 | 4064 |
| 4 | St.Yosef - Gedangan | 6381 | 8295 |
| 5 | Hati Kudus Yesus - Karangpanas | 3610 | 5776 |
| 6 | Fransiscus Xaverius - Kebon Dalem | 3870 | 5230 |
| 7 | Mater Dei - Lampersari | 2797 | 3431 |
| 8 | Perawan Maria Rosario - Randusari | 11517 | 14072 |
| 9 | St. Yusuf – Ambarawa | 8472 | 10154 |
| 10 | Regina Pacis – Bedono | 2066 | 2398 |
| 11 | St. Mikael – Demak | 375 | 434 |
| 12 | St. Petrus - Gubug | - 21 | 1445 |
| 13 | St. Stanislaus – Girisonta | 3400 | 4475 |
| 14 | St. Johannes Evangelista– Kudus | 3368 | 4083 |
| 15 | Maria Stella Maris – Jepara | 975 | - 78 22 |
| 16 | St. Yusuf – Pati | 2692 | 3350 |
| 17 | Hati Yesus Maha Kudus - Purwodadi | 4606 | 2296 |
| 18 | St. Paulus Miki – Salatiga | 7946 | 10029 |
| 19 | St. Isiodurs – Sukorejo | 2046 | 2539 |
| 20 | Kristus Raja – Ungaran | 2267 | 2927 |
| 21 | St. Martinus - Weleri | 1404 | 1836 |
| 22 | St. Maria la Salette - Juwana | - | 845 |
Keterlibatan Gereja dalam kehidupan masyarakat mendorong perkembangan umat di KAS. Karya misioner Gereja tumbuh dan berkembang di Kevikepan Semarang ini. Beberapa yayasan Katolik melayani kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, sosial karitatif, dan ekonomi, entah dilakukan secara mandiri atau bekerjasama dengan instansi lain. Ada pelatihan tenaga kerja, pelayanan spiritual bagi para eks narapidana dan membantu pengadaan sarana-sarana pokok seperti rumah, pekerjaan, mendirikan asrama, dan balai pengobatan. Dalam karya tersebut, mereka bekerja sama dengan umat lain dan kelompok lain, misalnya Yayasan Soegijapranata, Yayasan Bakti Putri, dan Yayasan Sosial Tani Membangun. Ada pelayanan kepada berbagai kelompok yang hidup dan berkembang di Gereja, misalnya kelompok mahasiswa, WKRI, Himpunan Pelajar Katolik, dan Legio Mariae23.
Mengenal Kevikepan Kedu
Kevikepan Kedu memiliki daerah geografis dan umat yang terkecil dibanding kevikepan yang lain. Umat Katolik tersebar di 13 paroki yang ada kotamadya Magelang dan kabupaten Kedu. Pusat Kevikepan Kedu adalah Paroki Ignatius Magelang24.
| No | Nama Paroki | 1985 | 1990 |
| 1 | St. Maria Fatima – Magelang | 3512 | 4244 |
| 2 | St. Ignatius – Magelang | 6944 | 413925 |
| 3 | St. Mikael – Panca Arga | 1768 | 1832 |
| 4 | St. Yusuf Pekerja - Mertoyudan | 3611 | 3969 |
| 5 | St.Petrus – Borobudur | 636 | 786 |
| 6 | St. Antonius – Muntilan | 3215 | 4030 |
| 7 | Emmanuel – Ngawen | 1019 | 1171 |
| 8 | St. Kritoforus- Banyutemumpang | 3825 | 5617 |
| 9 | St. Maria Lourdes – Sumber | 3372 | 316926 |
| 10 | St. Theresia – Salam | 2410 | 2430 |
| 11 | St Maria dan Yosef - Rawaseneng | 1427 | 1524 |
| 12 | Keluarga Kudus – Parakan | 1065 | 1840 |
| 13 | St. Petrus dan Paulus - Temanggung | 5611 | 6151 |
Perkembangan umat di kevikepan ini berkembang pesat pada masa misi awal Gereja di Indonesia. Dulunya Muntilan adalah pusat penyebaran misi di wilayah ini, namun sekarang jumlah dan perkembangan umat relatif kecil jika dibandingkan dengan kevikepan lain. Kevikepan ini mengalami kemunduran karena dalam masa penjajahan, karya pendidikan yang berpusat di Muntilan harus berpindah-pindah dan berganti tempat di Yogyakarta dan semarang. Banyak penduduk daerah ini yang berpindah tempat ke daerah-daerah lain.
Berbagai karya pastoral cukup berkembang di kevikepan ini. Ada SMA Seminari Menengah St. Petrus Canisius di paroki Mertoyudan sebagai tempat pendidikan calon imam tingkat menengah. Beberapa konggregasi suster dan bruder mengelola sekolah-sekolah yang berkembang di kevikepan Kedu ini. Ada 14 TK, 28 SD, 15 SMP, 3 SMA, dan 5 SLTA Kejuruan yang dikelola oleh para suster CB, OSF, dan SPM serta para bruder FIC. Para suster PI mengelola panti asuhan di paroki Temanggung. Dalam keterlibatan dengan teritorial paroki, banyak umat mengembangkan MUDIKA, Sekolah Minggu/PIA, Misdinar, Legio Mariae, WKRI, dan lain-lain.
Mengenal Kevikepan Yogyakarta
Kevikepan Yogaykarta meliputi seluruh daerah pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kevikepan Yogyakarta meliputi 4 kabupaten dan 1 kotamadya, yaitu kabupaten Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunung Kidul serta Kotamadya Yogyakarta. Kevikepan Yogyakarta memiliki umat paling banyak di antara kevikepan-kevikepan yang lain27.
| No | Nama Paroki | 1985 | 1990 |
| 1 | Kristus Raja – Baciro | 7837 | 9766 |
| 2 | St. Yosef - Bintaran | 4934 | 5903 |
| 3 | St. Albertus Magnus – Jetis | 5438 | 6092 |
| 4 | St. Fransiskus Xaverius – Kidul Loji | 3518 | 4334 |
| 5 | St. Antonius a Padua - Kotabaru | 7996 | 631028 |
| 6 | Hati SPM YTB – Kemetiran | 8111 | 9872 |
| 7 | Hati Yesus Maha Kudus – Pugeran | 10513 | 12642 |
| 8 | Keluarga Kudus - Banteng | 3692 | 332429 |
| 9 | St. Yakobus– Bantul | 6493 | 6972 |
| 10 | St. Petrus Paulus – Babadan | 850 | 1212 |
| 11 | St. Theresia Lisieux – Boro | 9935 | 8556 |
| 12 | St. Maria Asummpta – Gamping | 3117 | 3758 |
| 13 | Hati Kudus Tuhan Yesus – Ganjuran | 7067 | 7278 |
| 14 | SPM Ibu Rahmat Ilahi – Kalasan | 9602 | 10040 |
| 15 | St. Petrus Paulus – Klepu | 8000 | 10292 |
| 16 | St. Yosef – Medari | 5520 | 5960 |
| 17 | St. Aloysius – Melati | 4952 | 5814 |
| 18 | SPM Tak Bercela – Nanggulan | 4112 | 3792 |
| 19 | SPM Yang Diangkat ke Surga- Pakem | 2829 | 3556 |
| 20 | St. Maria Laurdes – Promasan | 3745 | 3743 |
| 21 | St. Theresia Kanak Yesus - Sedayu | 3533 | 3936 |
| 22 | St. Yohanes Penginjil- Somoitan | 3828 | 4279 |
| 23 | SPM Bunda Penasehat Baik – Wates | 3265 | 3838 |
| 24 | St. Petrus Kanisius- Wonosari | 13948 | 1307130 |
Di kevikepan inilah, berkembang berbagai karya kerasulan kepada masyarakat. Realitas Yogyakarta sebagai kota pelajar dan budaya menantang Gereja untuk memberi pelayanan sebaik mungkin bagi masyarakat. Banyak pendatang yang melanjutkan pendidikannya di sini. Mereka datang dari berbagai kepulauan yang tersebar di Indonesia. Keanekaragaman ini menantang Gereja semakin mendunia, dan merasuk dalam masyarakat.
Gereja ikut terlibat dalam berbagai karya pendidikan. Ada 35 TK, 84 SD, 41 SMP, 5 SMA, 23 SLTA Kejuruan, 1 LPK, 2 Akademi, dan 3 Perguruan Tinggi yang dikelola oleh berbagai ordo dan konggregasi biarawan-wati, yaitu: Serikat Jesus, para suster CB, PIJ, OSF, SND, dan OP, para bruder FIC, CSA, dan Budi Mulia, serta yayasan Marsudi Luhur. Ada Fakultas Teologi Wedabhakti sebagai tempat pendidikan para calon imam dan juga bagi orang awam yang tertarik untuk belajar teologi. Ada lembaga pastoral seperti Pusat Kateketik, Lembaga Konsultasi Gerejani, Pusat Musik Liturgi, Balai Budaya Sinduharjo yang bergerak di bidang audio visual, Lembaga studi Realino, dan pusat pengembangan pastoral yang lebih dikenal dengan nama PTPM. Di Deresan, didirikan percetakan dan penerbit Kanisius sebagai usaha Gereja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang gemar membaca, baik yang bersifat umum maupun kerohanian.
Berbagai karya sosial karikatif mengungkapkan kepedulian Gereja terhadap perjuangan masyarakat. Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) mendampingi para gelandangan dan pemulung (SJ). Ada beberapa panti asuhan yang dikelola oleh para suster, yaitu Panti Asuhan Boro (OSF), Panti Asuhan Ganjuran (CB). Para bruder FIC mengelola beberapa panti asuhan putra dan pemintalan benang di Boro. Ada bebeberapa rumah sakit yang dikelola oleh para suster, yaitu Rumah Sakit Panti Rapih, Rumah Sakit Panti Nugroho, Rumah Sakit Panti Rini (CB). Di Paroki klepu, ada rumah sakit Baktiningsih (FCJ). Di paroki Boro, ada rumah sakit Brayat Minulya (OSF).
Berbagai karya katekese dan pewartaan iman berkembang di kevikepan ini. Ada pendampingan pastoral yang bersifat teritorial dan ada yang bersifat kategorial. Karya pastoral teritorial yang berkembang adalah Gerakan Karya Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang (K3AS), mudika, PIA/Sekolah Minggu. Karya pastoral kategorial yang berkembang adalah pendampingan iman Katolik siswa-siswi SMU, Terdapat juga karya pastoral bagi mahasiswa, seperti Komunikasi Mahasiswa Katolik (KMK) dan Campus Ministry.
Doa dan devosi berkembang di paroki-paroki. Ada gerakan doa karismatik, Taize, CLC, Pendalaman Kitab Suci atau Kelompok Kitab Suci (KKS), ME, CLC, Legio Mariae. Di beberapa paroki, terdapat tempat peziarahan yang seringkali ramai dikunjungi para peziarah, seperti Gua Maria Sendang Sono (Promasan), Gua Maria Jatiningsih (Klepu), dan Gua Maria Tritis (Wonosari), dan Candi Hati Kudus Yesus (Ganjuran)31.
Gerakan katekese dan pewartaan berkembang seiring berkembangnya gerakan inkulturasi di dalam Gereja. Keanekaragaman budaya dikembangkan untuk pewartaan iman Katolik. Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu digunakan di hampir semua paroki di kevikepan Yogyakarta. Iringan Gendhing seringkali digunakan untuk memeriahkan perayaan Ekaristi. Seni musik terbang dikembangkan sebagai sarana pewartaan iman di bebepara paroki, dengan nama Slawatan Katolik atau seni Sloka. Seni Sloka ini berkembang di paroki Boro, ganjuran, Mlati, Nanggulan, Klepu, dan Promasan. Seni arsitektur Jawa juga memarnai beberapa bentuk bangunan dan altar gereja, misalnya terdapat di candi Hati Kudus Yesus dan Paroki Ganjuran32.
Mengenal Kevikepan Surakarta
Kevikepan Surakarta meliputi 6 kabupaten dan 1 kotamadya, yaitu kabupaten Boyolali, Karanganyar, Klaten, Sragen, dan Wonogiri serta Kotamadya Surakarta. Ada 18 Paroki yang tersebar di seluruh kevikepan Surakarta ini33.
| No | Nama Paroki | 1985 | 1990 |
| 1 | San Inigo – Dirjodipuran | 3881 | 5320 |
| 2 | St. Antonius – Purbayan | 5782 | 6975 |
| 3 | SPM Permaisuri – Purbawardayan | 8666 | 11500 |
| 4 | St. Petrus Paulus – Purwasari | 8891 | 10112 |
| 5 | St. Yusuf – Baturetno | 5290 | 7186 |
| 6 | Hati Tak Bernoda SPM – Boyolali | 3537 | 3814 |
| 7 | St. Yohanes Rasul – Delanggu | 5307 | 6134 |
| 8 | St. Theresia – Jombor | 4020 | 4938 |
| 9 | St. Stephanus – Jumapolo | 3035 | 4221 |
| 10 | St. Pius X – Karanganyar | 2390 | 3996 |
| 11 | St. Maria – Kartasura | 3252 | 3473 |
| 12 | St. Maria Assumpta – Klaten | 14724 | 15416 |
| 13 | St. Paulus – Kleco | 2839 | 3764 |
| 14 | St. Maria Diangkat ke Surga – Palur | 1949 | 1470 |
| 15 | St. Maria Fatima – Sragen | 5219 | 6499 |
| 16 | H.K. Tuhan Yesus – Simo | 1355 | 1559 |
| 17 | SPM Bunda Maria – Wedi | 11149 | 11976 |
| 18 | St. Yohanes Rasul - Wonogiri | 4175 | 4958 |
Dengan kehadirannya, para biawaran-biarawati mengembangkan karya sosial ekonomi, sosial karikatif, religius, dan pendidikan. Karya mereka meliputi pelayanan sosial keluarga, pemberian beasiswa pendidikan, asrama, pelatihan ketrampilan dasar, mendirikan poliklinik dan proyek kesehatan balita. Para suter OSU merintis karya pendidikan di Solo (1952). Biarawati Karya Kesehatan (BKK) merintis karya kesehatan (1949). Para suster Fransiskanes mendirikan Rumah Sakit Brayat Minulya di Solo (1953). Berkembang RS. Brayat Minulya yang menjadi cabang dari RS. Elisabeth Semarang. Di Sragen juga didirikan Rumah Bersalin Mardi Lestari.
Gereja terbuka terhadap tradisi Jawa yang cukup mengakar kuat di kevikepan Surakarta ini. Gereja mengembangkan gerakan inkulturasi dalam liturgi, misalnya Ekaristi dengan menggunakan bahasa Jawa dan gamelan serta pewartaan iman Katolik dengan media wayang kulit, atau sering disebut “wayang wahyu.” Wayang Wahyu ini dikembangkan oleh almarhum Br. Timoteus, FIC34.
Banyak sarana pengembangan hidup rohani di kevikepan ini. Ada rumah retret Sangkalputung (Klaten), Gua Maria Mojosongo (Surakarta), Gua maria Sriningsih (Wedi). Pelayanan kerohanian kepada kelompok-kelompok tertentu dan umat juga menjadi perhatian utama dari usaha Gereja. Ada pelayanan kerohanian kepada kelompok mahasiswa, kaum muda, legio mariae, CLC.
3.3 Mengenal Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang
Gereja Keuskupan Agung Semarang adalah Gereja yang misioner35. Gereja KAS mengembangkan sikap dialog dengan umatnya dalam segala keanekaragaman latar belakangnya. Demi pelayanan yang semakin baik, Gereja KAS membentuk Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP-KAS)36. Dengan DKP-KAS ini, Gereja KAS ingin mewujudkan Gereja Umat Allah yang ikut berpartisipasi dalam membangun dan mengembangkan Kerajaan Allah di KAS. Demi mengembangkan partisipasi umat, keanggotaan DKP-KAS ini terdiri dari berbagai golongan umat Allah, yaitu awam, klerus, dan kaum religius. Dengan keanekaragaman kharisma yang dimilikinya, mereka bersatu mewujudkan persaudaraan sejati dan membangun Gereja umat Allah di KAS yang hidup dan berpartisipasi dalam keprihatinan dan kegembiraan masyarakat (GS 1).
Bersama dengan Pusat Pastoral yang dipimpin oleh Rm. F. Heselaars, SJ., Rm. Piet van Hooijdonk, dan para pastor Delvikep; Vikaris Kapitularis KAS, Rm. Alexander Djajasiswaja, Pr membentuk DKP-KAS sebagai sebuah usaha Gereja KAS dalam mewujudkan misi Gereja Yesus Kristus di Indonesia. Mereka membentuk komisi-komisi untuk mempersiapkan pembentukan DKP-KAS ini. Komisi ini menjadi komunikator serta motor DKP dalam usaha membangun Gereja KAS. DKP-KAS inilah yang pada masa kegembalaan Mgr. Darmaatmadja, SJ menjadi tim yang membentuk dan mengembangkan ARDAS-KAS sebagai usaha karya misi Gereja KAS di Indonesia.
DKP-KAS ini terdiri dari 3 komisi37, yaitu:
Komisi karya pastoral internal. Komisi ini meliputi karya komisi Kateketik, Kitab Suci, Liturgi, Misioner, Kepausan, Pendampingan Keluarga, dan Muperkas-Ikhrar.
Komisi karya pastoral eksternal. Komisi ini meliputi karya komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan, Kepemudaan, Kemahasiswaan, Kerawam, Komunikasi Sosial, Pendidikan, Sosial Ekonomi, dan Kesehatan.
Komisi karya pastoral teritorial. Komisi ini meliputi seluruh paroki-paroki yang ada di KAS.
Untuk memudahkan pelayanan kepada umat, paroki-paroki di KAS ini dikelompokkan menjadi 4 wilayah teritorial kevikepan sesuai dengan daerah geografisnya. Setiap daerah teritorial itu dipimpin oleh seorang Vikaris Episkopalis (Vikep). Dia bertugas mewakili uskup dalam melayani umat di seluruh kevikepan. Dalam kesatuan dengan uskup, para Vikep ini mengembangkan visi misi keuskupan di kevikepan mereka masing-masing, yaitu mewujudkan Gereja KAS yang misioner38.
3.4 Mengenal karya Umat Keuskupan Agung Semarang
“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28, 19-20). Perikop ini menyatakan bahwa setiap orang kristiani dipanggil untuk melanjutkan karya perutusan Yesus Kristus. Bersama dengan Gereja universal, setiap umat kristiani melaksanakan karya misi Kristus tersebut dalam lima bidang kegiatan Gereja (Kis 2,41-42; 4,32-37)39, yaitu:
Peribadatan: Perayaan Ekaristi, doa, devosi, perayaan-perayaan non-sakramen dan non-ekaristi, doa bersama, ibadat sabda, kor, doa bersih desa.
Pewartaan: Sekolah Minggu, Pendampingan Iman Anak (PIA), Pendampingan Iman Remaja (PIR) atau Bimbingan Anak Remaja (BINAR), Pendalaman Iman, Kelompok Kitab Suci, pelajaran untuk menerima sakramen, retret, rekoleksi, Bina Rohani Kaum Muda, misdinar.
Paguyuban: perekumpulan arisan ibu-ibu, anjangsana, misdinar, WKRI, Kelompok doa-doa devosional.
Kelembagaan/organisasi: bangunan, organisasi, rapat-rapat, pertemuan-pertemuan institusi masyarakat.
Kemasyarakatan: pengembangan sosial ekonomi, sosial budaya, hubungan antara agama dan kepercayaan, bersih desa/gotong royong, karya sosial karikatif, pendidikan, olahraga.
Kegiatan utama Gereja tersebut berkembang dalam berbagai komunitas umat beriman yang tersebar di seluruh KAS. Komunitas beriman itu berkembang dari tahun ke tahun di KAS. Pada tahun 1980-an, komunitas beriman itu berkembang dan meningkat dari 1056 komunitas dengan anggota 57351 orang, menjadi 3013 komunitas dengan anggota 98106 orang40.
| Jenis Komunitas | 1984 | 1988 | ||
| Komunitas | Anggota | Komunitas | Anggota | |
| Legio Mariaer | 199 | 3113 | 191 | 3282 |
| PMKRI | 8 | 391 | 6 | 1385 |
| KKS | - | - | 449 | 6447 |
| Karismatik | 34 | 1467 | 55 | 1993 |
| CLC | 33 | 337 | 30 | 379 |
| ME | 57 | 1755 | 45 | 1817 |
| Wanita Katolik | 381 | 15506 | 378 | 17709 |
| Pemuda Katolik | 53 | 2234 | 52 | 5156 |
| Mudika | 539 | 25927 | 590 | 30957 |
| Misdinar | - | - | 172 | 5369 |
| Kor | - | - | 938 | 18566 |
| Lainnya | 202 | 6654 | 107 | 5045 |
| Jumlah | 1506 | 57351 | 3013 | 98106 |
Ada perkembangan kesadaran umat beriman dalam menghayati imannya secara komunal. Umat beriman menyadari bahwa iman itu bersifat personal komunal. Mereka mengungkapkan imannya dalam kebersamaan/komunitas dengan terlibat aktif dalam kehidupan menggereja, mengembangkan imannya. Dalam kebersamaan bersama umat yang heterogen, mereka memperluas jaringan-jaringan kelompok yang dapat mengarah pada kemandirian Gereja lokal. Berbagai karya ini bersifat inklusif bagi semua manusia, tanpa memandang latar belakang agamanya. Karya dan keterlibatan umat kristiani itu bisa bersifat individu atau juga komunal.
Inilah gambaran kegiatan dan karya umat dalam masyarakat. Keanekargaman umat menentukan dan mewarnai segala karya mereka. Partner karya ini bersifat heterogen. Ada karya yang terjalin antara komunitas katolik dengan komunitas non katolik, individu katolik dengan individu non katolik, komunitas katolik dengan individu katolik, komunitas non katolik dengan individu non katolik, individu katolik dengan komunitas non katolik, dan komunitas katolik dengan individu non katolik. Semua relasi karya ini menunjukkan dan menantang Gereja untuk semakin berani bersaksi tentang dirinya kepada dunia.
Mengenal Karya Sosial Karikatif Gereja KAS
Semangat misioner semakin bertumbuh dalam diri setiap umat beriman. Kehidupan berorganisasi, entah dalam lingkup intern atau ekstern Gereja disadari sebagai wahana untuk bersaksi. Sikap “Gereja mampu menyumbangkan apa” menjadi kesadaran yang semakin berkembang dalam kehidupan umat di tengah masyarakat. Berbagai karya sosial karikatif Gereja yang berkembang mengungkapkan kepedulian dan keterlibatan Gereja dalam kehidupan masyarakat.41
| Jenis Lembaga | 1984 | 1988 | ||||
| jml | Kat | Non-Kat | Jml | Kat | Non-Kat | |
| PA. Yatim Piatu | 3 | 98 | 39 | 2 | 286 | 157 |
| PA Bayi dan Anak Terlantar | 4 | 202 | 60 | 4 | 86 | 64 |
| Rumah Jompo | 4 | 69 | 42 | 1 | 67 | 74 |
| Rumah Anak Cacat | - | - | - | 1 | 3 | 5 |
| Lembaga Lainnya | 2 | 7 | 17 | 2 | 35 | 17 |
| Jumlah | 13 | 376 | 158 | 17 | 477 | 317 |
| Jumlah Penghuni | 534 | 794 | ||||
Bersama dengan semua pihak yang berkehendak baik, Gereja mengembangkan karya sosial karikatif ini di wilayah Keuskupan Agung Semarang sebagai ungkapan keprihatinan Gereja terhadap keadaan masyarakat yang lemah. Pelayanan ini berkembang dari tahun ke tahun dan semakin menyentuh semakin banyak orang. Karya sosial karikatif ini bersifat inklusif dan melayani semua orang yang membutuhkan.
Seiring perkembangan zaman, Gereja senantiasa memperbaharui diri dan mengembangkan diri dalam mewartakan karya keselamatan Allah di dunia ini. Gereja KAS menafsirkan karya keselamatan itu dengan berdasarkan refleksi akan keanekaragaman kebutuhan masyarakat di wilayah KAS ini. Berkembangnya karya sosial karikatif yang dikembangkan Gereja ini merupakan salah satu penafsiran dan refleksi Gereja dalam mengungkapkan jati dirinya, yaitu Gereja yang misioner dan memasyarakat.
Mengenal Karya Pendidikan Gereja KAS
Gereja mendukung program Pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Gereja KAS memperjuangkan pendidikan bangsa sekaligus mewujudkan imannya yang misioner. Sekolah ini terbuka terhadap semua anak sekolah dengan segala keanekaragaman latarbelakang budaya, agama, dan sosial ekonominya. Gereja bekerjasama dengan semua orang yang mengusahakan kehendak baik dalam mencerdaskan bangsa. Sekolah ini tidak hanya eksklusif untuk siswa atau guru Katolik, tetapi membuka diri terhadap siapa saja yang mempunyai perhatian dan kehendak baik dalam dunia pendidikan. Sekolah Katolik tidak hanya mengembangkan katolisitas, tetapi terlebih berorientasi pada pembentukan pribadi manusia yang utuh. Karena itu, Gereja membuka diri dan bekerja sama dengan guru-guru non-Katolik yang rela bekerja sama mendidik dan memperkembangkan siswa-siswi yang dipercayakan kepadanya42.
Tabel Agama Murid-murid di Sekolah Katolik di KAS.
| Agama | 1984 | 1988 |
| Katolik | 52730 | 62997 |
| Katekumenat | 12183 | 8513 |
| Protestan | 16285 | 20317 |
| Islam | 43167 | 50292 |
| Hindu | 424 | 305 |
| Budha | 1876 | 2284 |
| Kongfutse | 991 | 370 |
| Animisme | 5 | 69 |
| Lain-lain | 5223 | 4228 |
| Jumlah | 132884 | 149375 |
Tabel Agama Guru-guru di Sekolah Katolik KAS
| Agama Guru | 1984 | 1988 |
| Katolik | 5058 | 5818 |
| Non-Katolik | 1450 | 1312 |
Gereja KAS berusaha menghadirkan Kerajaan Allah dengan berbagai pelayanan yang menjangkau kehidupan manusia di KAS. Karya Gereja dalam bidang pendidikan mengalami peningkatan yang cukup berarti selama tahun 1980-an.43.
| Tingkat Sekolah | 1984 | 1988 |
| TKK | 105 | 159 |
| SD | 227 | 240 |
| SMP | 99 | 109 |
| SMA | 24 | 34 |
| SMEA | 5 | 5 |
| STM | 8 | 9 |
| SPG | 10 | 11 |
| SKKA | 2 | - |
| SMKK | - | 2 |
| AKADEMI | 5 | 4 |
| UNIVERSITAS | 3 | 4 |
| Setingakt SMA | - | 4 |
| Setingkat AKADEMI | 4 | 1 |
| Jumlah | 492 | 582 |
Mengenal Karya Kesehatan Gereja KAS
Gereja KAS menjadi teman sependeritaan dan seperjalanan bagi mereka yang sungguh sedang mengalami pengalaman eksistensial dalam menanggung sakit dan penderitaan. Gereja terlibat dalam perjuangan kehidupan mereka untuk mengusahakan dan memperjuangkan kehidupan. Gereja KAS menghadirkan diri dalam karya kesehatan melalui berbagai pelayanan kesehatan yang dikembangkan44.
| Jenis Lembaga Kesehatan | 1984 | 1988 |
| Poliklinik | 20 | 28 |
| BKIA | 16 | 14 |
| Rumah Bersalin | 14 | 16 |
| Rumah Sakit Umum | 5 | 6 |
| Jumlah | 55 | 64 |
Ada 13 yayasan karya kesehatan Katolik yang tersebar di seluruh wilayah KAS. Beberapa yayasan itu dikelola oleh konggregasi suster-suster. Yayasan itu adalah sebagai berikut:
| Nama Yayasan | Pengelola |
| Yayasan ASI Suster-Suster Misericordia | Suster-Suster Konggragasi Misericordia |
| Yayasan Brayat Minulya | Suster-suster Ordo Fransiskan |
| Yayasan Carolus Boromeus | Suster-suster Konggregasi CB |
| Yayasan Elisabeth | Suster-suster Ordo Fransiskan |
| Yayasan Fransicus Van Dongen | Suster-suster Ordo Fransiskan |
| Yayasan Karya Sang Timur | Suster Konggregasi PIJ |
| Yayasan Mardi Lestari | Suster-suster Fransiskan |
| Yayasan Panti Rapih | Suster-suster Konggregasi CB |
| Yayasan Penyelenggaraan Ilahi | Suster-suster Konggregasi PI |
| Yayasan Santan Maria | Suster-suster Konggregasi SPM |
| Yayasan Santo Dominikus | Suster-suster OP |
| Yayasan Soegijapranata | Suster-suster BKK |
| Yayasan Panti Asuhan Katolik | Suster-suster PI, Fransiskanes, AK |
Berbagai karya ini menjadi ungkapan keterlibatan Gereja yang membumi di masyarakat KAS. Gereja senantiasa terbuka dan terlibat secara aktif dalam keprihatinan, kebutuhan, dan perjuangan masyarakat(GS 1).
Melihat Lebih Dekat Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ
Keuskupan Agung Semarang mengalami sede vacante (tahta kosong) semenjak Mgr. Justinus Kardinal Darmojuwono mengundurkan diri (Jumat, 3 Juli 1981). Sebelum terpilih uskup yang baru, KAS dipimpin oleh Vicaris Kapitularis (Pejabat Uskup sementara), Mgr. Alexander Djajassiwaja dan dibantu Dewan Keuskupan Agung Semarang yang terdiri dari Rm. Julius Darmaatmadja, SJ (Provinsial SJ), Rm. Ignatius Wignyasumarta, MSF (Profinsial MSF), Rm Leonard Smith, SJ (Paroki Mungkid Muntilan), Rm. Johanes Chrisostomus Purwawidyana, Pr (Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan, Yogyakarta), dan Rm . Julius Sunarka, SJ (Sekretaris KAS).
Secara yuridis, Keuskupan Agung Semarang memiliki uskup baru semenjak diumumkannya Bulla 9 April 1983. Rm. Julius Darmaatmadja, SJ ditahbiskan menjadi uskup pada hari Rabu, 29 Juni 1983, bertepatan dengan pesta St. Petrus dan Paulus. Beliau ditahbiskan oleh Mgr. Justinus Kardinal Darmojuwono yang didampingi oleh Mgr. FX. Hadisumarta, OCarm dan Mgr. Leo Soekoto, SJ.
Kegembalaan uskup Mgr. Julius Darmaatmadja mewarnai perjalanan iman umat KAS. Dalam masa kegembalaannya inilah, KAS merumuskan Arah Dasar Keuskupan sebagai gerak bersama seluruh umat KAS. Dengan kata lain, keberadaan ARDAS KAS pertama, yang berlaku pada periode 1984-1990 tidak dapat dilepaskan dari Mgr. Julius Darmaatmadja sebagai uskup KAS.
Mengenal Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ
Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ dilahirkan pada hari Kamis, 20 Desember 1934 dengan nama Rijadi. Dia lahir dari pasangan keluarga Joachim Djasman Darmaatmadja dan Siti Supartimah. Rijadi adalah anak bungsu dari 6 saudara. Semenjak kecil, Keluarga Djasman mendidik Rijadi untuk selalu mengembangkan daya berpikir reflektif dan jiwa sosial dalam hidup bermasyarakat45.
Semangat njembaraken Kratoning Allah yang dihayati Pak Djasman ini dipengaruhi oleh masa kecil Pak Djasman di desa Tegal, Dawung, Srumbung, Magelang. Sebelum berkenalan dengan Rm. Van Lith, SJ., Pak Djasman adalah seorang muslim yang taat. Semangat dakwah dan kesadaran akan situasi masyarakat dan Gereja menjadikan Pak Djasman pribadi yang sosial dan murah hati. Latar belakang kehidupan keluarga ini menjadi pondasi yang kuat dalam penghayatan kehidupan Rijadi. Pengalaman masa kecil, semangat sosial Bapak Djasman dan Ibu Siti, serta pola hubungan sosial Jawa yang mengungkapkan semangat dan nilai tolong menolong membentuk pribadi Rijadi.
Karena situasi politik yang belum stabil, ia harus menjalani masa pendidikan di beberapa sekolah. Dia menjalani pendidikan dasar di 3 sekolah. Dia menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat (SR) Kanisius Salam (1940-1941), SR Negeri Semen, Salam (1942-1943) dan SR Negeri Muntilan (1944-1947). Hal yang sama juga ketika dia menjalani pendidikan SMP. Dia memulai pendidikan menengah di SMP Negeri Muntilan, tetapi menamatkan pendidikannya di SMP Kanisius Muntilan. Setelah lulus SMP, dia meneruskan di Seminari Kecil (Sekarang: Seminari Menengah) di Jln Code Yogyakarta (Sekarang: Puskat), lalu pindah ke Mertoyudan, Magelang (1951-1957).
Rijadi masuk Serikat Jesus sejak hari Sabtu, 7 September 1957. Dia memasuki masa yuniorat di Girisonta (1959-1961) setelah dia meyelesaikan masa novisiatnya selama 2 tahun. Ia melanjutkan belajar filsafat sampai mendapat gelar licensiat di Atheneum Kepausan Roma, India. Ia melaksanakan Tahun Orientasi Karya (TOK) sebagai pamong di Seminari Menengah Mertoyudan (1964-1968). Ia meneruskan pendidikan imam di Institus Filsafat Teologi (IFT) Kentungan (1968-1971). Darma ditahbiskan menjadi imam pada hari Kamis, 18 Desember 1969 oleh Mgr. Julius Kardinal Darmojuwono di Yogayakarta.
Mengenal Karya Uskup Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ
Rm. Darmaatmadja memulai karyanya yang pertama sebagai imam di paroki Kalasan pada tahun 1971. Profinsial Serikat Jesus menugaskan Rm. Darmaatmadja, SJ menjadi Socius Magister Serikat Yesus (1971-1973), Magister Novisiat Girisonta sekaligus pastor Paroki Girisonta, Socius Provinsial dan Superior di komunitas Karangpanas, Semarang (1973-1977), Rektor Seminari Menengah Mertoyudan (1977-1981), dan menjadi Provinsial Serikat Yesus provinsi Indonesia (1981-1983)46.
Dengan Bulla Bapa Suci (21 Februari 1983), Tahta Suci Vatikan memilih Rm. Darmaatmadja, SJ sebagai Uskup Agung Semarang. Pada hari Rabu, 29 Juni 1983 bertepatan dengan hari Raya Petrus dan Paulus, Rm. Darmaatmadja, SJ ditahbiskan menjadi Uskup Agung Semarang di Gedung Olah Raga Jawa Tengah.47 Beliau ditahbiskan oleh Mgr. Justinus Kardinal Darmojuwono dan didampingi oleh Mgr. FX. Hadisumarta, OCarm dan Mgr. Leo Soekoto, SJ. Pada saat itu, Mgr. Hadisuamrta, OCarm menjabat ketua MAWI (sekarang KWI) dan Mgr. Leo Soekoto, SJ sebagai Sekretaris MAWI.
Mgr. Darmaatmadja, SJ memulai karyanya dengan menyusun personalia Keuskupan. Vikaris Jenderal (Vikjen) diemban oleh romo Praja, Ekonom dipercayakan kepada romo Serikat Jesus, Sekretaris dipegang oleh romo Misionaris Keluarga Kudus. Penyusunan ini semakin mencerminkan visi, kerja sama, dan jiwa sosial yang hendak diusahakan oleh Keuskupan Agung Semarang.
Sejak tahun 1984, Mgr. Darmaatmadja, SJ mengungkapkan visi kegembalaannya dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS KAS) yang setiap periode waktu tertentu dievaluasi, direfleksi, diperbaharui, dan ditegaskan kembali. ARDAS KAS yang pertama berlaku mulai tahun 1984-1990. Setelah itu, ARDAS-KAS dibuat untuk periode waktu 5 tahun. Dalam masa kegembalaannya, Gereja KAS berusaha mengungkapkan iman yang dewasa, mandiri, misioner, dan memasyarakat dengan melibatkan diri dan berperan serta dalam membangun dan memperjuangkan kehidupan bersama.
Mgr. Darmaatmadja, SJ mengembangkan bentuk pelayanan pastoral kategorial. Pastoral kategorial adalah bentuk pendampingan umat yang didasarkan pada kesatuan fungsi atau profesinya. Pastoral kategorial atau fungsional ini merupakan pengembangan dari pastoral teritorial yang telah berjalan selama ini. Pastoral teritorial adalah pendampingan umat yang didasarkan pada kesatuan wilayah tertentu, yaitu paroki, stasi, kring, atau lingkungan. Pastoral teritorial ini berkembang sejak masa kegembalaan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Perkembangan umat menuntut pelayanan pastoral yang berkembang. Mgr. Darmaatmadja, SJ menjawab tantangan ini dengan pelayanan pastoral kategorial ini.
Bentuk pastoral kategorial ini dikembangkan dalam bentuk kerasulan awam dan kaderisasi awam. Awam menjadi partner yang sederajat dalam pelayanan pastoral. Awam tidak lagi menjadi obyek kerasulan atau lapisan kedua setelah hirarki. Awam menjadi saksi Gereja dengan panggilan khasnya di dunia. Kaum awam dilibatkan dalam tata penggembalaan yang meliputi pastoral teritorial dan pastoral kategorial fungsional.
Karya kerasulan awam ini merupakan ungkapan visi Gereja KAS yang misioner, Gereja yang ikut ambil bagian dalam usaha dan perjuangan hidup masyarakat dan bernegara. Dalam kebijaksanaan kegembalaannya, Mgr. Darmaatmadja, SJ melakukan kunjungan ke berbagai tempat, entah paroki, komunitas religius atau komunitas non-religius, serta komunitas masyarakat. Beliau mengembangkan visi kegembalaan yang universal dan terbuka terhadap semua orang. Beliau tidak hanya merangkul dan menyapa umat Keuskupan Agung Semarang saja, tetapi juga seluruh masyarakat yang berada di wilayah Keuskupan Agung Semarang dengan segala keanekaragaman latar belakang dan segala keanekaragaman penghayatan iman mereka.
Kepercayaan dan tanggung jawab yang diberikan kepada Mgr. Julius darmaatmadja, SJ semakin berlimpah seiring dengan kebutuhan umat yang semakin berkembang. Dia dipercaya sebagai ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (1985-1988), ketua KWI (per 17 November 1988), anggota Komisi Kepausan untuk Hubungan Antar Umat Beragama (per 20 Oktober 1990). Dengan kepercayaan sebagai ketua KWI, dia mengembangkan pelayanan yang berdasar dari mendengarkan kebutuhan dan perjuangan para uskup dalam melayani umat di masing-masing keuskupan. Beliau mengusahakan dan mengembangkan semangat duduk bersama dalam menentukan kebijakan Gereja Indonesia. Bersama dengan dewan pembantunya, dia juga menentukan masa jabatan fungsional sehingga pelayanan kepada umat manusia semakin efisien.
Untuk mengembangkan Gereja yang misioner dan partisipatif, dia mengajak kepada setiap umat Katolik agar mengembangkan jiwa nasionalis yang sejati, yaitu “menjadi warga negara 100% , menjadi Katolik 100%.” Ajakan ini mengungkapkan bahwa setiap umat Katolik menjadi bagian dan menjadi satu dengan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemajuan bangsa Indonesia. Dalam lingkup intern Gereja, dia mengembangkan semangat solidaritas kepada keuskupan lain yang membutuhkan pelayanan pastoral. Dia mengirimkan beberapa imamnya untuk menjadi misionaris domestik dan berkarya di keuskupan lain di wilayah Gerejawi Indonesia.
Membaca Kembali ARDAS-KAS Periode 1984-1990
Gereja KAS ikut ambil bagian dalam keprihatinan, harapan, kegembiraan, dan perjuangan masyarakat Indonesia (GS 1). Semangat ini menjadi dasar refleksi realitas kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia. Rumusan ARDAS-KAS ini merupakan ungkapan hati dan partisipasi seluruh umat KAS dalam perjuangan masyarakat Indonesia. ARDAS-KAS yang pertama dimaksudkan sebagai gerak langkah bersama untuk periode 1984-1990.
Rumusan ARDAS-KAS Periode 1984-1990
Rumusan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang yang pertama ini menjadi dasar dan refleksi lebih lanjut dalam pengembangan arah dasar Keuskupan Agung Semarang. Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang Periode 1984-1990 sebagai berikut48:
Cita-cita
Keuskupan Agung Semarang ingin mewujudkan diri sebagai UMAT ALLAH yang beriman mendalam, sesuai dengan kebudayaan setempat; beriman dewasa, semua turut bertanggungjawab dan terlibat, mandiri; beriman misioner:
kepada yang terbuka, siap mewartakan Yesus / Injil;
kepada yang tertutup, siap mewartakan yang benar, baik, dan suci;
kepada yang keyakinan agamanya kuat, mencoba meningkatkan menjadi orang yang betul-betul baik; beriman masyarakat: meresapi segala tata kehidupan bermasyarakat dengan semangat/nilai kristen.
Tekanan
Tanpa mengurangi pentingnya nilai unsur-unsur lainnya, tanpa mengabaikan perkembangan dalam segi-segi lainnya, Keuskupan perlu memilih tekanan khusus terhadap unsur dan bidang mana yang akan mendapat perhatian khusus pada tahun ini. Dalam Rapat Dewan Karya Pastoral tanggal 28 Nopember 1984, telah ditetapkan bahwa tekanan khusus akan dijatuhkan pada:
TERWUJUDNYA UMAT YANG IMANNYA MERASUKI SELURUH DIMENSI HIDUP DI DALAM MASYARAKAT.
(Bdk. BPH KAS)
Kepemimpinan Hirarki/Dewan Paroki, Pamong dan lain-lain Panitia
Dari cita-cita tersebut di atas, yang ingin kita utamakan adalah membangun Umat Allah, menjadi Umat Beriman, yang imannya penuh dan lengkap, yang imannya mendalam, dewasa, misioner, dan memasyarakat. Fungsi Hirarki, Dewan Paroki, Panitia, Pamong, dan lain-lain; melayani, mengabdikan diri dengan segala usaha, agar terwujudlah dan berkembanglah di Keuskupan kita ini UMAT ALLAH yang imannya penuh dan lengkap: yang mendalam, dewasa, misioner, memasyarakat tersebut. Maka kalau ingin maju atau berkembangnya, Keuskupan atau paroki-paroki hendaklah menilai dalam bidang itu tadi, bukan karena organisasinya rapi dan lain-lain.
Kalau ingin menilai apakah Hirarki, Dewan Paroki, Pamong, Panitia, dan lain-lain berhasil atau tidak, yang menjadi ukuran ialah: apakah usaha-usahanya sungguh mengembangkan kita menjadi Umat Allah yang imannya dalam, dewasa, misioner, dan memasyarakat tersebut. Untuk tahun ini, paling tidak diharapkan lebih mengutamakan: terwujudnya umat yang imannya makin merasuki kehidupan dalam masyarakat.
Melanjutkan Perkembangan Yang Sudah Ada
Seperti telah disebutkan diatas, dengan mengutamakan salah satu aspek kita tidak mau mengabaikan apa-apa yang penting yang telah berkembang dalam keuskupan kita, hal itu harus kita lanjutkan juga. Maka kita teruskan apa yang telah dilukiskan dalam buku: Perjalanan Umat Allah maupun dalam buku Gereja kita. Banyak hal dasar dan baik sudah ditanamkan dalam umat. Untuk perkembangan lebih lanjut, kita akan bercermin pada cita-cita dan mengembangkan dengan kenyataan riil yang ada sampai sekarang. Kemudian dari situ kita merumuskan tekanan khusus yang ingin diusahakan untuk dikembangkan pada tahun-tahun mendatang, karena di bidang itu kita masih perlu berkembang. (Mgr. Julius Darmaarmadja, SJ)
Sejarah ARDAS-KAS Periode 1984-1990
Dalam masa kegembalaan Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ dan dilanjutkan Mgr. Justinus Darmajuwono, Gereja KAS mengalami perkembangan yang pesat. Gereja KAS berkembang ke arah Gereja yang mulai berswasembada.49 Perkembangan sejarah dan perjuangan Gereja KAS ini menjadi inspirasi dasar refleksi dalam penyusunan ARDAS-KAS.
Sejak awal, Mgr Darmaatmadja, SJ ingin mengungkapkan bahwa Gereja KAS hadir bukan untuk dirinya, melainkan untuk dunia dan dalam dunia, khususnya kehidupan di Keuskupan Agung Semarang Indonesia. Sejak pertemuan pertama dengan Dewan Karya Pastoral (DKP) pada tanggal 5-8 Desember 1983, Mgr. Darmaatmadja, SJ menghendaki adanya sikap Gereja KAS yang lebih tegas dalam kehidupan masyarakat. Dia mengajak DKP untuk memikirkan lebih lanjut tentang sikap misi Gereja KAS dalam kehidupan masyarakat di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Tema Gereja KAS yang bermisi dalam konteks wilayah Keuskupan Agung Semarang menjadi tema utama dalam pertemaun DKP tersebut.
Pada pertemuan tersebut, dihasilkan beberapa Bidang Pokok Hasil (BPH)50.:
BPH Keuskupan Agung Semarang.
Bidang Pastoral.
Terwujudnya iman umat yang merasuki seluruh dimensi hidup dalam masyarakat.
Bidang Organisatoris.
Berfungsinya DKP membantu Uskup dalam menentukan kebijakannya.
Berfungsinya Vikep sebagai penerus kebijakan Uskup untuk wilayahnya.
Berfungsinya panitia kerja menjabarkan kebijakan Uskup menurut bidang masing-masing dalam koordinasi dan situasi kevikepan.
Kemampuan para imam mendampingi awam, biarawan/wati memperkembangkan diri dalam kedudukan masing-masing dalam Gereja sesuai dengan panggilannya.
BPH Kelompok Vikep.
Adanya panitia kerja: staf kevikepan yang efektif/mantap. Mampu menjabarkan program DKP-KAS dan keadaan setempat.
Terwujudnya kesatuan para imam dalam korps pastoral.
Dewan paroki yang mampu menjiwai kaum muda dalam peranannya yang khas di masyarakat.
BPH Panitia Sosial Ekonomi.
Kesadaran umat paroki bahwa Karya Sosial Ekonomi merupakan konkretisasi penghayatan iman dalam hidup bermasyarakat, khususnya melalui usaha swadaya solidaritas.
BPH Aksi Puasa Pembangunan 1984.
Pertobatan meningkatkan partisipasi umat Katolik KAS dalam membangun Pancasila dengan mendalami bahan tema APP 1984 di dalam paroki, wilayah, keluarga, kelompok fungsional, dan sekolah.
Meningkatkan tobat dan menyadari bahwa dana APP sebagai tanda tobat yang solider umat paroki dan sekolah yang seluruhnya dikirim ke panitia APP KAS.
BPH Karya Kepemudaan KAS.
Program APP 1984: tumbuhnya kesadaran bermasyarakat.
KASIS (Kaderisasi Basis): Kaum muda yang percaya diri; yang bisa dihargai dan menghargai; yang bisa berorganisasi dan memimpin.
Kebersamaan: tumbuhnya suatu kebanggaan dalam Gereja Universal.
Kelompok Bandungan: terlaksananya kaum muda di paroki-paroki.
Out Group: terciptanya iklim bahwa out group bisa dilayani.
BPH Majelis Pendidikan Katolik.
Mendesak pimpinan yayasan dan sekolah untuk mengembalikan citra Gereja di tengah masyarakat yang dicemarkan oleh komersialisasi. Aktivitas: konsientisasi.
Dalam bidang kebijakan: menggali arti kekatolikan sekolah. Aktivitas: menyusun pedoman.
Mempengaruhi policy pemerintah: pengangkatan guru; perubahan kurikulum 1975; mendirikan sekolah baru.
Membantu yayasan supaya siap menghadapi akreditasi (dalam rangka meningkatkan mutu sekolah).
BPH Panitia Kateketik.
Terciptanya kelompok-kelompok kecil yang saling mengkomunikasikan imannya yang memasyarakat.
Terciptanya pemimpin kelompok pendalaman iman (komunikasi iman) yang memasyarakat.
Terciptanya guru agama sekolah yang imannya memasyarakat.
Fungsi seksi pewartaan paroki yang mampu mendampingi umat untuk mewujudkan iman dalam masyarakat.
BPH Hubungan Antar Keagamaan.
Siapnya pemuka umat Katolik agar mampu mengadakan hubungan baik dengan umat beragama/kepercayaan lain.
Terciptanya perkembangan hubungan oikumenis antar pemuka gereja.
Tersedianya tenaga yang mampu dan mau terjun dalam forum dialog antara pemuka agama.
BPH Kerasulan Awam.
Ternyata organisasi kerasulan awam dan team kerja yang berfungsi sesuai dengan perkembangan kedewasaan umat dalam hidup bernegara.
Terwujudnya kesadaran panggilan umat sebagai warga gereja dan warga negara yang bertanggungjawab dalam bentuk berperan serta dalam kegiatan sosial atas dasar iman Katolik.
BPH Panitia Kitab Suci.
Tertanamnya nilai Alkitabiah dalam hidup anak-anak sehingga mereka dapat sedini mungkin menjadi saksi cinta kasih Tuhan di tengah masyarakat.
Tersedianya sarana-sarana penunjang orientasi tersebut di atas.
BPH Karya Misioner.
Tampilnya pemuka jemaat yang mempunyai visi Gereja Umat Allah dalam rangka membangun Gereja setempat (lokal) yang dewasa, tidak tergantung kehadiran imam, lagi terbuka terhadap keprihatinan masyarakat lingkungan.
BPH MASRI.
Tersedia tenaga yang beriman memasuki seluruh dimensi hidup dalam masyarakat.
Terciptanya kerjasama antar tarekat di KAS dalam mengabdi Gereja dan masyarakat.
BPH Karya Kesehatan.
Kesadaran unit-unit kesehatan Katolik bahwa kesehata primer merupakan prioritas pelayanan unit kesehatan Katolik dalam kesaruan seluruh usaha masyarakat.
BPH Delegatus Komunikasi Sosial.
Tertanamnya nilai-nilai kristiani dalam masyarakat dengan siaran-siaran Katolik melalui: radio, televisi, dan pers.
Terjalinnya kerjasama untuk mendukung karya pewartaan ini dengan: pemerintah/petugas yang mengelola mass media; anggota DKP KAS; kelompok-kelompok yang bergerak/berkecimpung di bidang kebudayaan.
Umat mengenal karya komsos dengan: kaderisasi/penataran/informasi/pameran.
BPH Panitia Liturgi.
Terbenahinya team kerja panitia liturgi.
Paham dan penghayatan liturgi selaras dengan kebudayaan dan keprihatinan masyarakat: bagi tokoh-tokoh umat, misalnya: imam, diakon, paroki, dll.
Sarana yang menunjang hal tersebut: buku-buku tentang liturgi; buku-buku pegangan ibadat bagi para pemimpin ibadat (imam/awam/seksi liturgi).
BPH IKHRAR.
Kemantapan hubungan/komunikasi antar pengurus rayon.
Memberi inspirasi bagi pengurus rayon demi kesaksian memasyarakat sebagai IKHRAR dan Religius.
Koordinasi pengurus-pengurus rayon.
Dari beberapa Bidang Pokok Hasil (BPH) yang dihasilkan ini, DKP-KAS merumuskan beberapa pokok arah pastoral51.
Terwujudnya Umat Allah Keuskupan Agung Semarang menjadi Umat Allah yang beriman mendalam, dewasa, missioner, dan memasyarakat. Yang mendapat penekanan dalam tahun 1984 adalah segi memasyarakat.
Kemantapan presbyterorum dalam kesatuan dengan Uskup. Imam-imam memiliki panggilan hidup mantap, mempunyai visi, pengetahuan dan ketrampilan untuk mendampingi awam, biarawan/wati memperkembangkan diri dalam kedudukannya masing-masing di dalam Gereja sesuai dengan panggilannya sedemikian rupa, sehingga bersama-sama mewujudkan Gereja Umat Allah seperti dijelaskan dalam BPH no. 1.
Keseimbangan kepemimpinan Keuskupan dengan meningkatkan peranan konsultatif awam dalam pengambilan keputuran pastoral. Adanya Dewan Karya Pastoral yang anggotanya dari imam, religius, awam, dan dapat menjabarkan visi dasar Keuskupan Agung Semarang ke dalam bidang masing-masing Panitia.
Kemampuan Umat mewujudkan diri menjadi Umat Allah dijelaskan dalam BPH no. 1.
Kejelasan keterlibatan Gereja dalam masyarakat untuk bidang-bidang sosio-budaya, sosio-ekonomi, sosio-politik, kesehaan, pendidikan, dsb. yang merupakan dunia otonom.
Adanya pembina-pembina umat, baik awam maupun imam, dalam bidang-bidang kerasulan tertentu baik Gerejawi maupun kemasyarakatan.
Kejelasan peranan imam dalam negara yang ber-Pancasila, berdasarkan UUD’45 dan ber-GBHN.
Berdasarkan pengarahan dari Rm. Prof. Dr. Piet van Hooydoongk, Pr., DKP mengambil beberapa kebijakan sebagai rencana kegiatan pastoral bersama. Ada 9 hal yang hendak ditekankan sebagai ungkapan karya misioner Gereja KAS.
Menggunakan semua kesempatan: Surat Gembala, sambutan-sambutan, pengarahan-pengarahan pada pesta, penerimaan krisma dan kunjungan-kunjungan, untuk menerangkan, menyadarkan, dan menekankan visi dasar Keuskupan Agung Semarang.
Menyelenggarakan kursus-kursus/pertemuan-pertemuan untuk imam-imam dalam kelompok-kelompok menurut daerah masing-masing, sehingga mereka mempunyai kemantapan penggilan bervisi pastoral, berpengetahuan dan trampil.
Menyelenggarakan kursus untuk imam-imam dengan tujuan khusus, yakni agar mereka mampu mendampingi awam yang terlibat dalam berbagai bidang kehidupan di masyarakat.
Menyelenggarakan pertemuan-pertemuan dengan imam-imam untuk memantapkan prebyteratum imam-imam dalam kesatuan dengan Uskup.
Mengusahakan agar para imam bisa mewujudkan visi dasar Keuskupan Agung Semarang dalam parokinya atau daerah kerjanya sendiri.
Mengadakan pendampingan bagi panitia-panitia kerja yang dilaksanakan oleh Pusat Pastoral dalam kerjasama dengan Prof. Dr. Piet van Hooydonk, Pr.
Merencanakan diskusi-diskusi, ceramah-ceramah, pertemuan-pertemuan antara orang-orang yang berkecimpung dalam bidang-bidang kemasyarakatan dan teolog untuk merumuskan masalah-masalah keterlibatan Gereja dalam masyarakat secara jelas.
Merencanakan kursus bagi awam dan imam menurut bidang-bidang yang diperlukan. Dan menentukan orang-orangnya yang akan diutus untuk studi.
Mengadakan diskusi, ceramah, kursus, pertemuan-pertemuan yang merumuskan masalah peranan imam dalam negara yang ber-Pancasila, berdasarkan UUD ’45 dan mempunyai GBHN.
Bersama staf keuskupan, Mgr. Darmaatmadja, SJ mengolah lebih lanjut butir-butir BPH dan rencana kegiatan pastoral ini dan merumuskan inti sarinya menjadi ARDAS-KAS Periode 1984-1990. ARDAS-KAS ini menjadi semacam Gaudium et Spes yang sesuai dengan situasi masyarakat Keuskupan Agung Semarang.52 Ini menjadi sebuah rumusan panduan gerak dan langkah bersama umat KAS, yaitu Gereja KAS sebagai sebuah keluarga beriman demi masyarakat, Gereja KAS yang misioner.
Visi Teologis
ARDAS-KAS periode 1984-1990 merupakan refleksi dan kesadaran Gereja KAS mengenai jatidiri dan tugas perutusannya. Kesadaran inilah yang menjadi landasan dan visi teologis ARDAS-KAS dalam menjalani peziarahan di dunia, khususnya wilayah KAS pada periode 1984-1990.
Gereja Sebagai Sakramen Keselamatan
Gereja adalah sakramen keselamatan. Gereja merupakan tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia (LG 8). Ungkapan sakramen menunjukkan rahasia keselamatan Allah yang diwahyukan kepada manusia. Kata “sakramen” berasal dari kata berbahasa latin “sacramentum” yang merupakan terjemahan kata yunani “mysterion” yang berarti misteri. Dilihat dalam Kitab Suci, kata misteri ini menunjuk pada pengertian rencana/rahasia Allah tentang akhir zaman (Dan. 2,18-19; 27-30; 44-47), rahasia Kerajaan Surga (Mat. 13,11), kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia (1 Kor 2,7-11); Roma 16,25-26; Kol 1,26-27; 2,3; 4,3; Ef. 1,9-10; 3,3-12; 1 Tim 3,16). Kata misteri ini berkaitan erat dengan karya keselamatan Allah. Para Bapa Gereja menerjemahkan kata mysterion ini dengan “sacramentum” yang berarti misteri rencana keselamatan Allah yang dinyatakan kepada manusia.
Makna sakramen yang di satu sisi sudah terjadi, tetapi di sisi lain masih rahasia ini secara lebih lanjut menunjuk pada tanda. Manusia sudah menangkap dan menerima tanda, bahkan juga memahaminya, tetapi pemahaman akan tanda ini masih belum sempurna. Dalam arti inilah, ciri sakramentalitas Gereja nampak, yaitu Allah menghubungi manusia melalui sebuah tanda. Gereja sebagai sakramen berarti Gereja tidak hanya menjadi tanda melainkan sekaligus menjadi sarana Allah untuk melaksanakan karya keselamatanNya. Gereja menandakan karya keselamatan Allah sekaligus menghadirkan karya keselamatan Allah itu dalam dirinya.
Konsili Vatikan II mengungkapkan bahwa sakramentalitas Gereja terjadi dalam Kristus (LG 1). Dalam kesatuan relasi dengan kristus, Gereja menjadi sakramen bagi dirinya sendiri. Kristus menjadikan Gereja sebagai sakramen keselamatan, yaitu tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Dalam situasi inilah terjadi keselamatan, yaitu adanya kesatuan relasi yang mesra dengan Allah dan dalam kesatuan dengan semua orang. Kesatuan relasi dengan Allah dan dengan semua orang ini terjadi dalam Kristus. Melalui dan dalam Kristus, terlaksanalah dialog karya keselamatan, yaitu Allah menawarkan keselamatan dan manusia menanggapi karya keselamastan Allah tersebut. Kristus menghadirkan karya keselamatan Allah dan mengajak manusia untuk menanggapi karya keselamatan Allah tersebut. Karya keselamatan Allah terwujud dalam Kristus dan manusia mengambil bagian daam karya keselamatan Allah yang terlaksana secara penuh dalam dan melalui Kristus. Orang-orang mencapai keselamatan dengan ambil bagian dalam iman Gereja terhadap Kristus.
Allah menyelamatkan manusia melalui dan dalam Kristus. Kristus hadir melalui dan dalam Gereja. Gereja ikut ambil bagian dalam kesatuan Kristus dengan Allah. Relasi mesra dengan Allah inilah yang menjadikan Gereja mampu menghadirkan karya keselamatan Allah di dunia. Jika orang menghendaki keselamatan, dia harus menyatukan diri dan berpartisipasi dalam iman Gereja terhadap Kristus, berpartisipasi dalam relasi kasih mesra Kristus dengan Allah (LG 9). Dengan demikian, Gereja menjadi tanda dan sarana keselamatan Allah,yang telah terlaksana secara penuh dalam dan melaui Kristus, yang terus menerus hadir dan berlangsung di dunia.
Gereja sebagai Umat Allah
Dengan ARDAS-KAS periode 1984-1990, Keuskupan Agung Semarang ingin mewujudkan diri sebagai UMAT ALLAH yang beriman mendalam. Seluruh umat KAS ingin menjadi Umat Allah, tanpa terkecuali, entah itu hirarki, kaum religius, maupun awam. Dengan kesadaran bahwa setiap orang mempunyai martabat yang sama di hadapan Allah, yang dipanggil dan dibenarkan oleh Allah, serta dikuduskan oleh Roh Kudus, setiap orang beriman KAS dengan gembira hati mejadi bagian sebagai Umat Allah yang dipanggil kepada iman, harapan, dan kasih. Mereka mempunyai kedudukan yang sama sebagai umat Allah. Segala keanekaragaman dan keistimewaan setiap pribadi menjadi kekayaan Gereja Umat Allah dalam menjalani peziarahan iman yang saling mendukung dan melengkapi (2 Kor 13).
Istilah “Umat Allah” hendak mengungkapkan bahwa Keuskupan Agung Semarang merupakan persekutuan orang-orang yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Surga, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang (GS 1). Dalam peziarahan ini, setiap pribadi dipanggil dengan keluhuran relasi pribadinya yang sama di hadapan Allah. Setiap orang dipanggil untuk memperjuangkan kehidupan keuskupan dan masyarakat. Setiap orang dipanggil sebagai tanda dan sarana karya keselamatan Allah di dunia yang konkret. Setiap orang dipanggil dalam kesatuan dengan seluruh umat beriman untuk ambil bagian dalam rencana karya keselamatan yang ditujukan kepada semua orang.
Gereja merupakan komunitas umat beriman yang dipanggil Allah untuk memperoleh keselamatan dan mewartakan keselamatan kepada semua orang. Gereja menjadi sarana Allah dalam menghadirkan dan meneruskan rencana keselamatan. Allah menghendaki keselamatan manusia itu diperjuangkan dalam relasi pribadinya dengan sesama yang terjadi dalam konteks sejarah yang konkret. Gereja hadir dan tumbuh berkembang dalam sejarah manusia yang konkret. Allah menghendaki bahwa keselamatan itu diperjuangkan dalam kesatuan dengan pribadi lain. Keselamatan itu tidak hanya milik pribadi, tetapi merupakan rahmat untuk semua orang yang menanggapi karya Allah tersebut dalam relasinya dengan sesama (LG 7 dan GS 1).
Gereja Sebagai Misteri dan Komunio
Gereja adalah sakramen keselamatan. Gereja menjadi sakramen misteri kasih Allah dalam sejarah penyelamatan umat manusia. Dengan segala keanekaragamannya, berkembanglah unitas dan pluriformitas, yaitu umat dengan segala keanekaragaman kharisma, fungsi, dan tugasnya saling bekerjasama, bersatu mengembangkan Gereja dan karya misinya di dunia ini.
Mgr. Darmaatmadja, SJ mengungkapkan bahwa Gereja di KAS, dengan segala keanekaragaman kharisma, fungsi, dan tugasnya ini, sebagai Gereja yang “Kristopneumatis.” Kepemimpinan hirarki dilaksanakan bersama dengan pemimpin-pemimpin kharismatis yang ada. Keputusan hirarki diambil setelah mendengarkan mereka. Kharisma hirarki berperan menjadi “Wadah Kharisma-Kharisma” yang ada53.
Karya Allah mengatasi segala usaha dan karya kita. Imamat dalam Gereja dan Gereja itu sendiri penting justru karena Allah-lah yang berkarya menyelamatkan umat manusia.
Karya penyelamatan Allah tidak dibatasi oleh Gereja. Allah dapat berkarya tanpa lewat Gereja sebagai sarananya.
Persekutuan kita yang paling dasar dan pokok adalah persekutuan dengan Bapa melalui Kristus Yesus dalam Roh Kudus. Persekutuan kita dengan sesama berdasarkan dan karena persekutuan tersebut di atas. Hal ini terungkap secara sempurna dalam perayaan Ekaristi, siapapun imam yang memimpinnya.
Roh Kudus yang memimpin ke segala kebenaran Roh Kudus yang menghidupi dan memberi semangat baru, menyucikan dan menyempurnakan. Semua Umat Allah, termasuk hirarki, perlu menghayati diri sebagai anggota Gereja yang “semper est reformanda.” Karya Roh Kudus, baik yang memimpin maupun yang menyucikan dan menyempurnakan, dapat juga terlaksana secara langsung. Kepemimpinan hirarki perlu memperhitungkan hal tersebut dan karunia-karunia lainnya yang diberikan Roh Kudus kepada umat demi pembangunan jemaat.
Dengan keluhuran martabat dan keistimewaan pribadinya, setiap Umat Allah dipanggil agar menjalani peziarahan dan karya misi Gereja dengan semangat saling berbagi dan meneguhkan. Setiap orang menghargai dan menerima keanekaragaman masing-masing pribadi. Dalam keanekaragaman ini, dibentuklah suatu tata penggembalaan dan pelayanan yang membantu umat dalam menghayati hidup, tugas, dan fungsi serta kerjasamanya dengan semakin banyak orang. Hirarki bekerjasama dengan dewan paroki, pamong, dan pengurus lain di tingkat lingkungan dan wilayah, Hirarki melaksanakan tata penggembalaan dan melayani kebutuhan umat.
Seluruh Umat Allah bertanggungjawab dalam tata penggembalaan. Keanekaragaman kharisma, tugas, dan fungsi masing-masing anggota menjadi sarana untuk saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dalam menjalani peziarahan iman ini. Dalam kolegialitas para imam, Uskup bertanggungjawab penuh dalam pelayanan dan perkembangan Umat Allah (LG 29). Dengan segala keanekaragaman karisma yang dimilikinya, kaum awam ikut berpartisipasi dalam melayani keseluruhan Umat Allah. Mereka berpartisipasi dalam tugas perutusan Kristus di dunia, yaitu mewartakan dan menjadi bagian dari Gereja sebagai sakramen keselamatan.
Demi mendukung visi Gereja KAS sebagai Umat Allah dan sakramen keselamatan, Mgr. Darmaatmadja, SJ memberikan pengarahan kepada para Pastor Kepala mengenai Struktur fungsional hirarki. Pengarahan itu disampaikan dalam Temu Pastores (Tepas) di Wisma Syantikara, Yogyakarta (7-11 dan 14-17 Januari 1985). Jati diri Gereja KAS adalah misioner, yaitu sebagai Umat Allah yang imannya merasuki dimensi hidup masyarakat54. Dalam pengarahan struktur fungsional pelayanan hirarki itu, Uskup Semarang Mgr. Darmaatmadja, SJ menunjukkan arah dan batas positif dari pelayanan imam, dengan memberi batasan- batasan yang negatif dulu55.
Imam menghayati diri sebagai pemimpin dan gembala dengan:
Tidak mengindentifikasi fungsi dan jabatan mereka sebagai imam dengan Kristus sendiri sebagai Kepala Tubuh atau sebagai Gembala Umat.
Tidak menekankan kedudukan imam di atas kedudukan biarawan-biarawati atau awam dalam segala hal.
Tidak menekankan dirinya sebagai yang memimpin/ mengatur dalam segala hal.
Tidak menekankan dirinya sebagai yang mengajar, yang menyucikan, dengan segala kewenangan dan kekuasaannya.
Tidak mengindentifikasi fungsi mereka sebagai yang mengajar dan menyucikan segala realita diri mereka yang seakan selalu dalam kebenaran dan kesucian.
Tidak menekankan batas-batas wilayah dan kewenangan mereka serta mempertentangkan pastoral teritorial dan pastoral fungsional.
Imam menghayati kepemimpinan di tengah Dewan Paroki dan di antara Umat dengan:
Banyak mendengarkan dan menghargai pendapat dan pandangan anggota dewan lainnya; keputusan bukan hanya pendapat sendiri yang dicarikan dukungan formal dari dewan, melainkan sungguh mencerminkan kebijakan bersama.
Mendorong dan menyuburkan inisiatif dan kreativitas kelompok-kelompok tertentu dan tidak selalu mau menyeragamkan atau meletakkan di bawah kekuasaannya, di bawah kekuasaan Dewan Paroki atau dimasukkan dalam suatu struktur resmi.
Menumbuhkan persaudaraan, kerja sama, baik dalam tingkat lingkungan, wilayah, paroki, maupun antar paroki dan antar kevikepan.
Dalam struktur fungsional hirarki, semua Umat Allah ikut terlibat dalam kehidupan misioner Gereja. Keterlibatan umat di paroki dikembangkan dalam Dewan Paroki yang dikepalai oleh Pastor Paroki. Dewan Paroki menjadi wadah struktur dan fungsional pelaksanaan tanggung jawab umat dalam karya misi Gereja. Pastor Paroki dan seluruh umat bekerjasama dan saling mengisi dalam menghadirkan Gereja yang misioner tersebut. Pastor paroki berperan sebagai gembala umat yang bersama-sama wakil umat memikirkan, memutuskan, dan melaksanakan kebijakan-kebijakan bersama yang semakin membimbing, mendukung dan mengembangkan umat dalam menghayati, mengungkapkan, merayakan, dan mewujudkan iman mereka.
Dalam pengarahan TEPAS 1988, Mgr. Darmaatmadja, SJ mengajak para pastor paroki untuk menyadari peran dan fungsinya agar semakin mendukung keterlibatan umat yang semakin besar. Beliau mengungkapkan butir-butir sikap dan arah hidup struktur fungsional hirarki56.
Fungsi Hirarki, Dewan paroki, Panitia, Pamiong, dan lain-lain adalah mengabdikan diri, melayani dengan segala usaha, agar terwujudlah dan berkembanglah di Keuskupan kita ini, Umat Allah yang imannya penuh dan lengkap, yang mendalam, dewasa, misioner, dan memasyarakat.
Kalau ingin menilai apakah Hirarki, Dewan Paroki, Pamong, dan lain-lain berhasil atau tidak, yang menjadi ukuran ialah: apakah usaha-usahanya sungguh mengembangkan kita menjadi Umat Allah yang imannya mendalam, dewasa, missioner, dan memasyarakat.
Uskup mengajak seluruh umat, termasuk pastor paroki agar saling menghargai dan bekerja sama mewujudkan Gereja yang beriman dewasa, mendalam, misioner, dan memasyarakat. Gereja KAS mengembangkan dan melaksanakan cita-cita itu dengan semangat melibatkan semakin banyak orang yang berkehendak baik dengan segala keanekaragaman kharisma, tugas, dan fungsinya masing-masing.
3.8 Spiritualitas Misioner ARDAS-KAS Periode 1984-1990
Perkembangan umat KAS membutuhkan pelayanan pastoral yang semakin berkembang. Pada periode 1980-an, Gereja KAS mengembangkan pastoral kategorial berdasarkan beberapa kategorial57.
Berdasarkan kriteria umur, yaitu kelompok anak-anak, remaja, kaum muda, dewasa, lansia.
Berdasarkan kriteria profesi, yaitu guru, dokter, perawat, dosen, apoteker
Berdasarkan kriteria fungsi dalam masyarakat, misalnya ketua RT, RW, RK, LKMD, Lurah, Anggota DPR.
Pastoral kategorial ini berkembang dari keprihatinan bahwa begitu banyak kelompok yang berkembang, tetapi jarang mendapat pelayanan pastoral. Kesibukan kerja menghalangi mereka dalam kebutuhan rohani mereka. Mereka tinggal berpencar-pencar dan tidak terlayani oleh pelayanan pastoral teritorial. Dalam situasi seperti inilah, Gereja KAS ingin merangkul mereka dan melayani mereka secara istimewa (Luk. 15,1.32)
Dalam semangat ARDAS-KAS ini, berkembanglah kegiatan “Merasul.” Merasul merupakan kesaksian hidup iman umat yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari mereka di masyarakat58.
Mengajar agama atau menyiapkan orang-orang menerima sakramen permandian. Itulah bentuk kerasulan tradisional yang hanya dapat terjadi di lingkungan masyarakat yang masih terbuka bagi pewartaan Injil atau mengenai Yesus Kristus.
Usaha mendukung berkembangnya apa yang baik, benar, dan suci di lingkungan masyarakat yang sangat kuat keyakinan agamanya. Usaha tersebut dapat dilaksanakan bersama-sama orang-orang yang beragama dan berkeyakinan lain.
Usaha dan tindakan untuk mempengaruhi lingkungan sehingga tumbuh suasana, cara hidup bersama yang semakin manusiawi, makin bersaudara, lebih ditandai kasih satu sama lain, makin bekerja sama, makin gotong royong.
Pola merasul yang kedua dan ketiga merupakan kesempatan luas yang masih dapat diusahakan oleh umat Katolik sesuai dengan segala kharisma dan kesempatan yang dimilikinya. Dengan segala karisma kedudukan, pengaruh, dan peran dalam kehidupan masyarakat, mereka mengembangkan kerasulan awam sebagai perwujudan Gereja KAS yang beriman dewasa, mandiri, missioner, dan memasyarakat.
Dalam ARDAS-KAS 1984-1990 ini, Gereja KAS mempunyai cita-cita untuk beriman di tengah-tengah kehidupan harian. Keuskupan Agung Semarang ingin mewujudkan diri sebagai Umat Allah yang beriman mendalam, dewasa, missioner, dan memasyarakat. Gereja KAS hendak mengungkapkan diri sebagai persekutuan orang-orang yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang dengan segala keistimewaan latar belakang umatnya. Persekutuan murid-murid Kristus ini menghayati imannya di tengah-tengah masyarakat dengan segala keanekaragaman perjuangan dan pergulatan hidupnya.
Cita-cita hidup beriman itu terlaksana dalam empat dimensi, yaitu beriman mendalam, dewasa, misioner, dan memasyarakat.
Beriman mendalam berarti beriman sesuai dengan realitas kebudayaan setempat.
Beriman dewasa berarti mengajak kepada seluruh umat beriman untuk bertanggungjawab dan berpartisipasi dalam perjuangan karya misi Gereja, yaitu menghadirkan karya keselamatan Allah di dunia. kepada.
Beriman misioner berarti: mewartakan kepada yang terbuka, mereka siap mewartakan Yesus Kristus/Injil; kepada yang tertutup, mereka siap mewartakan yang benar, baik, dan suci; kepada yang berkeyakinan agamanya kuat, mereka meningkatkan menjadi orang yang benar-benar baik.
Gereja yang misioner ini diungkapkan dengan meresapi segala tata kehidupan masyarakat dengan semangat Injil.
Gereja KAS memberi tekanan istimewa kepada kesaksian iman yang terlibat dalam kehidupan masyarakat, yaitu merasuki seluruh dimensi hidup dalam masyarakat. Gereja mengajak dan meningkatkan peranan awam dalam berbagai dimensi kehidupan sebagai ungkapan kesaksian Gereja di dunia. Gereja mengembangkan pelayanan partisipatif-transformatif dari seluruh umatnya. Pelayanan partisipatif ini berkembang dalam kelompok-kelompok basis yang berkembang di kehidupan umat. Ada kelompok yang berkembang berdasar wilayah teritorial, seperti kring, lingkungan, kampung, atau desa serta kelompok yang berkembang karena kesamaan karya atau alasan lain, seperti kelompok karyawan, kelompok guru, dosen, ABRI, tenaga medis.
Gereja mengembangkan pelayanan iman dengan berdasar pada kebudayaan luhur masyarakat. Gereja KAS berada didalam konteks hidup dan budaya setempat yang senantiasa berkembang secara dinamis Gereja merupakan peristiwa iman yang tumbuh dan berkembang dalam persaudaraan dan perjuangan sehari-hari. Gereja hidup dalam peristiwa perjumpaan yang membentuk persekutuan umat beriman yang menyatu dengan gerak sejarah dunia/masyarakat.
Gereja KAS hadir di tengah masyarakat dengan mengembangkan spiritualitas iman yang mendalam, dewasa, misioner, dan memasyarakat. Gereja KAS hadir di tengah masyarakat, bukan sebagai pribadi, tetapi sebagai Gereja atau Umat Allah yang dipanggil menjadi umat beriman yang diharapkan lebih misioner. Gereja merasuk dalam segala segi masyarakat dan menjadi tanda keselamatan bagi dan bersama yang lain. Kebersamaan ini menjadi ciri Gereja sebagai komunioyang terlaksana dalam semangat dan bentuk persaudaraan yang sejati dengan siapa saja.
Kerasulan awam berkembang dari keterlibatan Gereja dalam masyarakat. Kaum awam menjadi penggerak umat dan masyarakat. Kader-kader awam mengembangkan diri dalam semangat kepekaan sosial. Sebagai generasi penerus Gereja, kaum muda dilibatkan lebih kuat dalam kehidupan Gereja dan masyarakat. Mereka menjadi co-partner karya misi Gereja.
Kehadiran Gereja KAS dalam masyarakat berpangkal pada realitas masyarakat dengan segala keanekaragaman latar belakangnya. Dengan berpijak pada spiritualitas gembala yang baik, Gereja senantiasa mencari dan memberi prioritas utama kepada orang kecil (Luk. 15,1-7). Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan masyarakat yang semakain plural, Gereja senantiasa merefleksikan diri dan melayani dengan lebih sempurna. Bentuk dan dinamika pastoral baru senantiasa dikembangkan. Pastoral fungsional atau kategorial menjadi ungkapan keterbukaan dan kepekaan Gereja terhadap siapa saja yang membutuhkan pelayanan Gereja. Gereja aktif terlibat secara aktual dalam kehidupan masyarakat sehingga Gereja semakin mampu menghayati jari dirinya, yaitu Gereja yang senantiasa mewartakan kabar gembira, karya keselamatan Allah kepada semua orang.
Perjumpaan dan pergulatan masyarakat dalam menghayati kehidupan menjadi kesempatan Gereja dalam mengungkapkan secara nyata bagaimana Gereja menghayati spiritualitas misionernya. Spiritualitas misioner yang dikembangkan Gereja Keuskupan Agung Semarang adalah terlibat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Gerakan dan keterlibatan Gereja Keuskupan Agung Semarang berdasar dari realitas masyarakat setempat dengan segala keberanekaragamannya. Keanekaragaman situasi sosial ekonomi, sosial budaya, religi, pendidikan masyarakat menjadi titik tolak Gereja Keuskupan Agung Semarang dalam menentukan Arah Dasar keuskupan. Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang ini diperkaya dengan berbagai kemungkinan rencana strategi yang hendak diupayakan sehingga Arah Dasar yang dicita-citakan oleh Gereja Keuskupan Agung Semarang menjadi terwujud.
Keterlibatan berbagai pihak dan narasumber yang dilibatkan oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Julius Darmaatmadja dalam menyusun dan mengolah Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang menjadi kesempatan Gereja Keuskupan Agung Semarang dalam berdialog dan menentukan langkah bersama yang mengena dan membumi bagi masyarakat Indonesia, dan masyarakat Keuskupan Agung Semarang khususnya. Hal tersebut menempatkan Gereja Keuskupan Agung Semarang dalam sejarah manusia yang konkret dan terarah pada pembentukan komunitas keselamatan. Dengan Arah Dasar ini, Keuskupan Agung Semarang menekankan bahwa dirinya “mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia dan sejarahnya”.
1 Catatan pribadi Rm. F. Heselaars SJ dalam pertemuan DKP di Girisonta, pada hari Senin, 19 Maret 1984.
2 Tonny D Widiastono. Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman. Refleksi Keuskupan Agung Jakarta. Jakarta: KAJ. 1995. 138.
3 Tonny D Widiastono. Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman..... 140-144.
4 St. Sutopranito, Pr. “Mgr. Julius Darmatmadja SJ di Mata Anggota-Anggota ABRI” dalam 25 Th Imamat Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Semarang: KAS. 1994. 97.
5 D. Hendropuspito, OC. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius. 1983.151-168.
6 Haryatmoko. Etika Politik dan Kekuasaan. Jakarta: Kompas. 2003. 47-53
7 D. Hendropuspito, OC. Sosiologi Agama..128-148.
8 Haryatmoko. Etika Politik dan Kekuasaan. 64-66
9 Aloysius Gunadibrata. “Ketidakadilan, Kemiskinan, dan Ekonomi.” dalam Dimensi Kritis Proses Pembangunan. Yogyakarta: Kanisius. 1996. 115.
10 Robert Hardawiryana, SJ. Umat Kristiani Awam Masa Kini Berevangelisasi Baru. Yogyakarta: Kanisius. 2001. 59.
11 JB. Banawiratma, SJ(ed). Gereja dan Masyarakat. Yogyakarta: Kanisius. 1986. 95-107.
12 Bambang Suteng Sulastomo. “Ketidakadilan dan Kemiskinan dalam Bidang Politik.” dalam Dimensi Kritis Proses Pembangunan di Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. 1997. 78.
13 Hersri Setiawan. Aku Eks Tapol. Yogyakarta: Galang Press. 2003. 23-25.
14 Widi Artanto. Menjadi Gereja Misioner. Yogyakarta: Kanisius. 1997. 186.
15 Tonny D Widiastono. Gereja Katolik Indonesia Mengarungi Zaman. .... 240-250.
16 Tim KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. Yogyakarta: FTW. 1995. 25-26.
17 Komunikasi KAS, Th. V, No. 9/September 1985. 38-42.
18 Tim KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 97-99.
19 Tim KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 99-102.
20 Markus Nur Widipranoto. Gereja Yang Memasyarakat. Sebuah Skripsi . Yogyakarta: FTW. 2001. 63-65.
21 Pada tahun 1985, umat Paroki St. Petrus Gubug masih terdaftar ikut bergabung pada paroki Yesus Maha Kudus - Purwodadi
22 Tidak ada data tertulis dari umat Paroki Maria Stella Maris Jepara pada tahun 1990. Hanya tertulis 78.
23 Markus Nur Widipranoto. Gereja Yang Memasyarakat.. 65-68 dan TIM KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 99-102.
24 Markus Nur Widipranoto. Gereja Yang Memasyarakat. 79-80 dan TIM KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 116-119.
25 Umat Paroki St. Ignatius Magelang mengalami penurunan jumlah umat karena kebanyakan kaum muda yang meninggalkan tempat karena perkawinan, perpindahan tempat kerja.
26 Umat Paroki St. Theresia Sumber mengalami penurunan jumlah umat karena kebanyakan umatnya mencari kerja di kota-kota besar, seperti Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Bandung dan transmigrasi ke luar Jawa.
27 Markus Nur Widipranoto. Gereja Yang Memasyarakat. Sebuah Skripsi . 72-79 dan TIM KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 106-116.
28 Umat Paroki St. Antonius Padua Kotabaru mengalami penurunan jumlah umat karena kebanyak umatnya adalah mahasiswa yang kost. Setelah mereka menyelesaikan study, mereka kembali ke tempat asalnya.
29 Umat Paroki Keluarga Kudus Banteng mengalami penurunan jumlah umat karena sebagian umatnya adalah mahasiswa yang kost di daerah tersebut. Setelah selesai study, mereka kembali ke tempat mereka masing-masing.
30 Umat Paroki St. Petrus Kanisius Wonosari mengalami penurunan jumlah umat karena sebagian besar kaum muda merantau di kota besar dan sebagian umat transmigrasi ke luar pulau Jawa.
31 E. Martasudjita. Pengantar Liturgi. Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi. Yogyakarta: Kanisius. 1999. 156-157.
32 TIM KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 119-124.
33 Markus Nur Widipranoto. Gereja Yang Memasyarakat.. 68-71 dan TIM KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 103-105
34 TIM KAS. Garis-Garis Besar Sejarah Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang. 103-105.
35 ARDAS-KAS Periode 1984-1990
36 KWI. Kitab Hukum Kanonok. Jakarta: Obor. 1991. kan. 511
37 Markus Nur Widipranoto. Gereja Yang Memasyarakat.. 60-61.
38 KWI. Kitab Hukum Kanonik. Kan. 475-476.
39 KWI. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius. 1996. 382
40 Kristijanto. Keuskupan Agung Semarang: Perkembangan Umat, Sekolah Katolik, Kesehatan, dan Personalia. Surabaya: Sanggar Bina Tama. 1998. 20
42 Kristijanto. Keuskupan Agung Semarang: Perkembangan Umat, Sekolah Katolik, Kesehatan, dan Personalia. 41
43 Kristijanto. Keuskupan Agung Semarang.... 36.
44 Kristijanto. Keuskupan Agung Semarang.... 48-49
45 D. Bambang Sutrisno. “Jiwa KDPL dan Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ”, dalam Aneka Kesan dan Kenangan 25 tahun imamat Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Semarang: Sekretariat KAS. 1994.8-11.
46 TIM Sekretariat KAS. Aneka Kesan dan Kenangan 25 tahun imamat Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Semarang: Sekretariat KAS. 1994. 1-2.
47 Gedung tersebut sekarang sudah rata dengan tanah. Di atas tanah tempat gedung tersebut dahulu berdiri, sekarang berdiri megah Citramall, SImpang Lima Semarang.
48 TIM Sekretariat KAS. Aneka Kesan dan Kenangan 25 tahun.... 124-125.
49 “Ungkapan Hati Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ” dalam Komunikasi KAS, Th. III. No. 7/ Juli 1983. Hal. 9
50 DKP KAS. “Bidang Pokok Hasil Keuskupan Agung Semarang Dewan Karya Pastoral” dalam Komunikasi KAS, Th. IV. No. 1/Januari 1984. 5-8.
51 Rm. J. Chr. Purwawidyana, Pr, “Visi dan Karya Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ Uskup Agung Semarang”, dalam Aneka Kesan dan Kenangan 25 tahun imamat Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. 66-68.
52 Rm. D. Bambang Sutrisno S, PR., “Jiwa KDPL dan MGr. Julius darmaatmadja, SJ” dalam Aneka Kesan dan Kenangan 25 tahun Imamat Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. 14.
53 Arsip Laporan TEPAS Januari 1988. 3
54 Pengarahan dari Uskup Julius Darmaatmadja, SJ., dalam Lokakarya Pastor-Pastor KAS 7-11 dan 14-17 januari 1985. 1-2.
55 Rm. J. Chr. Purwawidyana, Pr, “Visi dan Karya Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ Uskup Agung Semarang”, dalam Aneka Kesan dan Kenangan 25 tahun imamat Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. 69-70.
56 Bdk. Pengarahan Uskup Semarang, Mgr. Darmaatmadja, SJ dalam TEPAS Januari 1988.
57 Rm. J. Chr. Purwawidyana, Pr, “Visi dan Karya Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ Uskup Agung Semarang”, dalam Aneka Kesan dan Kenangan 25 tahun imamat Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. 72.
58 Pengarahan Uskup Semarang, Mgr. Darmaatmadja, SJ dalam pertemuan pleno DKP-KAS, 13-16 Juli 1987.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar