Presbiter: Pribadi yang Terpanggil demi Kristus dan Gereja
Gereja adalah umat Allah, komunitas kaum beriman kepada dan dalam Kristus. Gereja yang berpusat pada Kristus dan umat beriman menyadari pentingnya pelayan tertahbis. Seorang presbiter adalah seorang pribadi yang terpanggil demi Gereja dan demi Kristus sendiri yang memanggilnya. Dengan seluruh hidupnya, presbiter meneladan Yesus Kristus. Dia membuka diri untuk dikuasai, digerakkan, dan dihidupi oleh Roh Allah sendiri (Luk. 4, 18-19). Ia membuka diri dan mengalami kehadiran Allah baik dalam doa, maupun dalam setiap peristiwa hidup sehari-hari1.
Sebagai seorang pribadi yang terpanggil demi Kristus, seluruh hidupnya mengacu kepada Kristus. Dengan seluruh kesaksian hidupnya, ia sehati dan seperasaan dengan Kristus. Seperti halnya Kristus membuatnya, hidupnya ditandai dengan sikap dasar pengabdian kepada Allah dan umatnya (PDV 21). Karena tahbisan yang diterimanya, presbiter diserupakan dengan Kristus dan dipanggil untuk meneladan dan menghayati cinta kasih pastoralNya. Semangat dasar yang dimilikinya adalah semangat kesiapsediaan (disponibilitas), kerendahan hati, dan kegembiraan dalam menerima perutusan yang dipercayakan kepadanya demi pelayanan kepada Gereja. Dengan tahbisannya, Gereja memohon agar Roh Kudus berkarya dalam diri presbiter sebagaimana membangkitkan Yesus Kristus dari kematian.
Dengan karunia Roh yang diperbarui dalam hati mereka, seorang presbiter terpanggil dan dimampukan untuk mewartakan sabda sehingga kabar gembira dari Kristus sampai di tengah umat beriman. Presbiter melaksanakan berbagai pelayanan, termasuk didalamnya pelayanan sakramen demi pelayanan kepada Gereja. Seorang presbiter menampilkan wajah manusiawi dari kehadiran Allah bagi manusia sekaligus juga menyampaikan apa yang menjadi pergulatan umat beriman kepada Allah. Seluruh hidup presbiter, baik pewartaan maupun usahanya sekaligus merupakan ungkapan iman mereka sendiri dan kepentingan seluruh Gereja.
Sebagai pribadi yang terpanggil demi Kristus dan demi Gereja, presbiter mempunyai tugas mewartakan sabda, melayani, dan memimpin jemaat. Sebagai pelayan, presbiter mengakomodir umat supaya mereka dapat terlayani dengan baik sehingga iman umat semakin didewasakan dan membawanya pada keselamatan. Presbiter mampu menjalankan tugas dalam kelompok/paguyuban sehingga setiap umatnya mampu terlibat dalam kehidupan dan perjuangan iman seluruh Gereja dengan segala keanekaragaman pergulatan dan perjuangannya. Presbiter sebagai pewarta sabda tidak terbatas dalam berkotbah di mimbar, namun pertama-tama dan utama bagaimana sabda dihidupi dan menggema dalam kesaksian yang hidup2.
Semua orang Kristen yang dibaptis mengambil bagian dengan pelbagai cara dalam satu imamat Yesus Kristus. Presbiter yang ditahbiskan mengambil bagian dalam misteri itu dengan suatu cara lebih penuh karena lewat tahbisan, ia menjadi “rekan serta pembantuNya, untuk dengan rendah hati melayani karya pengudusan…dan dalam merayakan Ekaristi bertindak sebagai pelayan Dia, yang dalam liturgi tiada hentinya melaksanakan tugas imamatNya melalui Roh-Nya demi keselamatan kita (PO 5). Sebagai pemimpin jemaat, Presbiter menjadi minister umat beriman dalam keterlibatannya sesuai dengan tugas perutusan masing-masing. Ia tidak berarti mengkomando umat, berdiri di depan mengarak umat beriman sebagai pengikut atau bahkan menjadi bawahannya, namun lebih menampilkan diri sebagai seorang minister yang dengan kesaksian hidupnya menjadi teladan bagi umat beriman dan mengajak umat beriman agar mengalami kasih Allah secara personal.
Presbiter ambil bagian dalam hidup imami komunitas dan Kristus. Presbiter bertindak dalam model imami bila ia mengingatkan seluruh umat tentang panggilannya mewartakan sabda dan kabar germbira Yesus Kristus. Presbiter melaksanakan tindakan-tindakan kemanusiaan Kristus sebagai penghubung yang membawa kuasa Allah untuk bertindak dalam komunitas umat beriman. Ia ikut ambil bagian dalam imamat Yesus Kristus. Ia ikut ambil bagian dalam Yesus Kristus yang mendamaikan manusia dengan Allah dan mengkuduskan manusia sehingga layak dihadapan Allah. Hal itu dilakukan dengan menemukan suatu dasar pijakan yang tepat untuk menemukan kebenaran, berlaku adil terhadap minoritas umat dengan tanpa membiarkan pandangan ekstrim tertentu menentukan cara pandang hidupnya, entah untuk mayoritas umat ataupun minoritas umat, mampu mendengarkan dan membedakan kata-kata injil yang dialamatkan kepada masyarakat dan umat beriman atau hanya mendengan Injil dalam suatu kerangka ideologis yang disiapkan oleh masyarakat kita.
Profesionalitas presbiter terletak dalam keahliannya menjalankan apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh seluruh umat beriman Kristiani. Dengan kesanggupannya sebagai pribadi yang terpanggil, dia melayani sebagaimana dibuat oleh komunitas umat beriman. Dengan kesaksian hidupnya, dia menjadi penghubung sehingga manusia sampai kepada Allah. Imam menjadi penghubung umat Allah melalui ambil bagian dalam Kristus. Imam bertindak sebagai penghubung Allah dengan manusia, umat beriman dengan Kristus. Presbiter mewartakan Yesus yang wafat dan bangkit sebagai sebuah penghubung yang sempurna antara Allah dan manusia ini, sampa kepada semua orang. Presbiter mengenal umatnya (dombanya), mengenal arah dan tujuan hidupnya, dan mampu menghantar menuju ke sana3. Presbiter adalah guide iman. Konsep gembala dan domba dipahami secara baru, yakni presbiter dan umat yang saling menggembalakan4. Presbiter dan umat menjadi gembala satu terhadap yang lain. Mereka saling menjadi sahabat seperjalanan yang mengenal satu dengan yang lainnya. Presbiter menjadi sahabat bagi umatnya dan umat menjadi sahabat bagi presbiternya. Sebagai sahabat, presbiter sungguh menjadi bagian dari orang lain, sungguh mengenal, merasakan, dan solider dengan yang lain. Sebagai sahabat, ia bisa menjadi rekan sharing. Dari sharing itulah, seorang presbiter akan mengetahui apa yang dibutuhkan umatnya.
Sebagai seorang teman seperjalanan, seorang presbiter mengembangkan keutamaan-keutamaan relasi antarsubyek, saling membina, penghargaan terhadap pribadi, dan mengembangkan musyawarah/duduk bersama untuk mengelola konflik. Relasi antarsubyek mengandaikan adanya penghargaan terhadap proses dialog, penghargaan terhadap keanekaragaman penafsiran, dan penghargaan terhadap pengalaman masing-masing pribadi. Dalam keanekaragaman tersebut, mereka saling membina. Ada kepedulian untuk memuji sebuah keberhasilan, memberikan teguran pada teman yang keliru dan mau meneguhkan teman yang sedang jatuh. Seorang presbiter menyadari bahwa setiap umatnya, sebgai teman seperjalanan mempunyai latar belakang, warna pribadi, dinamika perkembangan, dan pilihan cara bertindak yang unik. Ada penghargaan dan penerimaan terhadap perbedaan sebagai hal yang menentukan dna amat dibutuhkan dalam proses perkembangan dan kematangan rohani individual dan sosial. Dalam kesadaran akan keanekaragaman dan perbedaan tersebut, dikembangkan musyawarah atau duduk bersama dalam pengambilan suatu penegasan bersama kehidupan iman komunitas.
Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, seorang Presbiter menampilkan jatidiri yang mampu menjadi minister berbagai keunikan umat beriman. Ada suatu dialog dan toleransi terhadap keunikan pribadi dalam menjalani kehidupan iman sekaligus tidak terbawa arus dalam arus komunitas. Presbiter terrbuka terhadap perbedaan, mampu mempersatukan, dan mampu berdialod dengan semua pihak untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dialog merupakan pertemuan dengan yang lain yang menuntut kerendahan hati, penerimaan, ketulusan, dan hormat yang mendalam (Discovery the facer of Jesus in Asia Today 3.8). Keterbukaan terhadap pihak lain ini tumbuh berkembang karena kayakinan bahwa Roh Kudus juga berkarya di luar Gereja.
Oleh karena itu, seorang presbiter dituntut untuk mampu bekerja sama dengan siapa pun yang berkehendak baik dalam meperjuangkan kehidupan bersama5. Diharapkan seorang presbiter sungguh menyelami masyarakat beserta segala gejolak perkembangannya; masak dalam berpikir, bukan saja mampu melihat persoalan tetapi juga mampu mencari pemecahannya; mampu bertukar pandangan dengan orang yang berpendapat lain dan mampu memprakarsai sesuatu yang baru6.
Hidup imamatnya menjadi penuh dalam keterlibatannya dan menjadi bagian dari kelompok umat beriman. Jika dia terlepas dari kelompok umat beriman, wajah manusiawi Allah yang direfleksikan dan ditampilkan kepada umat beriman menjadi tidak mengena dalam kehidupan umat beriman. Dialog terjadi dalam perjumpaan seorang presbiter dengan rekan-rekan presbiter, dengan umat, dan dengan semua warga masyarakat. Secara khusus, dalam kehadirannya di tengah-tengah masyarakat yagn miskin, seorang presbiter hendaknya mampu tampil sebagai saudara bagi kaum miskin, peka terhadap situasi hidup mereka, dan mewujudnyatakan belarasa dan solidaritas mendalam terhadap nasib mereka.
LG 24 menyebutkan bahwa Imamat adalah suatu pelayanan. Dalam segala situasi, pelayanan presbiter adalah suatu pelayanan dan suatu penghadiran kembali Imamat Kristus dan Imamat Gereja. Presbiter selalu ada untuk kepentingan umat dan untuk pelayanan imamat umum umat yang berguna melahirkan, menghidupkan, serta menumbuhkan kekuatan-kekuatan dalam diri mereka. Seorang presbiter harus mengenal medan karya dan umatnya dengan sgala keanekaragaman dimensi sosial historisnya. Presbiter mengetahui kebutuhan umat. Dengan kehadirannya, presbiter mestinya membawa kedamaian, bukan permusuhan.
Daftar Bacaan Acuan
Dewan Karya Pastoral KAS.
2006 Baharuilah Seluruh Muka Bumi. Nota Pastoral tentang Arah Dasar KAS 2006-2010. Muntilan: DKP KAS.
Komisi Tindak Lanjut Tumbuk Ageng.
2000 Visi Misi Pendidikan dan Garis Besat Tata Hidup Bersama. Yogyakarta: Seminari Tinggi St. Paulus.
Konferensi Waligereja Indonesia
1993 Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI.
Mangunwijaya , YB.
1999 Gereja Diaspora. Yogyakarta: Kanisius.
Nouwen, J. M Henri
1993 Dalan Nama Yesus. Permenungan tentang Kepemimpinan Kristiani. Yogyakarta: Kanisius.
Power , N. David
2003 Imam Masa Kini. Maumere: Ledalero.
1 Henri J. M Nouwen. Dalan Nama Yesus. Permenungan tentang Kepemimpinan Kristiani. Yogyakarta: Kanisius.1993. 45
2 YB. Mangunwijaya. Gereja Diaspora. Yogyakarta: Kanisius. 1999. 52-56.
3 Henri J. M Nouwen. Dalam Nama Yesus… 32
4 YB. Mangunwijaya. Gereja Diaspora …79-83.
5 Dewan Karya Pastoral KAS. Baharuilah Seluruh Muka Bumi. Nota Pastoral tentang Arah Dasar KAS 2006-2010. Muntilahn: DKP KAS. 2006. 38
6 Komisi Tindak Lanjut Tumbuk Ageng. Visi Misi Pendidikan dan Garis Besat Tata Hidup Bersama. Yogyakarta: Seminari Tinggi St. Paulus. 2000. 8-9.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar