PAHAM KESELAMATAN MASYARAKAT JAWA
DALAM UPACARA MIDODARENI
Pengantar
Dari pengalaman hidupnya, manusia kerap merasa tidak aman, tidak tentram, tidak harmonis atau tidak selamat dalam kehidupan ini. Menanggapi kenyataan tersebut, baik secara individu maupun kolektif, manusia berusaha mencari penyebabnya sesuai dengan batas kemampuan dan pengetahuannya, sekaligus mengusahakan bagaimana mereka dapat terhindar dari situasi tidak selamat. Begitu pula dalam tradisi masyarakat jawa, muncul berbagai macam ritus atau upacara menjawab kerinduan manusia untuk memperoleh rasa aman, tentram dan selamat dalam kehidupan ini.
Salah satu ritus itu adalah ritus midodareni. Ritus ini dilakukan oleh masyarakat jawa untuk memperoleh keselamatan, terutama dalam rangkaian upacara perkawinan. Dalam ritus midodareni ini, masyarakat jawa percaya akan peran bidadari yang mampu mempercantik dan memberi restu kepada calon pengantin yang akan melangsungkan perkawinannya.
Dalam perkembangannya, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat jawa tradisional, tetapi juga oleh masyarakat modern yang sudah beragama. Oleh karena itu, paham keselamatan menjadi semakin bervariatif sesuai dengan kemampuan, pengetahuan, dan keyakinan masyarakat. Dapat terjadi bahwa paham keselamatan dalam masyarakat tradisional melengkapi paham keselamatan pada masyarakat beragama atau sebaliknya.
Latar Belakang dan Perumusan Masalah
Dalam rangka studi keselamatan, kelompok kami meneliti upacara midodareni yang dilakukan oleh masyarakat jawa. Upacara midodareni sebagai salah satu upacara di jawa mempunyai makna yang dalam. Upacara ini diadakan untuk memohon supaya bidadari turun ke bumi untuk menjenguk calon pengantin perempuan dan memberi restu kepadanya sehingga ia menjadi cantik seperti para bidadari. Dengan kecantikkannya, diharapkan calon pengantin pria semakin tertarik pada pengantin wanita, sehingga semakin mantap untuk memilih dan menikahinya.
Ada beberapa pertanyaan yang hendak kami jawab dalam paper ini, yaitu: (1) apa itu upacara midodareni; (2) bagaimana ritus upacara dan perlengkapannya; (3) bagaimana konsep atau paham keselamatan yang ada di dalamnya; (4) siapa saja yang berperan untuk mendatangkan keselamatan; (5) faktor-faktor apa saja yang bisa menghambat terjadinya keselamatan dalam ritus upacara midodareni itu; (6) perbandingan paham keselamatan di dalam upacara midodareni dan dalam tradisi Gereja.
Pengertian Ritus Upacara Midodareni
Masyarakat Jawa mempunyai berbagai macam ritus dalam upacara perkawinan. Salah satu ritus itu adalah ritus atau upacara malam midodareni. Apa itu malam midodareni? Malam midodareni adalah malam tirakatan menjelang hari pernikahan. Malam tirakatan ini dilaksanakan oleh kerabat, kenalan, dan orang-orang sekitar rumah calon pengantin perempuan dengan hening untuk memohon agar para bidadari dari Kahyangan Syailendra Bawana atau Kahyangan Jonggring Salaka diperkenankan turun ke bumi untuk menjenguk calon pengantin perempuan dan memberi restu kepadanya sehingga ia menjadi cantik seperti bidadari itu. Oleh karena itu, malam midodareni berarti malam untuk memohon turunnya bidadari.
Ritus atau upacara malam midodareni ini berasal dari cerita rakyat Jaka Tarub. Jaka Tarub berhasil memperisteri bidadari Dewi Nawangwulan, hidup bahagia, dan mendapatkan keturunan seorang putri yang diberi nama Dewi Nawangsih. Pada awal perkawinan, Nawangwulan dan Jaka Tarub membuat janji bahwa mereka akan menjadi suami-isteri selamanya. Dewi Nawangwulan tidak akan kembali ke khayangan dengan syarat bahwa Jaka Tarub tidak membuka kekep (tutup penanak nasi) setiap kali isterinya menanak nasi. Tetapi, karena penasaran terhadap isterinya yang tidak mengambil beras tetapi selalu berhasil menanak nasi yang lezat sekali rasanya, Jaka Tarub tidak kuat menahan keinginannya untuk membuka kekep dan melihat apa yang sebenarnya ditanak oleh isterinya.
Menyangka bahwa isterinya terlena, Jaka Tarub diam-diam membuka kekep, tetapi Sang isteri mengetahuinya dan menjadi kecewa sekali. Ia terbang kembali ke khayangan, tempat asalnya. Namun, ia berpesan kepada Jaka Tarub bahwa kelak apabila putrinya bernama Dewi Nawangsih akan kawin, pada malam menjelang upacara perkawinan (menjelang akad nikah dan upacara panggih) hendaknya di pedarlngan (ruangan dalam rumah utama tempat menyimpan harta kekayaan) ditaruh "manggar mayang sekembaran" dan "cikal sepasang". Manggar adalah bunga pohon kelapa, dan mayang adalah bunga pohon pinang (jambe). Sakembaran artinya satu pasang, yakni dua, tetapi yang sama rupanya (kembar). Kata manggar mayang sakembaran lama-kelamaan menjadi kembar mayang. Cikal adalah buah kelapa yang masih muda.
Kalau pesan Demi Nawangwulan itu dipenuhi pada malam tersebut, maka Dewi Nawangwulan akan turun dari khayangan untuk menjenguk putrinya. Ia akan memberi restu bagi perkawinannya dan ikut mempercantik putrinya tersebut. Dengan pesan Dewi Nawangwulan itu, orang-orang bertradisi Jawa mengadakan upacara malam midodareni untuk memohon supaya Dewi Nawangwulan diperkenankan turun untuk ikut memberi restu serta mempercantik calon pengantin perempuan. Harapan keluarga dan masyarakat bagi keselamatan yang akan berlangsung itu, sebenarnya tidak hanya didasarkan pada harapan kecantikan sang calon pengantin, seperti yang dibayangkan pada cerita rakyat mengenai Jaka Tarub dengan Dewi Nawangwulan. Tradisi malam midodareni ini muncul juga dari kisah perkawinan indah dari pahlawan Arjuna dengan titisan bidadari yang bernama Dewi Wara Subadra (Sumbadra atau Sembadra).
Dalam lakon wayang perkawinan yang indah antara Arjuna dan Subadra, diceritakan bahwa atas keinginan Sri Kresna, kedua insan tersebut mendapat restu dari para Dewa, sehingga Dewa meminjamkan bagi perkawinan Arjuna dan Subadra sepasang mayang yang disebut kembar mayang. Bentuk bunga ini melambangkan kusumasmara (bunga cinta kasih) antara Dewa Cinta yang dikenal dengan nama Batara Kamajaya dan isterinya Batari Ratih. Maka, kembar mayang seolah-olah merupakan penjelmaan dari dua dewa cinta tersebut. Kembar mayang merupakan sarana yang tidak dilupakan dalam upacara perkawinan adat Jawa. Kembar mayang tersebut diyakini milik Dewa, maka manusia tidak boleh memilikinya, melainkan hanya meminjam dari Dewa. Dengan pengertian tersebut, maka pada malam midodareni ada acara yang disebut acara menebus kembar mayang, yaitu upacara meminjam kembar mayang dari tangan Dewa.
Perlengkapan dan ritus upacara dalam Malam Midodareni
Perlengkapan yang diperlukan dalam upacara malam midodareni antara lain:
Kembar mayang yang akan dipinjam oleh duta.
Tumpeng untuk selamatan majemukan malam hari, dengan “ati pengasih” (hati ayam digoreng dengan bumbu pidang yang disebut juga bumbu anteb)
Seperangkat gamelan di tempat yang ditunjuk.
Ritus Upacara malam midodareni.
Upacara kembar mayang
Pemangku hajat berdiri dan dihadap oleh duta pencari kembar mayang, lalu berkata:
Dhimas kaya wis teka wancine, kembar mayang kudu kasuwun ngampil saka para dewa, minangka pemantepe palakramane putramu si………………….(nama calon-calon pengantin). Mula age enggala mahyangan saperlu anebus kembar mayang.
Sang duta menjawab, bahwa dia akan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Lalu berjalan menuju ruang lain tempat kembar mayang sudah disiapkan. Dia menghadap “Dewa” yang menjaga kembar mayang itu kemudian menyampaikan maksudnya, untuk meminjam kembar mayang anugerah sang Girinata kepada Dewa kamajaya dan Dewi ratih, yang merupakan kusumaasamara,-dan berjanji bahwa sesudah selesai upacara perkawinan kembar mayang itu akan dikembalikan dengan jalan dibuang di simpang empat (prapatan) jalan.
Sang “dewa” kemudian menyerahkan dua kembar mayang itu kepada Duta sambil memberi restu, yang diungkapkan dalam lagu Dandanggula yang dibawakan dengan gaya macapat; boleh satu pada, boleh dua pada.
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah penggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah mring mami
Guna dhudhuk pan sirna.
Konsep Keselamatan Masyarakat Jawa dalam Upacara Malam Midodareni
Dalam upacara malam midodareni, ada beberapa konsep keselamatan yang dipahami dan dihayati oleh masyarakat jawa. Kalau melihat mitos yang melatarbelakangi munculnya upacara malam midodareni, dapat dipahami bahwa keselamatan yang ada dalam upacara malam midodareni dapat berarti ‘pemulihan’. Masyarakat Jawa dapat digambarkan sebagai Jaka Tarub yang pernah mengecewakan Dewi Nawangwulan. Kekecewaan inilah yang menyebabkan Dewi Nawangwulan pergi ke kahyangan meninggalkan suaminya dan anak puterinya. Dewi Nawangwulan bersedia kembali lagi ke dunia untuk merestui perkawinan puterinya kalau Jaka Tarub dapat memenuhi persyaratan yang ia minta, yaitu tersedianya manggar mayang sakembaran atau sering disebut dengan istilah kembar mayang. Masyarakat Jawa begitu kuat meyakini mitos ini. Maka, ketika akan mengadakan upacara perkawinan bagi anak perempuan, masyarakat jawa akan selalu melaksanakan upacara atau ritus khusus demi keselamatan perkawinan anaknya.
Dalam upacara malam midodareni, muncul paham keselamatan yang mengungkapkan ‘pengharapan’. Masyarakat Jawa meyakini bahwa dengan melaksanakan upacara atau ritus malam midodareni, para bidadari diharapkan berkenan turun untuk mempercantik calon mempelai wanita, sehingga mempelai laki-laki akan semakin tertarik dan mantap untuk menikahinya. Para bidadari diharapkan merestui kedua mempelai yang akan melangsungkan perkawinannya. Menurut keyakinan masyarakat Jawa, tentunya keselamatan dalam upacara perkawinan ini akan terwujud kalau upacara atau ritus pada malam midodareni dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Usaha dan peran manusia menjadi penting untuk mendapat keselamatan dalam upacara Widodareni. Bidadari memang akan memberikan restunya tetapi turunnya restu itu sangat ditentukan oleh usaha manusia. Jika manusia tidak melakukan segala macam ritus dan memenuhi segala persyaratan yang telah ditentukan, maka restu itu tidak akan diperolehnya. Sebaliknya, jika segala ritus dan persyaratan telah dipenuhi, maka restu akan ia peroleh. Tindakan dan usaha manusia menjadi sangat menentukan. Bidadari hanya berperan memberikan restu yang dimohon oleh manusia.
Yang menjadi penghambat turunnya restu itu adalah lengkap atau tidaknya ritus dan persyaratan yang dilakukan. Jika salah satu persyaratan tidak dipenuhi, ada kecemasan dan kekhawatiran bahwa rahmat itu tidak turun. Dengan kata lain, restu itu menjadi terhambat ketika ritus dan syarat-syarat tidak lengkap. Menjadi penghambat pula ketika orang mulai meragukan terjadinya keselamatan itu karena kurang atau tidak lengkapnya ritus dan persyaratan yang harus dipenuhi, sehingga yang terjadi malah sebaliknya, muncul suasana hati yang tidak tenang, kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan dalam diri orang.
Perbandingan Kesejajaran antara Paham Keselamatan dalam Tradisi Midodareni dan Ajaran Gereja Katolik
Paham keselamatan memang ada dalam setiap budaya, terutama dalam ajaran agama. Tentu, paham keselamatan ini tidak dapat begitu saja disejajarkan dalam bentuk tabulasi sejajar-tidak sejajar, karena nilai atau pokok pemikiran tentang arti keselamatan itu sendiri khas pada setiap budaya atau pun agama dan konteks sosial – masyarakat yang membentuknya. Meskipun demikian, tetap ada unsur-unsur pokok yang mirip dari satu paham keselamatan di suatu tempat dengan paham keselamatan di tempat lainnya.
Kelompok kami yang mempelajari tradisi Midodareni dalam Budaya Jawa, berusaha menemukan perbandingan paham keselamatan antara Budaya Jawa lewat tradisi Midodareni dengan paham keselamatan yang diimani dan diajarkan oleh Gereja Katolik. Perbandingan itu antara lain:
a. Situasi Keterpisahan
Bila melihat perbandingan paham keselamatan antara tradisi Midodareni dan tradisi Gereja, kita menemukan bahwa awal dari pemahaman ini adalah kesadaran akan situasi “keterpisahan” antara manusia dengan Yang Ilahi. Keterpisahan ini terutama disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Dalam tradisi Midodareni, “keterpisahan” ini ditandai dengan perginya Dewi Nawangwulan dari keluarganya karena Jaka Tarub tidak mau menjaga kepercayaan istrinya dengan melanggar perintah atau nasehat istrinya itu.
Dalam tradisi Gereja, situasi “keterpisahan” ini dapat dimengerti sebagai dosa (asal). Dosa ini disebabkan oleh ulah manusia pertama, Adam, yang tidak menjaga kepercayaan Allah dengan melanggar perintah-Nya. Dosa Adam merusak relasinya dengan Allah sehingga tercipta situasi keterpisahan antara manusia dan Allah.
b. Situasi Keterpisahan yang diwariskan
Jaka Tarub telah merusak relasi personal dengan Yang Ilahi (Dewi Nawangwulan), sehingga muncul situasi keterpisahan. Keterpisahan ini rupanya tidak hanya dialami oleh Jaka Tarub. Semua keturunannya pun turut mengalami keadaan ini sehingga generasi penerusnya pun turut kehilangan relasi personal itu. Hilangnya relasi personal dengan Yang Ilahi merupakan hukuman dari Yang Ilahi atas ketidaksetiaannya.
Sedangkan, konsili Trento menyebutkan bahwa Adam menghilangkan kebenaran asali (iustitia originalis). Oleh karena itu, Adam serta keturunannya memperoleh “hukuman” atas perbuatannya itu. Adam memperoleh maut dan konkupisensi. Bahkan, konsili Orange II menyebutkan bahwa buah dari dosa adalah pembinasaan.
c. Pemulihan situasi keterpisahan
Keterpisahan ini tidak terjadi selamanya. Pada suatu saat, keadaan ini akan berganti menjadi kebahagiaan karena yang terpisah akan dipertemukan. Inilah yang disebut sebagai suatu pemulihan hubungan. Peristiwa pemulihan ini, dalam tradisi Jawa, disebut Midodareni.Jaka Tarub dan keluarganya akan bertemu kembali dengan Dewi Nawangwulan. Adam dan keturunannya akan memperoleh pembenaran dari Allah.
Dalam paham Kristiani, Allah tidak akan membiarkan umat-Nya binasa seperti saat Ia mendampingi umat Israel keluar dari Mesir. Allah datang membebaskan manusia dari perbudakan (dosa), seperti dinyatakan dalam Gaudium et Spes art. 13. Pemulihan terjadi lewat pembaptisan
d. Inisiatif Keselamatan
Midodareni dan babtis sebagai sebuah ritus dapat disejajarkan sebagai usaha manusia untuk mendapatkan keselamatan. Namun, dalam Midodareni, manusia berinisiatif memohon dengan berdoa dan memberikan sesaji, dengan harapan Sang Bidadari akan memberikan restunya. Sedangkan dalam Gereja Katolik, dipahami bahwa Allah yang pertama kali berinisiatif untuk menyelamatkan manusia dengan memberikan rahmat-Nya. Demikianlah Konsili Orange II menyatakannya dalam usaha menentang semipelagianisme.
e. Perubahan fundamental
Perbedaan lainnya adalah keadaan setelah pembenaran itu. Dalam Midodareni, sang Bidadari hanya datang untuk memberkati keluarga itu saja. Keluarga itu tidak mengalami perubahan fundamental. Calon pengantin perempuan mungkin terberkati karena Sang Bidadari turun untuk mempercantik dan merestui perkawinannya. Tetapi dalam tradisi Gereja, diakui bahwa lewat baptisan manusia tidak hanya dibenarkan karena dihapus dosa-dosanya. Manusia dikuduskan dan memperoleh status baru sebagai “Anak Allah”, sehingga dapat bersatu dengan Allah lewat Yesus Kristus. Demikianlah konsili Trento menulis dalam bab 4 dan 7 dari dekrit tentang pembenaran.
f. Intensitas keselamatan
Perubahan fundamental ini juga berakibat bahwa intensitas keselamatan dalam Midodareni hanya bersifat sementara. Keselamatan dialami hanya saat ini dan di sini (hic et nunc) oleh keluarga yang menyelenggarakan perayaan ini, secara lebih khusus bagi si calon pengantin wanitanya. Sedangkan Gereja mengimani bahwa keselamatan dialami secara terus menerus dan berdimensi universal.
Keselamatan terjadi terus menerus karena menyadari realitas bahwa manusia sering jatuh dalam dosa sehingga membutuhkan pendamaian dari Allah. Berdimensi universal karena Gereja yakin bahwa keselamatan tidak ekslusif bagi orang tertentu atau kelompok tertentu saja, namun bagi seluruh umat manusia. Hal ini direfleksikan oleh Konsili Vatikan II dari peristiwa Kejadian yang mengisahkan Allah menciptakan manusia tidak hanya laki-laki saja (GS.12).
Secara sederhana, perbandingan ini dapat dilihat dari tabel berikut ini
| Perbandingan | Gereja Katolik | Tradisi Midodareni |
| Situasi Awal | -. “keterpisahan” dari yang Ilahi karena Dosa | -. “keterpisahan” dari yang Ilahi karena tidak setia pada janji |
| Pewarisan | -. “keterpisahan” ini berlaku pula bagi keturunannya | -. “keterpisahan” ini berlaku pula bagi keturunannya |
| Pemulihan | -. Pembabtisan | -. Bidadari turun lewat acara Midodareni ini |
| Inisiatif | -. Dari Allah | -. Dari manusia |
| Perubahan | -. Dari anak Adam menjadi Anak Allah | -. Tetap saja manusia lemah |
| Intensitas Keselamatan | -. Terus-menerus -. Universal | -. Hanya personal dan untuk keluarga itu sendiri. |
Sumber Pustaka
Hariwijaya, M, Perkawinan Adat Jawa, Yogyakarta: Hanggar Kreator, 2005, hal.97-131.
Pranata ssp, Mencari Jodoh & Upacara Perkawinan Adat Jawa: Pedoman bagi Calon Pengantin, Calon Mertua, dan Calon Pemangku Adat, Jakarta: Yudha Gama Corporation, 1984, hlm. 76-88
Wiromidjojo, Winarno, Tata Cara Perkawinan Jawa, Yogyakarta: Proyek Javanologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Depdikbud, 1983, hlm.15-16
Wiyasa Bratawidjaja, Thomas, Upacara Perkawinan Adat Jawa, Jakarta: Sinar Harapan, 1985, hlm. 35-39


Tidak ada komentar:
Posting Komentar