Kamis, 05 Juni 2008

Yesus:Unlimited Person

Yesus: Unlimited Person
Yesus Dalam Berbagai Perjumpaan


I.Pendahuluan
Pengalaman umat beriman mengenai misteri Yesus Kristus terjadi dalam konteks sosial hidup gerejaninya. Konteks yang paling dekat dari pengolahan iman tersebut adalah komunitas iman dimana ia berada sekarang ini, saat ini. Komunitas iman tempat ia berada menjadi tempat ia mengenal, terpikat, terlibat dan berkembang dalam iman akan Yesus Kristus. Berbagai pengalaman langsung dengan saudara-saudari di lingkungannya akan membantu untuk merumuskan pengalamannya di tengah-tengah paguyuban hidup beriman yang konkret. Perjumpaan dan dialog dengan orang lain akan memberikan sumbangan dalam bentuk refleksi teologisnya1.
Iman akan Yesus Kristus mendapat bentuk sekaligus hidup dalam praktik hidup persekutuan atau hidup menjemaat, dalam hubungan dengan saudara-saudari beriman dan beragama lain serta dalam keterlibatan sosial. Realitas pengalaman iman akan Yesus Kristus dari saudara-saudari seiman dan bagaimana iman itu terwujud dalam kehidupan konkrit merupakan realitas hidup aktual yang merupakan konteks refleksi kristologisnya2. Dengan cara ini, kristologi kontekstual mendapat bentuknya dalam kehidupan umat beriman Kristiani. Dengan demikian, dapat dikembangkan suatu dialog secara kritis dengan harapan bahwa hidup beriman diperdalam, diarahkan secara sadar dan tida henti-hentinya diungkapkan dan diwujudkan dalam masyarakat.
Perjumpaan dengan berbagai budaya memunculkan pemahaman mengenai Yesus Kristus yang bersifat personal-relasional-kontekstual untuk setiap pribadi manusia. Yesus tidak hanya dikenal oleh komunitas umat beriman Kristiani, tetapi juga oleh komunitas umat beriman dan masyarakat tertentu. Perjumpaan setiap pribadi komunitas ini memunculkan refleksi yang kontekstual mengenai siapa Yesus baginya.




II.Konteks Yesus Historis
Agama Kristen merupakan agama sejarah, yang berkembang berdasarkan peristiwa-peristiwa yang sungguh terjadi dalam sejarah3. Peristiwa yang terpenting dari rangkaian peristiwa-peristiwa tersebut adalah kisah kehidupan Yesus Kristus. Hidup Beriman Kristiani berakar pada peristiwa Yesus Kristus4. Oleh karena itu, teologi yang merupakan refleksi kritis menjadi usaha untuk mempertanggungjawabkan dan mengolah hidup beriman, selalu kembali pada peristiwa Yesus Kristus. Dalam kristologi, misteri Yesus Kristus menjadi fokus percakapan.
Pendekatan kontekstual terhadap hidup Yesus tidak berpangkal pada rumusan dogma lalu doktrin mengenai Yesus, melainkan pada kenyataan hidup Yesus di tengah-tengah sejarah yang konkrit. Dengan kata lain, pendekatan kontekstual ini berpangkal pada Yesus historis. Yang dimaksud Yesus historis adalah Yesus yang dilahirkan di Betlehem dan tumbuh dewasa di Nazareth. Ia hidup dalam adat kebiasaan umat Yahudi pada waktu itu. Orangtuanya bernama Maria dan Yusuf. Pendekatan historis ini hendak mengungungkapkan bahwa yang menjadi pusat atau pokok kristologi adalah Yesus dengan segala historisitasnya, dengan segala bentuk ungkapan bagaimana hidup, apa yang ia perbuat, bagaimana ia telah mati, dan sebagainya5.
Dalam pendekatan kristologis kontekstual ini, terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam melihat Yesus historis. Leben-Jesu-Forschung memberikan tempat maksimal dengan merekontruksi biografi Yesus sejauh mungkin. Di sisi yang lain, R. Bultman memberi tempat minimal pada Yesus historis6. Kedua pendekatan ini mendasarkan refleksinya pada iman Kristiani akan Yesus Kristus. Dasar iman Kristiani adalah Yesus historis yang tidak terlepas dari Kristus yang mulia. Mereka mendasarkan pandangannya pada Yesus Kristus yang historis disalibkan dan wafat itu hidup. Kristus yang hidup dalam kemuliaan bukanlah tokoh lain melainkan satu dan sama dengan Yesus yang disalibkan di tengah-tengah sejarah ini.
Seluruh eksistensi Yesus masuk dalam pewartaan Injil. Umat Kristiani awal menaruh perhatian besar terhadap Yesus historis. Apa yang dikerjakan oleh Yesus termasuk dalam pewartaan (Kis 2, 21-2). Dalam perkembangan selanjutnya, kelahiran Yesus menjadi bagian dari pewartaan Injil (Rm. 1,3-4; Gal 4,4). Pewartaan Injil berusaha menemukan makna sejarah sekarang ini dengan bercermin pada seluruh eksistensi Yesus. Gereja menyadari bahwa Kristus mulia tanpa Yesus historis akan kehilangan instansi kritis. Peristiwa Yesus merupakan peristiwa tunggal dan tidak terulang. Hidup beriman Kristiani sepanjang sejarah selalu mengenang peristiwa Yesus yang partikular itu. Hal ini dalam pewartaan diungkapkan antara lain dengan “Sekali untuk selama-lamanya” (Rm. 6,10; Ibr. 7,27).
Gereja awal menempatkan Yesus historis, Yesus orang Nazareth yang disalibkan sebagai instansi kritis terhadap beberapa jemaat awal yang terlalu entusiastis. Mereka merasa mendapat inspirasi dan menjadi terlalu bersemangat. Dengan alasan efektivitas karya Roh Kudus dan hadirnya keselamatan yang tidak terbatas, mau melepaskan karya Roh Kudus dan Kristus mulia dari Yesus orang Nazareth. Mereka diingatkan bahwa karya Roh Kudus mengantar orang kepada Yesus yang telah disalibkan dan dibangkitkan7.
Dalam pendekatan historis ini, disadari ada dua kecenderungan besar yang bersifat besar sebelah dalam melihat dan merefleksikan siapa Yesus. Hal ini berkembang sejak Gereja Perdana. Ada aliran yang terlalu condong ke arah kemanusiaan Yesus sambil menyalahartikan atau malah menyangkal Ketuhanan-Nya. Di sisi yang lain, ada yang terlalu condong ke arah Ketuhanan Yesus sambil mengabaikan atau bahkan memungkiri kemanusiaan-Nya. Dua aliran itu adalah8:
a.Ebionisme. Kaum Ebionit merupakan sisa orang Kristen Yahudi yang menghayati banyak tradisi kuno Gereja Perdana. Mereka menganggap Yesus sebagai manusia belaka, anak Yusuf dan Maria, yang pada waktu pembabtisan di Yordan itu digabungkan dengan zat ilahi. Yesus dipandang sebagai nabi yang ditentukan untuk menjadi mesias.
b.Doketisme. Aliran ini mempertahankan bahwa Yesus Kristus hanya tampaknya saja mempunyai tubuh. Yesus dikatakan hanya memiliki tubuh “surgawi” yang berarti halus dan bukan material, dan rupa-rupanya saja menderita dan mati. Mereka menganggap bahwa Yesus Kristus bukan sungguh-sungguh manusia.
Melawan kecenderungan itu, diajarkan bahwa Yesus disebut sebagai firman Allah tidak berarti Allah berfirman melalui Yesus yang hanya kelihatan saja sebagai manusia. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh. 1,14). “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia berasal dari Allah (1 Yoh 4,2). Yesus historis menjadi instansi kritis terhadap penghayatan iman kristiani.
Sejarah hidup Yesus memberikan kemungkinan untuk menelusuri penerimaan tradisi iman9. Umat beriman Kristiani beriman karena ada living tradition, yaitu jemaat yang mengimani Injil Yesus Kristus dan meneruskannya dengan menceritakan, dengan ikut serta dalam kehadirannya dan menjalani hidup bersamanya10. Tradisi-tradisi iman selalu berada dalam konteks tertentu. Sejarah hidup Yesus memungkinkan umat beriman Kristiani sekarang untuk menelusuri hubungan tradisi-tradisi itu dengan tradisi asali, yakni pengalaman dan kesaksian para murid awal.
Dengan demikian, kita dapat menempuh perjalanan kristologi dalam dua tahap sebagaimana juga dilalui oleh para murid awal. Tahap pertama adalah perjumpaan dengan sejarah hidup Yesus dan tahap kedua perjumpaan dengan tradisi (umat) kristiani sepanjang sejarah dalam berbagai konteks (temporal lokal)11. Pengakuan iman dan dogam-dogma Kristologis harus ditelusuri dan dipahami dalam hubungan dengan sejarah hidup Yesus. Kalau tidak demikian, rumus-rumus dogma menjadi konsep-konsep yang terlepas dari maksud perumusannya dan interpretasi serta pemakanaan kita terlepas dari tradisi asali pewartaan injil12.

III.Iman Kontekstual: Perjumpaan dengan Berbagai Budaya
Pertemuan agama Kristen dangan budaya lain menghantarkannya pada pembentukan identitasnya. Perbenturan kultural yang paling awal sebetulnya sudah dirasakan tatkala para penganut agama ini berhadapan dengan tradisi Yahudi di Palestina. Dalam konteks ini, meskipun agama-agama atau budaya-budaya itu hidup bersama dalam masyarakat, dan secara terbatas mungkin saling mempengaruhi, namun tampaknya tidak terjadi dialog antar agama atau budaya itu. Agama-agama atau budaya-budaya ini hidup bersama dalam koalisi damai, saling menghormtai dibawah payung atau budaya besar yang dominan, yakni helenisme. Sementara itu, budaya Kristen berangsur-angsur tumbuh di tengah-tengah budaya lain, bahkan semakin mempengaruhi yang lain.13
Komunikasi iman (dan teologi) mengenai Yesus selalu terjadi dalam konteks budaya. Usaha refleksi kontekstual tidak mungkin lepas dari perlunya dialog antar budaya. Tanpa dialog secara kritis dengan konteks budaya, komunikasi iman kita tidak menyentuh pola kehidupan yang konkret. Kecuali itu, ada bahaya bahwa komunikasi iman bersifat mono-kultural, tidak menyadari keterbatasan setiap budaya, bahkan mungkin memaksakan pola budaya tertentu dan mengesampingkan budaya-budaya lain.14 Dengan kata lain, refleksi kita akan terkurung pada kolonialisme budaya. Refleksi kontekstual berusaha menghindari teologi mono-kultural dan ikut memperkembangkan sifat multi-kultural dari teologi.
Umat beriman Kristiani hidup dalam kemajemukan budaya, agama, dan iman. Konteks refleksi atas pengalaman dan pandangan mengenai Yesus berada juga dalam konteks agama-agama lain dan dari luar lingkungan Gereja umumnya. Refleksi iman secara kritis membuka diri terhadap saudara-saudari beriman lain. Melalui dialog ini, meskipun sangat terbatas, diharapkan bahwa penghayatan iman dengan integritas yang terbuka dapat diperkembangkan dan kita dapat memasuki misteri iman kita sendiri secara lebih mendalam.
Dialog ini berkembang dari kesadaran bahwa siapakah Yesus dan apakah makna Yesus itu bagi kehidupan ini bukanlah monopoli Gereja. Yesus adalah tokoh yang sangat dihargai oleh orang-orang Yahudi. Umat Islam menghargainya sebagai nabi Isa, dan banyak orang di luar lingkungan Gereja memberikan penghargaan kepada Yesus yang mempunyai peran dalam kehidupan mereka. Macam-macam pandangan dari luar lingkungan Gereja dapat memperkaya pemahaman orang-orang Kristiani yang ingin hidup dalam integritas iman yang terbuka.

III.1Gambaran Yesus dalam Agama Yahudi
Perkembangan iman Kristiani berkembang dalam relasi sekaligus berhadapan langsung dengan pandangan Yahudi mengenai Yesus. Yesus yang diimani sebagai Kristus adalah orang Yahudi, yang berada dalam tradisi iman Yahudi.15 Harus diakui bahwa tulisan Kitab Suci perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berkembang dalam tradisi dan refleksi iman akan pengalaman kasih Allah yang berada dalam konteks sejarah Yahudi16. Agama Yahudi bukanlah hanya tahap persiapan bagi kelahiran Yesus. Agama Yahudi merupakan living traditions yang dihidupi sampai sekarang ini17. Ada beberapa pandangan yang kiranya cukup terkenal mengenai living traditions orang Yahudi.

III.1.1Pandangan Trypho mengenai Yesus.18
Gambaran Trypho mengenai Yesus dapat diambil sebagai contoh dari gambaran Yahudi pada masa kekristenan awal. Yustinus martir yang dibunuh di Roma pada tahun 165 merupakan salah satu tokoh iman kristiani yang hidup pada saat itu. Dia menulis sebuah “Dialog dengan Tryho orang Yahudi”. Dialog itu terjadi sekitar tahun 155-160. Trypho adalah seorang Yahudi yang pergi dari Palestina dan tinggal di Yunani. Dia bukan seorang rabbi Yahudi, melainkan seorang awam. Pandangannya mengenai orang-orang Kristiani dan iman akan Kristus merupakan pandangan represintatif dari orang-orang Yahudi pada zamannya.
Dalam dialog dengan Yustinus Martir, Trypho melawan pandangan kristiani mengenai pra-eksistensi Kristus, mengenai kelahiran dari perawan Maria, dan mengenai sengsara serta salib Yesus. Dalam perkembangan sejarah kemudian, percakaan antara Yustinus Martir dan Trypho ini menjadi perdebatan yang terus-menerus antara aliran-aliran besar teologi yang muncul dalam konsili-konsili pertama dan yang selalu menuntut agar selalu ditafsirkan terus menerus secara kontekstual.

III.1.2Pandangan Martin Buber19
Martin Buber membedakan antara emunah dan pistis. Emunah berarti iman dalam arti kepercayaan manusia penuh kepada Allah, doa-doa Mazmur Perjanjian Lama. Paulus mengartikan pistis sebagai iman dalam arti menerima sebagai benar pemakluman yang diwartakan Yesus. Sejauh Yesus memiliki emunah, Yesus adalah saudara dari Martin Buber. Yesus dan orang Yahudi tidak mengenal pistis. Bagi Buber, yang penting adalah iman Yesus, bukan Mesias yang diharapkan dan masih diharapkan oleh orang-orang Yahudi. Yesus memang merupakan figur besar dalam sejarah iman Yahudi, namun Ia bukan sebagai Mesias yang telah dan masih diharapkan. Yesus adalah saudara orang-orang Yahudi.
Gambaran mengenai Yesus dari Martin Buber ini merupakan ciri khas gambaran Yahudi sekarang ini. Gambaran semacam ini juga ditemukan pada shalom Ben-Chorin yang mengikuti Martin Buber menyebut Yesus sebagai “saudara”.

III.1.3Pandangan Sahlom Ben-Chorin20
Shalom Ben-Chorin bersama dengan pemikin-pemikir Yahudi lainnya mau “menjemput Yesus pulang” ke Yahudi. Dia menggunakan Injil Lukas 15 untuk menggambarkan penjemputan itu. Yesus adalah anak yang hilang, sudah lama meninggalkan tanah air Israel dan berada di tanah asing. Di sana, ia menderita keterasingan. Orang menjadikan dia Mesias, mahluk ilahi. Hampir 200 tahun, Yesus berada di tanah asing, sedangkan saudaranya yang lebih tua, yaitu umat Yahudi hidup di lingkungan rumah yang kuat dari ayahnya. Ia kembali ke rumah ayah dan di sana semestinya ia bergembira bersama saudara tuanya.
Shalom Ben-Chorin melihat Yesus pertama-tama sebagai Guru hukum Yahudi sekaligus menempatkatNya dalam jajaran para Nabi. Dia melihat Yesus sebagai figur sentral dalam sejarah Yahudi dan sejarah iman Yahudi. Yesus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah masa kini dan masa yang akan datang. Bagi Ben-Chorin, kedatangan Yesus tidak harus dimengerti dalam arti pengharapan mesianis. Bagi sejarawan dan bagi orang Yahudi, keallahan Yesus tidak ada. Ben Chorin tidak mengenal pembangkitan Yesus oleh Allah meskipun Alkitab Perjanjian Baru yang diakuinya sebagai dokumen sejarah iman Yahudi mengungkapkan hal itu. Warta Paska dipahaminya sebagai arti simbolis aktual. Ben-Chorin memahami warta kebangkitan Yesus sebagai suatu perumpamaan bagi Israel yang kini bangkit lagi, yang mengangkat dari sejarah gelap menuju wajah baru. Yahudi tidak mengenai gambaran Natal, gua, dan bintang Betlehem, Paska dan kubur terbuka, tidak mengenal dia yang bangkit.
Ben-Chorin melihat kehidupan Yesus mulai dari pembabtisan di sungai Yordan dan sampai penguburan-Nya. Yesus adalah seorang yang beriman, tetapi sekaligus tersesat secara religius. Perkembangan batin Yesus digambarkan dalam tiga fase, yaitu eskatologis, introversi dan passio. Pekerjaan Yesus berakhir dengan kegagalan.
Fase pertama adalah eskatologi. Kehidupan Yesus ditandai dengan datangnya Kerajaan Allah yang diharapkan pada akhir zaman21. Yesus mengutus para murid dan mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang” (Mat. 10,23). Para murid kembali dari pengutusan itu, tetapi situasinya tidak berubah sama sekali. Fase kedua adalah introversi, yaitu Yesus merevisi pewartaannya. Peristiwa sejarah sebagai masa baru yang diharapkan sudah terlaksana sebagai kenyataan batin sekarang ini. Yesus mengatakan, “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk 17,21). Ternyata pembatinan Kerajaan Allah ini juga tidak cukup. Jemaat Kerajaan Allah yang sudah terbentuk dalam lingkungan murid-murid, tersingkirkan. Yesus berusaha mati-matian, tetapi jatuh ke penguasa Yahudi dan penjajah Roma. Fase ketiga adalah passio. Kehidupan Yesus berakhir dengan pembunuhan di kayu salib. Yesus berteriak penuh keraguan “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku(mk 15,34)?” Teriakan yang penuh ragu itu sungguh-sungguh merupakan kata terakhir dari Yesus yang gagal dan mati secara tragis.22
Tradisi Yahudi menerangkan kekeliruan dan kematian tragis semacam ini dengan mengatakan bahwa demi cintanya kepada israel, Allah untuk sementara membuat mata orang-orang bijaksana tersilaukan. Begitu pula dengan Yesus dari Nazareth. Yesus tetap hidup terus, tidak hanya dalam Gereja yang mendasarkan hidupnya pada Dia. Yesus hidup juga dalam pekerjaannya. Dengan kemartiran yang Dia tanggung, penderitaan Yesus di salib merupakan perumpaan bagi seluruh bangsanya, yang didera, berdarah, bergantung pada salib kebencian terhadap orang-orang Yahudi.
Shaom Ben-Chorin memberikan gambaran mengenai Yesus dari Nazareth yang positif meskipun dia menolak dimensi-dimensi yang menentukan dalam iman Kristiani. Penolakan ini berhubungan dengan pengalaman dan penafsiran mengenai kenyataan dunia sekarang ini dari perspektif keselamatan. Kalau Mesias sudah datang, bagaimanakah dapat dimengerti kenyataan dunia yang konkret seperti sekarang ini sebagai dunia yang sudah diselamatkan dalam karya, kematian, dan kebangkitan Yesus.



III.2Gambaran Yesus dalam Agama Islam23
Nama yang dipakai dalam Islam untuk menyebut Yesus adalah Îsâ. Nama Arab yang dipakai dalam Kristen adalah Yasû’a yang asalnya adalah Yeshua (bahasa Ibrani) melalui Yessû’a (bahasa Syiria). Dalam menyebut Îsâ dan nama nabi-nabi lainnya, biasanya umat Islam menambahkan gelar penghormatan alay-hi salâm. Nama Îsâ muncul 25 kali dalam al-Qur’ ân. Kebanyakan nama tersebut muncul dalam surah-surah Median (Q 2; 3; 4; 5; 9; 33; 57; 61). Hanya 5 kali nama itu muncul dalam surah-surah Mekah (Q.6;19;23;42;43). Secara umum nama itu dikaitkan dengan ibunya, Maryam sehingga kemudian disebut Îsâ ibn Maryam. Nama Îsâ ibn Maryam muncul 23 kali dalam al-Qur’ân, 16 kali muncul secara lengkap sebagai Îsâ ibn Maryam dan 7 kali hanya sebagai ibn Maryam. Perlu diingat bahwa injil hanya satu kali menyebut Yesus sebagai anak Maria (Mk. 6,3).
Nama lain yang dipakai untuk menyebut Yesus adalah Al-Masih. Nama itu muncul 11 kai dalam al-Qur’ ân. Semuanya dapat ditemukan dalam surah-surah Medina. Tentang nama itu, al-Qur’ ân tidak pernah memberikan definisi atau penjelasan. Beberapa ahli tafsir mengakui bahwa nama itu terasa asing. Ada yang berpendapat bahwa nama ini berarti “menyentuh” dalam pengertian Îsâ yang sentuhannya bebas dari cacat dan cela. Ada pula yang memahaminya dalam pengertian “berjalan” karena Îsâ memang dilukiskan sebagai pribadi yang banyak melakukan perjalanan dan peziarahan. “Ambillah Îsâ sebagai teladanmu!” kata al-Ghazalî (m.1111).
Al-Qur’ ân memakai kata Hamba (‘Abd) sebanyak tiga kali untuk menyebut Yesus. Ini dapat dibandingkan dengan nama Ibrani Ebed, seperti yang muncul dalam Yesaya 42,1. Nama Hamba memiliki nuansa yang mendalam, terkait dengan sikap taat dan pasrah menyerah. Istilah hamba ini menjadi spirit atau gagasan dasar dalam Islam.
Nama Yesus memang sering disebut Nabi bersama dengan nabi-nabi lain, akan tetapi hanya sekali Ia disebut nabi sendirian, yaitu dalam al-Qur’ ân (Q.19:30). Terkait dengan nama itu, ada perbedaan nuansa antara nabi dan rasul. Seorang nabi adalah seorang utusan (rasul) yang mendapat tugas khusus dari Allah serta memperoleh bekal berupa Kitab yang memuat Wahyu Allah (Zabur, Taurat, Injil, dan al-Qur’ân). Ada 28 nama nabi yang disebut dalam al-Qur’ ân, tetapi umat Muslim percaya bahwa jumlah seluruh nabi jauh lebih banyak. Sementara itu, sebutan Rasul yang berkaitan dengan Yesus hanya dipakai 10 kali dalam al-Qur’ ân.
Yesus disebut juga Sabda (Q 3,45 dan 4: 171). Sebutan ini mengacu pada kenyataan bahwa Îsâ lahir tidak karena hasil hubungan suami-istri, tetapi karena Sabda Allah kun fa-yakun: jadi maka jadilah! Keberadaan Yesus dengan demikian dapat dibandingkan dengan keberadaan Adam yang juga ada berkat sabda kun fa-yakun. Sebutan lain yang muncul dalam al-Qur’ ân untuk Yesus adalah Roh. Ada tujuh kali sebutan ini dipakai. Ini menyerupai dengan proses penciptaan Adam, “Aku telah meniupkan ke dalamnya RohKu.” Yesus disebut juga dengan nama Tanda. Ada 3 ayat al-Qur’ ân yang mengatakan tentang hal ini (Q.19;21; 21:29; 23:50). Îsâ menjadi tanda tidak hanya untuk umat Israel, tetapi juga untuk seluruh dunia. Selain itu, masih ada nama-nama lain yang dipakai untuk menyebut Yesus, yaitu: Gambaran (Q.43:57), Saksi (Q 4:159), Rahmat (Q. 19:21), Yang Terhormat, Yang Terkemuka (Q. 3:45), Yang Dekat dengan Allah (Q. 3:45), Yang Saleh (Q. 3:46), dan Yang Terberkati (Q. 19:31).
Nabi Îsâ mengajarkan bahwa Allah itu esa. Perutusan nabi Îsâ sama dengan nabi-nabi yang lainnya, yaitu mewartakan Allah yang esa dan menuntun bangsanya menyembah hanya kepada Alalh esa itu (Surat III/Al-Imran 51). Nabi Îsâ diangkat ke langit dan tidak mati di salib. Allah adalah Allah yang mahakuat dan mahaperkasa.

III.3Gambaran Yesus dalam Hinduisme
Sejarah Hinduisme berkembang sejak tahun 2000 sebelum masehi. Sejak tahun 188 sesudah masehi, ada beberapa tokoh dalam Hinduisme mengemukakan gambaran-gambaran mengenai Yesus.

III.3.1Ram Mohan Roy. 24
Ram Mohan Roy hidup pada tahun 1775-1833. Mohan Roy adalah seorang bapak renaissance India. Dia berkenalan dengan ajaran iman Kristiani melalui para misionaris. Perjumpaan dan pengalamannya dengan ajaran-ajaran Kristiani mempunyai makna untuk memperbarui Hinduisme. Dia berpendapatbahwa bentuk-bentuk praktik Hinduisme pada waktu itu telah menutup inti Hinduisme, ajaran-ajaran Upanishad dan Veda. Melalui ajaran Yesus dalam kotbah di bukit (Mat. 5), Mohan Roy menemukan sesuatu yang baru dan indah, yaitu ajaran mengenai Allah sebagai Ada Absolut. Dia berpendapat bahwa pengetahuan akan hal itu memimpin jiwa manusia menuju kesatuan dengan Allah. Dia mengakui Yesus sebagai pengajar unggul mengenai religi dan moral.
Dalam bukunya yang berjudul The Precept of Jesus, the Guide to Peace and Happines, Ram Roy mengungkapkan bahwa kehidupan historis Yesus hampir tidak memainkan peranan. Dia mengatakan bahwa bagian hidup Yesus yang penting adalah kotbah di bukit. Mukjizat Yesus merupakan mitos belaka baginya. Dia melihat bahwa tindakan penyerahan Yesus sampai pada salib mengingatkannya akan kurban-kurban berdarah dari para Brahmana. Allah adalah begitu besar dan tidak akan menuntut darah dari anak-anakNya. Pengajaran para misionaris mengenai Allah yang menampakkan diri di dunia adalah pararel dengan ajaran mengenai Avatara.

III.3.2Keshab Chandra Sen.25
Keshap Chandra Sen hidup tahun 1838-1884. Chandra Sen merupakan pembaharu Hinduisme sesudah Mohan Roy. Ia memandang Yesus sebagai pribadi yang menyumbang untuk kemanusiaan, khususnya melalui ajaran-ajaran etisnya yang khas. Otto wolff menyebut Keshab Chandra Sen sebagai saksi Kritus di antara saudara-saudara Hindu. Chandra Sen lebih merupakan seorang beriman daripada seorang pemikir. Sebagai seorang Hindu, ia menjumpai Yesus dalam doa. Kristus adalah satu-satunya yang menebus dia dari kedosaannya dan yang dapat memenuhi jiwa dengan kegembiraan rohani. Melalui sesal dan penyangkalan diri, Kristus menjalani hidup serupa dengan kehidupan ilahi, dan kini dalam kemuliaan, Ia hidup di tengah-tengah manusia dan menguatkan manusia.
Pengertian orang-orang Eropa mengenai Kristus dan kobah-kotbah mereka di India perlulah dipertanyakan. Yesus adalah orang Asia bukan orang Eropa. Semua muridNya adalah orang-orang Asia. Orang-orang Indiah harus belajar memandang Yesus dengan mata Asia. Yesus mengerti orang-orang India dan ingin memenuhi kerinduan-kerinduan mereka yang terdalam. Bagi orang-orang India, Yesus adalah penebus dari dunia kotor dan rusak. Yesus bukanlah penyelamat Eropa yang tidak toleran dan melawan orang-orang yang tidak percaya. Yesus yang lemah lembut, rendah hati dan menyangkal diri, menemui hati orang-orang India secara benar.
Chandra Sen mengakui keilahian Yesus. Firman “Aku dan Bapa adalah satu (Yoh 10,30)” menampilkan suatu keilahian. Sekarang ini juga, Anak Allah dekat dengan manusia. Kristus-bhakti tidak membawanya ke dalam keadaan trance penuh kabut, melainkan ke suatu hidup dengan dan dalam Yesus. Yesus bukanlah avatar India. Yesus telah menjadi manusia untuk membangun kembali keilahian dalam manusia. Seluruh India hendaknya hidup serupa dengan Kristus, membangun persaudaran baru, bukan sebagaimana dikehendaki oelh para misionaris Eropa, yakni institusi-institusi gerejani yang selalu terpecah dalam konfesio dan sekte baru. Dalam persekutuan rohani dengan Kristus itu, semua manusia adalah satu. Chandra Sen mengakui penebusan yang bersifar universal.

III.3.3Swami Vivekananda.26
Swami Vivekananda hidup pada tahun 1862-1902. Vivekananda menginterpretasikan Injil dengan bantuan ajaran Advaita dari Shankara (abad 8). Yesus bukanlah Allah dalam arti yang khas, melainkan pewarta yang serupa dengan Allah, pewarta yang memberitakan keputeraan Allah dan keabadian. Menurut ajaran Shankara, hanyalah terdapat Ada Sejati, yakni Allah Mutlak. Manusia dapat ambil bagian dalam Allah denagn meninggalkan segala yang duniawi melalui pengakalan diri dan meditasi. Yesus telah menjalankan itu semua dalam cara yang hampir ilahi. Vivekananda mengatakan bahwa kalau dia sebagai orang Timur mau menghormati Yesus, hanyalah ada satu jalan yaitu menghormatiNya sebagai Allah dan tidak lain.
Dia menyampaikan ajaran-ajaran serupa dengan Mohan Roy dan Chandra Sen. Vivekandanda sampai pada pandangan-pandangan mengenai Kristus diawali dengan vision Ramakhrisma, seorang imam desa. Dalam visionnya, Ramakhrisma tidak hanya mengalami dewa-dewa Hinduisme, melainkan juga Allah Tritunggal dari orang-orang Kristen.

III.3.4Mohandas Karamcand Gandhi27
Mohandas Karamcand Gandhi hidup pada tahun 1869-1948. Gandhi lebih tertarik pada ajaran-ajaran Kristus daripada realitas historis Yesus. Orang berjiwa besar (Mahatma) in berjuang untuk kemerdekaan India dari kolonialisme Inggris dengan religiositas yang mendalam. Baginya tidaklah menjadi masalah seandainya orang membuktikan bahwa orang bernama Yesus itu tidak pernah hidup. Kotbah di bukit tetap benar. Gandhi mengenal orang-orang Kristen di India, di Afrika Selatan dan Inggris. Dia juga berkenalan dengan para misionaris. Berhadapan dengan para misionaris, ia menekankan nilai dari semua religi dan realitas kesenjangan yang ia temukan antara Yesus dan orang-orang Kristen.
Gambar Yesus juga menghiasi ruang kerja Gandhi. Dia menulis “Yesus yang kucintai” dan “Apa arti Yesus bagiku”. Yesus bukanlah Anak Allah, melainkan Pengajar, Guru yang Agung. Yesus memang mendekati kesempurnaan, tetapi hanyalah Allah yang sempurna dan berdiri di atas manusia. Yesus bagi Gandhi adalah Pangeran Satyagrahi, orang yang tidak bersalah dan berjuang tanpa kekerasan. Sebagai yang tidak bersalah dan menderita, Yesus adalah teladan setiap orang dan bukanlah eksklusif bagi orang Kristen.

III.3.5Swami Akhilananda28
Swami Akhilananda hidup pada tahun 1894-1962. Dia adalah seorang biarawan dan teolog Hindu yang memberi perhatian besar kepada Yesus. Pada usia 30 tahun, ia pergi ke Amerika Utara dan tinggal di sana sampai kurang lebih tahun 1955 sebagai seorang misionaris Hindu. Di sana, ia berteman dengan banyak orang kristiani dan bagi mereka itulah ia menulis sebuah buku “The Hindu view of Christ” yang terbit di New York pada tahun 1949.
Dia menganggap Yesus sebagai seorang yang tidak hanya mengajarkan yoga, melainkan juga secara istimewa menjalankan tiga macam yoga, yaitu: Bakti Yoga, Karma yoga, dan Jnana Yoga. Yesus mengajarkan untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan segala yang lain akan diberikan kepadamu. Kerajaan Allah ini adalah kepenuhan kebatinan yang memuncak pada pencerahan besar samadhi. Yesus adalah Avatar Allah, yang seperti banyak yang lain sebelum Dia, tampak di atas bumi ini untuk menegakkan kembali keadilan Allah.
Kesejarahan Yesus tidak menjadi masalah bagi Swami Akhilananda, namun salib dan kebangkitan sebagai lambang-lambang yang penuh makna adalah lebih penting. Yesus adalah terutama pemimpin untuk kehidupan batin dan persatuan dengan Allah. Orang-orang Hindu sudah mengenal Yesus ini dan sebenarnya tidak ada gunanya para misionaris datang ke India untuk memaksakan gambaran Yesus dari Eropa.
Secara keseluruhan gambaran tokoh-tokoh Hindusme mengenai Yesus dapat digambarkan sebagai berikut:
a.Yesus adalah guru, pengajar besar dalam religi dan etika, terutama dalam kotbah di bukit yang sangat dipuji. Yesus mengajarkan satu Allah dan manusia bertanggungjawab terhadapNya.
b.Yesus adalah pola orang yang tidak bersalah, yang menanggung banyak penderitaan dan mengalahkan yang lebih kuasa tanpa kekerasan. Ia adalah manusia dengan kedalaman rohani dan kebaikan yang menyentuh kedalaman hati manusia.
c.Mengenai keilahian Yesus, terdapat bermacam-macam jawaban. Yesus sering disebut Avatar Allah, yakni penampakan Allah dalam kemanusiaan seperti misalnya Khrisma. Ada juga yagn menolak penggambaran tersebut. Selama kehidupannya di dunia, Yesus tidak disebut Alalh. Sesudah kematianNya, Yesus diilahikan, ditinggikan, dan menjadi kekuatan hidup yang dapat memasuki manusia.
d.Yesus adalah seorang Yogi besar. Yesus menjadi pengajar religius, pemimpin rohani, Guru India. Murid-murid Yesus dikehendaki untuk mengarahkan perhatian terutama pada hidup batin menuju kesempurnaan. Ia menghendaki persaudaraan, persekutuan rohani orang-orang beriman dan bukan Gereja besar seperti disampaikan oleh para misionaris.
e.Yesus termasuk Hinduisme, dicintai dan dimengerti secara benar. Dunia barat telah mengerti Yesus secara keliru dan kini Yesus sejati telah ditemukan kembali oleh Hidunisme.

IV.Gelar-gelar Yesus: Perjumpaan dengan Allah dalam Peristiwa Yesus
Dialog dengan tradisi-tradisi Kristiani memberikan kesaksian iman mengenai perjumpaan dengan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus. Umat beriman kristiani berjumpa dengan orang-orang yang memberikan kesaksian iman.29 Melalui proses mendengarkan, iman kita dilahirkan dan dikembangkan. Di sini, tradisi-tradisi kristiani dimengerti secara luas, yaitu semua saja yang menampilkan kesaksian mengenai Yesus Kristus, seperti ajaran Gereja, pemikiran teologis, spiritualitas, praksis Gereja dan terutama Kitab Suci. Dari tradisi-tradisi Kristiani ini pula, kita sampai pada perumusan ajaran iman mengenai siapa Yesus bagi umat Kristiani, yang direfleksikan dalam konteks pengalaman manusiawi mengenai Allah.
Pengalaman dan pemahaman manusia mengenai Allah terjadi dalam dunia melalui suatu mediasi, entah itu peristiwa, orang, situasi, teks-teks kitab suci ataupun benda-benda. Mediasi tersebut dapat disebut gelar religius. Sebagai kenyataan dalam dunia ini, gelar religius mempunyai sifat terbatas, tetapi menunjuk yang mengatasinya, yaitu Allah yang transenden dan tak terbatas. Yang tak terbatas dialami dalam dan melalui gelar religius yang terbatas. Gelar religius terbatas ini memang menunjuk keseluruhan dari Yang tak terbatas, tetapi sekaligus juga mengkhususkan, memfokuskan, mentematisasikan dan membatasi. Allah mewahyukan diri kepada manusia dalam dunia. Gelar-gelar mengenai Yesus muncul dari hidup manusia dalam dunia ini, bahkan dalam konteks tertentu pula. Pemahaman mengenai Yesus Kristus sekaligus juga pemahaman mengenai eksistensi manusia dalam hubungan dengan Yesus Kristus.

IV.1Nabi30
Yesus dikenal sebagai seorang nabi (Mat. 21,11; Lk. 7, 16; 24,19; Yoh 4,19;9,17). Yesus sendiripun berkata mengenai diriNya, “Seorang nabi di hormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara keluarganya dan di rumahnya” (Mk 6,4; Lk. 4,24; Yoh 4,44). Pengalaman Yesus pada saat permandian (Mat 3,13-17) dapat dipandang sebagai pengalaman panggilan seorang nabi (Yes 6,1-10)31. Yesus telah berkiprah sebagai seorang yang memiliki kuasa (eksousia) yang pasti merupakan ciri kenabian. Di dalam tradisi alkitabiah, kewibawaan seorang nabi diakui dan diterima apabila ia dikuasai oleh Roh Allah. Penampilan Yesus mengingatkan orang akan tokoh Perjanjian Lama maupuan akan Yohanes Pemandi yang juga disebut “nabi” (Mat 11,9; 14,15; Luk 1,76).
Pada waktu kaum keluarga Yesus dan orang-orang lainnya kuatir bahwa Yesus sudah tidak waras atau bahwa ia mungkin telah dirasuki setan, Ia menanggapi dengan memuji dan memuliakan kehadiran Roh Kudus dan kehendak Allah (Mk. 3, 21-35). Karena Yesus dikenal tidak hanya sebagai seorang nabi, tetapi sebagai seorang nabi akhir zaman, sebagai Dia yang memberitakan telos (maksud akhir) dan finis (tujuan akhir) Allah dan sebagai Dia yang mendatangkan dan mewujudkan “tindakan akhir Allah yang paling menentukan untuk menyelamatkan umatNya. Yesus tidak hanya memberitakan Kerajaan Allah dan meminta tanggapan iman, tetapi Ia juga telah mempertaruhkan hidupNya sendiri dengan menempuh bahaya demi kebenaran yang menjadi isi amanatNya.

IV.2Anak Manusia32
Dalam Perjanjian Baru, Kata “Anak Manusia” dipakai sebanyak 82 kali, yaitu 67 daripadanya injil synoptik, 13X dalam Yohanes, dan Kis 7:56, Why 14:14.33 Kata Anak Manusia dipakai oleh Yesus sendiri dalam arti “saya”. Kadang-kadang dalam teks-teks paparel memang ditulis “saya” ganti “Anak Manusia” (Luk 12,8; Mat 10,32). Banyak ahli berpendapat bahwa sebutan Anak Manusia berasal dari Yesus sendiri. Dalam Mrk 14,62, Anak Manusia terang mempunyai arti mesias, dan barangkali ayat itu dirumuskan dengan pertolongan Dan 7,13. R. Bultmann membedakan tiga sabda mengenai Anak Manusia:
1. Anak Manusia yang akan datang, khususnya sebagai hakin dimasa yang akan datang,
2. Anak Manusia yang bersengsara, teristimewa yang disebut dalam ramalan sengsara,
3. Anak Manusia yang berkarya di dunia, biasanya penuh kuasa.
Secara umum boleh dikatakan bahwa Yesus berbicara mengenai dirinya sendiri dengan mempergunakan sebutan Anak Manusia. Fakta bahwa Gereja Purba tidak mempergunakan Anak Manusia sebagai gelar kristologis merupakan argumen yang kuat untuk mempertahankan bahwa sebutan itu berasal dari Yesus. Kalau Yesus menyebut dirinya dengan sebutan Anak Manusia, apa artinya? Jawaban harus dicari dalam pewartaan Yesus sendiri, yakni pewartaanNya mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah menjadi begitu sentral dalam pewartaan Yesus, sehingga hidup dan pribadi Yesus harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah. Anak Manusai harus dimengerti dalam hubungan dengan Kerajaan Allah itu. Dapat dikatakan bahwa sabda mengenai Anak Manusia datang atau dari Yesus sendiri atau dari jemaat purba. Anak Manusia adalah gelar eskatologis, dan sangat tidak jelas baik artinya ataupun asal-usulnya. Teks tentang Anak Manusia terdapat dalam: Mt 9,6; 12,8; 17,8;25,18, Mrk 2,10, 8,31; 9,9, Luk 5,24; 6,5; 9,22, Yoh 1,51; 3, 13; 5,27.


IV.3Anak Allah34
Dalam Perjanjian Baru, ada dua cara pemakaian sebuatan Anak Allah: atau sebagai semacam gelar atau sebagai ungkapan relasi khusus Yesus dengan Allah. Anak Allah mempunyai arti gelar, langsung kelihatan dari perbandingan teks-teks ini: Yoh 1,49; Luk 4,41; Kis 9, 20-22. Melalui teks-teks ini kelihatan bahwa “mesias” (=kristhos) disebut Anak Allah. Gelar Anak Allah umum dipakai di dalam lingkungan Yunani-Romawi dan diterapkan pada diri kaisar atau dewa-dewa kafir. Dalam tradisi Israel gelar Anak Allah diterapkan untuk raja (2Sam 7,14) dan untuk Israel (Kel 4,22).
Dalam Perjanjian Baru, sebutan Anak Allah mempunyai dua arti, yaitu sebagai gelar dan relasi Yesus dengan Allah35. Sebagai gelar kebesaran, sebutan Anak Allah menunjukkan keluhuran Yesus (bdk. Ki 13:32-33). Keluhuran itu terutama menunjuk pada pengalaman paska. Lewat pengalaman paska, pandangan para murid akan Yesus makin transenden, makin dimuliakan dan diilahikan. Gelar Anak Allah juga merupakan pengakuan iman khas kristiani, namun bukan dalam arti julukan kehormatan (Yoh 20,31). Dengan sebutan Anak Allah, mau ditunjukkan siapa Yesus sebenarnya. Dalam konteks ini sebutan Anak Allah, pertama-tama mau menunjuk hubungan Yesus dengan Allah (Mt 11, 27; Luk 10, 22). Relasi khusus Yesus dengan Allah ini nampak jelas dengan menyebut Allah sebagai Bapa (Yoh 5,17).
IV.4Kristus36
Kata “Kristus” (Yunani “Christos”, Ibrani “Mesias”) mempunyai arti ‘yang terurapi’.37 Kata ini berasal dari Perjanjian Lama dan Yudaisme. Gelar itu dipakai bagi raja-raja yang duduk di atas tahta Daud dan mempunyai warna politis. Meskipun seroang raja Israel diurapi oleh manusia, namun pengurapan itu dilihat sebagai tindakan Allah (1Raj 9,3). Dengan pengurapan itu, diungkapkan pemberian Roh Tuhan sebagai mesias (Yes 61). Pada perkembangan sejarah Kerajaan Israel, dimana tidak ada raja yang memenuhi harapan, sebutan Kristus/Mesias diarahkan kepada raja yang ideal. Disinilah muncul pemahaman mesias eskatologi, yakni raja ideal yang diharapkan pada akhir zaman. Janji akan kedatangan mesias itu beragam. Deuteroyesaya melukiskan mesias itu sebagai “hamba yang bersengsara” (Yes 53), dalam Dan 7, 11 mesias adalah Anak Manusia.
Dalam Perjanjian Baru gelar Kristus dikenakan pada Yesus. Ini mau menunjukkan fungsi, misi, tugas Yesus yang merupakan jawaban terhadap situasi fundamental. Yesus tidak pernah menyebut diri-Nya Mesias. Dalam Perjanjian Baru ada tiga teks yang menampilkan aspek mesianis Yesus:
1.Tulisan pada salib (Mrk 15, 26). Orang Romawi memandang Yesus sebagai mesias dalam arti politis yang memberontak.
2.Yesus dihadapan mahkamah agama (Mrk 14, 53-65)
3.Pengakuan Petrus (Mrk 8, 27-33).
Teks ini yang paling jelas bicara mengenai mesianitas Yesus. Mesias yang dimaksud adalah “Anak Manusia yang menderita sengsara dan ditolak oleh tua-tua dan para imam lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk 8,31). Gelar Kristus bagi Yesus secara khusus berkaitan dengan peristiwa salib dan wafat-Nya. Saat penyaliban, istilah Kristus hanya sebagai ejekan (Mrk 15,32), namun setelah peristiwa kebangkitan, para murid memaknainya sebagai nama kehormatan dan kemuliaan.

IV.5Tuhan38
Kata “Tuhan” merupakan terjemahan dari bahasa Yunani “Kyrios”. Kata ini dipakai untuk menyebut pemilik, tuan, majikan, penguasa yang memerintah raja-raja. Dalam arti kyiros tidak mempunyai arti religius. Tetapi dalam dunia Yunani, kyrios juga memiliki makna religius, yakni untuk menunjuk para dewa-dewi yang memiliki kuasa dan hak atas hidup manusia. 39
Dalam terjemahan Perjanjan Lama, kata Tuhan biasa digunakan untuk menyebut Allah, sebab Israel juga mengenal penggunaan kata ‘tuan’, ‘tuhan’ untuk menunjuk para pemilik tanah, raja atau majikan. Dalam bahasa Ibrani istilah itu dipakai kata adonai, adon. Adonai mau mengungkapkan diri Allah yang memiliki bangsa Israel dan juga menguasai langit dan bumi, sebab Dia adalah Sang Pencipta yang kemuliaan-Nya memenuhi ciptaan-Nya (Mzm 114,7 Yes 1,24; 3,1).
Dalam Perjanjian Baru, kata Tuhan dikenakan untuk gelar Yesus. Gelar Tuhan adalah gelar kebangkitan. Tulisan Paulus cukup konsekuen dalam menggunakan gelar ini. Gelar Tuhan pertama-tama digunakan untuk Dia yang dibangkitkan atau Dia yang mulia dan ditinggikan karena kebangkitan. Flp 2, 9-11, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengurniakan kepada-Nya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut…”
Dalam Gereja Perdana, sebutan Tuhan dikenakan pada Yesus. Jemaat kristen sadar bahwa Yesus yang menderita dan wafat di salib itu kini bangkit dan ditinggikan oleh Allah menjadi Tuhan. Sebaga Tuhan, kini Yesus mempunyai kuasa bumi atas langit (Mt 28,18). Dalam tardisi PL, kuasa itu hanya dimiliki Allah. Sebagaimana Allah adalah penyelamat, kini Yesus di dalam Allah yang bertindak dan menyelamatkan (Yoel 2,32, Rm 10,9). Maka dengan sebutan Tuhan, Yesus mau disejajarkan dengan Allah sendiri yang berkuasa dan sebagai penyelamat. Yesus sebagai Tuhan bagi jemaat kristiani menjadi pokok keselamatan (Ibr 5,9) dan pusat Gereja.

V.Penutup
Percakapan mengenai Kristologi menyapa setiap budaya dalam perkembangan manusia yang mejadi ruang lingkup konteks aktual Gereja. Hal ini tentu saja mempunyai rentang waktu yang cukup lama dengan peristiwa Yesus. Dalam perkembangan budaya yang semakin modern, semakin jauh dari realitas historis Yesus Kristus; selalu dibutuhkan, digali, dan dikembangkan sebuah re-interpretasi tradisi kristiani. Figur Yesus historis menjadi pusat, sekaligus tanda kehadiran dan wahyu Allah dalam komunitas kristiani. Yesus dilihat sebagai simbol Allah yang menuntut manusia untuk bersikap kritis dalam beriman.
Bagi umat beriman Kristiani, Allah yang dialami adalah Allah yang mewahyukan diri melalui Yesus Kristus. Melalui Yesus Kristus, manusia sampai kepada Allah40. Hidup beriman mengikuti Yesus Kristus mempunyai ciri mistis, menyentuh pengalamn personal. Hidup beriman juga mempunyai ciri politis, mengusahakan kesejahteraan hidup bersama yagn lebih manusiawi, lebih adil, dan merdeka. Orang-orang yang berjumpa dengan Yesus dipanggil untuk mengikutinya, untuk mengolah hidup batin dan lingkungan mereka sehingga setiap pribadi mempunyai kepastian jawaban mengenai “Siapa Yesus baginya”.


Daftar Bacaan

Banawiratma, JB.
2001 Yesus Kristus dan Allah Mahaesa Tritunggal. Dengan Pendekatan Kontekstual. Sebuah Diktat Kuliah. Yogyakarta: Fakultas Teologi USD.
Eckardt, A. Roy.
1996 Menggali Ulang Yesus Sejarah. Kristologi Masa Kini. JakartaL BPK Gunung Mulia.
Greene, Colin Greene.
1998 Christology in Cultural Perspective. Marking out the Horizons. Cambria: Pater Noster Press.
Heru Prakosa, JB.
2008 Yesus dalam Islam. Sebuah diktat kuliah. Yogyakarta: FTW.
Jacobs, Tom.
1982 Siapa Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.
2000 Emanuel. Perubahan dalam Perumusan Iman akan Yesus Kristus. Yogyakarta: Kanisius.
Konferensi Waligereja Indonesia
1996 Iman Katolik Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta: Kanisius.
Smith, Huston.
1985 Agama-Agama Manusia. Jakarta: Obor. 1985.
Sudiarja, A.
2000 “Agama Yang Jatuh Bangung” dalam Orientasi Baru. Jurnal Filsafat dan Teologi. No. 13 Tahun 2000. Yogyakarta: Kanisius.
Syukur, Nico Dister.
1987 Kristologi Sebuah Sketsa. Yogyakarta: Kanisius.
2004 Teologi Sistematika 1, Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius.
Vorgrimler, Herbert.
2005 Trinitas Bapa Firman Roh Kudus.

Suara Hati Kristiani

Suara Hati Kristiani

Menemukan dan mengusahakan sebuah keputusan Moral


  1. Pendahuluan

Suara hati ialah dasar moralitas seseorang yang paling fundamental karena dari sanalah mengalir seluruh tindakan moral seseorang. Suara hati merupakan “tempat” pertemuan antara Allah dan manusia1. Di satu sisi, suara hati adalah suara Tuhan sendiri, suatu kehadiran intim dari Sang Penebus yang membimbing jiwa manusia kepada kehidupan moral yang baik dan membebaskan manusia dari hambatan kelemahan manusiawinya. Di sisi lain, suara hati menunjukkan, apakah seseorang mampu menggunakan dengan baik keutamaan dan terang moral yang ada di dalam dirinya, atau tidak. Menurut Charles E. Curran, suara hati membimbing dan mengarahkan kehidupan moral dari setiap individu2.

  1. Definisi Hati Nurani dan Magisterium

Kata “suara hati” adalah terjemahan dari bahasa Inggris conscience. Kata conscience sendiri berasal dari bahasa Latin conscientia. Kata conscientia terbentuk dari kata cum (together, bersama) dan scientia (dari kata dasar scire [mengetahui])3. Secara harafiah, conscientia berarti mengetahui bersama atau sama-sama tahu. Sebetulnya, pemaknaan akan suara hati ini berbeda-beda karena pendekatannya pun berbeda. Dalam banyak hal, suara hati (conscience) digunakan sebagai sinonim atas kesadaran (awareness)4.

Menurut Bernard Häring, suara hati tidak lain merupakan keutamaan moral yang dimiliki oleh setiap orang secara natural. Suara hati merupakan lubuk hati terdalam dan kudus, di mana seseorang mengenal dirinya sendiri dalam relasinya dengan Tuhan dan sesama. Orang dapat menemukan dirinya sendiri hanya melalui refleksi mendalam bahwa dia sungguh-sungguh berjumpa dengan Allah dan sesama5. Suara hati ialah kemampuan manusia untuk menyadari tugas moral dan untuk mengambil keputusan moral6.

Meskipun suara hati mempunyai suaranya sendiri, sebetulnya dia tidak berasal dari dirinya sendiri. Suara hati ada oleh karena Sang Sabda yang telah menciptakan segala sesuatu di dalam diri-Nya, Sabda yang menjadi manusia seperti kita. Sabda ini berbicara melalui suara hati dan mengandaikan kemampuan kita untuk mendengar dengan segenap hati kita karena suara hati itu bagaikan sebuah lilin tanpa cahaya. Sabda yang diterima merupakan kebenaran dari Kristus yang adalah Terang dan Kebenaran, dan melalui Dia, cahaya tetap bersinar dengan segala terang dan kehangatannya.

Dalam mencari kebenaran, suara hati manusia merupakan sarana penting untuk mensharingkan pengalaman dan refleksi dalam hubungan dengan suara hati yang lain. Karena keterbukaan hubungan dengan suara hati yang lain, maka kita menjadi bebas satu sama lain. Artinya, kita bebas untuk menerima dan memberi, bukan hanya memberi pengetahuan saja, namun memberi diri bersama dengan pengetahuan dan pengalaman kita sendiri. Bila kita mengenal yang lain dalam kacamata Allah, kita menerima mereka sebagaimana mestinya sesuai dengan Sang Sabda. Dengan demikian, suara hati kita sungguh-sungguh menjadi hidup dan kreatif.

Magisterium adalah tugas mengajar. Ini merupakan salah satu jabatan dalam Gereja untuk meneruskan, menafsirkan, serta menguji keaslian ajaran iman dan kesusilaan yang diterima Gereja dari Kristus. Seluruh umat beriman/Gereja dengan cara yang berbeda-beda adalah penerima serta penerus Injil sebagai kebenaran abadi. Seluruh umat adalah “Gereja yang diajar” (mendengarkan) dan “Gereja yang mengajar”. Sejak konsili Trente, magisterium bertugas meneruskan ajaran iman dan kesusilaan. Para pemegang tugas mengajar dalam Gereja berkewajiban mencari informasi selengkap mungkin sebelum mengajar secara mengikat dengan menggunakan alasan intern yang meyakinkan, memperlihatkan ajaran itu penting demi keselamatan dan menerangkan bagaimana kedudukan suatu keputusan dalam keseluruhan7.


  1. Magisterium Gereja dan Suara Hati

Berkenaan dengan Magisterium Gereja tentang suara hati, Karl-Heinz Peschke mengatakan bahwa tugas Magisterium adalah memberi kiblat bagi kehidupan moral orang Kristen8. Para uskup, baik secara pribadi maupun dalam kolegium para uskup, khususnya Uskup Roma, dipanggil, ditugaskan, dan dimampukan untuk menjalankan tugas tersebut. “Umat beriman wajib menyambut dengan baik ajaran Uskup mereka tentang iman dan kesusilaan, yang disampaikan atas nama Kristus, dan mematuhinya dengan ketaatan hati yang suci” (LG 25). Lebih lanjut, dalam Dignitatis Humanae ditegaskan bahwa kaum beriman kristiani dalam membentuk suara hati mereka, wajib mengindahkan dengan seksama ajaran Gereja yang suci dan pasti (DH 14).

Ajaran Magisterium Gereja merupakan bantuan bagi iman kristiani untuk mengetahui apa yang selaras dengan bentuk kehidupan yang bersumber dari iman kristiani9. Semua ahli moral dan teologi sependapat bahwa suara hati membutuhkan petunjuk dan pembinaan. Persekutuan gerejani, terlebih Magisterium yang berada di dalamnya, memegang peran penting dalam misi ini. “Apabila saya yakin bahwa Gereja berasal dari Tuhan, maka Magisterium Gereja mempunyai hak untuk diterima sebagai faktor utama dalam membentuk suara hati, dalam membantu suara hati bertumbuh menjadi diri sendiri”10.

Para teolog moral adalah mediator di dalam komunitas murid-murid Kristus, mediator di dalam komunitas para teolog, seorang murid, dan seorang peziarah yang senantiasa berjalan menuju kepada keselamatan11. Teolog moral membantu menafsirkan sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci, dengan segala historisitasnya dalam konteks masa kini dan di sini. Mereka membantu untuk menafsirkan tradisi. Tradisi dipahami sebagai aliran dari kehidupan dan kebenaran yang dibimbing oleh Roh Kudus yang mengenalkan setiap generasi dalam konteks sejarah yang dinamis menuju kebenaran yang tertinggi yang diwahyukan oleh Yesus Kristus12. Dengan bimbingan Roh Kudus, mereka mampu melihat pengalaman manusia dalam terang cahaya Kristus, menelurusi apa yang berharga, memurnikan apa yang perlu disucikan dan meninggalkan apa yang tidak menjadi bagian dalam membangun sejarah keselamatan. Berbagai pengetahuan sosiologi, sosiologi budaya, dan berbagai ilmu manusia lainnya menjadi sarana untuk menghindari sebuah tradisionalisme yang kaku dan untuk memahami konteks dari sebuah tradisi itu berkembang.

Teolog moral membantu orang beriman supaya dapat mengambil keputusan dan tindakan yang dapat ia pertanggungjawabkan sendiri kepada Allah13. Teolog moral tidak memposisikan dirinya sebagai yang bediri di atas, lebih dari pada yang lain. Mereka menyadari bahwa tidak mungkin akan menjadi seorang guru yang baik jika tanpa selalu menjadi seorang murid Yesus Kristus yang patuh kepada Roh Kudus dan menjadi teman dalam komunitas iman Gereja14. Dengan mempercayai panggilan umat beriman menuju keselamatan, mereka mempunyai kesadaran untuk belajar dari orang-orang yang mempunyai agama berbeda atau bahkan kepada mereka yang tidak termasuk dalam agama tertentu. Mereka terpanggil untuk memutuskan rintangan yang menghalangi setiap orang dalam menerima, menyadari dan memuji keanekargaman pewahyuan Allah.


  1. Magisterium dan Para Teolog Moral

Magisterium Gereja terletak di tangan Paus dan kolegialitas para uskup. Di bawah guru dan satu-satunya guru, Yesus Kristus, kita semua adalah seorang murid yang mempunyai keanekaragaman corak panggilan dan bentuk partisipasi yang unik bagi masing-masing pribadi15. Para uskup bertugas untuk menemukan dan mengungkapkan kepada orang-orang apa yang baik dalam situasi ketidaksepakatan pendapat16. Dalam situasi keraguan tersebut, ia mengembangkan sikap solidaritas, oposisi, dan dialog.

Orang Suci. Mereka adalah model dari semua guru dari kehidupan moral yang mengungkapkan kesaksian sebagai murid-murid dan pengikut Yesus Kristus. Seorang tidak mungkin menjadi seorang teolog moral yang baik jika tidak mempercayai bahwa setiap orang dipanggil untuk kesucian(LG bab V). Mereka mengajar dalam realitas sejarah yang konkret dan dalam tindakan eksistensial yang selalu kontekstual. Mereka mengajarkan sikap membuka diri terhadap gelombang kebijaksanaan dari Tuhan17.

Para teolog moral diharapkan siap-sedia belajar dari orang-orang yang sederhana dan bersahaja. Hendaklah kau murah hati seperti Bapamu di surga(Kuk 6,26) menjadi sebuah semangat dari jiwa dan semagnat misi orang beriman. Mereka merelakan diri disentuh oleh pengalaman-pengalaman konkret kehidupan mereka. Belajar dari mereka yang kompeten dalam ilmu pengatahuan mengenai manusia.

Panggilan dari orang beriman adalah menyadari dan memahami Yesus Kristus, Allah Bapa dan manusia dalam segala situasinya. Para teolog moral bertugas untuk unggul dalam memahami kemanusian, laki-laki dan perempuan, dengan segala historisitas sosial budayanya, historisitas sosial ekonomi dan situasi politiknya18. Mereka bukanlah pemegang otoritas kedua dari magisteriuam gereja yang bisa menentang magisterium paus dan kolegialtias uskup. Mereka terpanggil sebagai pelayan, diakon dan menjadi pengajar pastoral dari paus dan kolegialitas uskup. Para teolog moral harus selalu bersentuhan dengan kegembiraan dan kesedihan, dengan kecemasan dan harapan dari orang-orang sehingga mereka mampu menafsirkan ajaran iman secara lebih membumi dan kontekstual19.

Diakonia para teolog moral besifat menjembatani, misalnya menjelaskan ajaran iman kepada orang-orang agar mudah dipamahi, tetapi mereka juga mempunyai tugas untuk membiarkan para uskup dan paus mengerti apa yang dipikirkan dan dikehendaki umat beriman. Dengan penuh iman dan berpenampilan simpatik, mereka mengungkapkan ajaran paus, uskup, konsili, sinode tetapi juga menanggapi dengan jujur dan kritis.


  1. Tugas Para Teolog Moral

Para teolog moral Katolik mengusahakan dan menemukan bagaimana yang terbaik untuk melindungi dan mengungkapkan cinta kasih20. Dengan tanpa lelah, mereka mencari kebenaran eksistensial, yang berada dalam hati yang diberikan Allah dan dalam cinta manusia. Mereka menjadi pribadi yang mengungkapkan keberlangsungan sejarah keselamatan, pada setiap pribadi yang terikat dengan tradisi dan sabda Tuhan. Mereka mengkombinasikan antara kepekaan iman sekaligus keterbukaan untuk membaca tanda-tanda zaman dan hal yang menunjukkan adanya sebuah perubahan dalam struktur masyarakat dan tetap berakar dalam iman dan cinta. Para teolog secara terus-menerus bergerak bersama Tuhan yang hadir dalam peziarahan umat beriman menuju keselamatan. Mereka mengkomunikasikan dalam jalan-jalan yang menarik mengenai keselamatan, cinta yang menyelamatkan dan dengan penuh cinta buah-buah dari Roh Kudus (Gal 5, 22-23). Mereka lebih menampilkan bagaimana Roh Kudus berkarya melalui Yesus Kristus bukan semata-mata pada pencipta moral dan yang mengontrol orang-orang dalam melakukan sebuah norma moral.

Salah satu pemahaan dari KV II adalah magisterium Gereja tidak memberikan sebuah solusi yang siap pakai dalam setiap permasalahan personal yang baru, interpersonal, dan sosial kultural21. Seorang teolog moral tidak akan menjadi pribadi yang anti-toleran, arogan. Teolog moral memberi kesaksian hidup bahwa Roh Kudus berkarya dalam segala hal dan melalui segala hal.


  1. Sebuah Pandangan yang menyeluruh

Ada dua hal yang menghalangi pandangan menyeluruh ini, yaitu sebuah kebuntuan dalam pencarian karena sistematisasi kesempurnaan etis dan kekacauan karena ribuan aturan dan nasehat “boleh dan tidak boleh” dalam menghadapi berbagai permasalahan22.

Kitab Suci tidak menyediakan sebuah teologi dengan sistem konsep dan norma. Kitab Suci berisi refleksi dan pemikiran yang tidak dapat diabaikan. Keutamaan-keutamaan eskatologis dalam kitab suci masuk dalam peziarahan umat beriman melalui sejarah keselamatan. Ungkapan syukur membuat setiap umat beriman menyadari bahwa “warisan masa lalu, bahwa segala hal yang dibuat Tuhan bagi” kita hadir dalam kesaksian para orang kudus. Setiap umat beriman kristiani terpanggil untuk menghasilkan buah sekarang, di sini dan untuk masa depan. Mereka juga dilengkapi dengan keutamaan-keutamaan untuk menghadapi kesempatan dan juga tantangan seperti kesiapsediaan, kewaspadaan, dan pembedaan roh. Allah menjanjikan dan menunjukkan bahwa tuntunan roh akan membawa setiap orang beriman untuk berharap dan menciptakan tindakan yang kreatif untuk menghadapi masa depan.

Para teolog moral membantu orang beriman untuk mencari sebuah keseluruhan pandangan yang menyembuhkan. Mereka membantu agar terang dari kebebasaan anak-anak Allah mengembangkan pola pikir, menyediakan sebuah panduan untuk melihat apa yang berkembang dalam keadilan dan pembebasan serta cinta yang membebaskan. Para teolog moral bertugas membantu umat beriman untuk mencapai pemahaman yang mendalam tentang kebanggaan panggilan dalam Kristus dan tugasnya yang dinamis untuk menghasilkan buah dalam kehidupan di dunia ini.

Teolog moral terpanggil untuk selalu mencermati dan peka untuk membaca tanda-tanda zaman dengan perhatian utama pada budaya dan segala yang berkembang di dunia ini. Mereka melihat bahwa setiap perang dapat memperluas bencana perang tersebut. Nafsu kekuasaan, kekayaan, kompetisi kekejaman dan keinginan untuk mendapat kebebasan yang sempit menjadi kubu yang bertentangan dengan kemanusiaan dan keberadaan manusia di seluruh dunia. Dalam situasi ini, moral kristiani harus memberi prioritas yang tinggi bagi setiap usaha untuk mencari dimensi yang menyembuhkan dari cinta dan antikekerasan sebagai tanda datangnya kerajaan Allah.

Beberapa teolog moral secara sederhana akan membela kemanusiaan dengan menekan sikap kekerasan ini sampai seminimal mungkin. Sementara itu, yang lain akan berusaha membentuk moral katolik dalam semangat kitab suci dan mencari usaha untuk mengusahakan tindakan anti kekerasan, seperti yang diupayakan oleh Gandhi. Usaha terbesar yang dibuat adalah mengungkapkan bahwa kebebasan yang diberikan oleh Kristus tidak dapat mempertahankan perang karena diakui bahwa kebebasan dan HAM terikat dalam panggilan kita untuk mengusahakan kebebasan itu.

Setiap teolog moral haruslah menjadi seorang saksi yang handal mengenai anti kekerasan sampai pada tingkat personal, sosial, sosial ekonomi dan sosial politik. Hanya dengan pilihan radikal pada pembebasan anti-kekerasan dan pembelaan tanpa kekerasan yang dapat membebasakan kita dari berbagai ideologi yang dapat membuat bertahan dalam kemerdekaan dari alat perang, dalam perdagangan senjata.

Perang nuklir dan berbagai gudang senjata yang dbangun bisa mengakibatkan kehancuran kehidupan manusia dan alam semesta yang seharusnya masih dapat digunakan sekian generasi setelah kita. Rusaknya keseimbangan alam membawa manusia pada akhir hidupnya sendiri. Sekarang ini, teolog moral harus menunjukkan pada umat beriman akan rusaknya alam, termasuk lapisan ozon yang melindungi bumi.


  1. Penutup

Para teolog dipanggil untuk mengungkapkan bahwa Roh Kudus berkarya dalam segala hal untuk menghendaki keselamatan manusia. Para teolog mengajak untuk terbuka tanda-tanda zaman. Alam semesta telah memberi tanda dan kita dipanggil untuk menjawab persoalan mengenai kemanusiaan di masa depan. Ini menjadi pertemuan yang membahas tentang damai, keadilan sosial, solidaritas, dan kelestarian alam ciptaan.

Dengan demikian, jika seluruh Gereja Katolik dan seluruh umatnya dapat mengembangkan kesadaran dan pengatahuannya dan mengikuti iman pada sang pencipta dan penyelamat dalam persoalan ini, kitab suci dan teologi moral akan menjadi lebih berarti dalam kehidupan ini. Hal inilah yang disebut sebagai kesadaran akan suara hati. Umat beriman kristiani terlibat dalam alam semesta untuk mencari kebenaran dan solusi terbaik dalam berbagai persoalan yang muncul dan kehidupan personal dan komunal.


Daftar Pustaka


  1. Curran, Charles E. “Method in Moral Theology: An Overview from an American Perspective”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press.1989.

  2. Curran, Charles E. “Authority and Dissent in the church” dalam Origin 16 tahun 1986

  3. Delhaye, P. The Christian Conscience. New York: Desclee Company.1968.

  4. Dokumentasi dan Penerangan KWI, Hardawiryana, R. (Penerjemah),Dokumen Konsili Vatikan II, Obor, Jakarta. 1993

  5. Häring, Bernard CSsR, “Conscience: The Sanctuary of Creative Fidelity and Liberty”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press. 1989.

  6. Häring, Bernard CSsR. “The Role of the Caholic Moral Theologian” dalam CE. Curran (ed). Moral Theology. Challenges for The Future. New York. 1990.

  7. KWI. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius. 1996.

  8. McCormick, RC.. “The Teaching Office as a guarantor of Unity in Morality” dalam Concilium. 1981.

  9. Peschke, Karl-Heinz SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, Alex Armanjaya (penerjemah). Maumere:Ledalero. 2003.

  10. Ratzinger,J. “Der Auftrag des Bischofs und des Theologen …”, dalam Internationale Katholische Zeitschrift 13, 1984.

  11. Tillard, JMR, OP, “The Roman Catholic Church and Education of Conscience”, dalam One in Christ, New York 1999, 315.

1 P. Delhaye, The Christian Conscience. New York: Desclee Company.1968. 19.

2 Charles E. Curran, “Method in Moral Theology: An Overview from an American Perspective”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press.1989. 90.

3 Bernard Häring CSsR, “Conscience: The Sanctuary of Creative Fidelity and Liberty”, dalam Introduction to Christian Ethics, Ronald P. Hamel dan Kenneth R. Himes OFM (ed). New Jersey: Paulist Press. 1989. 252.

4 J.M.R. Tillard OP, “The Roman Catholic Church and Education of Conscience”, dalam One in Christ, New York 1999, 315.

5 Bernard Häring CSsR, “Conscience: The Sanctuary of Creative Fidelity and Liberty”, 252.

6 KWI. Iman Katolik. Yogyakarta: Kanisius. 1996. 13.

7 A. Heuken. Ensiklopedi Gereja jilid 5. Jakarta: CLC. 2005. 159-164.

8Karl-Heinz Peschke SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, Alex Armanjaya (penerjemah). Maumere:Ledalero. 2003. 231.

9Karl-Heinz Peschke SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, 232.

10J. Kard. Ratzinger, “Der Auftrag des Bischofs und des Theologen …”, dalam Internationale Katholische Zeitschrift 13, 1984, 532, sebagaimana dikutip oleh Karl-Heinz Peschke SVD, Etika Kristiani Jilid I Pendasaran Teologi Moral, 232.

11 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian” dalam CE. Curran (ed). Moral Theology. Challenges for The Future. New York. 1990. 32.

12 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 33.

13 A. Heuken. Ensiklopedi Gereja jilid 5. … 159-261.

14 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 34

15 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”…. 35

16 RC. McCormick. “The Teaching Office as a guarantor of Unity in Morality” dalam Concilium (1981). 76

17 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 35

18 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 37

19 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”.. 38

20 RC. McCormick. “The Teaching Office as a guarantor of Unity in Morality” dalam Concilium (1981). 72.

21 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 40

22 B. Haring. “The Role of the Caholic Moral Theologian”… 42

The Devil and Miss Prym



Sinopsis
Pembaca pertama-tama haruslah meringkas kisah dalam teks. Yang perlu diringkas adalah apa yang terjadi, siapakah tokoh-tokoh utama kisah, bagaimana suatu kejadian dimulai, manakah moment-moment pokok dalam dinamika kisah, manakah kejadian inti dan manakah yang merupakan sampingan namun memiliki pengaruh langsung terhadap kejadian inti, bagaimana kisah ini berakhir dan apa perbedaan antara awal dan akhir kisah.
Aplikasi:

Carlos adalah seorang lelaki asing berumur 52 tahun. Ia datang ke Viscos untuk mencari jawaban akan teori kebenaran yang ia temukan. Di sana, ia bertemu dengan Chantal seorang pelayan bar, di hotel tempat ia menginap. Carlos menunjukkan kepada Chantal sebelas batang emas. Dia mengungkapkan bahwa 10 batang emas akan menjadi milik penduduk Viscos dan sebatang sisianya menjadi milik Chantal bila dalam seminggu mereka melanggar perintah ‘jangan membunuh’. Chantal bisa saja mengambil yang satu itu, namun itu berarti dia melanggar perintah ‘jangan mencuri’.
Chantal mengalami kebingungan untuk memutuskan apakah dia harus menceritakan soal emas itu kepada seluruh penduduk Viscos. Pikirannya menjadi kacau, tidurnya pun terganggu. Di tengah pergumulan dan kebingungannya, Chantal datang kepada Berta, seorang janda tua yang setiap hari duduk di beranda rumah miliknya untuk mengamati Viscos dan menanti suaminya datang. Berta tahu apa yang dialami oleh Chantal, namun ia tidak memberikan jawaban apa-apa kepada Chantal. Ia hanya memberikan saran kepada gadis itu agar mengikuti suara alam dan membiarkan dirinya dituntun menemukan jawaban atas semua permasalahnnya.
Dalam kebingungannya apakah ia harus menceritakan emas itu atau tidak, Carlos menemuinya lagi dan menjelaskan siapakah ia sesungguhnya. Akhirnya, Chantal memutuskan untuk mengumumkan perihal emas tersebut kepada seluruh penduduk Viscos yang biasa berkumpul di bar tempat ia bekerja pada jumat malam. Setelah menceritakan hal itu, Chantal semakin tidak tenang karena ia merasa semua orang di Viscos mempersalahkannya. Hal ini berbeda dengan Carlos yang tetap tenang dengan semua rencananya.
Mendengar apa yang diceritakannya, semua penduduk Viscos menjadi gempar. Sebagian orang tidak percaya. Sebagian orang lainnya seperti Pastor, kepala desa bersama istri, tuan tanah, pandai besi dan pemilik hotel, serius memikirkan hal ini. Mereka yang percaya ini mengadakan pertemuan di Sakristi gereja untuk membahas tawaran ini. Setelah pertemuan itu, dalam perayaan misa Minggu, pastor memberikan kotbah mengenai pengorbanan. Setelah misa, diadakan pertemuan yang kedua untuk menetapkan cara dan korban yang dipilih. Sebuah kesepakatan tercapai dalam pertemuan kedua ini. Kepala desa akan mengatur pertemuan bagi seluruh penduduk laki-laki Viscos untuk menerangkan apa yang menjadi keputusan mereka. Sementara itu, Carlos bertemu lagi dengan Chantal dalam peristiwa serangan serigala di hutan.
Kepala desa menjabarkan seluruh rencana pengurbanan dalam rapat di lapangan Viscos yang diikuti oleh seluruh penduduk laki-laki. Berta ditetapkan sebagai kurban karena dipertimbangkan tidak ada yang merasa rugi kehilangan dia. Pastor mengusukan metode pengurbanan dengan cara eksekusi regu penembak sehingga tidak ada orang yang merasa bersalah. Acara pengurbanan akan diadakan di tugu Celtic pada malam hari. Pastor bersama dengan tiga orang bertugas menjemput dan membawa Berta ke tugu itu.
Seluruh penduduk, termasuk Carlos hadir untuk menyaksikan acara pengurbaan tersebut. Ketika semuanya sudah tertata rapi dan upacara pengurbanan sudah siap, Chantal maju ke depan dan menyadarkan mereka semua dengan cerita tentang raja midas dan pemikiran yang logis. Drama pengurbanan itu tidak terjadi. Viscos kembali ke situasi semula dan Chantal pada akhirnya mampu menjelasakan semua jawaban yang dicari oleh Carlos selama ini. Chantal pun dapat mewujudkan impian sejak kecilnya untuk keluar dari Viscos.

ANALISIS NARATIF

Eksposisi:
Selain sinopsis, yang perlu dilakukan sebelum menemukan dinamika alur kisah adalah membuat suatu eksposisi. Eksposisi adalah sejumlah informasi awal mengenai tokoh utama dan jalannya cerita agar narasi dapat dipahami. Umumnya, narator memberi pengantar dan keterangan sebelum aksi dimulai. Pengantar ini biasanya berupa pemaparan singkat di awal narasi. Fungsi eksposisi adalah memaparkan tokoh utama, setting dan segala hal yang berkaitan dengannya serta pemahaman kunci.
Aplikasi:

Carlos adalah nama samaran yang digunakan (hlm 20) laki-laki berumur 52 tahun. Ia datang ke Viscos pada saat musim dingin. Viscos berpenduduk 281 jiwa. Chantal adalah seorang yatim piatu yang bekerja sebagai pelayan bar di hotel setelah ditinggal mati neneknya (40-41). Carlos ingin membuktikan bahwa semua manusia “jika diberikan kondisi yang tepat, setiap manusia di muka bumi ini pasti akan bersedia melakukan kejahatan” (27).

Momen yang menggugah
Moment yang menggugah adalah saat di mana konflik untuk pertama kalinya dimunculkan dalam narasi. Moment ini diharapakan dapat mengundang minat atau rasa ingin tahu pembaca. Umumnya, moment ini merupakan isi dari berbagai keterangan yang telah diungkapkan dalam eksposisi. Moment ini mengawali komplikasi.
Aplikasi:

Carlos bertemu dengan Chantal, dan ia menunjukkan kepada Chantal sebelas batang emas. Ingin membuktikan teorinya. “kau bisa saja mencurinya kalau mau. Dan kalau kau melakukannya kau melanggar salah satu sepuluh perintah Allah itu: jangan mencuri” (30) “aku ingin kau memberitahu pada penduduk bahwa kau telah melihat sendiri emas-emas iu. Katakan aku akan memberi emas-emas itu kepada mereka dengan syarat mereka bersedia melakukan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.” (31) Carlos ingin penduduk desa melanggar perintah jangan membunuh. “kau boleh saja memutuskan untuk menolak membantuku, bila itu keputusanmu” (33)

Komplikasi I
Komplikasi adalah tahap di mana narator menyuguhkan suatu masalah baru yang memperumit permasalah awal. Tahap perumitan permasalahan ini dapat dituturkan melalui adegan-adegan, kata-kata atau tindakan para tokoh.
Aplikasi

Selama tiga malam Chantal tidak bisa tidur, pikirannya hanya tertuju pada emas-emas yang telah dilihatnya. Chnatal mulai berkhayal bagaimana apabila ia mengambil emas itu dan pergi dari viscos. Dalam kebimbangannya Chantal betemu dengan Berta dan tergoda untuk bercerita tentang emas-emas itu, namun ia tidak mampu (68).
Pada hari keempat, Chantal menemui Carlos atas undanganya melalui secarik kertas. Pada pertemuan kedua itu carlos menceritakan kepada Chantal siapakah dirinya yang sesungguhnya dan menceritakan pengalaman yang mendasari seluruh pencariannya (87-96). Carlos terus menekan Chantal untuk segera melakukan apa yang ia perintahkan “aku mengerti kenapa kau menunda-nunda, tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku juga bisa mengerti bahwa, untuk bergumul dengan dirimu sendiri, kau pelu mengenalku lebih baik dan sekarang kau sudah” (97)

Klimaks
Klimaks adalah puncak komplikasi. Sang tokoh utama dapat mengalami keadaan yang terbaik atau justru sebaliknya. Permasalahan yang dibangun mencapai titik puncaknya dan menuntut penyelesaian yang sedemikian rupa. Tahap ini bisa juga berupa krisis yang menggambarkan dari perencanaan ke pelaksanaan; dari keinginan ke keterpenuhannya (decisive moment).
Aplikasi :

Pada malam harinya, Chantal menceritakan tentang emas-emas itu kepada semua penduduk Viscos yang ada di bar, termasuk Carlos (98-104) “nah, aku sudah mengatakan yang harus kukatakan” (105). Kepala desa yang hadir di bar mengacam melaporkan carlos kepada polisi, namun Carlos merasa tidak terbebani “silahkan, aku telah merekam semuanya, dan satu-satunya komentarku adalah ’Gadis itu menceritakan kisah yang bagus’” bahkan ketika diancam untuk dibunuh Carlos berkomentar “itu sama sekali bukan masalah. Tapi kalau kalian sungguh-sungguh membunuhku, itu artinya kalian melakukan tindakan kejahatan tapi tanpa mendapat imbalannya” (106). Setelah selesai membeberkan cerita itu Carlos mendekati Chantal “Terima kasih telah melakukan apa yang kuminta” (107).

Komplikasi II
Komplikasi II adalah kemunculan masalah baru yang tetap berkaitan dengan pesan utama dari suatu kisah. Tidak semua kisah memiliki komplikasi II.
Aplikasi:

Setelah melakukan permintaan Carlos, Chantal semakin tertekan. Dia merasa seolah-olah semua penduduk Viscos sekarang mengawasinya dan mempersalahkannya. “aku tidak menginginkan apa-apa, aku hanya melakukan apa yang diperintahkan laki-laki itu! Apa kalian semua sudah gila?” Pandai besi menuduh Chantal “kau yang gila. Seharusnya kau tidak menjadikan dirimu juru bicara orang sinting itu! Apa yang kau dapatkan dari semua ini?” Tidak hanya Chantal, Carlos semakin bergulat dengan iblis yang ada disampingnya “Baik itu tidak ada: kebaikan hanyalah satu dari sekian banyak wajah teror”(111). Takut, takut, takut. Hidup adalah kerajaan teror dibawah bayang-bayang pisau jagal. “manusia baik selama rasa takut itu ada.”(118)
Di tengah ketegangan Chantal menemui Berta, dan ia menemukan penghiburan “sekarang pergilah ke hutan dan jernihkan pikiranmu. Kau tahu, bukan kau masalahnya. Dan mereka juga tahu itu, tapi mereka butuh seseorang untuk disalahkan.”(125)
Setelah mendengar cerita Chantal, Pastor, kepala desa bersama istri, tuan tanah, pandai besi dan pemilik hotel berkumpul untuk membahas apa yang akan dilakukan. “dengan satu dan lain cara kita harus menyelamatkan desa ini” (139)
Ketika semua pengendali desa sibuk berkumpul, Chantal bertemu dengan Carlos tanpa sengaja di tengah hutan akibat seekor serigala. Chantal menuntut Carlos ”yah, kurasa aku pantas mendapat emas bagianku, dan aku akan megambilnya, itu kalau kau mengizinkanku.” Setelah berdebat dengan Chantal, Carlos sampai pada sebuah kesadaran ”aku tidak sedang mencoba membuktikan mansia itu jahat. Aku justru ingin membuktikan bahwa tanpa sadar aku memang mengharapkan agar semua kejadian itu menimpaku. Karena aku ini jahat, aku ini sangat hina dan pantas menerima hukuman yang diberikan kehidupan padaku” (156)

Resolusi
Resolusi adalah tahap penyelesaian konflik. Ada perubahan dari situasi yang berlawanan sebelumnya. Meski demikian penyelesaian ini belumlah final. Permasalahan pokok belum benar-benar terselesaikan secara tuntas.
Aplikasi:

Atas usulan kepala desa, pastor merancang kotbah yang bertema soal pengorbanan. “saya ulangi: pengorbanan Putera Allah menyelamatkan kita semua. Pengorbanan satu orang” (163) Sebuah afirmasi akan apa yang akan dilakukan penduduk Viscos dua hari lagi. “marilah kita berdoa dengan suara lantang, supaya Tuhan mendengarkan kita dan tahu kita melakukannya demi kebaikan Viscos” (173). Rapat kedua selesai dan Berta telah ditetapkan sebagai kurban. Alasannya adalah: “dia sudah tua, hidupnya sudah hampir berakhir, dia satu-satunya orang di desa yang tidak melakukan sesuatu yang berarti”. (179) Setelah pertemuan, kepala desa mengadakan pertemuan di lapangan untuk memaparkan semua hasil pertemuan yang telah dilakukan (209). Pastor menjelaskan metode eksekusi seperti regu penembak agar semua tidak merasa bersalah “dengan begitu kalian boleh menganggap diri kalian tak bersalah”.(212)

Kesimpulan
Di sinilah hasil akhir dari resolusi. Apa yang belum selesai itu mendapatkan titik akhirnya di sini. Biasanya tahap ini menunjukkan pada pembaca bagaimana nasib akhir tokoh utama. Dapat juga ditunjukkan pengajaran moral yang sebenarnya hendak disampaikan oleh narator kepada pembaca.
Aplikasi:

Akhirnya acara pengurbanan disiapkan, dan mengambil tempat di tugu Celtic di dalam hutan. Pastor bertugas menjemput Berta sedangkan semua penduduk bersama Carlos berjalan bersama menuju tempat tersebut (229-232). Namun sebelum semua senapan ditembakkan, Chantal maju ke depan “tunggu sebentar”(233). Chantal meminta emas itu di perlihatkan, dan setelahnya ia mengajukan beberapa gambaran apa yang akan terjadi nantinya setelah acara pengorbanan tersebut (234-242), Chantal juga menceritakan kisah raja Midas hingga pada akhirnya upacara itu tidak jadi dilaksanakan.
“aku bisa memberikamu jawaban yang kau cari-cari, kalau saja waktu itu jawaban itu terpikir olehku”. Lalu Chantal menceritakan kisah St Savin yang bertemu Ahab kepada Carlos. Chantal memberikan jawaban yang dicari Carlos selama ini bahwa semua itu adalah soal pilihan dan pengendalian diri (247).
Chantal akhirnya dapat pergi dari Viscos atas kebaikan Carlos. Berta dapat menikmati kolam buatan kepala desa untuk upah tutup mulutnya. Sebelum Chantal pergi Berta berpesan “dan sekarang kau akhirnya melakukan seperti yang kuusulkan kepadamu, anakku. Satu hal yang bisa kukatakan dengan pasti: hidup bisa terasa amat panjang atau sangat singkat, tergantung bagaimana kau menjalaninya.” (250)

Sumbangan Analisis Naratif di dalam Penafsiran
a.Mengungkapkan inti dari novel The devil and Miss Pryim yang termuat dalam sinopsis dan eksposisi tanpa harus membaca keseluruhan novel.
b.Menunjukkan hubungan antara tokoh utama Carlos dengan yang lain secara jelas.
c.Menarik minat pembaca untuk mengikuti penceritaan yang tersusun dalam tahapan-tahapan yang sedemikian rupa.
d.Memberikan beberapa tawaran nilai tanpa harus menggurui.

Kritik terhadap Pendekatan Analisis Naratif
a.Penafsiran ini sangat tergantung alur kisah, waktu, setting dan momentum. Analisis ini akan sulit diterapkan untuk model-model sastra ringkas seperti puisi, pantun dan lagu.
b.Peran tokoh utama (Carlos) dapat menutup tokoh-tokoh yang lain karena semua momentum hanya difokuskan bagi si tokoh utama saja.

Sekedar catatan:
Analisa naratif memang sangat membantu dalam usaha penafsiran. Namun analisa ini memiliki kelemahan pokok yakni peran tokoh utamanya begitu dominan sehingga dapat menutup tokoh-tokoh lain. Pembaca mungkin akan kesulitan untuk memahami posisi tokoh-tokoh yang lain. Selain itu, analisa naratif tidak secara tegas menunjukkan apa yang sebenarnya hendak dikatakan oleh teks (pesan utama kisah). Bertolak dari kritik tersebut, tulisan ini menawarkan pendekatan lain yakni analisa struktural. Dalam analisa struktural, peran-peran para tokoh akan terlihat jelas dilihat dari hubungannya dengan subjek sebagai tokoh utama. Selain itu, analisa struktural akan membantu pembaca (penafsir) menemukan semantik dan transformasi dasariah yang termuat dalam suatu teks.

Aplikasi analisa struktural dalam novel The Devil and Miss Pryim





Tiga Tes
1.Tes Kualifikasi:
Carlos menerangkan “Katakan saja aku orang yang sudah cukup lama mencari kebenaran. Akhirnya aku menemukan teorinya, tapi tidak pernah mempraktekannya” (27)“Aku menemukan bahwa jika dihadapkan pada pencobaan, kita selalu gagal.” (27) dan “Jika diberikan kondisi yang tepat manusia di muka bumi ini aka bersedia melakukan kejahatan.” (27)
Bukan masalah apa yang aku atau kau “Ini masalah membuktikan teoriku benar atau tidak. Aku telah mengalami hal-hal yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun.” (28) tidak ada hubugannya dengan kau dan desamu ”Aku harus tahu apakah kita ini baik atau jahat” (32). Kita akan lihat “Kalau aku meninggalkan desa ini dan emasku masih utuh, maka semua yang ingin kupercaya terbukti bohong belaka.” (32)
Carlos mejelaskan dirinya kepada Chantal “Aku telah kehilangan sesuatu yang paling berharga yang dapat dimiliki oleh seorang manusia: kepercayaanku kepada sesamaku.” (94) dari semunaya satu pertanyaan saja “Aku ingin tahu apakah, jika baik dan jahat berhadap-hadapan, ada saatnya entah seperdetik lamanya, baik kemungkinan akan menang” (94-95) karena seorang filsuf pernah berkata: Untuk mencapai yang terbaik dalam dirinya manusia membutuhkan yang terburuk dalam dirinya (155)

2.Tes Pokok
“Aku terlalu lelah untuk melihat dari sudut yang lebih positif: bahwa aku gagal. Namun sekarang aku memiliki keberanian; aku telah sampai ke titik paling rendah dan menemukan di sanapun ada cahaya.” (155)
“Aku tidak sedang mencoba membuktikan mansia itu jahat. Aku justru ingin membuktikan bahwa tanpa sadar aku memamng mengharapkan agar semua kejadian itu menimpaku. Karena aku ini jahat, aku ini sangat hina dan pantas menerima hukuman yang diberikan kehidupan padaku.” (156)

3.Tes pujian
Tapi rencananya gagal. Dan sekarang sudah terlambat carlos tidak bisa mengubah keputusannya (226)
Mereka mulai meninggalkan tanah lapang, yang tua lebih dahulu, lalu yang lebih muda. (242)
“Emas ini millik” desa kata orang asing itu. (244)
“Kelihatannya aku kehilangan emas, tapi tidak menapatkan jawabannya”
“Bisakah kau memberikan jawaban itu sekarang?” (245)
Baik dan jahat bertarung dihati mereka, sama seperti di dalam setiap jiwa yang ada di muka bumi ini. (246)
Semuanya hanya masalah pengendalian diri dan pilihan. Tidak kurang tidak lebih (247)
Carlos telah mengurus semuanya, menandatangani semua dokumenyang diperlukan untuk memindahkan kepemilikan emas itu sehingga bisa dijual dan uangnya didepositokan dalam rekening Chantal. (249)


Hirarki oposisi
Ada beberapa kontras-kontas yang kerap kali muncul dalam novel ini.

ANALISIS SEMANTIK

I.Dari keempat oposisi-oposisi ini, yang menjadi payung utamanya adalah oposisi baik-jahat. Dalam keseluruhan novel, tema ini diangkat dan diterjemahkan dalam bentuk yang bervariasi
a.Oposisi baik – jahat
Dalam novel The devil and miss Prym, perlawanan antara baik jahat sudah terasa sejak awal sampai dengan akhir kisah. The devil mewujud dalam diri Carlos dan Miss Pyrm adalah Chantal. Perlawanan ini ditampilkan berulang kali baik melalui percakapan ataupun dengan gambaran situasi yang ada dalam cerita seperti berikut:
Jahat telah tiba di Viscos tidak mengubah apa-apa: iblis datang dan pergi setiap saat dan kehadiran mereka tidak mengubah apapun. (13)
Sebagai mantan katolik yang baik, Berta tidak percaya pada tahkhayul dan tradisi. Tapi Berta yakin mengenai satu hal, ia telah melihat sang iblis. Dalam wujud manusia dan berpakaian seperti musafir. (14-15)
Aku menemukan bahwa jika dihadapkan pada pencobaan, kita selalu gagal. Jika diberikan kondisi yang tepat manusia di muka bumi ini aka bersedia melakukan kejahatan.” (27)
Sepanjang hidup aku manusia yang baik sekaligus jahat, dan akulah orang yang paling tepat menjawab pertanyaanku sendiri mengenai hakekat kemanusiaan dan karena itulah aku datang kesini. (28)
Aku harus tahu apakah kita ini baik atau jahat. Kalau baik, Tuhan pasti adil dan dia akan mengampuni semua yang telah kulakukan. Kalau kita memang jahat, itu artinya apapun boleh dilakukan (32-33)
Cerita St Savin seorang yang mengasingkan diri dan Ahab seorang penjahat. Ahab akhirnya menemukan seseorang yang menganggap dirinya baik. (39-41)
Tidak ada namanya kebaikan sejati, tidak di tanah orang-orang pengecut ataupun di surga Tuhan yang maha besar, yang menaburkan penderitaan di mana-mana, hanya supaya kita bisa menghabiskan seluruh hidup kita memohon-mohon padanya untk melepaskan kita dari yang jahat (62)
”bagaimanapun kau datang ke Viscos untuk belajar mengenai sifatmu sendiri, untuk mencari tahu apakah kua baik atau jahat”(87)
Tragedi selalu terjadi, dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk menjelaskan kejahatan yang telah menanti kita. ” baik itu tidak ada: kebaikan hanyalah satu dari sekian banyak wajah teror” (111)
Mereka jahat karena mereka memilih pengalaman pribadi menjadi jahat, dan sekarang mereka ingin meneruskannya kepada sesama mereka, dalam lingkarang pembalasan dendam yang abadi. (117)
Berta mengusap kepala Chantal. Ia merasakan baik dan jahat tengah bertempur sengit di dalam kepala itu. (130)
Jika baik akhirnya ingin menggerakkan hati orang-orang ini, jahat perlu mewujudkan diri terlebih dulu. (192)
”Kau tidak tahu apakah kebaikan itu. Kau diracuni kejahatan yang dilakukan terhadapmu, dan sekarang kau menyebarkan kejahatan itu di seluruh tanah kami.” (224)
Kalau ada satu orang saja yang menyelamatkan desa ini, dunia pun akan selamat, itu artinya harapan masih ada, kebaikan akan semakin dikuatkan, teroris akan menyadari kejahatan yang mereka lakukan, akan ada maaf, dan har-hari penderitaanya hanya tinggal kenangan pahit yang sanggup dihadapinya, dan mungkin ia dapat mencari kebahagiaan lagi. (226)
Baik dan jahat bertarung dihati mereka, sama seperti di dalam setiap jiwa yang ada di muka bumi ini. (246)

b.Aktif – pasif
Dari payung oposisi baik- jahat yang ada dalam novel The Devil and Miss Prym ini, tampil oposisi lain yang cukup kuat yaitu aktif –pasif. Oposisi ini terlihat cukup membantu untuk menunjang payung tersebut
Orang pertama yang diumpainya ketika ia berjalan kembali ke desa adalah seorang perempuan muda yang duduk di tepi sungai musiman yang hanya mengalir saat es mencair jauh di pegunungan. Maka ia mengahmpiri si gadis.
Aku bukannya ingin memperlihatkan Viscos. Aku ingin memperlihatkan sesuatu yang belum pernah kaulihat. (21)
Lelaki itu mangambil dahan, mematahkanya dan memberikannya kepada Chantal untuk dipakai menggali. (22)
Kau boleh saja memutuskan untuk menolak membantuku. Bila iu keputusanmu aku akan memberi tahu mereka bahwa aku telah memberimu kesempatan untuk membantu mereka, tetapi kau menolak. (33)
Ia menceritakan kisah demi kisah, yang disimak para pendengarnya dengan minat dan rasa segan yang dipenuhi kebencian atau, lebih tepatnya sikap tunduk tanpa nyali (53)
Lelaki itu memberikan pesan kepada chantal, namun ia hanya memasukkannya ke saku seolah tidak penting. (79)
”Malam ini aku akan melakukan apa yang kau minta”(87)
untuk ketiga kalinya semua orang di bar menoleh pada orang asing. Sekali lagi ia mengangguk. (105)
”kalian boleh menembak kalau mau, tapi karena aku tahu ini jebakan si orang asing, aku tdiak mau ikut terlibat” (241)
”seharusnya kau bersyukur atas semua yang terjadi, karena dengan menunjukkan emas itu padamu, aku tidak hanya memberimu kesempatan menjadi kaya, melainkan juga memaksamu untuk bertindak, untuk berhenti mengeluhkan segala sesuatu, dan mengambil sikap.” (244-245)
Semuanya hanya masalah pengendalian diri dan pilihan. Tidak kurang tidak lebih (247)

c.Individu – kelompok
Oposisi berikutnya yang mendukung oposisi baik – jahat dan sekaligus masih berkaitan dengan oposisi aktif – pasif adalah oposisi pribadi – kelompok. Memang tidak terlalu sering muncul, namun di dalam teks ada seperti:
”Aku pergi ke tempat terpencil dimana penduduknya memandang hidup dengan perasaan bahagia, damai dan pepenuh kasih sayang.”(29)
Viscos tidak cukup menarik perhatian siapapun selama lebih dari satu hari, apalagi orang sepenting dan sesibuk utusan dunia kegelapan. (13)
Chantal memutuskan akan menceritakan kisah itu nanti malam, di hadapan semua orang di bar.
”desa ini kelihatannya berubah” ujar berta. (67)
” Kau menggunakan orang lain untuk menyelesaikan konflikmu, tapi kau sendiri tidak mampu mengambil keputusan” (87)
”aku ingin kalian semua mendengarkan”
Semua orang memelototi Chantal, namun tak seorangpun bicara padanya. Dibalasnya tatapan mereka karena ia tahu, bagaimanapun, ia tidak dapat disalahkan. (169)
“kalian boleh menembak kalau mau, tapi karena aku tahu ini jebakan si orang asing, aku tdiak mau ikut terlibat” (241)

d.Pertanyaan - Jawaban
”Katakan saja aku orang yang sudah cukup lama mencari kebenaran. Akhirnya aku menemukan teorinya, tapi tidak pernah mempraktekannya” (27) “Aku menemukan bahwa jika dihadapkan pada pencobaan, kita selalu gagal.”
”Aku tidak sedang mencoba membuktikan mansia itu jahat. Aku justru ingin membuktikan bahwa tanpa sadar aku memang mengharapkan agar semua kejadian itu menimpaku. Karena aku ini jahat, aku ini sangat hina dan pantas menerima hukuman yang diberikan kehidupan padaku.” (156)
Bisakah kau memberikan jawaban itu sekarang?” (245)
“aku bisa memberikamu jawaban yang kau cari-cari, kalau saja waktu itu jawaban itu terpikir olehku”. (247)

Dari oposisi baik – jahat yang ditemukan sebagai payung dari novel The Devil and Miss Prym, dapat dikatakan makna yang ada dalam teks bergerak untuk membuktikan bahwa untuk mengetahui adanya kebaikan, seseorang tidak perlu melakukan kejahatan terlebih dahulu. Makna ingin mencounter apa yang tertulis dalam teks yaitu : Jika baik akhirnya ingin menggerakkan hati orang-orang ini, jahat perlu mewujudkan diri terlebih dulu (192). Semuanya hanya masalah pengendalian diri dan pilihan. Karena baik dan jahat selalu ada dalam diri manusia dan keduanya bertarung setiap saat. Pilihan siapa yang menang ada di tangan manusia untuk mengendalikan diri.

II.Refleksi
Novel ini menawarkan suatu transformasi dasariah nilai yang dipertaruhkan, yaitu bahwa: semua orang pada dasarnya jahat seperti apa yang tertulis dalam teks: ”Jika diberikan kondisi yang tepat manusia di muka bumi ini aka bersedia melakukan kejahatan.” Setiap orang biasanya akan terpengaruh ketika bertemu dengan harta dan kekuasaan. Semua akan mudah tergoda ketika ditawarkan keduanya, terlebih pria akan lebih cenderung memilih jahat bila bertemu dengan kedua hal ini ditambah dengan wanita.
Tesis Carlos menjadi mentah karena ada satu orang yang mengatakan tidak atas tawaran yang diberikannya. Kalau ada satu orang saja yang menyelamatkan desa ini, dunia pun akan selamat, itu artinya harapan masih ada, kebaikan akan semakin dikuatkan, teroris akan menyadari kejahatan yang mereka lakukan, akan ada maaf, dan har-hari penderitaanya hanya tinggal kenangan pahit yang sanggup dihadapinya, dan mungkin ia dapat mencari kebahagiaan lagi. Artinya semua manusia memiliki kemapuan untuk menolak yang jahat dan memilih yang baik, namun tergantung dari situasi dan disposisi seseorang.
Novel ini berbicara sesuatu yang aktual untuk kehidupan sehari-hari. Di tengah tawaran dunia yang bergitu banyak, ada yang baik dan jahat maka kita dihadapkan pada pilihan dan segala keputusan ada di tangan kita. Seperti dalam teks : Semuanya hanya masalah pengendalian diri dan pilihan, Tidak kurang tidak lebih. Manusia menjadi tuan atas dirinya ketika ia mampu mengedalikan diri dan membuat keputusan atas pilihan yang disodorkan kepadanya.
Setiap manusia tidak pernah lepas dari baik dan jahat, keduanya selalu ada dan berjalan besama dalam kehidupan manusia secara bersama. Baik dapat menjadi lebih besar dari jahat, namun pada saat tertentu jahat juga dapat menjadi lebih besar dari baik. Terkadang baik dan jahat yang berjalan di samping diri kita juga dipengaruhi oleh faktor dan orang lain yang ada di sekitar kita. Namun semua tegantung pada pilihan yang dibuat oleh setiap manusia.
Tawaran ini menuntut kesadaran untuk menentukan suatu nilai yang hendak diperjuangkan, dicapai, menyusun prioritas, dan akhinya mengambil suatu tindakan dengan segala risiko dan akibat yang akan timbul dari pengambilan keputusan. Dalam permenungan dan masa mempertimbangkan sebuah keputusan inilah, apa yang disebut roh baik danroh jahat bertempur dan menuntut si pelaku untuk mengambil sebuah keputusan dengan meniadakan keputusan yang lain. Sebuah keputusan yang diambil berarti meniadakan pilihan keputusan yang lain.

Analisis Hermaneutika Paul Ricoure
Kategori:
1.Terpatrinya wacana dalam tulisan
2.Objektivasi melalui struktur  Terlihat dalam analisa Struktural (halaman 5)
3.Dunia baru yang dibuka/ pesan utama teks  Dalam analisa semantik langkah ke empat (halaman 9-10)
4.Pemahaman diri/ apropriasi

a.Kritik ideologi
Dalam novel The Devil and Miss Prym, ditonjolkan sebuah pergulatan antara memilih antara yang baik dan jahat. Dalam novel ada pandangan yang mengatakan bahwa manusia pada hakekatnya adalah jahat, namun di sisi lain ada juga yang berpendapat bahwa manusia itu baik. Namun pasti manusia akan memilih berpihak pada yang jahat ketika mendapat tawaran pas. Sepertinya harta dan kekayaan akan memuaskan semua manusia sehingga akan didapatkan dengan cara apapun
Pandangan seperti ini sedang marak dalam masyarakat. Banyak orang yang percaya bahwa dengan harta semuanya dapat dibeli bahkan kebaikan dan moralitas seseorang atau kelompok. Contoh yang jelas adalah praktek suap dan korupsi seakan mengafirmasi semua urusan akan beres ketika ada uang. Semuanya dapat diukur dengan materi. Hal ini tidak benar, karena dalam hidup ada hal yang tidak dapat diukur dengan materi seperti cinta, kesetiaan, kejujuran, dll

b.Dekonstruksi
Kejujuran, cinta dan kesetiaan adalah contoh hal-hal yang tidak dapat diukur dengan materi. Apabila cinta seorang ibu yang telah mengandung selama semilan bulan, merawat, membesarkan dan mendidik seorang anak diukur dengan materi, maka setiap orang di dunia ini masing-masing berhutang kepada ibunya masing-masing sebesar nominal yang sudah dikeluarkan. Dapat dibayangkan kalau itu terjadi, maka yang tidak memiliki hutang adalah mereka yang tidak pernah dilahirkan dan hidup di dunia.
Mungkin ada yang mengatakan bahwa kejujuran dan kesetiaan jaman sekarang mudah untuk dibeli dan diukur dengan harta? Namun apakah benar? Apakah semua orang benar-benar begitu? Bagaimana dengan suami yang setia mendampingi istrinya yang sakit selama bertahun-tahun? Bagaimana dengan mereka yang memiliki komintmen untuk hidup sendiri dan setia melayanai orang lain tanpa imbalan apapun?
Tidak semuanya dapat dibeli, diukur dan di tukar dengan harta da kekayaan. Harta dalam bentuk benda dapat dimakan ngengat dan karat. Maka yang baik untuk dimiliki adalah harna yang non fisik yang tidak dapat dimakan ngengat dan karat. Salah satunya adalah hati. Karena hati adalah kekayaan yang tidak ternilai dan tidak habis dimakan waktu.

c.Analogi permainan
Ketika sesuatu harus diperjuangkan entah itu sesosok pribadi atau keyakinan maka apapun akan dilakukan. Semuanya akan dikorbankan untuk mendapatkan yang diinginkan dengan cara apapun seperti terungkap dalam bait-bait berikut:

Ketika kuhadapi kehidupan ini
Jalan mana yang harus kupilih.
Kutahu ku tak mampu, ku tau ku tak sanggup.
Hanya kau Tuhan tempat jawabanku
Akupun tau ku tak pernah sendiri
Sbab Engkau Allah yang menggendongku
Tanganmu membelaiku cintamu memuaskanku
Kau mengangkatku ke tempat yang tinggi
JanjiMu seperti fajar pagi hari.
Dan tiada pernah terlambat bersinar
cintamu seperti sungai yang mengalir
dan ku tau betapa dalam kasihMu