Membaca Kembali Lumen Gentium
dalam
Councils of Churches and the Ecumenical Vision
Judul Buku : Councils of Churches and the Ecumenical Vision.
Pengarang : Dianne Kessler and Michaels Kinnamon.
Penerbit dan tahun : WCC Publication, Switzerland. 2000.
Tebal : 86 halaman.
Diane Kessler dan Michael Kinnamon menjelaskan tentang Konsili Gereja dan Gerakan Ekumenis. secara bertahap dalam buku Councils of Churches anf the Ecumenical Vision ini. Gerakan ekumenis semakin berkembang di banyak tempat di dunia ini semenjak Konsili Vatican II. Dalam bukunya, kedua pengarang menjelaskan konsili gereja dan gerakan ekumenis dalam 10 bab. Penulis menggolongkan bab-bab itu menjadi 4 bagian besar, yaitu: pertama, Sejarah Konsili yang meliputi dasar dari gerakan ekumenis; kedua, Pihak-pihak yang terlibat dalam gerakan ekumenis dan konsili Gereja; ketiga, Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh para ekumenis dan spiritualitasnya; keempat, Perkembangan gerakan ekumenis itu sekarang ini dan di masa yang akan datang.
Dasar dan Sejarah Gerakan Konsili yang Ekumenis
Konsili bukanlah merupakan suatu sejarah yang sangat baru dalam Gereja. Dalam tradisi Kitab Suci telah diceritakan bahwa Para rasul sudah mengadakan konsili, yaitu Konsili Yerusalem. Dalam Konsili itu, mereka membicarakan tentang selamat tidaknya orang yang tidak sunat.1 Ada pertentangan bahwa hanya orang yang sunat yang meperoleh keselamatan, namun di sisi lain, imanlah yang menentukan keselamatan.
Perkembangan liberalisme abad ke-19 berpengaruh besar di dalam Gereja. Perkembangan ini menghantar pada pertentangan mengenai siapa yang paling benar. Setiap pribadi atau kelompok tertentu menginginkan dialah yang dianggap paling benar dan sempurna. Pertentangan timbul ketika pihak yang satu berhadapan dengan pihak yang lain. Hal ini masuk dalam diri Gereja. Ada persaingan antar Gereja yang semakin meruncing.
Keprihatinan terhadap hal ini menuntut sikap mau duduk bersama. Gerakan duduk bersama ini berkembang di banyak tempat dan menjadi awal lahirnya gerakan ekumenis, misalnya YMCA di Inggris (1844), Germany Missionary Council (1885), British Misionary Society (1912), National Council of Churches (1956), East Asian Christian Conference( 1959), dan lain-lain. The Edinburg missionary Conference (1910) dianggap sebagai awal gerakan ekumenis. Seiring perkembangn zaman, gerakan ekumenis tidak hanya dihadiri oleh negara-negara, namun juga organisasi-organisasi yang berkembang dalam negara-negara tersebut.
Semenjak Konsili Vatican II, semangat untuk berada bersama, tumbuh dan berkembang dalam Gereja. Gereja menyadari bahwa seluruh umat Kristiani merupakan satu kesatuan yang utuh. Semangat ini didasarkan pada kesadaran akan Gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota.2 Gereja mengakui bahwa umat Kristiani adalah satu. Mereka adalah orang yang mengakui Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat dan dimasukkan dalam persekutuan dengan martabat yang sama, yang ditandai dengan penerimaan sakramen babtis. Dengan pengakuan ini, Gereja merangkum segenap umat manusia beserta segala isinya dibawah Kristus sebagai kepala dalam kesatuan dengan RohNya. Sikap terbuka ini didasari kesadaran Gereja bahwa setiap orang itu mencari Tuhan dengan hati tulus dan berkat rahmat Tuhan, berusaha melaksanakan kehendak Allah melalui perbuatan nyata sehari-hari.
Sikap inilah yang mendasari gerakan ekumenis. Orang saling menghargai kekhasan setiap bagian dalam menerima pewahyuan Allah, mendorong satu sama lain untuk semakin beriman berdasar pada Kitab Suci, rela berbagi dan berpartisipasi dalam pelayanan dan kehidupan lokal, mempunyai kebebasan untuk menentukan sikap, berani membuat suatu keputusan yang terbaik, memahami misi Gereja, dan rela masuk dalam kesatuan Gereja.
Peserta Konsili Gereja yang Ekumenis
Konsili Gereja yang ekumenis ini dihadiri dan didukung oleh banyak pihak. Mereka ini mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Penyelamat berdasar pada Kitab Suci dan kehendak baik untuk menanggapi panggilan Allah dalam kesatuan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Pengakuan mereka ini menjadi nyata dalam pengakuan akan Yesus Kristus dalam kesatuan dengan Allah Tritunggal sebagai satu-satunya Tuhan dan Penyelamat manusia.
Gereja Orthodok, Gereja Katolik Roma, Gereja Pantakosta Evangelis adalah mereka yang terlibat pertama kali dalam Konsili yang ekumenis ini, bahkan Gereja Orthodok ini sudah mulai terlibat dalam Konsili sejak awal tahun 1960-an. Keterlibatan mereka ini bukan karena gerakan revolusi, perkembangan sejarah, tetapi karena ini merupakan konsekuensi dari doa mereka, yaitu kesatuan untuk semuanya. Gereja Katolik Roma semakin terlibat dalam Gerakan Ekumenis sejak Konsili Vatican II. Karena keraguannya, Gereja Pentakosta dan Gereja Evangelis agak lebih lambat dalam keterlibatannya. Mereka takut jika keterlibatan mereka ini diasosiasikan dengan kebijakan politik dan teologi liberal. Dengan melihat diri secara jelas dan merevisi tradisi mereka, Gereja semakin melibatkan diri dalam gerakan ekumenis ini. Gerakan ini dinamakan Konsili Gereja dan menunjuk Konrad Raiser sebagai Sekretaris Jenderal pada tahun 1998 dalam konsili di Harare.
Gereja berdialog secara nyata dengan yang lain. Hal ini nampak dalam usaha Gereja untuk mau berbagi, hidup, dan bekerja bersama dengan masyarakat yang plural. Perjumpaan ini membuka kesempatan untuk semakin menemukan yang terbaik dan benar. Mereka tidak lagi menyebut sebagai umat Kristianilah yang paling benar dan sebagau umat Allah satu-satunya, namun mengakui semua umat manusia sebagai umat Allah. Hal itu menunjukkan bahwa mereka sudah menghayati pandangan ekumenisnya.
Spiritualitas Ekumenis.
Gereja hidup dalam dunia yang plural dengan segala keanekaragaman budayanya. Dalam keanekaragaman budaya, orang diajak hidup, berbagi, dan berdialog dengan pihak yang lain. Hal inilah yang dituntut gerakan ekumenis. Ada tiga spiritualitas dasar gerakan ekumenis yang harus dimiliki, yaitu spiritualitas personal, spiritualitas relasi, dan spiritualitas komunal. Ketiga hal ini dapat dijabarkan dalam sifat dan sikap di bawah ini:
Kemampuan menggintepretasikan tradisi kristiani dan tradisi ekumenis. Dengan dibabtis, orang diangkat ke dalam martabat yang sama, yaitu anggota Gereja dan menjadi anak-anak Allah. Dalam perkembangan zaman, anak-anak Allah ini dihadapkan pada tantangan untuk semakin individual padahal dengan menerima sakramen babtis mereka diangkat dan dimasukkan dalam satu tubuh walaupun dengan aneka karunia. Orang diharapkan mampu memahami dan menginterpretasikan gerakan ekumenis dalam perspektif lokal ataupun internasional sehingga semakin mampu memahami visi dan misi gerakan ekumenis. Orang diajak agar mau berdialog dan duduk bersama. Gerakan ekumenis ini bersumber pada kesadaran dan pemahaman bahwa semua orang mempunyai martabat yang sama dan semua adalah saudara. Walaupun berbeda-beda, tetapi tetap satu tubuh.3
Keterbukaan terhadap semua orang dengan segala keunikannnya. Komunikasi menjadi dasar untuk menjalin relasi dengan orang lain. Dengan komunikasi, orang menjadi terbuka dengan adanya perbedaan dan juga persamaan aantara dirinya dengan orang lain. Dengan berdialog dan berkomunikasi, suatu jembatan atau relasi antara dua orang tersebut akan terbangun. Orang semakin diajak untuk bertemu dan berhadapan dengan banyak orang dengan segala keistimewaan dan segala keunikannya.
Mampu untuk mengembangkan, melibatkan, memberdayakan. Orang diajak untuk mulai hidup bersama orang lain. Persoalan bersama dibicarakan bersama dan diselesaikan secara bersama pula. Orang diajak untuk menjadi seorang fasilitator dan moderator sehingga setiap keunikan pribadi itu menjadi kekuatan untuk menyelesaikan persoalan yang beanekaragam dan unik tersebut. Orang diajak untuk tidak bersikap single fighter.
Mempunyai kemampuan politik dan diplomasi. Kata politik tidak selalu mempunyai image jelek yang sering diartikan sebagai suatu usaha manipulasi, ketidakjujuran, dan kepentingan pribadi. Politik adalah kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar melakukan kehendaknya. Tindakan politik sudah dilakukan oleh setiap orang sejak ia kecil. Ketika orang menginginkan sesuatu, dia melakukan usaha tertentu. Hal itu sudah merupakan suatu tindakan politis. Bahkan ucapan terima kasih dan proficiat sudah dapat dikatakan tindakan politis karena hal itu mendorong orang untuk bangga dan bekerja lebih baik.
Bertanggungjawab dan mampu memaafkan. Seorang yang sukses adalah seseorang mampu bertanggungjawab terhadap hal-hal yang dipercayakan kepadanya. Seorang pemimpin yang baik harus bertanggungjawab terhadap tugas dan anggota-anggotanya. Jika ada kesalahan, tidak seketika dia dihukum tetapi bagaimana kemampuan komunikasi itu digunakan untuk melihat permasalahan dan memaafkan kesalahan itu. Memaafkan tidak berarti tidak menganggap ada kesalahan, tetapi terlebih memberi kesempatan bagi orang untuk berkembang dan maju, yaitu dengan memperbaiki kesalahannya.
Mampu berpikir sistematis. Orang dituntut untuk mampu menggunakan rasionya dalam melihat permasalahan secara jernih dan tidak terbawa nafsu. Dalam melihat permasalahan, orang diajak untuk melihat dan mencoba merumuskan apa, mengapa, bagaimana, siapa, dan kapan sehingga permasalahan itu dapat diatasi dengan mudah, tepat, dan baik. Itulah yang disebut berpikir sistematis, yaitu bagaimana melihat permasalahan dari berbagai segi, bagaimana langkah yang diambil dalam mengatasi persoalan tersebut, pihak-pihak mana saja yang diajak kerja sama, dan lain-lain.
Mempunyai karisma. Gerakan ekumenis adalah gerakan yang mendorong orang untuk mau duduk bersama, berdialog. Kepercayaan menjadi unsur mendasar dalam berdialog dan duduk bersama ini. Kepercayaan bahwa orang tersebut memang mampu dan pantas itulah yang disebut karisma. Ada suatu karisma yang mendorong orang untuk semakin terlibat. Karisma ini ditnjukkan dengan berbagai kemampuan, misalnya sabar, telaten, teliti, jujur, terbuka, dan lain-lain.
Mempunyai kehidupan rohani yang mantap. Gerakan ekumenis berdasar akan pengalaman dan hidup rohani yang mantap. Dalam bersharing, orang dituntut untuk mengenal siapa dirinya dan bagaimana relasi personalnya dengan Tuhan. Relasi personal dengan Tuhan yang baik menimbulkan rasa aman dan tenang dalam berbagi dan menjalin relasi dengan orang lain. Apa yang dia sharingkan dan bagikan kepada orang lain merupakan kekayaan pribadi yang dihidupi dan dihayatinya, tidak hanya sekedar pengetahuan rasio saja, namun muncul dari kedalaman pribadinya.
Mampu hidup mandiri. Mandiri berarti memahami keadaan diri dan mampu mengatasi persoalan-persoalan yang timbul dalam dirinya sendiri. Hal ini mengajak orang untuk mau belajar, berkembang, dan terus mengolah dirinya dan kemampuan dirinya secara lebih mendalam.
Gerakan ekumenis menuntut adanya relasi yang mantap, entah dengan sesama umat kristiani, dengan seluruh umat manusia, atau dengan Gereja di seluruh dunia. Spiritualitas yang paling mendasar adalah relasi dengan Tuhan. Relasi yang personal dengan Tuhan ini memungkinkan manusia menyadari bahwa Tuhan itu menyapa, memanggil, dan mewahyukan diri kepada manusia secara personal. Hal ini membuat orang mampu menghormati keberagaman pengalaman relasi dan pewahyuan dari Allah. Dalam lingkup orang Kristiani, manusia menjadi menyadari akan personalitas manusia dalam menangkap dan menerima pewahyuan mengenai kebangkitan Yesus Kristus. Kesadaran ini nampak dalam sikap menghormati manusia lain yang mempunyai bentuk, ungkapan, atau tradisi yang berbeda dalam relasinya dengan Tuhan. Dia menerima dan menghormati keberagaman orang dan komunitas dalam memuji, mendengar, dan menanggapi pewahyuan Allah. Setiap orang saling menghormati keanekaragaman ungkapan, ekspresi, atau bentuk relasinya dengan Tuhan. Orang bisa menerima keanekaragaman bentuk pujian, kidung, kotbah, meditasi, pembacaan Kitab Suci. Orang Kristiani semakin menyadari pewahyuan Allah yang istimewa dalam pribadi Yesus Kristus yang menyejarah, dengan hidup, sengsara, wafat, dan kebangkitanNya. Kesadaran ini mempunyai implikasi pada gerakan ekumenis ini. Manusia menjadi menyadari kehadiran Allah dalam Gereja dan dalam pribadi manusia yang lain.
Gerakan Ekumenis Sekarang ini
Dunia dengan segala isinya selalu berkembang tiada berhenti. Tuntuan terhadap gerakan ekumenis semakin berat, termasuk juga yang bukan merupakan bagian gerakan ekumensi, misalnya menangani kekerasan seksual terhadap wanita, lapangan pekerjaan, pemilihan senator, dan lain-lain.4 Karena itu, gerakan ekumenis ini merumuskan kembali tujuan dasarnya, bagaimana melakukan karya itu dengan tepat dan efisien, siapa saja yang diajak terlibat dan bagaimana model bekerjasamanya, siapa saja yang menjadi sukarelawan, dan lain-lain.
Tantangan-tantangan itu masih ditambahi dengan adanya tantangan yang lain, yaitu:
Ekonomi. Gerakan ekumenis ini membutuhkan semakin besar biaya seiring semakin banyaknya permasalahan yang dihadapi.
Tradisi. Keterbukaan Gereja terhadap tradisi lain juga menuntut keterbukaan pihak lain agar gerakan ekumenis sungguh mengkristas pada kehidupan yang nyata.
Keanggotaan. Gerakan ekumenis ini membutuhkan banyak sukarelawan, namun orang yang rela menjadi sukarelawan ini semakin sedikit.
Konflik yang beranekaragam. Aneka persoalan yang dihadapi membuat kesulitan dalam menganalisa dan menyelesaikan permasalahan yang beranekaragam tersebut.
Gerakan ekumenis tetap mempunyai masa depan walaupun ada banyak tantangan. Berbagai tantangan itu membuat orang untuk melihat situasi dengan seksama dan menentukan langkah yang terbaik. Keanekaragaman budaya yang berkembang mengajak semua orang kristiani semakin menghayati gerakan ekumenis dalam hidupnya. Dalam perjumpaan dengan berbagai budaya itu membuat umat kristiani sadar dan semakin teguh bahwa Allah menyelamatkan semua orang.
Gereja terinspirasi untuk melihat kembali struktur gerakan ekumenis. Gerakan ekumenis ini menjadi panggilan setiap umat beriman untuk menjadi saksi Kristus di dunia, tidak hanya orang yang duduk di struktur hirarkis. Setiap orang dipanggil berdialog, bersharing dalam kehidupan mereka. Dalam bersharing, berdialog ini, orang diajak mendalami siapa dirinya. Kesadaran tentang dirinya membuat orang untuk berani bersaksi dengan jujur dan terbuka. Orang tidak akan mempertantangkan Kitab Suci, siapa yang menang, namun mengajak setiap bagian untuk duduk bersama dan mengambil keputusan yang terbaik, menghayati hidup yang terbaik bagi semua orang.
Refleksi Sederhana Buku Councils of Churches and the Ecumenical Vision
Membaca buku Councils of Churches and the Ecumenical Vision mengajak penulis untuk membaca kembali keempat istilah kata kunci dalam memahami refleksi teologis mengenai Gereja, yaitu Misteri dan Sakramen, communio, Gereja Misioner, serta Gereja dan Dunia. Allah menciptakan semua orang dan Allah menghendaki keselamatan bagi semua orang. Allah menciptakan manusia secitra dengan diriNya dan dalam kesatuan dengan dirinya.5 Hal inilah yang membuat Gereja yakin bahwa kesatuan Gereja adalah kesatuan yang berasal dari Allah. Walaupun manusia jatuh dalam dosa, Allah tetap menghendaki bahwa mereka akan menjadi satu lagi.
Gereja menampakkan dirinya sebagai suatu sakramen dan sekaligus misteri. Keberadaan Gereja berpolakan dan berdasar pada misteri inkarnasi, yaitu penjelmaan Allah Putra menjadi manusia. Gereja menjadi sebuah paguyuban umat beriman yang kelihatan dan dihimpun oleh Kristus. Hal ini tidak berarti bahwa Kristus identik dengan Gereja. Gereja mau mengungkapkan bahwa dalam Gereja inilah, banyak orang beriman mempunyai ikatan vital dam tal terpisahkan dengan misteri Tritunggal Mahakudus. Gereja tidak hanya merupakan persekutuan anthropologis dan sosiologis saja.
Gereja ini menjadi sakramen karena menampakkan dimensi historis dan spiritual. Misteri inkarnasi menjadi puncak dan akan mencapai kepenuhan pada akhir zaman. Keselamatan yang dikehendaki Allah itu nampak dalam kehadiran Allah Putra ke dunia. Allah Putra hidup, menderita, sengsara, wafat, dan bangkit.
Keselamatan itu selalu hadir dan dalam sejarah kehidupan manusia. Keselamatan itu dihadirkan Allah secara manusiawi dalam pribadi Yesus Kristus. Yesus Kristus memanggil para rasul untuk mewartakan keselamatan itu bagi semua orang. Setelah Yesus Kristus wafat dan bangkit, dalam bimbingan Roh Kudus, Allah menghadirkan keselamatan dalam kolegialitas para rasul. Allah tetap menghendaki keselataman bagi semua orang sehingga Allah selalu menyertai dan menciptakan sarana dan tanda yang dapat ditangkap oleh manusia bahwa Allah menghendaki setiap orang memperoleh keselamatan. Dalam perkembangan zaman, komunitas para rasul ini terbatas oleh dimensi historisnya. Mereka meninggal dunia, namun keselamatan Allah itu tidak berhenti di situ. Allah menciptakan Gereja sebagai sarana dan tanda untuk menampakkan keselamatan Allah itu hadir di dunia.
Gereja menjadi sakramen keselamatan. Gereja menampakkan pernyataan diri Kristus yang hidup dan mengundang setiap orang untuk ambil bagian dalam karya dan hidup Yesus. Allah Bapa mengutus Yesus untuk mewartakan bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi setiap orang. Dengan menjadi anggota Gereja, kita mendapat panggilan dan perutusan untuk mewartakan bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi setiap orang.6
Karya keselamatan Allah itu masuk dalam sejarah kehidupan manusia. Karena itu, sejarah keselamatan Allah itu selalu mengambil bentuk dalam kehidupan manusia. Manusia jatuh dalam dosa dan manusia berkembang menjadi beranekaragam. Kehidupan manusia menjadi begitu beranekaragam, termasuk juga budayanya. Gereja mengakui adanya keanekaragaman ini. Dalam Gereja, terdapat aspek komunio. Komunio disadari sebagai persekutuan atas dasar pengakuan iman yang sama. Dasarnya adalah persekutuan dengan Allah sendiri. Persekutuan ini ada dan berkembang karena menanggapi panggilan Allah yang sama. Walaupun orang yang menanggapi panggilan itu bersifat plural, namun mereka tetap menghormati adanya perbedaan itu. Dalam keanekaragaman ini, manusia dipanggil untuk saling kerjasama dan solidaritas. Walapun banyak dan beranekaraagam anggota, tetapi tetap satu tubuh. Dengan keanekaragaman karunia, seluruh manusia tetaplah satu dan sama.7 Keanekaragaman yang menjadi satu kesatuan atau komunio itu menjadi sarana untuk mewujudkan tiga keutamaan kristiani, yaitu iman, harapan, kasih. Keanekaragaman ini menjadikan Gereja itu itu disebut sebagai komunitaa iman, harapan, dan kasih.8
Karya keselamatan Allah itu menyejarah dalam kehidupan manusia. Gereja melaksanakan perutusan Allah Bapa yang menghendaki keselamatan bagi semua orang. Gereja menjadi sakramen keselamatan karena keterikatannya pada perutusan Yesus Kristus. Berkat Roh Kudus, karya keselamatan yang sudah penuh dalam Yesus Kristus itu dilanjutkan oleh para rasul dan sekarang Gereja mendapat panggilan dan perutusan untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan itu9.
Di dunia, Gereja hidup dan berkembang dalam keberagaman budaya. Gereja dipanggil untuk semakin terlibat dalam keberagaman itu. Gerakan ekumenis adalah salah satu usaha Gereja dalam menghadirkan karya keselamatan bagi semua orang. Dengan gerakan ini, Gereja mau mengungkapkan relasi personal Allah dan manusia serta menandakan kehadiran Allah.10 Allah yang menghendaki kesatuan seluruh manusia dengan dirinya.
Kesatuan manusia dalam komunitas ilahi inilah yang memberi inspirasi gerakan ekumenis berkembang. Dengan Gerakan Ekumenisnya, Gereja mau semakin menghayati dan melaksanakan panggilan dan perutusan Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah. Hal itu dapat dilihat dengan usaha gerakan ekumenis yang semua ini mengarah pada kesatuan. Gerakan ekumenis ini mau mengajak semua umat kristiani, tidak peduli dia itu anggota Gereja Katolik atau non katolik untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah itu.
Gerakan ekumenis ini tidak dapat dilepaskan dari 4 kata kunci tentang refleksi Konsili vaticann II tentang Gereja itu sendiri. Kesatuan gerakan ekumenis dalam karya perutusan Allah itu dapat digambarkan seperti dibawah ini.
Karya Keselamatan Allah
Allah Yesus Gereja Para Rasul
Gerakan Ekumenis
Allah selalu menghendaki dan selalu hadir dalam karya keselamatanNya. Dengan diagram ini, mau digambarkan bahwa gerakan ekumenis ini hidup dan berkembang karena keikutsertaannya dalam perutusan Yesus Kristus untuk melaksanakan Karya Keselamatan Allah. Dengan demikian, gerakan ekumenis ini juga menyadari adanya dukungan, tantangan, dan harapan dalam pelaksanaannya di dunia ini.
Semua tantangan dan harapan itu menunjukkan bahwa Allah sungguh menghendaki keselamatan manusia dan bahwa manusia itu mempunyai kebebasan untuk menanggapi panggilan itu. Gereja sungguh merupakan komunitas iman, harapan, dan kasih yang hadir dan menyerajah dalam kehidupan manusia.
Daftar Pustaka:
Jacobs, J., SJ. Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium Mengenai Gereja. Yogyakarta: Kanisius. 1970.
Kessler, D & Kinnamon, M. Councils of Churches and the Ecumenical Vision. Switzerland: WCC Publisher. 1998.
________. Dokumen Konsili Vatican II. Jakarta: Obor. 1993.
LAI. Alkitab. Jakarta; LAI. 2001.
1 Lih. Kis. 15!
2 Bdk. Yoh 17, I Kor. 12, dan Ef, 2 dan 4!
3 Bdk. 2 Kor. 12, 1-30!
4 Lih. Kessler, D & Kinnamon, M. Councils of Churches and the Ecumenical Vision. WCC Publisher: Switzerland. 1998. Hal. 72.
5 Lih. Kej. 1, 26-31!
6 Bdk. Lumen Gentium Art. 9!
7 Lih. 2 Kor. 12, 1-31!
8 Lih. Lumen Gentium. Art. 9!
9 Lih. Lumen Gentium. Art. 17 dan Mat. 10, 1-15!
10 Lih. Kel. 3,12!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar