Kamis, 24 April 2008

Hidup yang “Mangrasul”

Hidup yang “Mangrasul”

Belajar dari Bacaan Injil Minggu Paska


  1. Sebuah Pengantar: Sharing “Mangrasul”

Dalam suatu pesta 40 tahun membiara, seorang bruder mengatakan bahwa seluruh hidupnya dapat dirangkum dalam 3 kalimat. “Pertama, pengalaman masa lalu, pergulatan iman dan kejatuhan saya dalam dosa sudah diampuni dan ditebus dengan wafat dan kebangkitan Kristus. Kedua, Masa depan saya sudah dipastikan dengan janji Kristus yang akan mengajak saya menikmati kehidupan abadi di surga. Ketiga, menjadi tugas dan pergulatan saya sekarang adalah bagaimana saat ini saya mampu untuk mengalami perjumpaan dan pengalaman disentuh oleh Allah dan mensyukurinya.”

Bruder itu merefleksikan bagaimana dengan hidupnya, dia menghayati panggilan “mangrasul”. Dengan hidupnya, dia mengalami kasih Allah dan panggilannya untuk mangrasul, yaitu mewartakan Allah yang menjumpai, menyapa, dan mengasihinya secara personal. Itulah yang hendak saya ungkapkan dengan refleksi sederhana ini.


  1. Panggilan untuk Mangrasul

Konsep mangrasul yang saya tawarkan dalam tulisan ini terinspirasi dari kisah-kisah kebangkitan yang dibacakan dari Injil Minggu Paska1. Kisah-kisah kebangkitan pada intinya menampilkan dua hal yang mendasari kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit, yaitu makam yang kosong dan pengalaman para murid bahwa Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati.


  1. Makam Yang Kosong2

Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, beberapa perempuan yang mendatangi tempat Yesus dikuburkan mendapati batu penutup makam sudah tergolek. Di situ mereka mengalami sesuatu yang luar biasa. Mat 28:2 berbicara mengenai tampaknya "seorang malaikat"; Matius mengolah kembali yang dikatakan Mrk 16:5 mengenai "seorang muda berjubah putih". Lukas menyebut dalam "dua sosok" mengikuti tradisi komunitasnya (Luk 24:4; dekat dengan tradisi Yohanes, lihat Yoh 20:11-13).

Ketiga penulis ini menulis secara berbeda mengenai siapa yang datang ke makam. Matius mencatat, mereka itu Maria dari Magdala, dan Maria "yang lain" (Mat 28:1). Lukas menyebut Maria Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (Luk 24:10). Markus juga berbicara mengenai tiga perempuan, tetapi yang bernama Yohana menurut Lukas itu disebut sebagai Salome (Mrk 16:1). Yoh 20:1 hanya menampilkan Maria Magdalena dan penampakan kepadanya tidak langsung terjadi pada saat itu. Baru nanti setelah kembali dari melaporkan kosongnya kubur kepada Petrus dan murid lain, Maria memperoleh penampakan dua sosok malaikat dan kemudian Yesus sendiri (ay. 11-18).

Walaupun berbeda-beda, keempat Injil itu berpusat pada kenyataan bahwa makam sudah kosong. Pembaca atau pendengar Injil tidak diharapkan melacak siapa-siapa datang ke kubur dan bagaimana jalannya peristiwa yang satu kepada yang lain. Injil mengajak orang mendengarkan kesaksian orang-orang yang sudah percaya akan kebangkitan dan menikmati kisah ini guna merasa-rasakan keanekaragaman pengalaman mereka.

Matius menekankan bahwa Yesus kini sungguh-sungguh hidup dan murid-murid dipesan agar pergi ke Galilea dan di sana mereka akan melihatnya. Di sanalah para murid yang kini masih tercerai-berai dan bersembunyi itu dapat berkumpul kembali dengan Yesus dan mengawali hidup sebagai murid dengan cara baru. Tempat yang memberi hidup baru itu ialah Yerusalem. Setelah kebangkitan, tempat itu berubah dari kota yang menolaknya menjadi kumpulan orang yang menerima kehadirannya. Yohanes tidak menyebut nama tempat. Ia nanti langsung menyebut bahwa para murid sedang berada di suatu tempat, ketakutan (Yoh 20:19). Pada saat-saat itulah, Yesus menampakkan diri kepada mereka memberi kekuatan dengan meniupkan Roh (ayat 22-23). Tempat kegelisahan menjadi tempat damai. Entah itu Galilea atau Yerusalem atau tempat mana pun, yang diwartakan Injil ialah suasana rohani yang memungkinkan orang berkumpul kembali dan memperoleh kekuatan dari guru mereka yang telah bangkit itu.


  1. Perjumpaan dengan Yesus yang Bangkit

Dalam Mat 28:1-10, kedua perempuan yang pergi ke makam tidak mendapati Yesus lagi3. Makam kosong, tetapi ada malaikat yang pakaiannya berkilauan yang mengatakan agar mereka sunggguh menyadari bahwa yang mereka cari tidak ada lagi di situ karena telah bangkit. Mereka disuruh melihat tempat Yesus tadinya dibaringkan. Malaikat itu menyuruh mereka memberi tahu para murid bahwa Yesus yang sudah bangkit tadi mendahului mereka ke Galilea. Kedua perempuan itu dengan rasa cemas-cemas gembira segera pergi mengabarkan semuanya kepada para murid.

Pada saat itulah Yesus menjumpai mereka dan memberi salam damai. Mereka pun memeluk kakinya dan sujud kepadanya. Ini ungkapan bahwa mereka betul-betul percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Yesus menyuruh mereka mengabarkan kepada saudara-saudaranya, yakni murid-murid terdekat, agar pergi ke Galilea dan di sana mereka akan melihatnya. Kata-kata ini menegaskan kembali yang diucapkan malaikat tadi.

Bagi Lukas, ketiga perempuan yang mendatangi kubur mendapati dua sosok. Dalam Markus hanya seorang muda saja yang tampak kepada perempuan-perempuan yang datang ke makam. Seperti disebut di atas, Yohanes baru menceritakan penampakan setelah Maria Magdalena kembali dari mengabarkan kosongnya kubur. Walaupun begitu, keempat Injil itu sama-sama mengatakan memang makam telah kosong, artinya Yesus tak ada di antara orang mati lagi. Ia telah bangkit. Murid-murid yang kini tercerai-berai akan dikumpulkan kembali, bukan dalam ketakutan melainkan dalam suasana damai yang mereka bawa dalam batin mereka. Bagi kita zaman ini, tetap ada imbauan agar kita pergi ke tempat damai tadi, yakni Galilea batin, Yerusalem rohani, dan tempat berkumpul yang akan ditamui Yesus sendiri. Itulah Paskah bagi murid-murid sepanjang zaman, di mana saja.

Bagi para murid, pemberitahuan dari para murid perempuan yang mendapati makam kosong dan dua sosok yang menjelaskan bahwa Yesus tak ada di antara orang mati (Lk 24,11) hanyalah omong kosong4. Petrus memastikan sendiri dan segera pergi ke makam dan ia hanya mendapati kain kafan saja. Ia kemudian pulang heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi (Lk. 24, 12). Ayat ini tidak didapati di dalam salinan dan naskah-naskah tua Injil Lukas. Namun bacaan liturgi sudah sejak dini menerima ayat ini sebagai bagian Injil Lukas dan oleh karenanya tidak usah diragukan bahwa memang termasuk tradisi yang menumbuhkan Injil itu sendiri.

Dengan sengaja Lukas hanya menyebut Petrus "pulang heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi." Pendengar Injil diajak ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai "apa yang telah terjadi itu", yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya saja yang ada di situ. Petrus akan sampai kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit. Kita boleh berusaha ikut menyelami batin Petrus waktu itu. Ini cara Injil Lukas mengajak kita mengalami iman kebangkitan dengan bantuan seorang murid Yesus sendiri.

Kedua murid yang berjalan ke Emaus itu tidak segera sadar bahwa orang yang menyertai mereka dalam perjalanan ke Emaus ialah Yesus yang telah bangkit. Kepada mereka, Yesus yang kelihatan sebagai musafir itu menjelaskan kejadian-kejadian mengenai dirinya yang telah dikatakan dalam Kitab Suci. Sepanjang perjalanan itu, kedua murid tadi "membaca kembali" warta Kitab Suci mengenai Yesus5. Mereka tidak sadar bahwa Yesus ada bersama mereka dan menolong mereka agar mengerti lebih dalam warta Kitab Suci. Mata mereka baru terbuka ketika ia makan bersama mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir. Tetapi saat itu juga Yesus lenyap. Yang tinggal ialah kesadaran bahwa ia kini hidup dan kegembiraan menyadari hal ini. Kegembiraan inilah yang membuat mereka pergi mengabari kesebelas murid di Yerusalem dan orang-orang lain yang beserta mereka.


  1. Catatan Mengenai Penampakan

Bila diperhatikan, kisah-kisah penampakan seperti diceritakan dalam Perjanjian Baru memuat tiga unsur utama. Pertama, Yang mendapat penampakan tidak segera mengenali Tuhan yang sedang menampakkan diri: kedua murid dalam perjalanan ke Emaus mengira sedang berbiicara dengan musafir yang tak tahu apa yang baru terjadi Yerusalem (Luk 24,18), Maria Magdalena mengira bertemu dengan penunggu taman (Yoh 20, 15), murid-murid yang menjala ikan di Tiberias nanti tak tahu siapa sosok yang menunggu mereka di pantai (Yoh 21, 4); bahkan dalam kesempatan lain murid-murid mengira Yesus itu hantu (Luk 24, 37). Dalam keadaan itu Tuhan membantu mereka agar mengerti apa yang sedang mereka alami dengan hal berikut.

Kedua, Terjadi dialog antara Tuhan dan orang yang mendapat penampakan. Ini unsur rasionalitas penampakan sejati. Bisa terjadi sepanjang hari (dua murid dalam perjalanan ke Emaus), bisa juga sebentar (Maria Magdalena, para perempuan), bahkan sekilas (Saulus dalam Kis 9:3-6), tetapi dapat juga terjadi berulang-ulang dalam masa 40 hari (Kis 1:3b). Bagaimanapun juga hubungan yang terbangun dalam dialog seperti itu akhirnya menyebabkan perubahan yang besar dan mantap dalam diri orang yang bersangkutan, bukan hanya perasaan sesaat-sesaat.

Ketiga, Penampakan membuat orang mulai memberikan kesaksian. Namun kesaksian ini bukan mengenai penampakan sendiri, melainkan mengenai suatu pokok kepercayaan: Yesus bangkit (Mrk16, 20; Yoh 20,18); yang bangkit itu sungguh ada ditengah-tengah para murid (Luk 24, 35. 48); penampakan kepada Saulus menjadi titik balik kehidupannya menjadi Paulus sang rasul.

  1. Hidup yang Mangrasul

Ada perkembangan pemahaman tentang siapakah yang pantas disebut sebagai rasul. Gereja awal menetapkan bahwa seorang rasul adalah seorang yang telah melihat Tuhan yang bangkit6. Dengan pengalaman perjumpaan dengan Yesus ini, mereka mengalami daya Roh yang mengubah hati mereka sendiri dan selanjutnya menyampaikan daya yang sama kepada orang lain (Kis 8,15-17)7. Seorang rasul adalah seorang yang mampu mendengarkan suara Allah sehingga ia mengetahui apa yang dikehendaki Allah dengan hidupnya8. Dengan mendengarkan suara Allah, seorang rasul dimampukan untuk membuat penegasan. Pandangannya harus jernih dan pendengarannya harus tajam sehingga ia mampu membedakan kehendak Allah dengan dorongan-dorongan pribadinya sendiri dan bisikan Roh Kudus atau roh jahat.

Mangrasul berarti berani menjadi “saksi Kristus bagi dunia”. Mangrasul berarti mengenal, mencintai, dan mengikuti Kristus9. Mangrasul ini merupakan tindakan aktif para murid Kristus dalam pewartaan karya keselamatan Allah. Rahmat Allah memampukan mereka berjumpa dengan Kristus secara personal. Perjumpaan ini semakin mengenalkan para murid akan Kristus sehingga meningkatkan cinta kepadaNya. Inilah mangrasul yang berarti menyerahkan, mengarahkan hati kita seutuhnya kepada Allah10. Setelah mengenal, para murid berani berkata “ya” secara total kepada Tuhan. Mereka mengakui dan menerima Tuhan sebagai satu-satunya penyelamat. Mereka terlibat dan setia kepada Tuhan secara nyata dalam hidupnya. Mereka mengikuti Kristus dan berani mengambil sikap untuk memberikan kesaksian atas iman mereka. Para murid dipanggil untuk menyertai Tuhan dan diutus-Nya untuk memberitakan Injil (bdk. Mrk 3:14). Kata menyertai berarti tinggal bersama dan menjalin persekutuan dengan Tuhan11. Tinggal bersama sungguh menunjuk makna kehidupan bersama secara penuh dan menyeluruh. Tinggal bersama Yesus untuk para murid juga berarti mereka siap untuk mengikuti Yesus ke mana pun juga.

Mangrasul ini menuntut adanya sikap disponibilitas perutusan, yaitu kesadaran diri bahwa dirinya adalah murid Kristus yang menjalani perutusan. Tempat dimana ia berada merupakan tempat dia mendapat panggilan sekaligus menghayati panggilan hidup mangrasul tersebut. Mangrasul bukan terbatas pada tempat dimana ia berada, tetapi merupakan sikap batin yang selalu sadar dan bersedia untuk menjadi saksi Kristus dengan penuh keberanian, setia, teguh hati, dan gembira. Mangrasul berarti mewartakan kabar gembira Tuhan dan karya keselamatan Allah bagi semua orang dengan segala keberagaman situasi yang menyertainya12. Dalam perutusan tersebut, seorang murid Kristus mengakui dengan iman bahwa Roh Kristus selalu hadir dan menyertai perjuangannya. Roh Kudus yang menghadirkan Kristus yang bangkit menjadi jiwa dan nafas hidup dalam menghayati hidup yang mangrasul tersebut.


C. Mangrasul: Kesaksian Hidup Kasih Allah yang Tiada Henti

Seorang yang telah mengalami perjumpaan, mengenal, dan mencintai Kristus, akhirnya dimampukan untuk mengikuti Kristus. Dia dimampukan untuk mangrasul, yaitu kesiapsediaan yang tiada henti untuk menyerahkan dirinya seutuhnya kepada. Dengan seluruh hidupnya, dia mewartakan kasih Allah agar sampai kepada semua orang di dunia dengan segala keanekaragaman perjuangan, pergulatan historis imannya yang kontekstual13. Mangrasul adalah dialog sekaligus kesiapsediaan menjawab panggilan Allah yang tidak pernah selesai.

Seiring perkembangan zaman, hidup mangrasul juga berkembang. Mangrasul tidak dapat berhenti, mandeg. Mangrasul berkembang dan selalu relevan untuk zamannya. Dengan demikian, kehidupan mangrasul orang beriman selalu berdasar pada keterbukaan untuk memahami kehendak Tuhan dalam segala bidang kehidupan. Ada keterbukaan untuk membaca tanda-tanda zaman dan kehendak Allah dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian, mangrasul berarti menjadi saksi yang setia, terbuka, gembira, dan teguh mencari kehendak Allah dalam hidupnya di dunia ini. Akhirnya, hidup mangrasul berarti membiarkan Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi yang yang terpanggil sesuai dengan rencanaNya



Daftar Pustaka


Bergant, Dianne dan Robert J. Karris

2002. Tafsir Alkitabiah Perjanjian baru. Yogyakarta: Kanisius.

Brown, Raymond E.

1992. Kristus Yang Tersalib dalam Pekan Suci. Yogyakarta: Kanisius.

Darmawijaya, St.

1997. Inspirasi Hari Minggu Tahun B Masa Khusus dan Hari Raya. Yogyakarta: Kanisius.

1999 St. Inspirasi Hari Minggu Tahun A Masa Khusus dan Hari Raya. Yogyakarta: Kanisius.

de Mello, Anthony.

1993. Hidup di Hadirat Allah. Yogyakarta: Kanisius.

Den Heyer, CJ.

1994. Perjamuan Tuhan. Studi Mengenai Paskah dan Perjamuan Kudus Bertolak dari Penafsiran dan Teologi Alkitabiah. Jakarta: BPK.

Gianto, Agustinus.

2006. Bersama Dia. Kumpulan Ulasan Injil. Yogyakarta: Kanisius.

Suharyo, I.

1989. Pengantar Injil Sinoptik. Yogyakarta: Kanisius.

1991. Membaca Kitab Suci. Mengenal Tulisan Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius.

2007. Rancangana Homili Sepanjang Tahun. Yogyakarta: Kanisius.

Wahjasudibja, Al.

1983. Panitia Liturgi Keuskupan Agung Semarang, Misa Hari Minggu dan Hari Raya, Kanisius, Yogyakarta

1 Al. Wahjasudibja, Pr, Panitia Liturgi Keuskupan Agung Semarang, Misa Hari Minggu dan Hari Raya.Yogyakarta: Kanisius. 1983, 379-521; St. Darmawijaya, Pr, Inspirasi Hari Minggu Tahun A Masa Khusus dan Hari Raya. Yogyakarta: Kanisius. 1999, 108-142; St. Darmawijaya, Pr, Inspirasi Hari Minggu Tahun B Masa Khusus dan Hari Raya. Yogyakarta: Kanisius. 1997, 125-160.

2 Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitabiah Perjanjian baru. Yogyakarta: Kanisius. 2002. 76, 112, 159-161, 199-201.

3 Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitabiah Perjanjian baru… 76.

4 Dianne Bergant dan Robert J. Karris. Tafsir Alkitabiah Perjanjian baru. .. 159-161

5 CJ. Den Heyer. Perjamuan Tuhan. Studi Mengenai Paskah dan Perjamuan Kudus Bertolak dari Penafsiran dan Teologi Alkitabiah. Jakarta: BPK. 1994. 79

6 Anthony de Mello. Hidup di Hadirat Allah. Yogyakarta: Kanisius. 1993. 21.

7 Anthony de Mello. Hidup di Hadirat Allah. ... 22

8Agustinus Gianto. Bersama Dia. Kumpulan Ulasan Injil. Yogyakarta: Kanisius. 2006. 6

9 I. Suharyo. Membaca Kitab Suci. Mengenal Tulisan Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. 1991.45-45. Anthony de Mello. Hidup di Hadirat Allah. ... 173-179.

10 I. Suharyo. Membaca Kitab Suci… 61.

11 I. Suharyo. Membaca Kitab Suci.. 29-30.

12 I Suharyo. Membaca Kitab Suci. ... 105

13 Raymond E. Brown, Kristus Yang Tersalib dalam Pekan Suci, Kanisius, Yogyakarta 1992, 93-98.


Tidak ada komentar: