Kamis, 01 Mei 2008

Kesepian dalam Keluarga

Kesepian dalam Keluarga

Hampir semua manusia mengalami satu tahap kehidupan yang disebut perkawinan. Perkawinan merupakan sebuah upacara penyatuan dua jiwa menjadi keluarga melalui upacara pernikahan. Perkawinan menjadi suatu tahap dalam menjalani kehidupan sebagai komunitas terkecil, entah itu komunitas kristiani atau komunitas masyarakat. Dengan perkawinan, dua orang dewasa yang berlainan jenis mengambil kesepakatan bersama untuk membentuk sebuah keluarga selama hayat hidupnya. Beberapa agama mengajarkan bahwa pernikahan menjadi suatu tahap orang dalam menghayati imannya. Perkawinan menjadi awal terbentuknya keluarga, yaitu komunitas terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami/ayah, istri/ibu, dan anak-anak.

Dalam perkembangan waktu, perkawinan sebagai sebuah usaha untuk menjalani kehidupan bersama antara pasangan suami istri seringkali mengalami tantangan dan kesulitan. Beberapa pasangan mengalami perkawinan-perkawinan yang bermasalah. Jika tidak disadari dan tidak diselesaikan sesegera mungkin, permasalahan-permasalahan dalam perkawinan ini akan mempunyai akibat-akibat yang merugikan satu dengan yang lainnya. Akibat yang terbesar adalah perpisahan. Dalam menghadapi masalah-masalah tersebut, ada kalanya beberapa pasangan memutuskan untuk berpisah satu dengan yang lainnya.

Kesepian dalam Keluarga

Perkawinan yang diharapkan menjadi kesepakatan bersama yang menciptakan suasana persahabatan dan kegembiraan, malah berkembang menjadi suatu kurungan yang membuat masing-masing pribadi merasa sendirian. Merasa hidup sendirian seringkali menjadi masalah utama dalam menjalani perkawinan. Masing-masing orang merasakan bahwa dia sendirian, berjuang sendirian, tidak diperhatikan, dan tidak didukung oleh pasangannya. Hal inilah yang menjadi awal kesepian dalam keluarga. Setiap pribadi merasakan adanya perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Walaupun mereka telah memutuskan hidup bersama, mereka seringkali mengalami kesepian, entah itu kesepian sementara atau kesepian kronis. Kesepian sementara adalah rasa sendirian yang datangnya singkat dan cepat berlalu. Kesepian sementara (transient lonelinesss) bersifat reaktif dan situasional. Dalam suasana keluarga, kesepian sementara terjadi jika salah satu pasangan terlalu sibuk mengurusi pekerjaan sehingga pasangannya merasa terabaikan. Suami kadangkala merasa kesepian ketika ibu terlalu sibuk mengurusi bayi kecilnya. Kesepian kronis (cronic loneliness) adalah kesepian yang dialami terus-menerus atau tak hilang-hilang. Secara etimologi, kata cronic berasal dari bahasa Yunani yang berarti waktu. Kesepian kronis diartikan sebagai kesepian yang dialami seseorang dalam waktu lama.

Cara lain untuk mendefinisikan kesepian alam keluarga adalah sebagai berikut. Pertama, kesepian kognitif (cognitif loneliness), yaitu kesepian yang terjadi bila pribadi/pasangan merasa bahwa pasangannya tidak mau berbagi pikiran atau gagasan yang dianggap penting. Dewi adalah seorang ibu. Suatu malam setelah suaminya dari kerja, Dewi mengungkapkan idenya untuk kursus memasak dan mengembangkan usaha catering. Ketika di rumah, Dewi merasa mempunyai banyak waktu luang dan ingin mengisi waktu luang itu dengan kursus memasak. Suaminya mendengarkan gagasan itu, tetapi karena merasa lelah suami hanya mengatakan, “Besok pagi kita bicarakan lagi.” Dewi merasa ditolak, tidak didukung, dan didiamkan. Kedua, kesepian behavioral (behavioral loneliness), yaitu perasaan kurang atau tidak mempunyai teman sewaktu berjalan-jalan dan melakukan kegiatan di luar rumah. Dalm hal ini adalah tidak ditemani suaminya. Dewi senang berbelanja dan menonton film di bioskop. Dia ingin ketika hari-hari tertentu, di mana suami tidak bekerja menemaninya jalan-jalan di mall untuk berbelanja atau nonton film. Ketika diajak, suami mengatakan bahwa dia mempunyai pekerjaan yang harus dilembur dan cepat diselesaikan. Akhirnya Dewi pergi hanya sendiri atau malah dengan ibu-ibu lain. Ketika jalan-jalan di mall, Dewi merasa sendirian apalagi ketika melihat beberapa pasangan atau keluarga berbelanja bersama di mall. Dia kembali merasa kesepian. Ketiga, kesepian emosional (emotional loneliness) tejadi bila seseorang membutuhkan kasih sayang tetapi tidak mendapatkannya. Psikolog eksperimental, Harry Harlow, mengungkapkan bahwa sejak lahir manusia sudah membutuhkan kasih sayang, suatu kebutuhan yang nyata sama halnya dengan rasa lapar dan makan.1 Dewi sudah menikah 2 tahun dan memiliki 2 orang anak. Dia merasa perkawinannya hampa. Dia tidak pernah ngobrol atau bercerita tentang kegiatan sehari-hari kepada suaminya. Dia juga tidak pernah mendengar cerita tentang bagaimana suasana kerja suaminya. Suaminya sedikit bicara dan jarang pula tersenyum. Dewi ingin bercerita tentang apa yang mengganjal di hatinya, tetapi tidak pernah kesampaian. Ia menderita kesepian emosional.

John Gottman, seorang psikolog dari Universitas Washington di Seattle, mengungkapkan four horsemen of the Apocalypse sebagai hal yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan perkawinan. Hal itu adalah: pertama, kritikan. Kritikan seringkali diikuti dengan mencari-cari kesalahan secara berlebihan. Kita boleh mengkritik, tetapi mengkiritik perilaku bukan wataknya. Kedua, pelecehan. Pelecehan berkaitan dengan perlakuan terhadap pasangan seolah-olah gagasannya tidak berarti. Penghinaan juga berkaitan dengan kurangnya perhatian terhadap usaha-usaha yang telah dilakukan pasangan, kepandaian, kreativitas, norma-norma, sasaran dan tujuan, dan minat-minatnya. Ketiga, defensif. Hal ini terjadi bila kita mau mengkritik tetapi tidak mau dikritik. Kita mencari-cari alasan untuk menunjukkan bahwa kita selalu benar dan kesalahan pada pihak pasangan kita. Keempat, penarikan diri. Hal ini ditandai dengan sikap menolak memberikan jawaban dengan cara yang bermakna. Sikap diam, acuh tak acuh, menghindari, meninggalkan ruangan, dan lain-lain.

Penyebab Kesepian dalam Keluarga

Keluarga terbentuk dari pribadi yang mempunyai karakterisitik yang khas dan istimewa untuk masing-masing orang. Setiap orang mempunyai ciri karakter yang berbeda dengan yang lain. Hal ini mempengaruhi pola relasi dalam keluarga. Jika tidak setiap pribadi memahami karakter dan keistimewaan pasangannya, maka kesepian akan timbul secara mudah dalam keluarga tersebut. Kesepian yang timbul dalam keluarga juga amat khas, istimewa, dan amat bervariasi, tergantung dari masing-masing pribadi dan pola keluarga. Dengan kata lain, penyebab kesepian amat bervariasi dan berbeda satu sama lain. Namun, kiranya ada beberapa hal yang umum kita jumpai yang menjadi penyebab kesepian itu:

1. Penyebab dari dalam keluarga itu sendiri (faktor internal)

Kesepian dirasakan manakala orang kehilangan oreintasi hidup perkawinan entah karena beban hidup yang tak kunjung mendapatkan jalan pemecahan ataupun beban lain yang membuatnya kehilangan citra diri sebagai manusia yang utuh dan sedang mengarungi bahtera keluarga. Secara khusus dalam keluarga, rasa ini bisa dipicu dari beberapa hal berikut ini:

  • Rasa tidak puas atas kondisi keluarga. Hal ini bisa dipengaruhi karena ekonomi keluarga yang kurang kendati sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencukupinya.

  • Rasa tidak puas akan pasangan hidupnya. Dulu ketika mulai membangun keluarga, ada suatu idealisme yang dibangun. Namun ketika idealisme ini tidak terwujud atau berbeda dengan yang diangan-angankan, muncul rasa tidak puas sehingga terdorong untuk mencari kompensasinya di luar keluarga. Hal lain adalah ketidakpuasan seseorang terhadap pasangannya karena ternyata tidak sesuai dengan yang dibayangkan dulu atau karakter pasangannya telah berubah seiring berjalannya waktu.

  • Kesepian karena merupakan watak. Kesepian semacam ini terjadi karena mungkin pernah kehilangan orang tua di masa kanak-kanak, entah karena meninggal atau cerai. Orang tersebut gagal mengembangkan kemampuan untuk bersosialisasi atau kurang menghargai diri sendiri. Semua hal itu membuat orang tersebut mudah terluka atau merasa terluka.2

  • Pada usia setengah baya kesepian ada hubungannya dengan perkawinan. Suami-istri tampaknya kurang intim. Dalam hubungan mereka tidak ada komunikasi terbuka.

  • Cinta yang kurang seimbang. Maksudnya adalah bahwa sang suami mencintai istrinya tidak tepat sama seimbang dengan sang istri mencintai suaminya. Begitu juga sebaliknya. Cinta menjadi kurang seimbang sehingga berakibat satu pihak takut kehilangan pihak yang lain. Suami merasa sebagai orang asing di dalam keluarganya. Demikian juga sebaliknya.3

  • Ketidaknyamanan di dalam keluarga. Hal dapat berupa kekerasan dalam keluarga, adanya rasa saling mencurigai/rasa tidak percaya antar anggota kelurga, komunikasi antar anggota keluarga kurang, dll. Termasuk juga di dalamnya ketidakmampuan menghargai diri sendiri dan anggota keluarga lain.

  • Secara lebih mendalam, kesepian seseorang dalam keluarga juga dipicu/dipengaruhi oleh situasi masa kecilnya. Dalam pribadi seseorang, pada waktu kecil memiliki ikatan afeksi dengan pengasuhnya khususnya ibu karena dia yang paling dekat sehingga memiliki pengaruh paling besar dalam pembentuka pribadinya. Seandainya ikatan yang dibangun pada masa kecil itu adalah ikatan yang membuatnya merasa aman (secure attachment), maka kemungkinan keluargaya bahagia lebih besar. Namun kalau ikatan yag dibagu adalah perasaan takut (anxious attachment) atau marah (aboidant attachment), maka kemungkinan mengalami kekecewaan lebih besar kecuali dia bertemu dengan orang yang cocok dengan pribadinya (anxious attachment bertemu dengan aboidant attachment).




2. Penyebab dari luar (faktor eksternal)

Ada suatu situasi di mana kesepian itu tidak hanya berasal dari kondisi keluaga tersebut, tetapi juga dari kondisi di luar keluarga. Beberapa hal yang menjadi penyebab kesepian dari luar, antara lain:

  • Sepi karena keadaan. Dapat terjadi jika tiba-tiba pergi ke suatu tempat, lingkungan dan situasi yang baru. Kesepian seperti ini pada usia setengah baya biasanya terjadi apabila berubah pekerjaan, entah karena dipecat, dipromosikan atau pensiun.4

  • Kehadiran pihak ketiga. Yang paling umum terjadi adalah adanya PIL atau WIL, campur tangan yang terlalu besar dari pihak keluarga pasangannya.

  • Lingkungan yang “tidak ramah” dan tidak mendukung. Ini bisa dilihat dari rasa terisolasi dari lingkungan sosial dengan berbagai macam penyebab, entah karena perbedaan agama, perbedaan status sosial yang terlalu mencolok, tinggal di apartemen yang dengan tetangga kamar tidak saling mengenal, dll.

  • Suami/istri tiba-tiba “jatuh cinta”. Pihak ketiga di sini bukan hanya PIL atau WIL. Bisa saja hobi baru. Tanpa pengertian, hubungan suami-istri yang sudah lama terjalin serasi bisa retak, padahal bisa ditanggulangi.5

  • Adanya pola relasi/perhatian yang lemah dalam keluarga. Kurangnya pembangunan relasi/ perhatian akan menyeabkan seseorang semakin jauh dan merasa asing dengan pasangannya. Perhatian yang diterima bisa menjadi permasalahan bila tidak tertangani dengan baik. Hal ini bisa dilihat misalnya dengan kehadiran anak di dalam keluarga. Di satu sisi, kehadiran anak memberi sukacita karena pastilah hal tersebut sangat dinantikan oleh semua keluarga. Cinta kasih suami istri semakin lengkap dengan kehadiran sang anak dan bisa menjadi perekat di antara keduanya. Di sisi lain, bisa terjadi suami yang merasa bahwa sebelum memiilik anak istrinya memperhatikan dia, tetapi setelah memiliki anak tidak memperhatikan dia lagi karena perhatian istrinya lebih banyak tercurah kepada anaknya. Suami akan merasa sebagai orang asing di dalam keluarganya. Demikian juga bisa terjadi sebaliknya.

  • Perubahan fisik pun dapat memicu kerenggangan dalam keluarga. Suami yang merasa istrinya sudah tidak seperti waktu masih muda dulu merasa kurang terpenuhi kebutuhannya, entah itu dalam hal biologis maupun afeksi atau dalam hal lain. Sang istri dirasa tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya sehingga ia mencari kompensasinya di luar pribadi istrinya. Demikian juga sebaliknya.

Strategi mengatasi Kesepian dalam Keluarga

Dalam menghadapi kesepian dalam keluarga, ada beberapa trik yang mendorong pasangan suami istri agar dapat menjalani perkawinan dengan harmonis dan lebih baik. Hal itu dimulai dengan menyadari dan menghargai bahwa setiap pribadi manusia, termasuk pasangan suami istri mempunyai ciri kepribadian yang istimewa dan khas. Ada beberapa pasangan yang mempunyai ciri kepribadian yang sama dan ada yang mempunyai ciri kepribadian yang berbeda. Hal ini menantang setiap pasangan untuk memperlakukan pasangannya dengan istimewa dan khas. Kekhasan ciri kepribadian ini menantang setiap orang untuk memperlakukan pribadi yang lainnya secara istimewa.

Banyak pasangan seringkali menggunakan beberapa strategi untuk mendukung kelangsungan hidup bersama mereka. Setiap pribadi memperlakukan yang lainnya secara istimewa. Strategi-strategi tersebut adalah:

  1. Hubungan saya dan kamu sebagai tujuan bersama kehidupan suami istri. Ada dua cara mendasar bagi manusia dalam saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Dua cara itu adalah hubungan saya dengan sesuatu dan hubungan saya dengan kamu. Dalam hubungan saya dengan sesuatu, orang pertama melihat dirinya sebagai individu, yang mempunyai pikiran, gagasan, dan kebutuhan. Kelemahan relasi ini adalah orang pertama itu tidak menyadari bahwa pasangannya juga sama-sama manusia. Akibatnya orang pertama memperlakukan pasangannya seperti sesuatu, sebagai obyek dalam lingkungan untuk dimanipulasi atau digunakan untuk kepentingan pribadi. Pasangan ditempatkan pada posisi sesuatu yang diihat dalam sudut pandang fungsional. Ia melakukan pekerjaan memasak, mengasuh anak, mencari uang, memenuhi kebutuhan seksual, dan lain-lain. Akibatnya adalah pasangan suami istri akan merasa kesepian atau hampa dalam perkawinannya. Hubungan ini tidak mendatangkan hubungan yang baik dalam berpasangan, bahkan malah akan semakin memperburuk kesepian kedua-duanya. Hubungan yang kedua adalah hubungan saya dengan kamu. Orang pertama melihat dirinya sebagai pribadi, seorang yang riil dengan berbagai perasaan, pikiran, dan kebutuhan. Orang pertama ini mengenali bahwa pasangannya juga memiliki berbagai perasaan, pikiran, dan kebutuhan. Walaupun orang pertama ingin bahwa segala kebutuhannya dipenuhi, namun dia juga memberi perhatian yang sama besarnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang lain lebih dahulu. Dalam hubungan saya dengan kamu, ada hubungan timbal balik, ada suatu pondasi perhatian yang sama-sama dicurahkan untuk saling memenuhi kebutuhan emosional pasangannya.

  2. Hubungan saya dengan kamu diletakkan dalam kerangka yang realistis. Hubungan saya dengan kamu bukanlah hubungan yang sangat sempurna. Hubungan ini tidak sepenuhnya bebas dari konflik karena ada pula pasang surutnya, suka dukanya. Hubungan ini bercirikan rasa saling menghormati. Pasangan suami istri itu memang tidak selamanya berada dalam keadaan bahagia terus pada tingkatan supervisialnya, namun ada kebahagiaan sebenarnya pada tingkat kedalaman tertentu. Ada usaha dan perjuangan bersama untuk menciptakan relasi saya dengan kamu. Ketika salah satu pihak merasa gagal atau menilai gagal pasangannya, ada kerelaan untuk tetap menghormati, menerima dan memberi semangat dan dukungan untuk bangkit kembali. Pasangan suami istri harus menyadari bahwa pastilah ada konflik yang muncul dalam perjalanan perkawinan tersebut, tetapi juga tetap ada cara konstruktif untuk memecahkannya.

  3. Berperan sebagai partner yang seimbang. Ada godaan untuk mendominasi, menguasai pasangannya, ingin menunjukkan kekuasaan dalam keluarga. Akibatnya adalah memandang rendah pasangannya dan menganggap diri yang paling benar. Orang ini akan dikucilkan karena orang lain juga ingin mempunyai kekuasaan atau dianggap ada keberadaannya. Ini disebut sebagai peran orangtua yang mendominasi. Sisi lain dari sikap tersebut adalah berperan sebagai anak yang patuh. Hal ini biasanya dilatarbelakangi sikap tidak ingin membuat konflik dalam apapun bentuknya dan lebih suka memakai filosofi damai apapun resikonya. Mungkin juga disebabkan rasa kurang percaya diri, ingin selalu disayang, dan peran anak yang patuh adalah peran yang tidak banyak memiliki tanggung jawab. Jika berperan seperti ini, orang akan dianggap sebagai anak kecil yang tidak serius sehingga sedikit orang yang memberi kepercayaan kepadanya. Dalam situasi demikian, solusi yang terbaik adalah bersikap asertif terhadap pasangan, tetapi tidak agresif. Bila ada masalah yang harus dipecahkan, bersikaplah rasional dan menyelesaikan dalam rangka keutuhan perkawinan dalma jangka panjang, bukan dalam kerangka pemecahan yang bersifat sementara.

  4. Komunikasi yang adil. Dalam relasi suami-istri, kadangkala ada konflik dan perbedaan pendapat. Dalam batasan-batasan tertentu, orang harus berani dalam posisi tanpa memusuhi namun berpendirian. Dalam mengungkapkan perbedaan pendapat seringkali sampai pada taraf pertengkaran. Ada dua tipe pertengkaran dalam relasi suami-istri, yaitu pertengkaran konstruktif dan pertengkaran destruktif. Pertengkaran destruktif adalah pertengkaran yang akan semakin merenggangkan hubungan antara dua orang. Pertengkaran ini akan menyebabkan kedua orang teralienasi satu dengan yang lainnya sehingga menimbulkan kesepian atau kehampaan dalam perkawinan. Pertengkaran ini biasanya menyerang karakter pribadi pasangannya dengan caci maki, mempersalahkan, dan tidak mau mendengarkan. Ungkapan yang sering muncul adalah, “Kamu malas! Kamu boros! Kamu bodoh! Dan lain-lain.” Hal ini berbeda dengan pertengkaran konstruktif. Ada beberapa hal yang biasanya dibuat dalam pertengkaran konstruktif, yaitu:

  1. Pertengkaran non-fisik. Pertengkaran jangan sampai pada tindakan fisik, yaitu menyerang fisik pasangannya dengan menampar, memukul, menonjok, dan lain-lain.

  2. Ungkapkan perasaan secara terbuka. Keadaan-keadaan emosional diungkapkan dengan kata-kata. Setiap pasangan harus berani jujur mengungkapkan keadaan perasaan dan emosionalnya karena pasangan kita bukanlah mind reader (orang yang mampu membaca pikiran).

  3. Tidak mencemooh pasangan. Dalam pertengkaran, kita tidak menyerang karakter orang lain. Ungkapan mencemooh atau menyerang karakter orang lain seperti bodoh, sembrono, malas, dan lain-lain itu menyinggung perasaan. Ini tidak adil terhadap pasangan kita karena sikap tertentu tidak bisa digeneralisasi sebagai suatu sifat atau sikapnya secara umum.

  4. Boleh mengkritik perilaku orang lain, tetapi bukan karakternya. Hal ini dibangun dengan menanyakan kepada diri sendiri mengenai apa yang telah dibuat pasanganku sehingga aku merasa kecewa atau tersinggung. Hal itu diungkapkan dengan kata yang spesifik bukan hal umum.

  5. Dengarkan orang lain. Hindarilah memotong pembicaraan. Jika orang lain berbicara, dengarkan sampai selesai atau paling tidak sampai ada nada jeda. Menyimak apa yang dikatakan oleh pasangan.

  6. Berdebatlah tentang isu-isu yang nyata. Kita menggunakan emosi untuk sesuatu yang benar-benar berguna, bukan pada hal-hal yang sepele.

  7. Jangan mencoba memenangkan pertengkaran. Ini merupakan hal yang destruktif jika kita mencoba untuk menang penuh dalam suatu perbedaan pendapat, mencoba untuk membuat orang lain mengaku bahwa dia salah sama sekali dan kita benar 100%. Hal ini menempatkan anda dalam posisi dominan dan pasangan anda dalam posisi emosi yang menurun drastis. Pertengkaran sebaiknya digunakan sebagai sarana konstruktif untuk menampung dan mencari pemecahan praktis untuk masalah-masalah yang nyata.

  1. Menumbuhkan keyakinan bahwa perkawinan mereka merupakan jalan keselamatan bersama yang mereka tempuh. Perkawinan tidaklah sama dengan hidup bersama anpa suatuikatan yang pati dan mudah terputus. Perkawinan merupakan persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra. Allah sendirilah Pencipta perkawinan yang mencakup pelbagai nilai dan tujuan. Suami istri secara nyata diantar menuju Allah; makinmencekati kesempurnaan mereka dan saling menguduskan. Keluarga kristiani akan menampakkan kepada semua orang kehadiran Sang Penyelamat yang sungguh nyata di dunia.6 Dengan menyadari hal ini, masing-masing pribadi akan menumbuhkan sikap positif dan hormat serta bangga akan perkawinannya. Pondasi yang paling mendasar akan keutuhan perkawinan adalah cinta kasih yang tumbuh di antara mereka. Hal ini juga didasari dengan kesetiaan dan saling pegertian di antara suami istri. Tanpa ini, sulit untuk mempertahankan keutuhan perkawinan.


Pastoral

Ada banyak gerak Gereja yang berusaha merangkul keluarga-keluarga kristiani dalam reksa pastoralnya. Gereja menyadari bahwa keluarga menjadi pondasi/pilar utama iman dankebahagiaan yang tumbuh pada masing-masing pribadi. Keluarga adalah sel utama Gereja dan masyarakat. Keluarga adalah Gereja mini7 yang punya panggilan khusus. Mengingat hal tersebut, penting untuk mengupayakan langkah-langkah pastoral bagi keluarga-keluarga dewasa ini.

    1. Kunjungan keluarga. Hal ini berdaya untuk menggugah semangat umat untuk aktif dalam kegiatan menggereja, meneguhkan mereka di tengah-tengah kesukaran-kesukaran hidup dan menguatkan mereka dalam cinta kasih.

    2. Katekese dalam keluarga. Masing-masing anggota keluarga mendapat bimbingan iman, entah itu dari anggota keluarga sendiri seperti orang tua pada anaknya maupun dari pihak lain seperti paroki atau Marriage Encounter (ME).

    3. Pendampingan keluarga balita. Masa-masa krisis dalam hidup berkeluarga bisa terjadi pada masa awal perkawinan atau usia perkawinan ‘bawah lima tahun’. Situasi ini perlu mendapat perhatian yang lebih khusus dan serius. Pendampingan ini bisa melibatkan keluarga-keluarga yang sudah berpengalaman untuk memberi sharing pengalaman berkaitan dengan membangun keluarga mereka. Pendampingan ini juga bisa dibantu dengan mengadakan pertemuan rutin, rekoleksi, retret, dsb.

    4. Memanfaatkan media. Perkembangan media dapat dimanfaatkan untuk pengembangan iman dalam keluarga. Adanya tape recorder, televisi, video, dll bisa dimanfaatkan untuk pembinaan iman. Pastor paroki dan pewarta ima bisa memanfaatkannya sedemikian rupa sehingga pewartaan iman dapat lebih intensif dan efektif.

Masih banyak kegiatan pastoral lain yang bisa diterapkan pada keluarga, entah itu keluarga yang harmonis maupun keluarga yang mengalami masalah-masalah yang cukup berat. Kiranya banyak hal yang bisa menjadi terobosan dalam berpastoral.

Penutup

Pernikahan dan hidup berkeluarga dimulai dari sebuah kesepatan antara kedua mempelai/pasangan untuk menjalani hidup bersama sampai akhir hayatnya. Dalam pengambilan keputusan itu, mereka menyadari bahwa dirinya adalah unik dan istimewa. Demikian juga dengan pasangan mereka masing-masing. Hal ini menuntut setiap pribadi untuk memperlakukan orang lain secara istimewa dan khas sesuai dengan ciri-ciri karakter masing-masing pribadinya.

Keberlangsungan dan kebahagiaan dalam menjalani hidup berkeluarga tergantung dari kemampuan setiap pribadi untuk menjalani pola relasi. Setiap pasangan menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan keterbatasannya dan membuka diri secara jujur terhadap pasangannya. Dia membuka diri terhadap pasangannya akan segala kelebihan dan keterbatasannya. Akhirnya pola relasi yang jujur dan terbuka ini memampukan setiap pribadi untuk mampu bersikap dengan bijaksana.





Daftar Pustaka

  1. Briere, Emile, Imam Membutuhkan Imam, Malang: Dioma, 2003.

  2. Brouwer, MAW., Young Love. Bunga rampai Tulisan tentang Masalah Asmara, Jakarta: Gramedia, 2003.

  3. Bruno, Frank J., Menaklukkan Kesepian, Jakarta: Gramedia, 2000.

  4. Gottman, John dan DeClaire, Joan, Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, Jakarta: Gramedia, 1997.

  5. Hadiwardoyo, Purwa. Al., Perkawinan dalam Tradisi Katolik, Yogyakarta: Kanisius, 1988.

  6. Hardawiryana, J., SJ., (Penterjemah) DOKUMEN KONSILI VATIKAN II, Jakarta: Obor, 1993.

  7. Littauer, Florence, Personality Plus for Couples, Jakarta: Gramedia, 1997.

  8. Prayitno, H. dan Amti, Erman, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1999.

  9. Stephen Tong, Keluarga Bahagia, Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1991.

  10. Supriyapto Y., Kumpulan Artikel Psikologi dalam Majalah Intisari, Jakarta: Gramedia, 2001.



1 LIh. Bruno, Frank. J. Menaklukkan Kesepian. Jakarta: Gramedia. 2000. Hal. 10-11.

2 Supriyapto Y., Kumpulan Artikel Psikologi, Majalah Intisari, 2001, hal 36.

3 Stephen Tong, Keluarga Bahagia, Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1991, hal. 103-104.

4 Op.cit. Supriyapto Y., hal. 36.

5 Op.cit. Supriyapto Y., hal. 30.

6 Gaudium et Spes, art 48.

7 Lumen Gentium, art. 11

Tidak ada komentar: