Menjadi Murid Menurut Injil Yohanes
Belajar dari Nicodemus
Tanda mempunyai arti yang penting dalam Injil Yohanes. Dengan tanda, orang semakin percaya dan beriman kepada Allah. Dengan melihat tanda, orang ingin semakin mengenal, terlibat, dan menjadi bagian dalam karya Yesus. Nicodemus melihat tanda dalam karya Yesus. Nicodemus adalah seorang yang kagum kepada Yesus dan ingin menjadi muridNya. Nicodemus adalah salah seorang Yahudi yang menjadi muridNya. Dia menjadi contoh jelas bagaimana proses menjadi murid. Ada suatu kekaguman, dialog, kebingungan, namun ada suatu gerak maju untuk mencoba terlibat dalam karya Yesus. Nicodemus berusaha menjadi bagian dari Yesus.
Mengenal Nicodemus Lebih Dekat
Nicodemus adalah seorang rabi Yahudi, yang berkedudukan tinggi dalam Sanhedrin. Dia adalah seorang yang kaya, terdidik dan sangat dihormati. Nicodemus adalah seorang Yahudi yang datang kepada Yesus pada malam hari, namun berani membela Yesus secara terang-terangan di hadapan kelompok Sanhedrin. Nicodemuslah yang berani mengatakan kepada para imam dalam kelompok Sanhedrin mengenai otoritas yang mengutus Yesus. Dia mengatakan jika kuasa Yesus itu datang dari Allah, maka mustahillah untuk menghentikan segala karya Yesus. Namun, para imam tidak mengindahkan pertimbangan dari Nicodemus ini. Nicodemus ini muncul beberapa dalam Injil Yohanes(Lih. Yoh 3,1-16; 7,45-53; 19,38-42!). Karena mendengar pengajaran Yesus, Nicodemus yang telah dengan penuh minat belajar nubuat kedatangan Mesias, semakin ingin mengetahui siapa Yesus itu. Dia tertarik dengan karya Yesus semenjak Yesus mengusir para pedagang yang berjualan di Bait Allah. Dia melihat suatu kekuatan ilahi ketika melihat Yesus melakukan berbagai mukjizat dan penyembuhan. Ia sangat menginginkan berbicara dengan Yesus, tetapi takut atau segan untuk melakukannya secara terbuka karena takut terhadap bangsa Yahudi. Dia berani mendekati Yesus ketika malam hari di Bukit Zaitun, ketika orang-orang telah terlelap dalam tidurnya.
Menjadi Murid adalah Lahir Kembali
Dia memulai percakapannya dengan Yesus dengan berkata" Rabbi, kita mengetahui bahwa Engkau seorang guru datang dari Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan jika Allah tidak menyertainya.” Kata-katanya ini menunjukkan bahwa Nicodemus mengakui bahwa Yesus adalah Guru, namun sekaligus dia menyatakan bahwa orang-orang Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai Mesias, tetapi hanya seorang guru. Mendengar sapaan Nicodemus ini, Yesus memandang Nicodemus, seolah-olah membaca jiwa seluruhnya, mencari kebenaran. Dia mengerti maksud dari kedatangan Nicodemus ini.
Nicodemus datang kepada Yesus untuk mengadakan suatu diskusi dengan Nya, tetapi Yesus menyingkap prinsip dasar kebenaran itu. Menjadi murid tidak dapat dimengerti semata-mata secara pengetahuan teoritis, namun suatu hati yang baru. Dengan hati yang baru, akan mampu melihat hal-hal baru, terlebih hal-hal surgawi. Jika belum mempunyai suatu hati yang baru untuk melihat hal-hal yang baru, pembicaraan bersama Yesus mengenai karya dan misi Yesus, menjadi murid Yesus itu tidak mempunyai arti apa-apa.
Nicodemus teringat dengan pengajaran Yohanes Pembaptis mengenai tobat dan baptis, yang menunjuk kepada Orang yang akan datang yang akan membabtis dengan Roh Kudus. Nicodemus merasa asing dengan pengajaran Yesus mengenai kelahiran yang baru. Hal ini disebabkan karena dia melihat bahwa orang-orang Yahudi cenderung bersikap berdasarkan rasa fanatik dan ambisi duniawi. Ini nampak dalam pengharapan Mesias sebagai raja duniawi yang akan memberi status kehidupan duniawi yang lebih baik daripada yang sekarang ini. Sikapnya yang berdasar kesadaran bahwa ada suatu kerajaan abadi yang hendak dinyatakan ini, bertentangan dengan kebiasaan orang Yahudi yang merasa cukup dengan ritus ibadat di Bait Allah. Pada awalnya, dia mengartikan perkataan Yesus itu secara harafiah. Hal ini nampak dalam kata-katanya yang bernada ironi, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua?" Yesus menjawab dengan amat cerdik dan tidak berupa adu argumentasi. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mendengar jawaban Yesus, Nicodemus teringat dengan pengajaran Yohanes mengenai akan datang orang yang berhak membabtis dengan Roh Tuhan. Yesus kemudian melanjutkan kata-kataNya, "Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh.”
Pikiran duniawi membawa pada permusuhan melawan Tuhan, sebab pikiran duniawi mengajak orang bukan tunduk kepada hukum Tuhan, melainkan kepada pemikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, perzinahan, pencurian, kesaksian saksi palsu, menghujat Tuhan (Bdk. Rom. 8,7 dan Mat. 15,19!). Hati harus dibersihkan dahulu supaya menjadi murni. Cara hidup Kristiani bukanlah semata-mata suatu modifikasi atau peningkatan cara hidup yang lama, tetapi merupakan suatu transformasi. Ada suatu bentuk sikap penyangkalan diri dan dosa, serta memulai hidup baru sama sekali semuanya. Perubahan ini menjadi sempurna dengan adanya karya Roh Kudus.
"Angin bertiup kemana ia mau dan engkau mendengar bunyinya di antara dahan-dahan pohon, dedaunan, tetapi engkau tidak tau darimana ia datang atau kemana ia pergi. Demikian halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Seseorang tidak mungkin mampu menjelaskan hal itu secara tepat dan sempurna. Dengan perumpaaman seperti angin yang tidak terlihat, Kristus digambarkan selalu berkarya di dalam hati. Sedikit demi sedikit, bahkan tanpa disadari, jiwa itu ditarik dan dibawa kepada Kristus. Angin itu tidak kelihatan, namun menghasilkan efek yang dilihat dan dirasakan. Demikian juga karya Roh Kudus itu. Roh itu tidak kelihatan, namun mempengaruhi, mengubah dan melandasi tindakan. Pemikiran penuh dosa disisihkan, perbuatan jahat ditinggalkan; cinta, kerendahan hati, dan damai menggantikan kemarahan, kecemburuan, dan perselisihan. Sukacita menggantikan kesedihan. Semua itu menampakkan kehidupan surgawi.
Sabda Yesus tentang kebenaran menembus pikiran Nicodemus. Secara sangat lembut, Roh Kudus menyentuh hatinya meskipun ia tidak secara penuh memahami perkataan Yesus. Ia belum memahami kelahiran yang baru sebagai cara tentang pemenuhanNya. Pewartaan Yesus mengenai misiNya itu tidak segera dimengeti oleh umat. Melihat ini, Yesus menambahkan, "Jika aku sudah menceritakan kepadamu berbagai hal yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami, bagaimana kamu akan percaya, jika aku menceritakan tentang hal-hal surgawi?" Jika Nicodemus tidak bisa menerima Pengajaran Kristus tentang karya yang menyentuh hati, bagaimana ia bisa memahami Kerajaan Surga yang agung? Jika tidak bisa memahami karya Kristus di dunia, ia tidak bisa memahami segala karyaNya di surga.
Bangsa Yahudi yang telah diusir Yesus dari Bait Allah itu mengaku sebagai anak-anak Abraham, namun mereka tidak menerima Yesus sebagai Mesias yang mereka nantikan sebab mereka tidak melihat kemuliaan yang hadir dalam diri Yesus. Mereka tekun untuk memelihara upacara-upacara kekudusan, tetapi mereka melalaikan kekudusan hati mereka. Mereka secara ketat menjaga pelaksanaan hukum, tetapi mereka secara konstan melanggar kesucian dari hukum itu. Yesus menyampaikan hal itu kepada Nicodemus dengan istilah kelahiran baru, yaitu kelahiran moral baru, pembersihan diri dari dosa, pembaharuan pengetahuan dan kekudusan.
Dalam inspirasi Roh Kudus, Yesaya telah menulis, " Kita semua seperti orang najis dan kesalehan kami seperti kain kotor (Bdk. Yes. 64,6!).” Dalam Mazmurnya, Daud juga berdoa kepada Allah, "Jadikanlah hatiku tahir ya Allah dan perbaharuilah batinku dengan Roh yang teguh (Bdk. Mzm.51,12!).” Dan melaluiYehezkiel, janji itu telah terpenuhi, "RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan membuatmu hidup seturut kehendakKu dan Aku akan melepaskan engkau dari kenajisanmu (Bdk. Yeh. 36,26-27!).”
Nicodemus telah membaca kitab injil namun belum mengerti maksudnya, tetapi ia sekarang mulai untuk memahami maksudnya. Ia melihat bahwa ketaatan kaku pada hukum tidak membawa orang masuk Kerajaan Surga. Karena dengan menaati hukum secara kaku, dia hanya terhormat dihadapan penilaian orang, tetapi di hadapan Kristus, ia merasakan bahwa hatinya adalah kotor dan hidupnya najis. Nicodemus telah ditarik kepada Kristus. Ia telah mendengar sabda Yesus tentang kelahiran yang baru. Ia merindukan dirinya juga lahir kembali.
Melihat Tanda dalam Pengalaman Musa di Padang Gurun
Yesus mengajarkan kepada Nicodemus bahwa hal itu mungkin. Yesus menjelaskan itu dengan mengambil contoh dari kisah Musa. Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal. Yesus masuk kepada Nicodemus dengan bahasa yang dipahami oleh Nicodemus. Lambang ular yang diangkat melambangkan karya misi Yesus. Ketika orang Israel tengah sekarat karena terkena bisa ular yang ganas, Tuhan meminta Musa untuk membuat suatu ular kuningan, dan menempatkannya tinggi di tengah-tengah orang Israel. Orang yang melihat ular yang ditinggikan itu akan selamat. Orang-Orang memahami bahwa bukan ular itu yang menyelamatkan mereka, tetapi Allah sendiri.
Kebanyakan orang Israel menghormati upacara korban dan percaya akan membebaskan mereka dari dosa padahal hal ini hanya tidak lebih tinggi nilainya dibanding dengan ular kuningan itu. Yesus mengajarkan itu untuk membawa pemahaman mereka kepada kedatangan Sang Penyelamat. Tidak ada yang mampu menyembuhkan luka mereka atau dosa mereka selain karena rahmat Tuhan.
Mereka yang telah digigit oleh ular mungkin telah menolak untuk melihat ular yang ditinggikan itu. Mereka menuntut suatu penjelasan ilmiah, tetapi tidak ada penjelasan mengenai hal itu. Mereka harus menerima perkataan Tuhan melalui Musa. Menolak perkataan Tuhan melalui Musa berarti kebinasaan bagi mereka. Kita harus melihat dan hidup. Nicodemus menerima pelajaran itu. Ia mencari Kitab injil secara baru, bukan untuk diskusi, tetapi dalam rangka menerima hidup untuk jiwa. Ia mulai untuk melihat kerajaan surga sebagaimana ia menerima pengertian itu karena kuasa Roh Kudus.
Dibutuhkan waktu yang lama untuk melihat kebenaran yang sama yang telah diterima Nicodemus. Mereka tergantung pada ketaatan mereka menurut hukum Tuhan untuk memuji Kebaikan Allah. Ketika mereka diundang untuk menantikan Yesus, dan percaya bahwa Ia akan menyelamatkan mereka semata-mata karena Rahmat nya, mereka berseru, " Bagaimana mungkin hal ini terjadi?" Seperti Nicodemus, kita harus berkeinginan masuk ke hidup dengan cara yang sama seperti pemimpin orang yang berdosa. “Tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis 4,12). Dengan iman, kita menerima rahmat Tuhan; tetapi iman bukanlah penyelamat kita. Itu adalah tangan dimana kita bisa meletakkan pegangan kita pada Kristus, dan karena rahmatNya, kita terselamatkan. Kita tidak bisa menyesali segala dosa kita tanpa bantuan Roh Tuhan. Pertobatan datang dari Kristus sama halnya dengan keselamatan yang merupakan anugerah dari Kristus (Bdk. Kis. 5,31!).
Bagaimana kita dapat diselamatkan? Sama seperti ketika Musa mengangkat ular itu di dalam hutan belantara, Anak Manusia telah diangkat dan semua orang yang telah digigit oleh ular dan melihatnya, akan selamat. "Lihatlah Anak Domba Allah, yang telah menebus dosa dunia (Kis. 1,29)." Cahaya yang bersinar dari salib mengungkapkan cinta Tuhan. Cintanya sedang menarik kita kepada DiriNya. Kita diajak ke arah kaki salib di dalam tobat untuk dosa yang sudah salibkan oleh Penyelamat klita. Kemudian Roh Tuhan melalui iman menghasilkan suatu hidup baru dalam jiwa. Pemikiran dan kehendak dibawa ke dalam ketaatan kepada kehendak Kristus. Hati, budi, diciptakan kembali di dalam rupa Allah yang bekerja untuk menundukkan semua kepada dirinya. Kemudian hukum Tuhan ditulis dalam hati dan budi, dan kita dapat kata berkata, “Aku bersukacita melakukan KehendakMu, ya Allahku.(Mzm. 40,8).
Yesus membentangkan rencana keselamatan, dan MisiNya kepada dunia. Ia menjelaskan secara penuh, bertahap, tentang pekerjaan yang akan dilakukan bagi dunia dan siapa yang akan menerima warisan kerajaan surga. Ia membuka kebenaran kepada anggota Sanhedrin, seorang guru yang ditetapkan orang-orang, namun para pemimpin Israel tidak menyambutnya. Yesus telah mengenal lahan dimana Ia akan menabur benih itu. Pembicaraan pada malam hari kepada satu pendengar (Nicodemus) di atas gunung yang sepi tidaklah hilang. Untuk sementara waktu, Nicodemus tidak berani mengakui adanya Kristus di depan umum, tetapi ia mengamati hidupNya, dan mempertimbangkan pengajaranNya. Di dalam Dewan Sanhedrin, ia berulang-kali merintangi rencana para imam untuk menghancurkan Yesus. Ketika pada akhirnya Yesus disalib, Nicodemus ingat akan pengajaranNya, “ Seperti Musa mengangkat ular di dalam hutan belantara, demikian juga Anak manusia diangkat. Siapapun yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, tetapi mempunyai hidup abadi." Cahaya yang muncul dari percakapan yang rahasia menerangi salib dipuncak Kalvari, dan Nicodemus melihat Yesus sebagai Penebus dunia. Setelah kenaikan Tuhan, ketika para murid telah tersebar dan ketakutan karena penyiksaan, Nicodemus datang dengan terus terang kepada mereka. Ia menggunakan kekuasaan dan kemampuannya untuk mendukung pewaartaan Kristus. Dahulu ia sangat takut dan berhati-hati untuk pergi kepada Yesus, kini ia memberi harapan kepada iman para murid. Ia menggenapi makna karya Yesus dan melanjutkan pewartaan Injil. Ia telah dicaci-maki dan dianiaya. Ia menjadi lemah, miskin dari barang-barang dunia; namun ia tidak bimbang di dalam iman yang dimulai dari pembicaraan malam dengan Yesus.
Daftar Pustaka:
Bergant, Dianne, CSA dan Karris, Robert J, OFM. Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. 2002.
James T. Dennison, Jr. Nicodemus. Escondido, California. 2002.
_____. Exposition of the Gospel of John CHAPTER 8 Christ and Nicodemus. Escondido, California. 2002.
_____. The New Interpreters Bible. Volume IX. Nashville: Abingdon Press. 1995.
_____. Dictionary of The Bible. New York: Hendrikson Publisher. 1989.
LAI. Alkitab. Jakarta: LAI. 2002.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar